
Seluruh awak kapal di kumpul kan oleh bos haji Dulah, karena ada sesuatu yang ingin dia sampai kan ke pada semua nya.
"Apa yang ingin di sampai kan tuan bos haji Dulah ya? sampai-sampai kita semua di suruh berkumpul"ucap Udin penasaran.
"Apa kabar angin itu benar ya?kalau tuan bos haji Dulah, sekarang sudah bangkrut gara -gara anak nya sendiri"sahut Rojali memberi tahu.
"Masa sih kang?kang Rojali denger kabar angin itu dari mana?"tanya Udin merasa tak percaya.
"Ya dari orang-orang yang biasa tempat aku ngopi,kata mereka sih begitu..!dan kabar nya juga sudah beredar luas kok"sahut Rojali.
"Aduh... gawat dong kang..!kalau itu benar,kita bakalan jadi pengangguran dong?di kasih makan apa istri dan anak-anak ku nanti, kalau aku gak kerja"keluh Udin merasa cemas.
"Itu dia...aku juga khawatir,kita berdo'a saja semoga kabar angin itu tidak benar"sahut Rojali,mencoba berfikir positif.
"Iya kang, semoga saja"sahut Udin.
"Ya sudah,ayo kita ikut berkumpul sekarang"ajak Rojali, Udin pun mengangguk kan kepalanya dan segera mengikuti Rojali.
"Semua nya,pertama-tama aku ingin mengucapkan banyak terima kasih, karena kalian semua sudah lama dan setia bekerja di kapal ini, tanpa kalian semua aku bukan lah siapa-siapa uhuk...uhuk..."ucap bos haji Dulah sambil terbatuk-batuk, sangat terlihat saat ini bos haji Dulah tidak begitu sehat dan wajah nya pun sangat pucat, semua orang diam mendengar kan dengan seksama.
"Aku ingin minta maaf pada kalian semua, atas semua perbuatan dan perkataan juga sikap ku yang tidak baik selama kalian bekerja di kapal ini,dan hari ini aku ingin menyampaikan bahwa bulan ini adalah bulan terakhir kalian semua bekerja di kapal ini,karena kapal ini sudah bukan kapal ku lagi sekarang"ucap bos haji Dulah memberi tahu, semua orang pun sangat terkejut mendengar nya.
"Jadi kami semua di berhenti kan tuan haji bos?"tanya Udin merasa sangat sedih.
"Maaf kan aku, kalian semua terpaksa aku berhenti kan, karena kapal ini sudah aku jual, untuk melunasi semua hutang-hutang anak ku"sahut bos haji Dulah merasa sedih.
Bahri pun hanya bisa terdiam dan pasrah menerima keputusan ini,selama sepuluh tahun ia bekerja bersama bos haji Dulah, pasti lah banyak kenangan suka dan duka nya.
Semua orang pun sangat sedih dan kecewa mendengar nya, sekarang mereka sudah tidak memiliki pekerjaan, termasuk juga Yanur yang sama kehilangan pekerjaan.
*
__ADS_1
*
*
Di saat Bahri dan Yanur tak memilik pekerjaan lagi,Rahmat justru sedang naik daun,ia semakin sukses mengelola pabrik kayu.
"Ka Bahri,tanah nenek di halaman rumah ini kan sangat luas, dan kalau di bangun satu rumah lagi seperti nya masih bisa"ucap Diana, Bahri pun mengerut kan alisnya, sambil menatap adiknya.
"Apa kalian ingin membangun rumah di depan rumah ini?"tanya Bahri, yang sudah mengerti maksud dan arah pembicaraan Diana, Diana dan Rahmat pun langsung mengangguk kan kepalanya.
"Iya ka, rencana mas Rahmat ingin membangun rumah di dekat rumah orang tua nya,tapi Diana tidak setuju, Diana ingin membangun rumah di sini saja ka"sahut Diana, Bahri pun terdiam sesaat mendengar nya.
"Apa ka Bahri setuju,jika kami membangun rumah di depan rumah ini?kan ini tanah nenek kita juga ka"ucap Diana mengharap, sambil menatap Bahri.
"Baik lah kaka setuju dengan keinginan kalian"sahut Bahri, Diana pun langsung kegirangan mendengar nya.
