
Sepanjang perjalanan pulang Humairah hanya diam membisu,ia tak mau bicara pada suaminya karena hati nya masih terasa dongkol,entah kenapa ia tidak ikhlas membantu Diana.
"Dek, kenapa kamu diam saja di sepanjang jalan tadi, apa kamu marah sama mas..?"tanya Bahri ketika mereka sudah ada di kamar,sejak sepanjang perjalanan pulang Bahri sudah merasakan perubahan dari sikap istri nya terhadap nya.
"Mas, kenapa mas mengambil keputusan secara sepihak, tanpa bertukar pendapat dulu dengan saya, saya ini istri mu mas, kenapa mas dengan mudah nya meminta dan memberikan kalung saya pada Diana"sahut Humairah yang akhirnya mengeluarkan unek-unek nya sejak tadi.
"Jadi karena masalah ini,sejak tadi kamu mendiami mas?"ucap Bahri sambil menatap istrinya, Humairah hanya menunduk kan wajah nya.
"Dek, Diana itu adalah adik kandungan ku,dan saat ini ia sedang mengalami kesulitan, bagai mana bisa aku hanya diam saja ketika ia memohon dan meminta tolong pada ku,lagi pula saat itu kamu kan juga ada di sana dan mendengar nya secara langsung, jadi untuk apa mas bicara dan meminta pendapat pada mu, dan apa kamu lupa..! waktu kita minta tolong pada Diana dulu,dia juga dengan ikhlas dan berbaik hati mau meminjami kita uang"ucap Bahri merasa sedikit kecewa dengan sikap Humairah yang menurut nya egois.
"Kenapa kamu berubah menjadi egois dek..? hanya sebuah kalung, kamu mempermasalah kan nya...mas kan sudah bilang tadi,mas akan mengganti kalung mu yang lama dengan yang baru"ucap Bahri sedikit kesal.
"Mas,ini bukan masalah kalung lama atau pun yang baru,tapi ini masalah bagai mana cara mas menghargai saya sebagai seorang istri di depan adik mas.."sahut Humairah sambil meneteskan air mata nya,ia merasa tidak ada harga dirinya di depan Diana.
"Seandainya kamu tau dan melihat langsung mas, bagai mana sikap dan perlakuan Diana terhadap saya waktu itu, mungkin kamu akan merasakan sakit hati yang mendalam seperti apa yang saya rasakan"batin Humairah merasa sangat sedih, ingin sekali Humairah menceritakan kejadian itu pada suaminya, tetapi ia yakin bukan nya percaya, pasti justru ia lah yang akan di salah kan oleh suaminya nanti, karena Humairah sangat hafal dengan sikap Bahri yang sangat percaya dan sayang sekali pada adik-adiknya, terutama pada Diana.
"Menghargai bagai mana maksud mu..? selama ini mas selalu memperlakukan mu dengan baik,tak pernah menyakiti mu,atau pun memukul mu, dan hanya masalah membantu seorang adik,kamu malah bilang mas tidak menghargai mu..!ada apa dengan mu dek..? kenapa kamu tidak mengerti dengan perasaan mas"ucap Bahri mulai terpancing emosi.
"Mas yang tidak mengerti dengan perasaan saya"sahut Humairah,kecewa pada suaminya.
"Dek, kenapa kamu berubah jadi keras kepala seperti ini...!"ucap Bahri merasa marah.
Tok...tok...tok...!
Suara pintu kamar mereka di ketuk seseorang.
"Ibu... Ayah,di panggil Nenek makan siang..!"teriak Mei memberi tahu sambil mengetuk pintu kamar.
"Iya nak..!"sahut Humairah,ia pun langsung berdiri sambil mengusap air mata nya dan membuka pintu kamar mereka, lalu segera keluar meninggalkan suaminya.
Bahri pun menghela nafasnya dan langsung mengikuti istri nya keluar, tidak mungkin ia menolak dan mengurung diri di kamar,karena posisi nya saat ini berada di rumah mertua nya.
__ADS_1
Di dapur, semua orang ternyata sudah berkumpul menunggu mereka makan bersama.
"Mari sini nak,kita makan dulu"ajak Umi sambil tersenyum hangat, Bahri pun mengangguk kan kepalanya sambil tersenyum dan duduk di samping kak Hadi suami dari kak Nur,kakak sulung dari Humairah.
Semua orang pun makan dengan lahap dan terlihat bahagia, sesekali mereka mengajak Bahri dan Humairah mengobrol juga bercanda.
"Nak Bahri tunggu sebentar, Umi ingin bicara sebentar dengan mu dan Humairah"cegah Umi menahan Bahri, ketika Bahri sudah selesai makan dan hendak kembali ke kamar.
