
Setelah mendapat kan kabar dari Bahri, Humairah merasa bersyukur dan senang sekali,ia berharap suaminya akan berhasil suatu saat nanti,di kampung pun ia tetap bekerja menganyam dan kadang menjual kan alat kosmetik milik bu haji Nilam, keluarga Bahri yang datang dari Mekkah, setiap seminggu sekali Humairah menjajakan alat kosmetik itu dengan berkeliling ke rumah -rumah orang,jika ada yang laku maka Humairah akan mendapatkan upah dari hasil penjualan itu,tapi jika tidak Humairah hanya akan mendapatkan lelah saja.
Terkadang banyak juga yang membeli kosmetik itu dengan kredit, karena mereka tak mampu untuk membayar lunas.
"Humairah,saya sebenar nya ingin sekali membeli lipstik ini,tapi uang saya tidak cukup, apa boleh saya hutang dulu..? nanti sisa nya saya bayar cicil"ucap bu Ela sambil memelas.
"Baik lah bu,tidak papa... nanti minggu depan saja ibu Ela bayar sisa nya"sahut Humairah setuju.
"Alhamdulillah, terima kasih ya Humairah,ini saya bayar dulu 15 ribu ya, nanti 30 ribu nya saya bayar minggu depan"ucap bu Ela, kesenangan.
"Iya bu Ela"sahut Humairah sambil tersenyum.
"Eh..bu Fitri,gak jadi beli bedak nya?"tanya bu Ela.
"Saya bingung,soal nya uang nya lagi ke pakai buat keperluan yang lain"sahut bu Fitri.
"Kredit aja bu Fitri, Humairah nya mau kok,nih..kaya saya juga kredit beli lipstik nya,ya kan Humairah?"ucap bu Ela memberi tahu, Humairah pun tersenyum sambil mengangguk kan kepalanya.
"Iya bu Fitri,kalau mau kredit juga tidak papa,harga nya juga sama dengan harga kes,gak pakai bunga, yang penting amanah"sahut Humairah.
"Baiklah, kalau begitu saya mau bedak nya satu ya Humairah"ucap bu Fitri.
"Inggih bu Fitri silahkan"sahut Humairah sambil mengambil kan dan menyerahkan bedak itu.
"Kalau begitu saya permisi dulu ya ibu-ibu,di jual semua nya ya, assalamu'alaikum"ucap Humairah.
"Iya Humairah di beli... wa'alaikum salam"sahut para ibu-ibu, Humairah pun pulang dengan hati senang, walau pun ada berapa orang yang beli nya ngutang, tetapi ada juga yang bayar langsung kes.
*
*
*
Di Banjarmasin.
Selama satu bulan, Bahri menjual kan buah durian milik Fikri temannya, hasil yang ia dapat cukup lumayan, setiap buah yang di titipkan Fikri pada Bahri selalu terjual habis dan laris manis.
__ADS_1
"Eh Bahri,lo punya ilmu apa sampai-sampai jualan buah lo selalu ludes terjual"tanya Bondan salah satu anak buah Fikri yang juga ikut menjual kan buah durian.
"Ilmu...?maksud nya ilmu apa Bondan?"tanya Bahri tak mengerti.
"Alah...lo gak usah pura-pura sok gak tau deh...!lo pasti punya ilmu penglaris kan?biar semua jualan lo laris manis,maka nya banyak yang beli"sahut Bondan berprasangka jelek,ia iri dengan kepiawaian Bahri berjualan yang selalu bisa mendapatkan pelanggan, seberapa banyak buah durian yang di berikan oleh Fikri, dengan sebentar saja langsung habis terjual.
"Astaghfirullahal'azim... saya tidak pernah mempunyai ilmu seperti itu Bondan"sahut Bahri.
"Lo gak perlu menyangkal nya Bahri,di dalam dunia perdagangan sudah biasa melakukan itu,dan gue yakin... ilmu yang lo pakai itu,pasti lebih hebat dan sakti,maka nya jualan lo cepat habis"ucap Bondan menuduh,ia tak percaya dengan apa yang di katakan oleh Bahri.
Pada hal yang sebenarnya adalah,terkhnik berjualan Bahri berbeda dengan mereka, Bahri selalu ramah dan baik menyambut para pelanggan,ia juga menjual buah durian dengan harga yang terjangkau, menurut Bahri tak apa untungnya sedikit tetapi laris manis dan jualan cepat habis, dari pada menjual nya dengan harga yang terlalu tinggi seperti yang lain,tetapi tak laku,dan ujung-ujungnya buah itu justru jadi busuk karena terlalu masak.
"Astagfirullah... sungguh demi Allah Bondan, saya tidak pernah menggunakan ilmu yang seperti kamu tuduh kan itu"sahut Bahri jujur dan berusaha memberi penjelasan.
"Kalau tidak memakai ilmu penglaris...!terus kenapa jualan lo bisa laris manis setiap hari?"tanya Bondan menyelidik.
"Saya hanya menjual durian ini dengan harga yang wajar dan lebih terjangkau,jika mereka menawar dan saya hitung masih mendapat untung, walau pun keuntungan itu sedikit, maka akan tetap saya jual, asal kan pelanggan senang "sahut bahri jujur.
"Oh... jadi lo ternyata mau merusak harga pasaran kita Bahri..? yang lain pada kompak sama gue menjual durian ini dengan harga yang sama,tapi lo malah menjual durian ini dengan harga yang lebih murah,pantas saja jualan kami tidak laku-laku, ternyata lo biang kerok nya"ucap Bondan emosi sambil marah-marah, Bahri pun terkejut mendengar nya, ia tak tau dengan aturan seperti itu,ia hanya fokus berjualan dan mencari nafkah saja.
