Jodoh Terbaik Pilihan Tuhan

Jodoh Terbaik Pilihan Tuhan
Part 112. Konflik keluarga.


__ADS_3

" Plak...... " Sebuah tamparan Keras dilayangkan Papa. Membuat semua orang yang menyaksikan terkejut tak percaya Papa memberi satu tamparan Keras.


Zahra memejamkan mata saat melihat Papanya mengangkat Tangan.Zahra tahu Papanya akan memberi tamparan keras itu padanya. Tetapi Zahra tak merasakan Apa-apa, tak sedikitpun ada rasa perih menjalar di pipinya.


Zahra perlahan membuka mata, betapa terkejut nya Zahra saat mendapati Mama sudah berada tepat di depannya dengan pipi memerah karena tamparan dari Papa yang sebenarnya di tujukan pada Zahra.


Buliran bening itu kembali tumpah dari mata bulat Zahra, melihat kenyataan ternyata mamanya dengan cepat menggantikan posisi dirinya yang seharusnya zahralah yang mendapatkan tamparan itu.


" Ma, " Panggil Zahra lirih, hatinya kini jauh lebih sakit saat tahu mamanya rela menerima tamparan Papa hanya untuk melindunginya.


Mama menatap Zahra dengan tersenyum, senyum seorang ibu yang begitu sayang dan peduli pada anaknya, yang rela menerima sakit hanya untuk melindungi putrinya.


" Ini lah hasil didikan mu, lihatlah meski dia sudah jelas-jelas bersalah kamu masih saja melindunginya. " Kesal Papa menatap nanar Mama.


" Aku yakin dengan putriku, karena itu aku melindunginya dari orang-orang yang tidak ingin melihat putriku bahagia. " Ucapan Mama masih sangat tenang, matanya sekilas menatap bu'de Yanti.


" Lihat istri mu Man, dia menudu kami ingin merusak kebahagiaan putrinya, sepertinya memang dari dulu dia tidak menyukai kami, sudah jelas anaknya bersalah tapi masih mencari sangkalan dengan menyalahkan orang lain. " sela Yanti tak terima.


" Mbak Neha, sepertinya sekarang keadaan berbalik. Mungkin kamu lupa terakhir kali saat kami meminta bantuan atas kasus anak kami, bukannya membantu, mbak malah mengatakan kalimat seolah-olah anak kami tidak ada yang benar, semuanya bermasalah, mbak bilang sudah seharusnya anak kami mendekam di penjara karena ulah buruk mereka. Tapi sekarang putri kebanggaan mbak ini menaruh kotoran di wajah keluarganya sendiri, dia membohongi semua orang bahkan Mama dan Papa nya sekalipun dibohonginya, lantas mengapa masi mbak bela ha? " tanya Sinta dengan nada tinggi.


" Man, putri mu ini sudah buat malu keluarga kita, lebih baik kamu usir saja." titah bu'de Yanti menambahi.


" Ini Rumah ku, jadi kalian gak berhak mengusir putri ku." jawab Mama. Perdebatan antara Mama dan kedua iparnya itu semakin memperkeru suasana.


" Tapi ini juga rumahku. Aku kepala keluarga di Rumah ini jadi aku berhak menentukan siapa yang boleh tinggal di rumah ini. Anak yang sudah buat malu keluarga gak pantas berada di keluarga kita lagi. " Papa memalingkan Wajahnya.


Hati Zahra bagai tertancap puluhan anak panah mendengar ucapan Papanya, lelaki yang selama ini melindunginya kini ingin mengusirnya. Airmata Zahra mengalir deras tak terbendung lagi.


" Istighfar Pa, Papa sadar dengan yang Papa katakan? " Tanya mama melemah melihat sikap suaminya.


" Kamu yang Istighfar, hanya karena dia putri mu lantas kamu benarkan kesalahannya, dia itu udah buat malu keluarga. Ini semua karena kesalahanmu yang terlalu memanjakanya, dulu saat dia akan kuliah aku udah pilihkan fakultas agama untuknya tapi kamu malah mendukungnya dengan membujukku agar mengizinkan dia kuliah dengan jurusan keinginannya itu, semua ini salah mu. Kamu yang bertanggung jawab atas ulah memalukan putrimu ini Neha.! Sekarang kau pilih mau tetap bersamaku atau tinggal diluar sana bersama putri kesayangan mu itu. " Papa sudah tak mampu menahan amarahnya. Bukan hanya pada Zahra papa juga sudah sangat geram dengan sikap Mama yang masih memihak pada Zahra. Tak main-main Papa memberikan pilihan yang sangat sulit bagi Mama.


