
Masih di Rumah Sakit.
Setelah Papa pergi dari Rumah Sakit, Zahra duduk di samping bik Ijah.
"Bik, sebenarnya apa yang terjadi sama mama, kenapa mama bisa seperti ini." tanya Zahra pada bik Ijah.
"Bibik kurang tahu pastinya non, tapi ibuk pingsan setelah buk Yanti dan buk Sinta pulang." jawab bik Ijah.
"Maksud bibik tadi bukde Yanti sama tante Sinta ke rumah?" tanya Zahra lagi.
"Iya non, setelah bapak kembali ke toko mereka pun datang. Bibik lagi nyetrika jadi bibik gak tahu apa yang mereka bicarakan yang bibik tahu saat bibik ngantar minuman untuk mereka, mereka minta undangan pernikahan non Zahra, katanya mau ngundang saudara tapi bibik lupa siapa nama yang mau diundang mereka tadi.Ibuk bilang pernikahan non udah di batalkan trus bibik gak tahu lagi non karna bibik melanjutkan kerjaan bibik. Gak lama dari kepergian mereka,bibik lihat ibuk sudah pingsan di lantai."
"Mau apa mereka, gak biasa-biasanya mereka peduli dengan kami sampai-sampai mau ikut ngundang, dulu aja waktu pernikahan bang Arga dan bang Arya mereka gak peduli sama sekali, tapi sekarang?? jangan-jangan mereka udah tahu aku batal menikah?? tapi dari siapa mereka tahu? yang tahu masalah ini cuma mama, papa, bang Arga, mbak ulan dan sasa bahkan bik Ijah dan bik Imah baru tahu hari ini. keluarganya pasti belum cerita kepada yang lain, " batin Zahra.
"Ohya, mas Boy dan beberapa pegawainya juga tahu saat tak jadi foto apa mungkin mereka, tapi bagaimana kabar itubisa sampai pada mereka" pikir zahra.
Buk Yanti dan Tante sinta adalah kakak dan adek ipar Papanya Zahra. Mereka memang kurang suka dengan mama. walau mama selalu baik pada mereka, pasti ada aja salahnya. Seolah-olah mereka tidak senang jika melihat mama dan keluarga zahra bahagia. Kasian mama punya ipar seperti mereka.
Arga, Wulan, dan anak mereka Daffa sudah sampai di Rumah Sakit.
"Gimana mama dek?" tanya Arga pada Zahra.
"Mama belum sadarkan diri bang." jawab Zahra masih menangis.
"Kenapa bisa seperti ini, bukankah kemarin mama baik-baik saja, papa mana? mata Arga mencari papa yang gak kelihatan disana.
"Papa keluar bentar tadi katanya ada urusan." jawab Zahra.
"Urusan penting apa yang membuat papa malah meninggalkan mama disaat kondisi mama seperti ini."Arga heran karena ia tahu betul papanya sangat menyayangi mama sampai-sampai papa rela nganteri mama kemana mana karna mama sering pingsan jadi papa gak pernah membiarkan mama pergi sendiri walau cuma belanja bahan dapur.
"Non, mungkin bapak pergi nemuin buk Yanti soalnya tadi bibik juga cerita ke bapak seperti yang bibik bilang ke non,",ucap bibik.
"Mungkin juga bik soalnya tadi bibik lihatkan waktu pergi wajah papa terlihat sangat marah"
Bibik mengangguk mengiyakan perkataan Zahra.
"Bude Yanti? ada hubungan apa kejadin ini dengan bude Yanti? tanya Arga lagi pada Zahra.
Zahra menceritakan apa yang sudah bibik ceritakan tadi pada abanya Arga dan mbaknya Ulan yang dari tadi hanya diam mendengarkan.
"Mereka berdua memang gak berubah-berubah selalu saja cari masalah dengan keluarga kita. Kalau bukan karna mama, dari dulu sudah ku kasih pelajaran mereka. Arga kesal mengepalkan tangannya mendengar cerita Zahra.
Waktu terus berjalan hari pun semakin sore tapi mama belum juga sadar. Papa sudah kembali ke Rumah Sakit. Ia melihat anaknya Arga sudah sampai.
