JERITAN HATI ANAK YATIM PIATU

JERITAN HATI ANAK YATIM PIATU
perceraian


__ADS_3

Semenjak kejadian malam itu, Manaf tidak pulang ke rumah,ia lebih memilih bersembunyi di rumah orang tua nya,ia juga bercerita pada orang tua nya,bahwa ia di perlakukan tidak baik oleh keluarga Bahri,dan Bahri pun memukuli nya, kedua orang tua Manaf pun sangat marah pada Bahri, mereka tak terima anak kesayangan mereka di perlakukan sangat buruk.


"Ini tidak bisa di biar kan pak,kita harus beri tahu pada kakek Mukti"ucap ibu nya Manaf.


Mereka pun pergi ke rumah kakek Mukti dan menceritakan semua nya, kakek Mukti sangat terkejut mendengar nya.


"Apa kalian tidak salah? karena setau ku, Bahri tak pernah berbuat masalah,apa lagi sampai memukuli orang"Ucap kakek Mukti, merasa tidak percaya, karena ia sangat tahu sifat Bahri sejak kecil.


"Tapi bukti nya,saya melihat sendiri ada bekas cekikan di bagian leher Bahri"sahut ibu nya Manaf merasa kesal, karena kakek Mukti terlihat membela Bahri, Manaf pun mengangguki nya,kakek Mukti langsung memeriksa leher Manaf namun tak ada bekas sama sekali.


"Tapi tak ada bekas sama sekali"ucap kakek Mukti.


"Ya tentu saja sudah hilang,kan kejadian nya beberapa hari yang lalu"sahut ibu Manaf.


"Lalu apa yang harus aku lakukan?apa aku harus menemui Bahri?"tanya kakek Mukti.


"Ya iyalah,kakek Mukti harus menegur Bahri, agar dia tidak lagi memperlakukan anak kami dengan kasar,dia juga harus meminta maaf pada Manaf dan juga pada kami orang tua nya, karena sudah merasa kecewa"ucap ibu nya Manaf dengan kesal,kakek Mukti terdiam mendengar nya.


"Kenapa Kakek Mukti hanya diam?apa kakek Mukti tidak mau membantu kami?"tanya ibu nya Manaf.


"Pak,turuti saja kemauan mereka, lagi pula yang salah itu cucu mu si Bahri"ucap istri kakek Mukti, ikut membela keluarga nya, kakek Mukti menarik nafas nya panjang, dan menghembuskan dengan kasar.


"Baik lah,aku akan ke sana dan menegur Bahri"sahut kakek Mukti, orang tua Manaf pun merasa senang mendengar nya.


Sore hari nya, kakek Mukti pergi ke rumah nenek Idah.


"Assalamu'alaikum "ucap kakek Mukti.


"Wa'alaikum salam "sahut nenek Idah.


"Mukti..!mari masuk"ajak nenek Idah, kakek Mukti pun mengangguk dan segera masuk.


"Ada apa?tumben ke sini"tanya nenek Idah.


"Begini ka Idah, kedatangan saya kemari ingin bertemu dengan Bahri"sahut kakek Mukti, nenek Idah mengerutkan alisnya bingung, karena melihat raut wajah kakek Mukti yang terlihat serius.


"Tunggu sebentar biar aku panggil kan Bahri"ucap nenek Idah, setelah di panggil, Bahri pun keluar dan menyapa kakek Mukti.


"Kakek Mukti..!apa kabar?apa kakek mencari saya?" tanya Bahri menghampiri lalu duduk di dekat kakek Mukti sambil tersenyum, Bahri pun menyalami kakek Mukti.


"Kabar kakek baik Bahri, sebenarnya kakek mencari mu ingin menanyakan sesuatu"sahut kakek Mukti.


"Apa itu kek?"tanya Bahri.


"Tadi pagi, Manaf dan kedua orang tua nya datang ke rumah kakek"ucap kakek Mukti.


"Bahri,Apa benar kamu sudah memukuli Manaf?"tanya kakek Mukti sambil menatap serius pada Bahri.


"Apa maksud kamu Mukti, Bahri tak pernah memukuli Manaf"sahut nenek Idah,ia tak terima cucu nya Bahri di tuduh memukuli Manaf.

