
Selama 30 menit Bahri tak sadar kan diri dan akhirnya ia pun siuman, berlahan Bahri membuka mata,ia merasa kan pusing dan berat di kepala nya, air mata nya pun masih saja mengalir,itu membuktikan bahwa hati nya saat ini begitu sakit dan hancur.
"Mas, makan lah dulu"ucap Humairah membujuk, Bahri menggeleng kan kepalanya.
"Mas tidak lapar"sahut Bahri menolak.
"Mas, makan lah, walau hanya sedikit itu bisa memulihkan tenaga mas saat ini"bujuk Humairah, Bahri hanya diam saja.
"Mas, jenazah nenek sebentar lagi akan di sholat kan dan di makam kan,jika mas tidak makan, bagai mana mas bisa kuat mengangkat jenazah nenek "ucap Humairah, Bahri pun menatap istrinya dan mengangguk kan kepalanya lalu langsung memeluk istrinya sambil menangis, Humairah pun mengusap punggung suaminya memberi kan semangat dan kekuatan,ia mengerti bahwa sekarang suaminya saat ini sedang berada di titik terlemah.
Humairah pun dengan sabar menyuapi suaminya makan, setelah selesai makan dan minum obat, Bahri pun sudah mulai membaik,wajah nya pun sudah tidak terlalu pucat lagi,ia pun segera keluar dan bersiap-siap untuk ikut men sholat kan nenek nya, Bahri, Yanur dan Fahru lah yang mengangkat jenazah nenek nya hingga sampai ke liang lahat,dan mereka juga yang langsung turun ke lubang dan meletakkan jenazah nenek nya.
Air mata Bahri tak henti-hentinya mengalir,ia tak bisa menahan dan membendung rasa sedih nya melihat tubuh nenek nya di tutupi dengan tanah, nenek Idah di makam kan bersampingan dengan anak nya yaitu ibu nya Bahri, nenek Idah pun sudah selesai di makam kan dan semua pelayat pun sudah pada pulang, Bahri dan adik-adiknya pun juga pulang ke rumah.
"Mas, istirahat saja dulu di kamar ya"suruh Humairah, Bahri pun mengangguk kan kepalanya dan segera menuju kamar,ia kali ini tak menolak, karena memang saat ini Bahri merasakan lelah yang teramat sangat, kepalanya pun masih terasa berat dan pusing.
"Kaka sedang apa?"tanya Diana menghampiri Humairah di dapur.
"Kaka sedang membuat kan teh hangat untuk mas Bahri"sahut Humairah.
"Bagai mana keadaan ka Bahri ka?"tanya Diana khawatir.
"Kaka mu masih kurang sehat, dan sekarang sedang istirahat di kamar"sahut Humairah memberi tahu, Diana pun merasa sedih mendengar nya.
"Ka, bagai mana kalau ternyata,kami benar-benar di usir dari rumah ini? sungguh Diana sangat bingung ka, jujur ka,Yanur, Fahru dan ka Rahmat tidak punya uang dan tabungan saat ini"keluh Diana, Humairah pun ikut sedih mendengar nya,ia juga bingung harus berbuat apa.
"Diana kamu tenang saja,lebih baik kita berdo'a,semoga Allah memberikan jalan keluar yang terbaik untuk kita semua,dan rumah ini akan tetap kalian tempati"sahut Humairah mencoba memberi semangat.
"Aamiin, semoga saja ka"sahut Diana.
"Kalau begitu Kaka ke kamar dulu ya,mau memberikan teh ini untuk mas Bahri"ucap Humairah sambil tersenyum, Diana pun mengangguk kan kepalanya sambil tersenyum.
"Iya ka"sahut nya.
Humairah pun segera ke kamar dan memberikan teh hangat untuk suaminya.
"Mas, minum teh hangat dulu ya"ucap Humairah sambil menaruh teh hangat itu ke atas meja, Bahri yang sedang berbaring pun segera bangun dan duduk di bantu oleh Humairah.
"Terima kasih dek"ucap Bahri,lalu meminum teh itu.
"Iya mas"sahut Humairah sambil tersenyum.
"Dek,besok sore kakek Mukti pasti akan datang dan meminta uang nya,mas bingung harus berbuat apa, sedang kan tabungan mas tidak cukup untuk menebus rumah ini"ucap Bahri merasa bingung sambil menatap sayu istrinya.