"Kalian pulang aja biar papa yang jaga mama, anak kamu juga masih kecil ga, gak baik kalau harus menginap disini". ucap papa.
"Zahra disini aja sama papa, Abang dan mbak pulang aja biar bibik gak perlu naik gojek." kata Zahra melihat Arga dan Ulan.
"Nanti ba'da maghrib kita pulang, gak apa kan bik?. Tanya Arga pada bibik.
" Iya den" jawab bibik.
Kini tinggal papa dan zahra duduk di depan kamar ICU mereka masih setia menunggu mama berharap mama Neha segera bangun dari koma. mereka tidur di kursi tunggu depan kamar.Sementara Arga, Ulan, Daffa dan bibik pulang selepas maghrib.
__ADS_1
#######
Ke esokan harinya, Rey dan very sudah berada bersama Adi di ruangan kerja Rey yang selama ini tidak ada yang pernah masuk kecuali OB, itupun hanya untuk membersihkan dua hari sekali.
"Mana karyawan terbaik mu itu Adi?? sudah jam setengah sembilan belum datang juga.Orang seperti ini nih yang buat perusahaan bangkrut." Rey mulai kesal sudah setengah jam menunggu.
"Tu anak gak cuti lagi kan di?" tanya Very
Belum sempat Adi menjawab terdengar suara pintu di ketuk
tok.... tok.... tok....
"Itu dia sudah datang, masuuk.... " jawab Adi.
"Maaf pak saya telat" ucap Zahra kemudian terlihat Rey yang juga baru saja berbalik menghadapnya.
"K a m u............" ucap Rey dan Zahra serentak.
"Kalian sudah saling kenal? Tanya Adi sedikit terkejut.
"Belum kenal saja dia sudah menabrak ku dua kali sampe ponsel ku rusak gimana kalau udah kenal bisa hancur hidupku." sifat dingin dan ketus Rey keluar lagi.
"Maaf pak semalam saya terburu-buru jadi gak sengaja menabrak bapak. Zahra menunduk dia sadar dia salah.
"Yaudah. Zahra, ini pak Rey pemilik perusahaan ini dan yang ini Pak Verry asistennya pak Rey."Adi memperkenalkan Rey dan Very kepada Zahra.
"Hai..., aku Very " very mengulurkan tangannya ke Zahra.
"Semoga kita bisa menjadi teman kerja yang baik" ucap Very lagi sambil tersenyum.
"Rey, Ver, ini Zahra lulusan terbaik yang aku ceritakan kemaren, dia yang akan menangani proyek kita di danau Mautara.ucap Adi lagi.
"Kamu yakin memberikan proyek itu padanya? berjalan saja tidak becus bagaimana bisa dia menangani proyek besar ini?.Mungkin pihak kampus nya dulu juga salah memberi nilai sehingga dia tak sengaja jadi lulusan terbaik." ucap Rey sepele.
"Pak sayakan sudah bilang saya tidak sengaja, sayapun juga sudah minta maaf ke bapak, jangan jadikan satu kesalah saya membuat bapak menilai kemampuan saya." Zahra tak terima disepelekan.
"Maaf mu tidak bisa mengembalikan ponselku yang rusak." jawab Rey
"Baik aku akan mengganti ponsel bapak."
"Sayangnya aku sudah menggantinya dengan ponsel baru." Rey mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya menunjukkan pada Zahra.
"Tapi aku akan tetap meminta gantinya nanti aku pikirkan kamu ganti dengan apa," sambung Rey lagi.
"Dasar orang kaya sombong, mentang mentang banyak uang, baru kemaren ponselnya rusak sekarang da ada yang baru" batin Zahra.
"Adi, Very, aku gak percaya memberikan proyek besar ini pada perempuan ceroboh seperti dia, aku yakin untuk sketsa rancangan awal saja dia akan membutuhkan waktu satu bulan apa lagi untuk menyelesaikan bangunannya." Rey mengarahkan pandangan tajamnya ke arah Zahra.
"Bagaimana kalau seandainya aku mampu menyelesaikan sketsa rancangan dasar hanya dalam waktu satu hari?? berikan aku kesempatan sekali saja, akan ku buktikan bahwa pihak kampus tidak salah memberikan nilai kepadaku seperti yang bapak bilang tadi." Jawab Zahra tegas.