" Sudah pa, " Arga merangkul Papanya agar bisa lebih tenang.


Zahra kini menangis terisak tanpa Suara, Zahra tak pernah menyangka akan jadi seperti ini. Dua orang yang sangat ia sayangi saat ini bertengkar hanya karena dirinya. Zahra tak ingin keduanya berpisah, tapi Zahra juga tak mampu berkata-kata untuk membela diri seakan-akan mulutnya terkunci.


Rey yang melihat Zahra pun ingin segera memeluk Zahra untuk memenangkannya. Jiwa Zahra pasti sangat tergoncang tapi saat Rey ingin mendekati Zahra nek Retno menahan tangan Rey sambil menggeleng. Nek Retno tidak ingin tindakan Rey nantinya akan menambah masalah.


Sedangkan Yanti, putrinya Sesil dan juga Sinta tersenyum tipis penuh kemenangan.


Mama memeluk Zahra yang sedang menangis.


Kembali Mama angkat suara.


" Ya aku adalah ibunya, aku yang telah mengandungnya, aku juga yang melahirkannya, menyusuinya, merawat dan membesarkannya dengan kasih sayangku, jadi aku sangat mengenal putriku, dia tidak akan pernah mengecewakanku. Aku mempercayainya lebih dari diriku sendiri, dan aku akan terus melindungi nya sampai kapanpun." Mama masih sangat tenang, sedikitpun tak ada emosi dari setiap kata yang diucapkan Mama.


" Cih ibu dan anak tak tahu malu sudah salah masih saja berkilah. Sudah jelas-jelas putrimu membohongi semua orang masih saja kamu bela. " kata Yanti lagi kembali membumbui.


" Jaga ucapan mbak, putriku tidak berbohong, tidak sama sekali, apakah dari kita semua ada yang bertanya tentang pernikahannya? adakah???. Arga tanyakan pada Papamu apa dia pernah menanyakan itu pada Zahra dan Zahra menjawab belum menikah. Tidak kan? jadi putriku tidak bersalah, Zahra tidak pernah membohongi siapapun dia hanya menyembunyikannya dari semua orang, bahkan dari mamanya sendiri, itu membuat ku yakin Zahra punya alasan sehingga dia tidak memberitahukannya. " Mama masih sangat tegar membela putrinya Zahra. Tutur katanya sangat lembut.


" Kalau begitu sekarang kamu tanya putri kesayangan mu itu apa alasan sebenarnya sampai ia tak menganggap kita lagi saat dia menikah. " Setiap ucapan Papa penuh dengan penekanan dengan nada yang tinggi.


Mama menggenggam tangan Zahra.


" Ayo cepat tanyakan?" kata Papa lagi tak sabar.


" Zahra sayang jawab Mama, kenapa Zahra menyembunyikan pernikahan Zahra, sebenarnya ada apa nak. Mama akan selalu mendukung Zahra, sekarang katakanlah agar mereka semua tahu kalau Zahra gak bersalah." Mama makin mengeratkan genggamannya.

__ADS_1


Zahra melihat mata mama yang berkaca-kaca, dan pipi yang masih memerah bekas tamparan Papa yang sangat keras. Meski tak ada air mata yang jatuh di pipi Mama, tapi Zahra tahu jika mamanya itu berusaha kuat hanya karena dirinya. Zahra tahu hati Mamanya hancur tapi tetap tersenyum memberikan dukungan pada Zahra. Zahra semakin menangis terisak di tahan tanpa suara, Air matanya semakin deras, bibirnya terasa keluh, tak tahu mau menjelaskan mulai dari mana.


" Lihatlah Man, bukannya menjelaskan alasannya, Zahra malah menangis, itu sudah menjelaskan bahwa dia bersalah. Jangan- jangan dia menikah karena hamil diluar nikah. "


" Mbak Yanti, sekali lagi ku peringatkan jaga ucapan mbak. Atau Tidak aku akan mengusir mbak dari rumahku. " Kini suara mama terdengar sangat tegas dengan setiap kata penuh penekanan.