"Maaf Bondan, saya tidak pernah bermaksud untuk merusak pasaran harga penjualan kalian,dan saya tidak tau jika ada aturan seperti itu,dan Fikri tidak pernah memberi tahu saya tentang hal seperti itu"sahut Bahri mencoba meluruskan agar tidak terjadi salah paham,ia tak mau bertengkar dengan orang lain.
"Fikri memang tidak tau dengan aturan ini, aturan ini gue yang membuat nya,jadi gue perintahin ke lo,mulai besok harus menjual durian ini dengan harga yang sama dengan harga kami"ucap Bondan menyuruh.
"Kalau begitu maaf Bondan, saya tidak bisa melakukan nya,saya bekerja sama dengan Fikri,dan Fikri tidak pernah mempermasalahkan berapa -berapa harga yang saya jual,yang jelas dia untung saya juga untung,dan untuk harga jual itu hak kita masing-masing dan mempunyai hitungan tersendiri,jika kamu ingin laku seperti saya, silahkan jual harga seperti saya,dan jika ingin mempertahan harga seperti yang kalian tetap kan silah kan,tapi saya mohon...jangan perintah kan saya dengan harga yang kalian mau,"sahut Bahri menolak dengan secara baik-baik.
"Ck... sombong sekali lo Bahri...!baru juga jadi penjual buah,gaya nya sudah setinggi langit" ucap Bondan sambil berdecak kesal.
"Bukan begitu Bondan, maksud sa..-"ucapan Bahri langsung di potong oleh Bondan.
"Alah..lo gak perlu sok baik sama gue,dan tidak mau mencari alasan"sahut Bondan sangat kesal.
"Ada apa ini?"tanya Fikri yang tiba-tiba datang ke lapak jualan Bahri, Bondan pun terkejut melihat nya.
"Eh..bos Fikri..! tumben kemari bos"ucap Bondan berpura-pura baik,sambil tersenyum ramah, Fikri pun mengerutkan alisnya heran.
"Saya memang sering mampir ke sini Bondan"sahut Fikri.
__ADS_1
"Oh... begitu ya bos he..he."sahut Bondan sambil cengengesan.
"Kamu sendiri... tumben datang ke lapak Bahri,apa kamu tidak jualan hari ini?"tanya Fikri sambil menatap aneh Bondan.
"Emm...saya cuma mau lebih kenal saja sama Bahri,maka nya jalan-jalan ke mari,ini juga mau balik jualan lagi bos"sahut Bondan berbohong sambil tersenyum dan salah tingkah, sedangkan Bahri hanya diam saja.
"Oh...begitu, saya pikir tadi kamu ingin memarahi Bahri, karena saya lihat dari jauh kalian seperti bersitegang"ucap Fikri sambil duduk di kursi dekat Bahri.
"Ah...itu bos Fikri saja yang salah lihat,kita sebenarnya sedang bicara masalah dagangan kok,dan sambil berbagi pengalaman saja,iya kan Bahri..!"sahut Bondan mengelak, sambil tersenyum, sedang kan Bahri hanya diam saja.
"Kalau begitu saya permisi dulu ya bos,mau lanjut jualan lagi, sampai jumpa lagi ya Bahri"ucap Bondan sambil tersenyum ramah,lalu segera pergi, Bahri pun mengangguk kan kepalanya sambil membalas dengan senyuman.
"Sialan...! kenapa tiba-tiba bos Fikri bisa ada di sini sih...awas saja kalau si Bahri itu mengadukan gue pada si bos,terus si bos marah dan memecat gue,gue pasti akan bakal kasih pelajaran sama si Bahri"batin Bondan sambil berjalan pergi.
"Apa dia membuat masalah dengan mu?" tanya Fikri curiga,ia sejak tadi tidak percaya dengan Bondan,di tambah dengan gelagat dan tingkah Bondan yang terlihat sangat mencurigakan.
Bahri pun menceritakan semua nya pada Fikri,tak ada yang di tutup-tutupi nya, karena Bahri tak mau jika ada ke salah pahaman di kemudian hari, mendengar itu Fikri pun sangat marah dan geram pada Bondan yang berlagak seperti bos dan memerintah semua anak buah nya,dan Fikri pun ingin langsung menghampiri dan memecat Bondan, namun Bahri menahan dan melarang nya,ia tak mau ada perkelahian terjadi,dan menyakiti perasaan Bondan,menurut Bahri selama Bondan tidak menyakiti pisik nya tidak masalah.
"Saya kagum dengan mu Bahri,kamu masih bisa memikirkan perasaan orang lain, pada hal orang itu sudah jahat pada mu" ucap Fikri, Bahri pun tersenyum mendengar nya.
"Fikri,kita harus bercermin pada Rasulullah, jika kita di sakiti maka janganlah kita membalas dengan menyakiti,dan jika orang itu jahat pada kita,maka janganlah kita balas dengan kejahatan juga,balas lah dengan kebaikan dan kesabaran"sahut Bahri, Fikri pun semakin terkagum-kagum pada sosok Bahri, yang sejak kecil ia kenal Bahri adalah sosok orang yang bijak,baik,jujur dan sangat bertanggung jawab,ia juga sangat sayang pada adik-adiknya.
...****************...
Bersambung.
Jangan lupa kasih semangat nya terus ya...☺️
biar author makin semangat nulisnya.
Oiya... author mau promosiin novel terbaru dari ummi Alima nih... yang berjudul.
jangan lupa mampir baca ya dan beri dukungan nya buat author 🤗 dan mampir juga di novel lain nya ya yang berjudul.
__ADS_1