"Udah lah Rey serahkan saja pada zahra aku mengetahui kinerjanya pasti dia bisa." ucap Adi membela Zahra.
"Ia Rey, sepertinya Adi tak mungkin salah dengan apa yang sudah di katakannya." sambung Very.
__ADS_1
"Baik aku terima tawaranmu, jika kau berhasil aku turuti apapun permintaanmu tapi jika kamu tidak mampu menyelesaikannya dalam satu hari maka kamu harus jadi asisten pribadiku,"
"Rey kamu gila ya??kan udah ada aku asisten pribadimu? kamu mau pecat aku ya??"Very tak terima.
"Kau tenang Ver, aku menjadikan dia asisten bukan karena dia pintar tapi untuk menunjukkan padanya cara kerja yang benar." Rey tersenyum mengejek pada Zahra kemudian ia mendekati very dan berbisik padanya "kan kamu nanti jadi berteman sesama asisten" rey tersenyum lagi padahal di dalam hatinya ia ingin menjadikan Zahra asisten pribadi agar mudah mengerjai Zahra.
"Ok kalau aku mampu hutangku lunas, bapak gak berhak memintaku lagi untuk membayar kerugian ponsel bapak yang rusak,dan bapak harus mentraktir makan siang semua karyawan di kantor ini." pinta Zahra
Rey terdiam didalam hatinya berkata permintaan aneh yang tak pernah terpikir oleh dirinya.
"Gimana pak, saya rasa bapak gak akan bangkrut jika mentraktir semua karyawan bapak." ucap Zahra mengembangkan senyumnya.
"Baik siapa takut," jawab Rey
"Boleh saya pinta berkas berkasnya pak, beserta ukuran luas tanahnya.Pinta zahra lagi kali ini pada pak Adi.
"Ver berkasnya kemarenkan sama kamu untuk dipelajari, kamu bawa kan?
"Iya aku bawa, sebentarya." Very mengambil berkasnya dan kemudian menyerahkan pada Zahra.
Zahra mengambil berkas yang diberikan oleh Very kemudian keluar dari ruangan menuju meja kerjanya untuk membuat sketsa rancangan awal pembangunan.
"Kayaknya gue harus sering-sering kemari ni Di," ucap very.
"Mau apa loh kemari? " tanya Rey
"Ya pendekatanlah sama Zahra, loh bener Di, Zahra emang cantik banget, gaya nya juga gemesi, lihat aja tadi dia berani nantangi teman kita si Rey.hahaha."
Rey hanya melotot melihat Very dan adi yang tertawa mengejeknya.
"Inget janjilo ya Rey, Zahra bagian gue."
"Kalau ternyata dia jatuh cintanya ke gue gimana?" kata Rey dengan PD.
"Lo jangan coba-coba mempermaikan dia, kasihan tu anak biar gue aja yang bahagiain dia lagian lo kan gak pernah mau menikah jangan bilang sekarang lo suka sama dia,,,,??" tanya Very curiga.
"Siapa juga yang mau sama gadis ceroboh macam dia?" Sangkal Rey.
"Bagus deh, peluang buat gue semakin lebar." senyum Very penuh kemenangan.
"Jangan keburu senang lo Ver, Siapa tahu tu anak da menikah dan udah punya anak." Rey mengingat saat Zahra menggendong Daffa.
"Zahra,masih gadis Rey," Jawab Adi spontan.
"Yakin lo?? tempohari aku pernah lihat Zahra menggendong anak kecil, dia juga bahasakan dirinya bunda pada tu anak sementara temannya dipanggil tante, bisa jadikan itu anaknya? "
"Ah gak mungkin, memang tiga bulan yang lalu Zahra sempat mau nikah tapi batal kami juga udah diundang.? Adi masih gak percaya.
"Nakan bisa aja dia itu udah nikah."
"Bisa jugakan tu anak ternyata anak saudaranya, gue masih yakin kalau Zahra masih single.Pokoknya gue harus dapati Zahra dan gue jadikan dia nyonya Very Pratama Hadinata," Very tersenyum sumringah.
"Terserah loh" jawab Rey kesal, hati nya sebenarnya juga berharap kalau Zahra belum menikah.
__ADS_1