
Sembilan hari berlalu. Bagi mereka yang melakukan rutinitas setiap hari, dengan kata lain tak ada yang di tunggu hari terasa begitu cepat berlalu.Tetapi tidak bagi Rey, Nek Retno, Nek Gendis dan orang-orang disekitar Rey. Sembilan hari adalah waktu yang sangat lama, melelahkan dan menguras emosi mereka.
Bagaimana tidak, setelah hari bahagia dimana Papa Zahra memberikan Restu kepada Rey disaat itu pula Pak Arman memberi syarat tidak mengizinkan Zahra untuk bekerja lagi di perusahaan milik Rey. Zahra harus menetap di desa dengan begitu Zahra juga tidak lagi tinggal di kota bersama Rey melainkan menetap di rumahnya bersama mama dan Papanya.
Semenjak masuknya Zahra di kehidupan Rey. Perubahan besar terjadi di lingkungan Ardana, baik di kantor, Rumah maupun perubahan pada diri Rey sendiri.
Rey berubah seratus delapan puluh derajat, yang dulu tak pernah peduli dengan orang lain, kini menjadi peduli, yang dulu suka marah-marah karena hal kecil sekarang bisa lebih menahan emosi.
Akan tetapi kehidupan Rey seminggu ini kembali menjadi kacau. Rey tak bisa berfikir jernih karena tak ada Zahra disampingnya, Ia pun sering marah -marah tak jelas, hanya karena hal sepele, akhirnya semua orang di kantor menjadi sasaran kemarahan Rey. Nek Retno pun sampai kewalahan menghadapi cucu kesayangannya itu.
Rasa rindu pada Zahra di hati Rey semakin hari semakin besar. Rindu itu kian membuncah membuat Rey gunda gulana.
Selama berjauhan, Rey dan Zahra berkomunikasi lewat Video call, Itupun di batasi hanya satu kali sehari dan cuma 20 menit saja. sudah bisa dibayangkan itu sangat menyiksa bagi Rey tak bisa sesuka hati menelpon wanita yang sebenarnya sudah sah menjadi istrinya. hal ini karena ponsel Zahra di sandra oleh Pak Arman.
Sangat berat bagi Rey menjalani hari tanpa Zahra, berbeda ketika dia berada di kairo saat belajar agama untuk mensetarakan diri dengan Zahra. Meski rindu, Saat itu Rey masih bisa tenang, mungkin karena ada sahabatnya yang selalu memberikan motivasi dan pembelajaran agama pada Rey.
Rey kini benar-benar di mabuk cinta stadium akhir. Seperti ikan yang kehabisan air.
Melihat wajah cantik Zahra menjadi candu baru bagi Rey. Zahra adalah penyemangat sekaligus obat penenang bagi Rey. Hanya dengan sedikit senyuman dari Zahra mampu membuat Rey merasa bahagia. Senyum yang sementara waktu hanya bisa dinikmati dari layar ponselnya.
***
Pukul setengah tiga sore, Nek Gendis beserta anak menantunya datang ke kediaman ARDANA.
" Mbakyu, Rey kenapa kalian belum siap?, Tuan dan nyonya Hadynata mana? Mereka da sampai kan? " Tanya nek Gendis.
__ADS_1
Belum sempat Rey dan nek Retno menjawab pertanyaan Gendis, Tuan Hadynata beserta istrinya memberi salam. Mereka berdua baru saja sampai dari Jerman. Ada urusan pekerjaan yang tak bisa di tunda menyebabkan mereka baru bisa kembali ke Indonesia hari ini, satu hari sebelum pernikahan Rey.
Nenek menyambut opa dan oma dengan senang hati. Nenek memeluk oma Mery sebagai pelepas rindu. Hubungan Mereka berdua sangat baik meski jarak tempat tinggal mereka berjauhan.
" Jeng Retno saya senang sekali mendapat kabar bahwa ternyata Zahra adalah anaknya Kalvita. Dari awal bertemu Zahra saya dan mas Hady langsung teringat pada Kal. Saya sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya, kami harus minta maaf karena saat itu tidak mempercayainya. " Oma Mery meneteskan air mata, teringat kejadian masa lalu disaat anaknya Ellyn bertengkar dengan Anak angkatnya Kalvita.
" Kita semua memang bersalah pada Kalvita, tapi Kal tidak pernah berubah dia masih tetap sama seperti Kal yang kita kenal. Hatinya sangat mulia, tak sedikit pun terlihat dimata Kal ada rasa benci maupun dendam pada Kita yang sudah menyakiti hatinya. " Hibur nek Retno.