"Alhamdulillah..terima kasih ka"ucap Diana sambil tersenyum bahagia.
Bahri begitu sayang dan perhatian pada adik-adiknya,ia sangat peduli dengan ke bahagian dan kesejahteraan adik-adiknya,saking sayang nya,di saat Rahmat menawari nya pekerjaan di pabrik kayu,namun hanya satu orang saja yang boleh di terima, Bahri pun sampai rela mengalah agar Yanur mendapatkan pekerjaan itu,dan ia justru bekerja serabutan,jika ada orang yang minta tolong memperbaiki mesin,atau pun memperbaiki antena saluran TV, Bahri pun dengan senang hati membantu mereka,ia juga tidak meminta upah atau imbalan dari orang-orang yang di bantu nya,hal itu lah yang membuat orang-orang sangat begitu menyukai Bahri.
Humairah pun tak tinggal diam saja di rumah,ia pun bekerja membuat anyaman seperti yang pernah di buat oleh nenek Idah,karena Humairah pernah belajar dan punya kemampuan ia pun setiap hari membuat anyaman itu dan menjual nya di pasar,ia juga membuat kue dan menitipkan nya di warung-warung tetangga,dan hasil uang nya ia bisa membantu suami untuk makan sehari-hari, Humairah tak pernah mengeluh atau pun marah pada Bahri,jika Bahri pulang tak membawa uang,ia selalu mendukung dan mendo'a kan suaminya, bahkan kesulitan ekonomi rumah tangga nya pun, tak pernah Humairah cerita kan ke pada orang tua nya, sehingga kedua orang tua nya pun tak tahu bagai mana keadaan Humairah.
"Assalamu'alaikum"ucap kyai yang datang ingin menjenguk Humairah dan cucu nya.
"Wa'alaikum salam.. Abah,mari masuk bah"ajak Humairah gembira menyambut Abah nya datang.
Kyai memang sering datang menjenguk putri dan cucu nya akhir-akhir ini,dan Humairah pun selalu menyambut nya dengan bahagia, Humairah selalu memperhatikan Abah nya ia juga selalu memasak dan menyuruh Abah nya makan dulu sebelum pulang,hal itu lah yang membuat kyai begitu sayang pada Humairah.
Di saat kyai sedang asik bermain dan bercanda dengan cucu nya,Bahri pun datang membawa makanan.
"Assalamu'alaikum"
__ADS_1
"Wa'alaikum salam"
"Abah,kapan datang bah?"tanya Bahri sambil menyalimi tangan kyai.
"Sudah sejak tadi,Abah sedang asik menemani Mai bermain"sahut Abah sambil tersenyum.
"Mas sudah pulang?"tanya Humairah menghampiri suaminya.
"Iya, apa Abah sudah makan dek?"tanya Bahri.
"Belum mas,ini saya lagi masak di dapur"sahut Humairah.
"Kebetulan,Ini dek ada makanan dari kang Ujang,tadi mas memperbaiki antena TV di rumahnya,dan pulang nya,mas di kasih makanan sebanyak ini"ucap Bahri, Humairah pun merasa senang melihat nya.
"Alhamdulillah ya Allah...ini rejeki Abah rupanya"sahut Humairah merasa bersyukur sambil tersenyum.
"Iya dek,ayo cepat siapin,biar kita makan sama-sama dengan Abah"suruh Bahri, Humairah pun mengangguk kan kepalanya dan langsung segera ke dapur mempersiapkan nya, setelah siap mereka pun makan bersama, Abah pun terlihat sangat senang dan lahap memakan nya.
Setelah selesai makan, kyai duduk di ruang tamu bersama Bahri, mereka asik mengobrol hingga tiba-tiba terjadi sesuatu pada kyai.
"Abah..!!!"teriak Bahri, mendengar teriakkan dari suami nya, Humairah yang sedang mencuci piring di dapur pun langsung berlari keluar.
Deg!
Humairah terkejut melihat Abah nya...
...****************...
Bersambung dulu ya...
Jangan lupa baca episode-episode selanjutnya ☺️ kasih bintang dan tekan favorit kalian buat author, biar makin semangat ❤️🤗
__ADS_1