JERITAN HATI ANAK YATIM PIATU

JERITAN HATI ANAK YATIM PIATU
Hilang


__ADS_3

Setelah mendapat amplop dari bos haji Dulah, Bahri pun segera menyimpan dan langsung memasukkan amplop itu ke dalam tas nya, tanpa membuka dan menghitung uang yang ada di amplop itu, rencana ia akan membuka dan memberikan uang itu ke pada nenek nya nanti setelah pulang ke kampung.


"Bahri..!apa tuan haji bos sudah memberikan hadiah nya pada mu?"tanya kang Ujang memastikan, Bahri pun mengangguk kan kepalanya sambil tersenyum lebar.


"Alhamdulillah.. sudah kang Ujang"sahut Bahri,kang Ujang pun ikut senang mendengar nya.


"Alhamdulillah, syukur lah tuan haji bos tidak mengingkari ucapan nya"ucap kang Ujang bersyukur sambil tersenyum,kang Ujang sebenarnya sempat khawatir jika bos haji Dulah berbohong dan mengingkari janjinya, karena selama sepuluh tahun bekerja bersama bos haji Dulah, kang Ujang tahu betul sifat bos haji Dulah, dia tidak akan memberikan sesuatu dengan cuma-cuma jika dia tidak mendapat kan keuntungan,bos haji Dulah sebenarnya terkenal sangat pelit dan perhitungan pada orang apa lagi pada anak buah nya, dia akan membantu jika dia ada mau nya saja, bahkan untuk jatah makan saja sudah di hitung dan di ukur oleh bos haji Dulah,anak buah nya dapat makan 3 kali sehari tidak boleh lebih dan masing-masing hanya dapat satu piring dan satu lauk saja, jika ada yang mengambil lebih, maka salah satu dari mereka tidak dapat jatah makan,dan itu lah yang sering di alami oleh Bahri, Bahri sering kelaparan karena tak dapat jatah makan nya, sering sekali ada yang mengambil jatah makan nya lebih dulu,dan hal itu tak mau tahu dan tak di perduli kan oleh bos haji Dulah, Bahri pun sebenarnya tahu siapa yang sering mengambil jatah makan nya, siapa lagi kalau bukan Udin pelakunya, karena ketidak sukaan Udin pada Bahri,ia sering sekali mengambil jatah makan Bahri secara diam-diam dan lebih dulu, namun Bahri tetap diam dan mengalah saja, Bahri tak mau memperpanjang masalah dan ia akan di tuduh yang tidak-tidak lagi, Udin juga sering sekali mengancam dan memberikan pekerjaan nya pada Bahri untuk menjaga mesin, jika kang Ujang istirahat.


"Bahri..!ini sudah waktu nya makan,ayo kita makan dulu, karena sebentar lagi kita akan memuat barang lagi ke kapal,dan akan segera pulang ke kampung"ajak kang Ujang, Bahri pun mengangguk kan kepalanya, sambil tersenyum bahagia, mendengar sebentar lagi ia akan bertemu dengan nenek dan adik-adik nya.


Mereka pun langsung pergi ke dapur untuk mengambil jatah makan siang mereka, sesampai nya di dapur, ternyata semuanya sudah pada mengambil makan masing-masing, tinggal kang Ujang dan Bahri yang belum mengambil nya.


"kang Asep..! kenapa jatah makan siang nya cuma ada satu porsi?"tanya kang Ujang bingung, karena seharusnya jatah nya ada 2 porsi,tapi nasi dan lauk hanya tinggal ada satu porsi saja, Bahri pun sudah tau pelakunya namun ia tetap diam.


"Saya pikir,cuma satu orang saja yang belum makan?"sahut kang Asep, ikut heran.


"Saya dan Bahri yang belum kang,wah..!Berarti ada yang mengambil jatah lebih ini kang"ucap kang Ujang, protes.


"Karena sibuk,saya juga tidak memperhatikan kang"sahut kang Asep, merasa tidak enak dan membela diri agar tak di salah kan.


"Ya sudah..biar jatah yang ini di kasih kan untuk Bahri saya kang"suruh kang Ujang, mendengar itu Bahri pun langsung menggeleng kan kepalanya.


"Jangan kang Ujang,biar untuk kang Ujang saja, Bahri masih kenyang kok kang"sahut Bahri merasa tidak enak.