__ADS_1


"Tapi,kata orang tua nya Manaf, Bahri telah berbuat kasar, sampai -sampai Bahri mencekik leher dan mengancam Manaf"sahut kakek Mukti.


"Kalau mencengkram kerah baju Manaf dan mengancam nya itu benar kek,tapi kalau memukuli, saya tidak pernah melakukan nya" sahut Bahri jujur.


"Jadi benar,kamu sudah berlaku kasar? kakek tidak menyangka Bahri, kalau kamu bisa berbuat seperti itu"ucap kakek Mukti merasa kecewa dan menyalahkan, Bahri hanya diam sambil menundukkan kepalanya.


"Apa kamu tau Mukti, alasan kenapa Bahri sampai mencengkram dan mengancam Manaf?"tanya nenek Idah, kakek Mukti hanya menggeleng kan kepalanya.


"Kenapa mereka tidak memberi tahu mu..! kenapa hanya kekerasan dari Bahri saja yang mereka ceritakan"ucap nenek Idah, kakek Mukti pun terdiam dan merasa tidak enak.


"Asal kamu tahu, Bahri melakukan itu untuk membela adiknya, karena Manaf telah tega memukul Diana dan memarahinya, bahkan di hadapan semua orang Manaf berkata kasar, sekarang kamu pikir, kakak mana yang hanya diam melihat adik kesayangannya di perlakukan seperti itu" ucap nenek Idah memberi tahu, nenek Idah pun menceritakan semua kejadian itu pada kakek Mukti, nenek Idah juga memberi tahu bahwa sebelum kejadian, Manaf dan Diana akhir-akhir ini memang sudah sering bertengkar kalau Bahri tidak ada di rumah,kakek Mukti pun terkejut mendengar nya.


"Jadi semua ini adalah kesalahan Manaf?"tanya kakek Mukti.


"Tentu saja kesalahan Manaf, cucuku Bahri tak bersalah"sahut nenek Idah,kesal pada adiknya itu.


"Apa yang di katakan oleh nenek itu benar kek, yang salah adalah mas Manaf,mas Manaf lah yang telah menampar Diana,dia juga selalu marah jika Diana menyuruh nya untuk bekerja, waktu kejadian malam itu ka Bahri justru berusaha membela dan melindungi Diana" sahut Diana, semua orang pun menatap Diana.


"Kek, Diana tidak rela jika ka Bahri di tuduh dan di salah kan"ucap Diana,lalu tiba-tiba ia meringis kesakitan.


"Diana kamu kenapa?"tanya Bahri dan nenek Idah khawatir.


"Perut Diana sakit ka..akh"sahut Diana meringis.


"Bahri, sebaiknya kita bawa Diana ke puskesmas sekarang, seperti nya Diana sudah waktu nya melahirkan "ucap nenek Idah, Bahri pun langsung panik mendengar nya, dan dengan segera Bahri membawa adiknya.


"kamu yang sabar ya dek, sebentar lagi kita sampai"sahut bahri, mencoba menenangkan adiknya.


"Kamu harus kuat cucuku"ucap nenek Idah menyemangati, kakek Mukti pun turut ikut ke poskesmas.


Mereka pun sudah sampai di poskesmas dan langsung di tangani oleh bidan, ternyata dugaan nenek Idah benar, Diana akan melahirkan, kakek Mukti pun segera menghubungi Manaf dan memberi tahu kan, bahwa istrinya sebentar lagi akan melahirkan.


Setelah beberapa saat,suara tangisan bayi pun terdengar, pertanda bahwa Diana sudah melahirkan.


"Keluarga ibu Rusdiana!"panggil perawat.


"Iya,kami keluarga nya sus"sahut Bahri.


"Selamat,bayi nya sudah lahir dengan selamat dan sehat,jenis kelamin nya laki-laki pak"ucap perawat itu sambil tersenyum.


"Alhamdulillah"sahut Bahri dan kakek Mukti merasa senang dan bersyukur.


"Mukti, apa kamu sudah menghubungi dan memberi tahu Manaf?"tanya nenek Idah, kakek Mukti pun mengangguk kan kepalanya.