" Kenapa kamu tak bisa terima kenyataan ha, apa coba alasannya Zahra menikah diam-diam kalau bukan karena dia hamil. Buah itu gak jauh dari pohonnya Neha, bukankah dulu kamu juga pernah jadi pelakor dalam rumah tangga temanmu Elyn kan? sehingga dia memutuskan persahabatan denganmu dan sekarang wajar aja kan kalau putrimu Zahra menggoda bos nya dengan tubuhnya itu. "


" Cukup...... " Teriak Rey, wajahnya memerah menahan Amarah.


" Tutup mulut anda jika anda masih ingin punya mulut. " lanjut Rey dengan sangat marah.


" Apa? apa aku gak salah dengar? kau menyuruh tutup mulut?. Hei siapa kau berani ikut campur urusan keluarga kami. " Jawab bu'de Yanti dengan suara jauh lebih keras.


Rey berjalan mendekati Zahra menggenggam satu tangan Zahra.


" Kamu lupa atau pura-pura lupa, bukankah kamu tadi barusan bilang kalau Zahra sudah menikah denganku?? Aku tidak suka jika ada orang yang menghina istri dan mama ku. " Rey kini juga menggenggam tangan Mama, dan Mama juga menatap Rey.


" Kau... "


" Pasang telingamu baik-baik karena aku tak suka mengulang apa yang sudah ku katakan." Rey memotong pembicaraan bu'de Yanti, menatap tajam bu'de Yanti seperti ingin menelannya hidup-hidup.


Kemudian Rey beranjak menatap pak Arman.


" Om, aku dan Zahra memang sudah menikah tiga bulan yang lalu, tapi pernikahan yang kami lakukan bukan karena seperti yang dikatakan wanita bermulut sampah itu. " Rey menunjuk Bu'de Yanti dengan Matanya. Jelas saja Wajah Yanti terlihat sangat tidak suka dikatain Rey mulut sampah.


" Kami menikah satu hari sebelum pernikahan adikku Kyara dan Suaminya Farhan. Keluarga Farhan punya syarat bahwa pernikahan hanya bisa dilangsungkan jika saya, abangnya Kyara menikah terlebih dahulu. Mereka punya kepercayaan jika ada pelangkahaan dalam keluarganya maka itu akan menjadi kesialan bagi pernikahan itu sendiri. Pertengkaran Mama dan Papa saat aku kecil membuat aku tak pernah dekat dengan siapapun karena itu aku tidak pernah ingin menikah. Kyara menyarankan ku agar menikah kontrak hanya sampai pernikahannya dan Farhan berlangsung. Awalnya aku menolak tapi waktu itu aku sudah mulai mencintai putri om Zahra sehingga ntah dari mana ide gila itu muncul sehingga aku mengajukan syarat bahwa aku mau menikah bila Zahra yang menjadi istriku. " jelas Rey.


Zahra menatap Rey yang sedang berbicara pada Papanya. Walau dalam kesedihan kini hatinya seperti disiram air sejuk mendengar ucapan Rey. Rey mengeratkan genggamannya kembali menatap Zahra satu tangannya menyeka airmata Zahra.


" Jangan percaya sama cerita yang dia karang Man. pasti ini akal-akalan mereka toh reza juga abangnya Kyara kenapa dia tidak menikah. " Yanti menyambar ucapan Rey.


" Man, jangan percaya dia pasti mengada-ngada buktinya sudah jelas kenapa Reza tidak menikah juga, padahal sama-sama abangnya Kyara. ini cuma alasan yang mereka karang untuk menutupi kehamilan Zahra. " Ucap Yanti lagi.


" Aku dan Kyara dengan Reza saudara lain ibu. Saat itu Reza berada di Jerman, karena ada sesuatu hal sehingga Reza tidak bisa pulang. Kami bahkan belum pernah melakukan hubungan selayaknya suami istri jadi bagaimana mungkin Zahra Hamil seperti yang di tuduhkan kakak om itu. Zahra gadis yang sangat menghormati dan menyayangi keluarganya, ketulusan hatinya membuatku tidak bisa menghindar darinya om seperti aku yang tak pernah tertarik dengan wanita yang lain. Zahra bahkan rela menukar kebahagiaannya hanya untuk seorang gadis yang awalnya sama sekali tak pernah ia kenal. Zahra gak bersalah sama sekali om. Akulah yang membawa Zahra dalam masalah keluarga kami. " jelas Rey meyakinkan.