"Tidak papa Bahri,kamu itu masih tahap pertumbuhan dan memerlukan makanan yang cukup,biar kamu cepat besar he..he.."ucap kang Ujang sambil terkekeh.


"begini saja, bagai mana kalau jatah nya kita makan bersama-sama saja kang?"ucap Bahri, memberi ide.


"Nah..betul tuh kang Ujang apa kata Bahri" sahut kang Asep,kang Ujang pun tersenyum mendengar nya, dan ia pun langsung mengangguk kan kepalanya.


"Ya ayo..kita makan sama-sama,tak apa biar sedikit yang penting berkah "sahut kang Ujang mereka pun tertawa dan makan bersama.


"Bahri, nanti malam kang Ujang,mau ke pasar malam,mau cari oleh-oleh buat istri dan anak kang Ujang,apa kamu mau ikut?"ajak kang Ujang, Bahri yang mendengar nya pun langsung berbinar dan segera mengangguk kan kepalanya gembira,ia sangat senang di ajak ke pasar malam.


"Mau kang Ujang, Bahri juga mau berbelanja" sahut Bahri antusias sambil tersenyum lebar,kang Ujang pun tergelak melihat nya.


" Ya sudah, nanti siap-siap jam 8 ya,kang Ujang mau periksa mesin dulu"ucap kang Ujang,sambil mencuci tangan nya selesai makan, Bahri pun mengangguk kan kepalanya sambil tersenyum.


"Baik kang Ujang "sahut Bahri, lalu kang Ujang pun segera pergi.


Setelah kapal semua sudah di muat,kang Ujang pun meminta ijin pada bos haji Dulah, untuk pergi ke pasar malam bersama Bahri,bos haji Dulah pun mengijinkan mereka.


"Bahri,ayo kita berangkat"ajak kang Ujang sambil tersenyum, namun raut wajah nya langsung berubah ketika melihat Bahri yang tampak sedih.


"Ada apa?"tanya kang Ujang, sambil mengerutkan alisnya, bingung.


"Kang Ujang, amplop yang di beri tuan haji bos tadi siang... hilang..!"jawab Bahri sedih, pada hal uang itu sebagian akan di belikan nya, oleh-oleh untuk adik-adiknya dan nenek nya.


"Apaaa...!!!"ucap kang Ujang terkejut.


"Bagai mana bisa hilang..?di mana kamu menyimpan nya?"tanya kang Ujang.

__ADS_1


"Di dalam tas kang Ujang"sahut Bahri,kang Ujang pun segera memeriksa tas Bahri dan membongkar-bongkar isi tas nya, ternyata memang tidak ada amplop yang di maksud Bahri.


"Bahri..! kamu yakin menaruhnya di tas ini?"tanya kang Ujang lagi memastikan, Bahri pun mengangguk kan kepalanya.


"Yakin kang Ujang..!bahkan amplop itu belum sama sekali saya buka"sahut Bahri menjelaskan dan sangat yakin.


"Apa jangan-jangan ada yang mengambil nya!"gumam kang Ujang,sambil berfikir.


"Bahri tunggu sebentar ,kang Ujang mau memanggil Udin dulu"ucap kang Ujang,lalu segera mencari Udin, Bahri hanya diam sambil terduduk sedih,air mata nya pun tak terbendung lagi.


"Kang Asep..!ada liat udin tidak, dari tadi saya cari-cari tidak ada "tanya kang Ujang.


"Oh.. Udin sama Rojali lagi jalan dari jam 6 sore tadi,kata nya sih mau ke pasar"sahut kang Asep memberi tahu, karena ia sempat mendengar Udin dan Rojali meminta ijin pada bos haji Dulah tadi sore.


"Oh..ke pasar, pantesan tidak ada"ucap kang Ujang,lalu segera berbalik dan menuju ke depan kapal, untuk menemui bos haji Dulah.


"Tuan haji bos"panggil kang Ujang,bos haji Dulah pun menoleh,dan mengerutkan alisnya.


"Lho kang Ujang tidak jadi jalan?"tanya bos haji Dulah heran.


"Tadi nya mau jalan,tapi ada kendala sesuatu tuan haji bos, begini amplop yang di berikan oleh tuan haji bos kepada Bahri, tiba-tiba hilang"ucap kang Ujang memberi tahu,bos haji Dulah pun terkejut mendengar nya.


