JERITAN HATI ANAK YATIM PIATU

JERITAN HATI ANAK YATIM PIATU
Mulai berubah


__ADS_3

Setelah beberapa bulan kepergian anak pertama mereka, Humairah sempat hamil lagi yang ke dua,namun di kehamilan nya yang menginjak 7 bulan, Humairah keguguran dan mereka kehilangan bayi mereka untuk yang ke dua kalinya,Bahri dan Humairah pun hanya pasrah dan berserah diri kepada Allah, mereka mencoba berikhtiar kembali, dan berkat sabar, mereka di titip kan lagi oleh Allah kesempatan untuk menjadi orang tua lagi, Humairah kini telah hamil kembali, Bahri dan Humairah sangat bahagia, Bahri juga lebih memperhatikan istri nya, agar selalu sehat dan tidak terlalu capek.


"Dek,besok mas akan berangkat bekerja di kapal,apa kamu tidak papa mas tinggal?"tanya Bahri khawatir.


"Iya mas,tidak papa"sahut Humairah sambil tersenyum.


"Apa kamu ingin tinggal di rumah Abah dulu, untuk sementara waktu, nanti pas datang mas jemput,bagai mana?"tanya Bahri,memberi saran agar istri nya tidak kesepian.


"Beneran mas..!apa boleh?"tanya Humairah.


"Tentu saja boleh dek,mas justru lebih tenang jika kamu menginap di rumah Abah"sahut Bahri, sambil tersenyum.


"Saya mau mas"sahut Humairah sambil tersenyum bahagia, karena sudah lama ia tak menginap di rumah orang tua nya,ia pun sangat merindukan kakak dan adik-adik nya.


"Ya sudah,besok siang mas antar ya"ucap Bahri sambil mengusap kepala istri nya, Humairah pun mengangguk kan kepalanya sambil tersenyum.


*


*


*


Pagi-pagi sekali Humairah pergi ke dapur.


"Dek,kamu sedang apa?"tanya Bahri, sambil menghampiri istrinya di dapur.


"Lagi nyuci baju mas"jawab Humairah.


"Kan mas sudah bilang, jangan terlalu capek"ucap Bahri mengingat kan istrinya.


"Mas, saya cuma nyuci baju sedikit aja,gak capek kok"sahut Humairah sambil tersenyum.

__ADS_1


"Bagi mas,mau kamu nyuci baju banyak atau sedikit itu sama saja,mas tidak mau kamu capek"sahut Bahri,ia tak mau kejadian istri nya keguguran karena kecapean harus terulang lagi, Humairah pun langsung terdiam mendengar nya, ia pun menjadi merasa bersalah, karena membuat suaminya khawatir.


"Maaf kan saya mas,saya tidak bermaksud untuk membuat mas menjadi khawatir"ucap Humairah sambil menunduk kan kepalanya, Bahri pun tersenyum melihat istrinya.


"Ya sudah,sini biar mas yang lanjutin nyuci baju nya"ucap Bahri,lalu segera mengambil alih posisi istri nya.


"Tapi mas..!"ucap Humairah hendak protes, namun dengan segera ia langsung berdiri dan berpindah, Karena ia takut suaminya akan mengomel lagi.


Bahri pun langsung mencuci baju dan menjemurnya.


"Lho...ka Bahri nyuci baju?"tanya Diana heran.


"Iya"sahut Bahri santai sambil menjemur pakaian.


"Mana ka Humairah? kenapa bukan ka Humairah yang mencucinya ka?"tanya Diana, yang hendak protes, karena menurut nya kasian kakak nya harus mencuci pakaian, sedang kan istrinya enak-enak kan santai saja.


"Kakak mu lagi hamil muda,jadi mas tidak mau dia kecapean seperti dulu,itu semua karena kesalahan mas, yang kurang memperhatikan nya"sahut Bahri, Diana pun langsung terdiam mendengar nya, ia pun menjadi merasa panik dan takut, karena sebenarnya waktu Humairah hamil yang ke-dua, dia lah yang dulu sering memforsir tenaga dan menyuruh Humairah mengerjakan pekerjaan rumah ketika kakak nya Bahri tidak ada,mulai memasak, membersihkan rumah sampai mencuci piring dan sampai pakaian nya Humairah lah yang mencucikan , sehingga membuat Humairah menjadi kelelahan dan membuat kandungan nya tak bisa di selamat kan,namun sampai sekarang Bahri pun hanya tau dari dokter penyebab istri nya keguguran karena kecapean,ia tak tau kalau adik perempuan nya lah penyebab utama nya, Humairah pun sampai sekarang hanya diam tidak memberi tahu dan mencoba melindungi Diana.