"Inggih Umi"sahut Bahri sopan dan duduk kembali di dekat Umi.
"Nak, sebenarnya Umi merasa tidak enak menyampaikan kan nya pada kalian,tapi Umi juga kasihan pada kakak mu Nur"ucap Umi memulai pembicaraan, Bahri dan Humairah pun menyeritkan alis nya bingung.
"Ada apa dengan kak Nur umi..?"tanya Humairah penasaran.
"Suami kakak mu Nur,sudah beberapa minggu ini di pecat dari pekerjaan nya,dan ia sudah tidak memiliki pekerjaan lagi, Umi kasin melihat mereka apa lagi anak-anak nya yang masih kecil-kecil"ucap umi memberi tahu, Humairah pun merasa sedih mendengar nya, ia tak menyangka ternyata saudara nya pun mengalami kesulitan ekonomi.
"Begini nak,maksud umi,apa bisa nak Bahri memberi kan pekerjaan pada Hadi"ucap umi berharap.
"Apa pun nak,Hadi sudah bicara pada Umi, katanya... apa pun pekerjaan yang di berikan pada nya,ia mau nak"sahut Umi memberi tahu, Bahri pun terdiam sesaat sambil berpikir, sedang kan Humairah tak bisa bicara ataupun memberikan pekerjaan pada kakak ipar nya itu, karena semua yang berhak menentukan urusan pekerjaan adalah suaminya sendiri.
"Emm...Umi, boleh kah saya minta waktu, saya harus memeriksa dan kembali dulu ke Banjarmasin, untuk melihat keadaan, apa kah masih ada pekerjaan yang cocok untuk kak Hadi,dan saya harap kak Hadi tidak keberatan untuk menunggu, sampai saya memberi kabar"ucap Bahri menjelaskan ia tak berani menolak atau pun menerima, karena ia sendiri tak punya wewenang untuk menambah pekerja baru di kapal tanpa sepertujuan dari koh Ali bos nya.
"Tentu nak, terima kasih,nanti Umi akan sampai kan kepada Hadi dan Nur"sahut Umi sambil tersenyum senang, Bahri pun mengangguk kan kepalanya sambil tersenyum.
*
*
*
Tak terasa Humairah dan Bahri sudah 3 minggu berada di kampung halaman, hubungan mereka pun sudah kembali membaik,dan besok mereka sudah harus kembali ke kapal dan meninggalkan putri kesayangan mereka di kampung.
__ADS_1
"Mei..! apa Mei senang sekolah di sini..?"tanya Humairah.
"Senang bu, Mei banyak punya teman di sini, guru nya juga baik-baik semua"Sahut Mei bercerita sambil tersenyum bahagia
"Alhamdulillah... syukur lah kalau Mei senang,ibu jadi lega mendengar nya"sahut Humairah sambil tersenyum.
"Mei..!besok Ibu,Ayah dan Dede Caca sudah harus kembali ke kapal,kamu tidak keberatan kan..?"tanya Humairah merasa cemas,ia takut jika anaknya itu akan menangis dan berubah pikiran.
"Tidak papa bu, Mei akan tinggal di sini bersama Nenek dan yang lain"sahut Mei sambil tersenyum lebar, Humairah pun akhirnya bisa merasa lega dan bersyukur.
"Mei belajar yang rajin ya,dan jangan nakal atau pun menyusahkan Nenek"pesan Humairah menasehati putri nya.
"Iya bu, Mei janji akan menjadi anak yang pintar dan cerdas"sahut Mei sambil tersenyum lebar.
Keesokan harinya, mereka pun sudah siap hendak berangkat.
"Umi, saya titip Mei ya, tolong Umi tegur jika ia nakal atau pun berbuat salah"pesan Humairah, sambil menatap sayu umi nya, mata'nya pun sudah mulai berkaca-kaca melihat Umi dan anak nya.
"Tentu nak, Umi akan menjaga Mei dengan baik,kamu juga baik-baik ya di sana,jangan lupa selalu memberi kabar pada kami"sahut Umi berpesan.
"Inggih umi,kami berangkat dulu ya, tolong do'a kan kami"ucap Humairah sambil memeluk lalu menyalami tangan Umi nya,ia juga memeluk dan menciumi anak nya.
"Iya nak, kalian hati-hati di jalan, Umi akan selalu mendo'akan kalian"sahut Umi sambil tersenyum.
"Assalamu'alaikum"ucap Humairah dan Bahri bersamaan,lalu menaiki taksi yang akan membawa mereka.
"Wa'alaikum salam warahmatullah"sahut Umi sambil melambaikan tangan nya dan tersenyum.
...****************...
Bersambung dulu ya....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian,kasih bintang 5 dan tekan tombol favorit kalian ☺️