" Benar yang di katakan bang Rey om, Kak Zahra gak bersalah sama sekali, justru aku berutang budi pada kak Zahra. Aku kenal benar siapa bang Rey, jika saat itu Kak Zahra gak mau sudah bisa dipastikan bahwa pernikahan ku akan gagal dan mungkin aku sudah mati bunuh diri. " Kyara juga angkat bicara.


Papa masih diam mendengarkan penjelasan Rey dan Kyara,di dalam hatinya merasa menyesal karena sudah menghakimi Zahra sebelum mendengarkan penjelasan putrinya itu.


" Man, kamu gak usah percaya dengan omongkosong mereka. mereka pasti berbohong." Yanti mencoba terus mempengaruhi Papanya Zahra.


" Mereka gak bohong Pa, Yang di katatakn Rayhan dan Kyara itu benar. " teriak Arya.


" Arya.... " ucap Papa, mama, dan Rey bersamaan saat melihat Arya yang berada di pintu masuk. Arya baru saja pulang dari rumah sakit bertepatan saat Papa menampar mamanya.


" Arya, kamu gak usah ikut-ikutan, bukankah kamu selama ini di Kairo, jadi bagaimana kamu tahu kalau mereka gak berbohong, jangan-jangan jangan kamu juga bagian dari rencana ini ya?." tanya Sinta.


Arya mendekati Papa, ia tak menggubris ucapan tantenya itu.


" Pa, Rayhan ini sahabatnya Arya sejak Arya masih SMA. Tiga bulan yang Lalu Rayhan bercerita sama Arya kalau dia sudah menikah kontrak, di kontrak kedua yang diberikan neneknya Farhan tertulis bahwa Rayhan harus menceraikan istrinya setelah waktu tiga bulan yang ditentukan neneknya Farhan, tapi Rayhan tidak ingin menceraikan istrinya karena Rayhan sangat mencintai istrinya dan benar-benar ingin menikah. Arya gak tahu sama sekali ternyata gadis yang bisa menakhlukkan Rayhan adalah adik Arya sendiri." Arya melihat kearah adiknya Zahra.


" Arya kenal betul siapa Rayhan, banyak wanita yang berlomba-lomba untuk menjadi pacarnya, tapi tak pernah ditanggapi oleh Rayhan.Rayhan pernah mengatakan pada Arya bahwa dia tidak akan mau menikah. Arya senang akhirnya Zahra mendapatkan lelaki yang tepat sebagai suaminya. Arya mohon Pa, restuin mereka, biarkan adik dan sahabatku bahagia. " Pinta Arya.


" Papa semakin merasa bersalah pada Zahra dan istrinya Neha. karena emosi papa lebih mempercayai omongan kakak dan iparnya dari pada istri dan anaknya sendiri.


" Pak Arman bagaimana ini, pernikahannya mau kita lanjutkan atau dibatalkan saja. Kalau memang mau dibatalkan saya izin pamit karena masih ada keperluan lain. " tanya tuan Kadi.

__ADS_1


" Kita lanjutkan saja pak. tunggu sebentar ya pak. "


Papa mendekati Zahra dan memegang Pergelangan tangan Zahra. " Zahra maafkan Papa, Papa udah salah menilai anak papa sendiri. jika mungkin tolong maafkan Papa. " tangan papa mengatup tanda meminta maaf, airmatanyapun menetes keluar karena merasa menyesal.


" Zahra yang salah Pa, Zahra gak bilang yang sebenarnya sama Mama dan Papa, Zahra takut kalau nantinya Mama dan Papa sedih, Zahra gak mau kalau terjadi sesuatu sama mama seperti saat i...itu. hiks .. hiks.... hiks.. " tangis Zahra pecah kini dia menangis terisak sesegukan.


Papa pun memeluk Zahra.


" Maafkan papa. " ucap Papa lagi masih memeluk Zahra.


Sedangkan Mama mendekati Rayhan mencubit lembut pipi Rayhan.


" Anak nakal. Kenapa kamu gak bilang kalau kamu sudah menikah dengan putri tante? "


" Maaf tan" jawab Rey merasa gak enak.