"Ka Humairah tinggal di sana ka?kenapa gak tinggal di sini saja?"tanya Diana hati-hati.


"Iya,kaka yang menyuruh nya,lagi pula kakak mu sudah lama tidak tidur di rumah orang tua nya,dia pasti merindukan nya"sahut Bahri sambil tersenyum, Diana pun menjadi lega,ia tadi sempat khawatir jika Humairah mengadukan kelakuan nya pada Bahri.


"Ya sudah kaka masuk dulu, ingat...jangan lupa jemuran Kaka ya"ucap Bahri mengingat adik nya lagi, Diana pun langsung mengangguk kan kepalanya.


"Iya ka"sahut Diana.


*


*


*

__ADS_1


Diana masuk ke kamar nya dengan memasang wajah yang masam.


"Kamu kenapa dek?kok masuk-masuk muka nya cemberut gitu"tanya Rahmat suaminya heran.


"Ka Bahri tuh bikin kesal"sahut Diana mengadu, Rahmat pun mengerutkan alisnya menjadi bingung.


"Kesal..?kesal gimana maksud kamu?"tanya Rahmat lagi penasaran.


"Masa ka Bahri selalu perhatian dan mementingkan istri nya saja,apa pun yang di ingin kan istrinya ka Bahri bela-belain untuk memenuhi nya,dia juga selalu memberi kan oleh-oleh untuk istri nya saja kalau sudah pulang kerja, sekarang ka Bahri sudah berubah"keluh Diana sambil cemberut,ia merasa iri pada Humairah, Rahmat yang mendengar keluhan istri nya pun justru malah tertawa.


"Lho..kok mas Rahmat malah tertawa sih?"tanya Diana protes.


"Kamu ya, aneh-aneh saja..!ya wajar lah kalau ka Bahri itu lebih memperhatikan istri nya,apa lagi saat ini istri nya juga lagi hamil muda,di mana-mana seorang suami pasti lebih memperhatikan istri nya,dan kalau pulang kerja pasti yang di bawa kan oleh-oleh ya istri nya,masa tetangga"sahut Rahmat sambil terkekeh, Diana pun mendengkus kesal pada suaminya.


"Tapi mas,dulu sebelum ka Bahri menikah,dia lebih perhatian sama Diana,dan ka Bahri juga selalu ingat membawa kan oleh-oleh untuk Diana,tapi sekarang..ka Bahri justru pilih kasih"sahut Diana lagi, Rahmat pun geleng-geleng kepala melihat tingkah laku istri nya yang seperti kekanak-kanakan saja.


"Dek...itu dulu, sebelum ka Bahri menikah,tapi sekarang dia sudah mempunyai istri dan memiliki kehidupan nya sendiri,jadi wajar jika istri nya lah yang di nomor satu kan nya,mas juga begitu..!sebelum mas menikah dengan mu, setiap mas pulang kerja yang mas bawa kan oleh-oleh adalah orang tua mas,tapi pas setelah menikah, yang mas bawa kan oleh-oleh kan kamu dan anak-anak kita,lagi pula... kamu sudah menikah dan punya suami,itu adalah kewajiban suami mu yang memberi kan nya,bukan ka Bahri lagi"ucap Rahmat mencoba memberi kan pengertian pada istri nya, Diana pun langsung terdiam mendengar nya.


"Menurut mas, seperti nya bukan ka Bahri yang berubah,tapi kamu yang mulai berubah"ucap Rahmat,Diana pun langsung menatap suaminya.


"Kok Diana sih..?"tanya Diana.


"Iya, seharusnya kamu bahagia melihat ka Bahri bahagia, bukan sebaliknya...mengeluh seperti anak kecil"ledek Rahmat, sambil mengacak-acak rambut istri nya.


"Mandi keramas sana,biar otak nya encer"suruh Rahmat sambil terkekeh.


"Mas...!!!"teriak Diana kesal, Rahmat pun hanya tertawa melihat ekspresi wajah istri nya yang kesal.


...****************...


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa mampir baca ya..☺️


__ADS_2