"Hilang..?bagai mana bisa?apa Bahri lupa menaruh nya?"tanya bos haji Dulah.


"Tidak tuan haji bos, Bahri menyimpannya di dalam tas dan saya juga sudah mencoba mencari nya, ternyata memang tidak ada, bahkan amplop itu sama sekali belum Bahri buka"sahut kang Ujang.


"Saya curiga..ada seseorang yang mengambil nya,tuan haji bos "ucap kang Ujang.


"Karena, waktu saya memeriksa tas Bahri, saya menemukan karet gelang ini di dekat tas Bahri "ucap kang Ujang, karena kang Ujang tau betul itu bukan milik Bahri,tapi milik seseorang yang pasti mengambil uang Bahri.


"Apa kamu tau,milik siapa karet gelang itu?"tanya bos haji Dulah, sambil menatap kang Ujang penasaran,kang Ujang pun mengangguk kan kepalanya,dan berbisik ke pada bos haji Dulah, seketika bos haji Dulah pun langsung membelalakkan matanya terkejut mendengar nya.


"Apa kamu yakin?"tanya bos haji Dulah,memastikan,kang Ujang pun mengangguk kan kepalanya mantap.


"Baik lah, nanti kamu kumpul kan semua orang ke hadapan saya,biar kita periksa sama-sama"ucap bos haji Dulah memerintah dan langsung di angguki oleh kang Ujang setuju.


Kang Ujang pun segera memberi tahu kan kepada semua awak kapal agar berkumpul di bagian mesin kapal, karena bos haji Dulah ingin bicara,semua orang pun segera berdatangan, hanya Udin dan Rojali yang masih belum datang.


"Ada apa tuan haji bos, memanggil kita semua?"tanya om kumis bingung.


"Nanti kalian juga akan tau, jika semua orang sudah terkumpul semua"sahut bos haji Dulah sambil menunggu Udin dan Rojali datang.


Tak lama ke dua orang yang di tunggu-tunggu sudah datang,dan mereka pun kebingungan melihat semua orang pada berkumpul di bagian mesin.


"Ada apa?apa ada sesuatu yang terjadi?"tanya Rojali kebingungan.


"Iya,di kapal kita, ternyata di naikin maling,dan kali ini Bahri yang jadi korban nya,uang hadiah dari tuan haji bos yang di beri kan kepada Bahri, tiba-tiba hilang"sahut kang Ujang,sambil menatap tajam Udin.


Glek..!


Udin menelan air liur nya dengan kasar,ia merasa kan ada hawa-hawa mencurigakan pada kang Ujang, yang terlihat dari tatapan nya.

__ADS_1


"Ke.. kenapa kang Ujang menatap ku seperti itu?"batin Udin, merasa takut dan tak enak,dan Udin pun menjadi salah tingkah.


"Apa maling nya ketahuan dan tertangkap?" tanya Om Anton penasaran.


"Sebentar lagi akan ketahuan dan tertangkap " jawab kang Ujang mantap,dan membuat Udin semakin gemetaran.


"Kenapa kamu gemetaran Udi?apa kamu lagi sakit?atau kelelahan habis belanja banyak?"tanya kang Ujang,sambil melirik belanjaan Udin yang sangat banyak.


"I..iya.. seperti nya,saya kelelahan he..he.." sahut Udin mencoba menghilangkan rasa tegang dan takut nya,lalu segera duduk.


"Begini..saya mendapat laporan bahwa amplop berisi uang yang aku berikan kepada Bahri, tiba-tiba saja hilang,dan kemungkinan besar ada yang sudah mencuri nya,jadi sebelum aku melapor ke pihak berwajib, sebaiknya kita periksa satu-persatu dulu di antara kita,jika terbukti tidak ada yang mengambilnya,maka aku akan segera melaporkan nya ke polisi, karena kapal kita sudah tidak aman dan ada penyusup luar yang masuk ke dalam kapal kita"ucap bos haji Dulah sambil menatap anak buah nya satu-persatu.


"Anton dan kang Ujang yang akan memeriksa kalian semua"ucap bos haji Dulah lagi, Om Anton dan kang Ujang pun langsung segera memeriksa mereka semua.