" Rey, oma sangat senang akhirnya kamu mengakui cinta mu pada Zahra. Saat hari pernikahan kalian oma yakin kalau sebenarnya kamu sudah mencintai Zahra bukan? " Oma menyenggol bahu Rey, melempar senyuman manis, membuat Rey jadi salah tingkah.
" udah-udah, nostalgianya nanti aja sekarang mbakyu sama Rey cepat lah bersiap atau gak kita akan terlambat." potong nek Gendis.
" Emangnya kita mau kemana nek? " sambar Rey tanpa spasi.
" kemana lagi kalau bukan ke rumah istri mu itu, nenek tahu kalau kamu tu sekarang pasti rindu beratkan sama Zahra, dan sudah sangat gak sabar untuk bisa berjumpa pujaan hati Yakan ? " Nek gendis melempar senyum meledek.
" Nenek udah atur semuanya. malam ini Zahra akan khatam kaji lalu melaksanakan adat malam berinai, dengan jurus pamungkas nenek mu yang paling cantik ini, nenek berhasil merayu mama dan papa Zahra agar kita bisa melihat langsung acara malam ini di rumah Zahra. Jadi cepetan kamu bersiap! Nenek tunggu 15 menit, lagian perlengkapanmu juga sudah siap semua, oh ya pakai ini! nenek udah merancang khusus untukmu Rey. " Nek Gendis memberikan sebuah paperbag pada Rey.
Rey mengambilnya dan berjalan menuju kamar, tapi sebelumnya Rey membisikkan sesuatu ke telinga kanan nek Gendis. " Makasih ya nek atas semuanya. " Rey tersenyum senang.
Nek gendispun ikut senang karena akhirnya ia bisa melihat Rey bahagia. senyum yang selama ini tak pernah ia lihat sebelum kedatangan Zahra.
........
Duapuluh menit berlalu, Rey dan keluarganya berangkat menuju rumah Zahra.
__ADS_1
Setelah menempuh perjalanan dua jam akhirnya mereka sampai. Jarum jam sudah menunjukkan pukul Enam sore, sebentar lagi akan tiba waktu Maghrib.
Keluarga ARDANA disambut baik oleh keluarga Zahra. Mereka di persilakan untuk masuk ke dalam rumah.
Teras rumah Zahra yang luas di sulap oleh Wedding Organizer bak seperti gedung hotel mewah, semua serba tertutup gorden berwarna putih dengan kombinasi warna gold dan silver pada bagian plaplon beserta tiang-tiang penyanggah. Walau waktunya singkat tetapi dekorasinya terlihat indah sempurna.
Oma Mery kini berada tepat di depan Neha, mamanya Zahra.
" Mami, Papi " ucap mama lirih. terpancar sinar kerinduan di mata mama.
" Kal. " oma Mery memeluk mama.air mata pun menetes tak terkalahkan.
" Maafkan mami, dan papi. kami bersalah karena gak bisa mengenali anak kami sendiri. " oma memegang kedua pipi mama, biar bagaimanapun mama pernah tinggal lama bersama oma dan opa, Rasa kasih sayang itu melekat terpatri dihati mereka.
" Enggak mi, mami dan papi gak salah sama sekali. " Mama pun ikut menangis, dan kembali memeluk oma Mery.
" Andai Elyn masih ada, Elyn pasti akan sangat bahagia akhirnya keingina untuk menjodohkan anak kalian terwujud. "
" Bukan Elyn saja yang senang mi tapi Kal juga sangat bahagia. Rayhan kecil yang selalu merengek minta dimasakin sekarang akan menjadi anak Kal. Duhulu takdir telah memisahkan kami tapi sekarang takdir membawanya kembali padaku. " Mama menatap Rey yang berada di samping oma, bibir mama tersenyum tapi matanya mengeluarkan air bening yang membasahi pipi.
" Kita masuk yuk mi, pi, apa mami dan papi gak kepingin ketemu sama putri cantik ku Zahra? papi mami belum pernah kan berjumpa dengan Zahra? " tanya mama.
Oma Mery dan opa Hady saling bertatapan kemudian mereka menatap Nek Retno dan Rey secara bergantian.
Rey yang mengerti dengan maksud pandangan itu dengan sigap memberikan kode kecupan mata.
__ADS_1
" I.. iya. Mami da gak sabar lihat cucu mami Zahra, pasti dia sangat cantik dan baik sama seperti kamu Yakan Kal. " Ucap oma seolah-olah belum pernah bertemu Zahra. Oma mengerti maksud kedipan mata Rey.
Untungnya Nek gendis telah menceritakan semua yang terjadi antar Rey dan Zahra pada oma dan opa waktu berada di dalam mobil saat dalam perjalanan menuju rumah Zahra.