"Kalau boleh tau,memang berapa uang yang ada di tabungan mas?"tanya Humairah, jujur saja Humairah tidak begitu banyak tau tentang keuangan suaminya, pernikahan mereka saja baru 2 bulan.
"Uang yang ada di tabungan mas hanya ada 150 juta,dan masih kurang 100 juta,mas bingung harus kemana mas mencari sisa nya" jawab Bahri sedih, Humairah pun hanya bisa diam mendengar kan.
"Mas,kita serah kan semua masalah ini ke pada Allah,saya yakin, Allah tidak akan memberikan cobaan melebihi batas kemampuan hambanya"ucap Humairah, sambil mengusap lembut tangan suaminya, Bahri pun mengangguk kan kepalanya sambil tersenyum,ia bersyukur memiliki istri yang selalu mendukung dan mengingat kan nya.
"Iya,kamu benar dek"sahut Bahri.
__ADS_1
"Emm..oya mas,boleh kah sore ini saya ijin ke rumah Abah sebentar?ada yang ingin saya ambil di rumah Abah"ucap Humairah meminta ijin,Bahri pun mengangguk kan kepalanya sambil tersenyum,ia lupa bahwa istrinya sudah lama tidak pulang dan menjenguk kedua orang tua nya, selama nenek nya sakit, Humairah sibuk merawat nenek dan membersihkan rumah, Bahri pun menjadi merasa bersalah pada istrinya.
"Ya Allah,selama ini aku sibuk dengan urusan ku sendiri, hingga lupa dengan perasaan dan kebahagiaan istri ku"batin Bahri.
"Iya dek,biar mas antar ya"ucap Bahri sambil mengusap kepala istri nya.
"Tidak usah mas, sebaik nya mas istirahat saja dulu,biar saya ikut sama Wati saja, karena kebetulan nanti sore dia ke sini untuk mengantarkan kue buat tahlilan nanti malam" sahut Humairah memberi tahu.
"Baik lah kalau begitu,mas titip salam buat Abah dan umi"sahut Bahri, Humairah pun merasa senang mendengar nya.
πΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Sore hari, Humairah pergi ke rumah orang tua nya bersama Wati adik perempuan Humairah.
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikum salam"sahut kyai dan umi.
"Humairah..!"
"Abah..umi"panggil Humairah sambil menyalimi tangan orang tua nya.
"Bagai mana keadaan suami mu nak?"tanya umi, mereka juga ikut khawatir dengan menantu mereka yang terlihat sangat terpukul.
"Alhamdulillah sudah membaik umi,dan saat ini sedang istirahat, Humairah ke sini ingin mengambil barang Humairah yang tertinggal di kamar umi"sahut Humairah memberi tahu.
"Kenapa kamu tidak minta Wati saja yang bawakan, kasihan suami mu harus di tinggal" ucap umi merasa tidak enak.
"Abah bisa kan mimpin tahlil dan do'a nanti malam?"tanya Humairah, kyai pun mengangguk kan kepalanya sambil tersenyum.
"Iya nak, insya Allah Abah akan datang bersama umi mu"sahut Abah.
"Alhamdulillah, terima kasih Abah..umi"ucap Humairah, kyai dan umi pun mengangguk dan tersenyum.
"Humairah ke kamar dulu ya Abah,umi"ucap Humairah,lalu ia segera ke kamar dan membuka lemari nya,ia ambil suatu benda yang sudah lama ia simpan di dalam lemari itu.
"Semoga saja ini bisa membantu dan meringan kan beban mas Bahri"gumam Humairah,sambil membuka dan mengumpulkan nya,ia pun menghitung jumlah uang tabungan nya yang sudah lama ia kumpulkan dan ia simpan.
"Ya Allah..uang ini cuma terkumpul 50 juta, dan masih kurang 50 juta lagi"keluh Humairah bicara sendiri.
"Apa aku minta bantuan pada Abah saja ya?"gumam Humairah, sambil berpikir.
"Tidak... tidak..! Abah saja begitu banyak tanggungan,mana mungkin aku merepotkan dan menyusahkan Abah"gumam nya berdialog sendiri.
Setelah selesai,ia pun menyimpan uang itu dan segera pamit pulang ke pada orang tua nya,ia juga membawa tas kecil yang berisi beberapa lembar baju agar orang tua nya tidak curiga.
"Abah, umi Humairah pamit pulang dulu ya"ucap Humairah, sambil menyalimi tangan kedua orang tua.
"Hati-hati di jalan nak,dan rawat suami mu dengan baik"pesan umi, Humairah pun mengangguk kan kepalanya sambil tersenyum.
