JERITAN HATI ANAK YATIM PIATU

JERITAN HATI ANAK YATIM PIATU
Menebus


__ADS_3

Setelah beberapa hari di rawat di rumah sakit,Diana dan Fahru pun sudah semakin membaik dan di boleh kan untuk pulang, Bahri pun memutuskan untuk mengumpulkan semua adik-adik nya,ia ingin menanyakan tentang kebenaran rumah itu,dan memastikan apa kah kabar yang di katakan oleh bu Fatimah dan bu Ela itu memang benar atau hanya kabar bohong saja.


Diana, Yanur, Fahru, Rahmat dan Siti pun juga ikut di panggil, mereka semua berkumpul di rumah Diana.


"Aku memanggil dan mengumpulkan kalian semua, karena ada hal penting yang ingin aku tanya kan"ucap Bahri memberi tahu, mereka semua pun menjadi tegang, karena tak biasa nya Bahri terlihat sangat dingin dan serius menatap mereka.


"Aku ingin bertanya pada kalian,apa benar rumah peninggalan almarhumah nenek di gadai kan..?"tanya Bahri the to point sambil menatap mereka satu persatu.


Deg.


Siti, Fahru dan yang lain pun terkejut mendengar nya, Siti dan Fahru pun menjadi takut jika Bahri akan memarahi dan menyalahkan mereka lalu menuntut mereka.


"Anu..anu kak Bahri, sebenarnya..-"ucapan Siti terjeda,karena Rahmat langsung memotong percakapan nya.


"Benar kak Bahri, Fahru dan Siti lah yang sudah menggadai kan rumah itu,saya dan Diana juga baru-baru saja tahu, setelah orang-orang Bank datang menagih"sahut Rahmat memberi tahu dan mengaman kan diri, Diana pun ikut mengangguki nya, Rahmat tidak mau jika ia dan Diana nanti nya akan terkena imbas nya dan di salah kan oleh Bahri, Siti pun langsung melotot kan mata nya menatap Rahmat.


"Astaghfirullahal'azim.."ucap Bahri, merasa tidak percaya atas apa yang di lakukan oleh adik bungsu nya itu.


"Aduh...nih orang kenapa ikut campur bicara juga sih...!dan mengadukan nya ke pada kak Bahri"batin Siti merasa kesal pada Rahmat.


"Saya juga baru tahu kak,pas di rumah sakit,kak Rahmat yang memberi tahu kan nya, kalau ternyata Fahru dan Siti sudah menggadaikan rumah itu"sahut Yanur,yang juga ingin mengaman kan diri nya,ia tak mau ikut di salah kan.


Glukkk..!


Siti dan Fahru menelan ludah nya dengan kasar,kali ini hanya mereka berdua lah yang akan menjadi tersangka,dan akan di sidang oleh Bahri.

__ADS_1


"Aku harus mencari alasan yang tepat, agar kak Bahri tidak marah dan justru iba pada kami.."batin Siti sambil berpikir keras.


"Anu..kak Bahri,sebenar nya kami terpaksa menggadai kan nya, karena kami sangat membutuh kan uang waktu itu,kan kak Bahri tau sendiri kalau mas Fahru itu, kerja nya hanya sebagai buruh pencari kayu saja, gajih nya juga tidak cukup untuk kebutuhan kami, apa lagi waktu itu saya sedang hamil dan kebutuhan kami pun semakin banyak,jadi sangat terpaksa deh kami menggadai kan nya,ya..kan mas Fahru..?"sahut Siti berusaha menjelas kan,sambil meminta pembelaan dari suami nya , Fahru pun langsung mengangguk kan kepalanya dengan cepat dan memasang wajah memelas.


Karena Fahru masih tidak terlalu jelas bicara,maka Siti lah yang mewakilinya bicara panjang lebar ke pada Bahri.


"Tapi kenapa kalian harus menggadai kan rumah itu..?"tanya Bahri merasa sangat kecewa dan menyayang kan, Bahri begitu menjaga rumah itu, karena rumah itu adalah satu-satunya peninggalan dan kenang-kenangan dari almarhumah nenek tercinta nya, bahkan Bahri sampai rela bersusah payah mempertahan kan rumah itu dan menyicil hutang demi untuk menebus ketika si kakek Mukti menggugat nya.


"Maaf kan kami kak Bahri.."ucap Siti terlihat sedih dan hendak menangis,ia pun ber akting sedemikian rupa di depan Bahri,agar Bahri merasa iba.