Kang Ujang pun memeriksa Udin terlebih dahulu, namun ternyata tak ada tanda-tanda yang mencurigakan dan bukti pada Udin,kang Ujang pun merasa heran dan bingung.


"Udin berapa banyak uang yang kamu habis kan belanja sebanyak ini?pada hal kita semua belum gajian?"tanya kang Ujang, mengintrogasi.


"Sekitar 3 juta dan ini uang hasil tabungan saya kang Ujang"sahut Udin terlihat santai dan biasa saja.


"Kenapa dia biasa saja, padahal pas baru datang tadi terlihat panik dan takut?"batin kang Ujang.


Kang Ujang pun beralih memeriksa Rojali, ketikan kang Ujang meraba kantong celana belakang Rojali,kang Ujang menemukan sebuah amplop kosong yang sudah tidak ada lagi isi nya.


"Amplop apa ini Rojali?"tanya kang Ujang, penasaran.


"Oh..Itu amplop bekas dari Udin bayar hutang ke saya,dan uang nya sudah saya belanja kan beli baju tadi"sahut Rojali sambil tersenyum.


Bahri mendekati kang Ujang dan memeriksa amplop itu, Bahri pun terkejut melihat nya.


"Kang Ujang,ini amplop Bahri"ucap Bahri, semua orang pun terkejut mendengar nya.


"Hei..enak saja ngaku-ngaku itu amplop kamu, semua amplop itu sama, bagai mana bisa kamu seenaknya bilang itu amplop kamu" sahut Udin marah dan mengelak.


"Saya yakin, amplop ini milik saya, karena ada tanda di amplop ini,dan tanda ini saya sendiri yang membuat nya"sahut Bahri sambil menunjuk tulisan kecil tanda silang dan huruf B di ujung amplop itu, Udin pun langsung terkejut dan ternganga,ai tak menyangka kalau Bahri ternyata sudah menandai amplop itu.


"Sialan... kenapa aku tidak mengecek amplop itu terlebih dahulu tadi,ah..sial kenapa juga tuh si Rojali tidak langsung membuang amplop itu,ini malah di kantongi"kesal Udin ia pun merasa panik sendiri dan kebingungan mencari alasan.


"Udin apa kamu yang sudah mengambil amplop Bahri?"tanya bos haji Dulah.


"Ti.. tidak tuan haji bos,sa.. saya tidak pernah mengambil amplop Bahri,uang Bahri yang hilang berapa dan menyimpan nya di mana saja, saya tidak tau, bagai mana caranya saya bisa mengambil, lagi pula saya kan dari tadi tidak ada di kapal"sahut Udin mencoba membela diri.


"Bisa saja kan, kamu mengambil nya sebelum pergi ke pasar, dan saya sempat melihat kamu mengambil bantal Bahri dan menaruh nya di tempat tidur mu...!sebenarnya kamu sudah tau kan? kalau Bahri menaruh amplop yang berisi uang 10 juta itu di dalam sarung bantal nya?dan saya juga menemukan ini"tuduh kang Ujang mencoba memancing dan menjebak Udin,sambil memperlihatkan gelang karet milik udin yang tercecer di dekat tas Bahri, Udin pun langsung ternganga dan menggeleng kan cepat kepalanya.


"Tidak kang Ujang,kang Ujang salah,bantal itu tidak ada isi uang nya,saya cuma meminjam nya untuk tidur, amplop itu ada di tas dan isi amplop itu hanya 5 juta,bukan 10 juta"sahut Udin tanpa sadar,semua orang pun terkejut mendengar nya.


"Bagai mana kamu tau jumlah isi amplop itu hanya 5 juta?pada hal Bahri saja belum membuka dan menghitung isi amplop itu?"tanya bos haji Dulah, tanpa sadar dan terkejut, karena memang benar bos haji Dulah hanya memberikan uang itu 5 juta saja, bukan 10 juta yang di janjikan nya, Udin pun seketika tersadar dan terdiam,ia menyesali ke bodohan nya yang tak sengaja sudah mengakuinya.


"5 juta? bukan nya amplop itu berisi 10 juta?" tanya kang Ujang menyelidik,bos haji Dulah dan Udin pun terkejut dan terdiam.


jangan lupa Kasih like, komen dan vote nya ya ☺️

__ADS_1


terima kasih ❤️


__ADS_2