" Saat tante tahu kamu ternyata Rayhan kecilnya tante, putra Sahabat tante Elyn, tante rindu sekali pingin meluk kamu, tapi tante sadar kalau kamu bukan Rayhan kecil tante lagi. Kamu sekarang sudah dewasa dan makin tampan, jadi tak mungkin tante meluk kamu. Tapi sekarang kamu anak nya tante, tante sangat merindukanmu Rayhan. " airmata yang sedari tadi di tahan Mama kini tumpah jatuh bebas di pipi Mama.


" Rey juga sangat merindukan tante Kal. " Rey pun memeluk mama. Kini mama mengeluarkan airmata bahagia. Putrinya kini telah memiliki suami, dan yang lebih membuat mama bahagia suami putrinya Zahra adalah Rayhan, anak dari sahabat dekatnya yang dulu juga sangat Mama sayangi seperti anaknya sendiri.


" Pak Kadi, bisa kita mulai sekarang ijab kabulnya. walau mereka pernah melakukan ijab kabul tapi putriku punya keinginan besar dalam hidupnya yaitu diwalikan oleh saya Papanya. " ucap Papa memberi penjelasan.


" tidak apa-apa pak, kita lakukan saja ijab kabulnya sekarang lagian mereka berdua juga belum tercatat resmi sebagai suami istri di Kantor Urusan Agama. Belum ada surat nikahnya kan? " Tanya tuan Kadi lagi memastikan.


" Belum pak. " jawab Rey.


" Baiklah sekarang kita mulai saja Silahkan ambil tempatnya. "


" Tunggu pak. " Kata Arga mencegah.


" Bu'de, Tante, om, sebaiknya kalian bisa pergi sekarang. Karena dari dulu setiap ada kalian pasti ada kekacauan. " tegas Arga yang dari tadi sudah sangat geram melihat keluarga dari sebelah Papanya itu.


" Beraninya kau mengusir kami dirumah adik kami... "


" Ga, biarkan saja jika mereka mau tetap disini, itu lebih bagus, mereka juga akan merasakan kebahagiaan dari keluarga kita Itupun kalau mereka bisa merasakannya. " kata Mama memotong perkataan kakak iparnya seraya mengulum senyum.


" Pak kita mulai saja acaranya. " sambung Mama lagi.


Tuan Kadi memulai kalimat pembuka.


" Bismillahirrahmanirrahim. Asyhaduallah illahaillallah Waasyhaduanna Muhammadarrasulullah." Tuan kadi memberikan kode tangan, mempersilahkan Pak Arman mengucapkan Ijab dengan tangan yang sudah menjabat tangan Rey.


" Saya nikahkan engkau ananda Rafasyah Rayhan Ardana bin Dony Ardana


dengan Anakku Zahra Asyila Sarfaraz binti Muhammad Arman Sarfaraz dengan mas kawin seperangkat perhiasan 210 gram dibayar tunai."


" Saya terima nikahnya Zahra Asyila Sarfaraz binti Muhammad Arman Sarfaraz dengan maskawin seperangkat perhiasan 210 gram dibayar tunai. "


Bagaimana saksi? Sah? " Tanya tuan Kadi pada dua orang Saksi.


" Sah,,, Sah... " ucap kedua saksi dan yang lainnya ikut mengesahkan karena merasa bahagia.


" Alhamdulillah. sekarang kalian tanda tangani surat nikah ini. " Titah tuan Kadi sambil memberikan keduanya buku nikah yang sudah tertulis nama Rey dan Zahra.


Dengan bergantian Rey dan Zahra membubuhkan tanda tangan mereka di buku nikah yang kini ada dihadapkan keduanya.


" Nak Rey, mulai hari ini Nak Zahra resmi menjadi istrimu secara agama dan hukum, maka perlakukanlah dengan baik. begitu juga sebaliknya nak Zahra jadilah istri yang sholeha untuk suamimu. " Tuan Kadi memberi sedikit nasihat kemudian menyuruh Rey untuk membacakan Ta'lik nikah.

__ADS_1


Sekali lagi Rey membacakan Ta'lik nikah tapi kali ini bukan hanya di dengar oleh Zahra tetapi Papa, Mama dan keluarga Zahra yang lainnya.


Merasa kesal karena rencana tak berhasil. Yanti, Sinta, dan juga suami mereka beserta Sesil sepupunya Zahra pergi meninggalkan Kediaman Zahra.


__ADS_2