"Apa kalian tau, sesakit-sakit nya kakak waktu dulu, hingga sampai lumpuh berbulan-bulan bahkan tidak bisa bekerja,kakak tidak pernah terpikirkan untuk menggadai kan rumah itu, karena apa..?karena kakak tidak ingin rumah peninggalan nenek hilang begitu saja, di rumah itu banyak sekali peninggalan dan kenangan nenek, Ibu dan juga Ayah"ucap menceritakan dan mengenang masa lalu nya, Bahri sangat sedih, ia begitu kecewa dengan perbuatan adik bungsu nya kali ini.


Semua nya terdiam mendengar perkataan Bahri dan menunduk kan kepalanya, Fahru pun merasa sangat bersalah pada kakak nya.


"Maaf kan kami kak Bahri, sebenar nya waktu itu,kami malu bercerita dan merengek meminta pada mu"sahut Siti, berpura-pura perduli dengan Bahri.


"Lebih baik malu pada ku, dari pada kalian malu pada seluruh orang kampung yang mengetahui masalah ini sekarang,dan menjadi kan bahan pergunjingan oleh mereka"ucap Bahri menyinggung, Siti pun membungkam mulut dengan bibirnya sendiri.


"Lalu,bagai mana cara kalian menggadai kan surat nya..?bukan kah seharusnya pihak Bank membutuhkan tanda tangan ku..?dan aku bahkan tidak pernah merasa menanda tangani apa pun"ucap Bahri bertanya, sambil menyelidik,ia pun sangat ingat jika ia memang tidak pernah menandatangani surat pernyataan atau permohonan apa pun itu.


"Maaf kak, sekali lagi kami benar-benar meminta maaf,tanda tangan kak Bahri itu terpaksa kami palsu kan, untuk bisa meminjam uang nya"sahut Siti jujur memberi tahu kan nya.


"Apa..? astaghfirullahal'azim"ucap Bahri merasa sangat terkejut dan begitu marah.


"Berapa banyak uang yang kalian pinjam..?"tanya Bahri penasaran.

__ADS_1


"50 juta kak, tetapi kami sudah menyicil nya 20 juta dan tersisa 30 juta,tapi karena kami menunggak pembayaran selama beberapa bulan, akhirnya hutang itu menjadi 40 juta kak"sahut Siti menjelaskan dan memberi tahu, Bahri sangat terkejut mendengar nya.


"Ya Allah..."ucap Bahri merasa terkejut mendengar nya.


"Ka-k Ba-h-ri..ma-af ka-n ka-mi"ucap Fahru terbata-bata dan tak terlalu jelas di dengar, sambil menangis, Bahri pun menghela nafas nya dengan panjang,kasih sayang nya membuat nya lemah lagi.


"Sekarang,lebih baik kalian tebus dulu surat rumah itu, baru aku akan memaafkan kalian" sahut Bahri menyuruh.


"Tapi kak..kami tidak punya uang sebanyak itu untuk menebus nya..hiks..hiks..hiks..!lagi pula.. mas Fahru juga sedang sakit,dan pasti tidak bisa bekerja untuk sementara"sahut Siti memelas sambil menangis tersedu-sedu.


"Tolong lah kami kak.."pinta Siti lagi, Bahri pun merasa iba pada adik bungsu nya yang sedang sakit.


"Baiklah, kalian aku maaf kan,dan sekarang antar kan aku ke Bank itu sekarang juga"sahut Bahri sambil berdiri.


"Baik kak,akan saya antar kan kak Bahri kesana"sahut Siti lalu segera pergi bersama Bahri dan juga Yanur menuju ke Bank,di mana ia telah menggadai surat itu.


Setelah sampai Bank,lalu bicara panjang lebar dan mengurus sana sini, akhirnya Bahri berhasil menebus surat rumah itu dan membawanya kembali.


Siti pun langsung terlihat sangat senang dan gembira, karena Bahri sudah mau melunasi semua hutang mereka di Bank.


...****************...


Bersambung...


Terima kasih buat kalian semua, yang selalu setia membaca dan memberikan dukungan nya untuk author 🙏🏻sehingga author makin semangat nulis nya, author do'a kan...semoga rezki kalian tambah banyak dan berkah ya Aamiin..🤲🏻☺️

__ADS_1


__ADS_2