"Inggih umi"sahut nya,ia pun di antar kembali oleh Wati.
__ADS_1
*
*
*
Di kamar.
"Assalamu'alaikum"ucap Humairah, yang masuk ke kamar.
"Wa'alaikum salam"sahut Bahri, yang sedang duduk di tepi ranjang nya.
"Mas, tidak tidur?"tanya Humairah, sambil menghampiri dan menyalimi tangan suaminya, lalu ia pun duduk di samping suaminya.
"Mas baru saja bangun,kamu sudah pulang?kok cuma sebentar?"tanya Bahri.
"Iya mas, tadi kan saya ijin nya cuma sebentar,dan nanti malam juga ada acara,gak enak kan kalau saya tidak ada, lagi pula saya masih kangen sama mas,jadi gak bisa lama-lama"sahut Humairah sambil tersenyum, dan memeluk suami nya, Bahri pun terkekeh mendengar nya,ia juga langsung memeluk erat dan mencium kening istrinya.
Humairah pun merasa sedikit lega melihat suaminya yang sudah mulai membaik.
"Mas,saya ke luar dulu ya,mau bantu-bantu buat nanti malam"ucap Humairah, Bahri pun mengangguk dan melepas kan pelukannya.
"Iya mas juga mau mandi dan siap-siap" sahut Bahri.
Malam hari semua keluarga dan para tetangga pun berdatangan dan ikut mendo'a kan almarhumah nenek Idah,di pimpin langsung oleh kyai dari membaca surah Yasin dan di tutup dengan do'a, acara pun berjalan dengan hikmat dan khusyuk.
"Bahri,besok sore aku akan datang bersama ketua RT, untuk membahas rumah ini"ucap kakek Mukti mengingat kan, Bahri pun hanya diam mendengar nya, ia tak menyahut karena masih banyak para tetangga yang hadir dan belum pulang.
Sedangkan para tetangga hanya bisa mengusap dada dan geleng-geleng kepala saja melihat dan mendengar perkataan dari kakek Mukti, mereka tak habis pikir dengan kakek Mukti yang begitu tega dengan keluarga nya sendiri.
"Astaghfirullahal'azim, sungguh tidak punya hati,bukan nya mendo'a kan saudara nya,dia malah sibuk mikirin harta"bisik tetangga Bahri yang geram dengan sikap kakek Mukti.
"Iya, padahal baru saja saudara nya di makam kan dan selesai di do'akan, dasar manusia serakah"sahut tetangga yang lain, sambil berbisik.
"Pak Mukti, sebaiknya nanti saja membahas hal itu, sebaiknya kita fokus saja mendo'a kan almarhumah nenek Idah"ucap kakek Sukri, yang mencoba mengalihkan dan menjaga perasaan Bahri.
"Aku sudah mendo'a kan nya kok..!tadi kan kita sudah membaca Yasin,lagi pula..aku cuma mengingat kan Bahri saja"sahut kakek Mukti.
"Iya saya tau,tapi ini masih banyak tamu pak,tidak enak jika di dengar orang-orang" bisik kakek Sukri lagi.
"Alah...siapa peduli dengan orang-orang,lagi pula kamu itu bukan siapa-siapa,jadi tidak perlu ikut campur urusan keluarga kami"sahut kakek Mukti sambil membentak,ia kesal dengan kakek Sukri karena sudah menegurnya, kakek Mukti pun segera pergi dari rumah Bahri.
"Astaghfirullahal'azim"gumam kakek Sukri, sambil geleng-geleng kepala.
"Maaf kan kakek Mukti kek, karena sudah membentak kakek"ucap Bahri merasa tidak enak, beruntung kyai dan umi sudah pulang lebih dulu,jika tidak.. pasti Bahri akan sangat malu pada mertua nya dengan kejadian tadi.
"Tidak papa nak,kamu tidak perlu meminta maaf, justru si kakek Mukti itu lah yang harus meminta maaf pada mu,hah.. kakek tak habis pikir dengan Mukti,sudah bau tanah masih saja memikirkan masalah harta, bukan nya mikirin amal ibadah"sahut kakek Sukri, sambil geleng-geleng kepala, Bahri pun hanya diam dan menundukkan kepalanya.
...****************...
(jadi ikut geram dengan kalakuan si kakek Mukti π€ buat Bahri.. yang sabar ya, semoga ada solusi dan jalan keluar nya Aamiin π€²π»)
__ADS_1