"Sudah ka 2 jam yang lalu,tapi sampai sekarang Manaf dan orang tua nya tidak datang -datang juga"sahut kakek Mukti memberi tahu,nenek Idah pun merasa sangat kecewa pada Manaf dan orang tua nya.


"Bahri, sebaiknya kamu saja yang mengazan kan bayi nya Diana"suruh nenek Idah, Bahri pun mengangguk kan kepalanya dan segera mengazan kan bayi itu.


*

__ADS_1


*


*


Esok hari nya, Diana sudah di perbolehkan pulang, semua biaya persalinan juga obat -obatan Bahri lah yang menanggung semuanya, sedang kan Manaf sebagai suaminya Diana sampai sekarang belum juga terlihat batang hidungnya.


"Alhamdulillah, akhirnya kita sampai di rumah, beruntung Kaka mu Bahri masih ada di rumah"ucap nenek Idah merasa bersyukur, Diana pun mengangguk kan kepalanya ikut merasa bersyukur,pada hal rencana lusa Bahri dan Yanur akan berangkat.


Setelah satu minggu melahirkan, Manaf dan orang tua nya datang ke rumah nenek Idah, Diana pun merasa senang akhirnya suaminya datang juga menjenguk diri nya dan juga anak nya.


"Diana, kedatangan kami kemari cuma ingin menyampaikan kan,bahwa kami membawa surat perceraian untuk kamu"ucap ibunya Manaf.


Deg!


Diana dan nenek Idah sangat terkejut mendengar nya, mereka tak menyangka bahwa Manaf dan orang tua nya sungguh tega berbuat seperti itu.


"A..apa yang kalian lakukan, kenapa kalian tega berbuat seperti ini pada cucu ku?"ucap nenek Idah, Diana hanya bisa menangis,ia tak bisa lagi berkata-kata, hanya air mata yang mewakili kesedihan nya.


"Maaf kan kami,tapi ini demi kebaikan anak kami Manaf,kami tak mau anak kami hidup menderita tinggal di tempat kalian"ucap ibunya Manaf,nenek Idah ternganga mendengar nya.


"Menderita?menderita apa nya?dia kerjaannya cuma makan tidur di rumah ini,bahkan untuk beli rokok nya saja, cucu ku Bahri yang membelikan nya,di mana letak menderitanya?"sahut nenek Idah, merasa geram dengan sikap orang tua Manaf.


"Alah...sudah lah, yang jelas kami ke sini cuma mau menyerahkan surat ini,dan untuk anak itu, kalau kalian tidak sanggup merawat nya, serahkan saja pada kami,biar kami yang akan merawat nya"sahut ibu nya Manaf.


"Tidak..!saya tidak akan menyerahkan bayi saya pada kalian..!saya bisa merawat nya sendiri "sahut Diana sambil memeluk bayi nya dan menangis sesegukan.


"Baik lah, terserah kamu saja,tapi jangan menyesal,jika kami tak akan membiayai anak ini"sahut ibu nya Manaf dengan angkuhnya.


"Ya..kami tak akan menyesal, justru kami akan bersyukur,anak ini tidak memakan uang kalian"sahut nenek Idah dengan marah.


"Oiya,pintu keluar nya ada di sana, silahkan kalian keluar"ucap nenek Idah, sambil menunjuk arak pintu.


"Ck.. sombong kalian"ucap ibunya Manaf sambil berdecak kesal, mereka pun langsung pergi dari rumah nenek Idah.


Nenek Idah pun langsung memeluk cucu nya yang sedang menangis.


"Kamu yang sabar cucu ku, Allah tidak tidur, Allah pasti akan membalas mereka"ucap nenek Idah, sambil mengusap kepala cucu nya,nenek Idah pun ikut menetes kan air mata nya.


"Nek, tolong jangan beri tahu ka Bahri dulu soal ini"pinta Diana sambil mengusap air mata nya,nenek Idah pun mengangguk kan kepalanya mengerti.


Saat ini Bahri dan Yanur di kapal sedang berangkat,dan mereka tak tahu apa yang terjadi di rumah, Fahru pun sedang sekolah, hanya nenek Idah dan Diana saja yang mengetahui hal itu.


...****************...


Bersambung..


jangan lupa kasih like, komen dan vote nya ya ❤️


terima kasih ☺️

__ADS_1


__ADS_2