
Pagi yang cerah, meski Langit masih kelabu. Udara sekitar terasa dingin menyentuh kulit. Burung-burung terdengar riang bernyanyi. Kicauannya menemani aktifitas manusia di pagi itu.
Terlihat lalu lalang mobil dan sepeda motor. Mereka sepertinya orang kerja kantoran yang akan berangkat bekerja atau orang warungan yang pergi ke pasar untuk berbelanja. Di sisi lain, masih ada orang yang terlelap tidur di kasurnya, menikmati mimpi indah. Entah jam berapa mereka akan bangun.
Nenek Retno kini sudah berada di dalam mobil bersama sopirnya membelah jalanan yang di penuhi kendaraan sehingga menimbulkan kemacatan. Tetapi ia tetap bersemangat untuk segera bertemu dengan adiknya Gendis, ada luapan rasa bahagia bercampur kekhawatiran yang ingin di bagi dengan adiknya itu.
Gendis adik satu-satunya nenek Retno, dia seorang disainer gaun pengantin yang terkenal karena hasil karyanya membuat orang orang penting di kota selalu ingin mengabadikan momen penting di hidup mereka dengan mengenakan karya-karya nenek Gendis. Keramah tamahan nenek menjadikan nilai plus tersendiri bagi jasa butik yang di milikinya itu.
1 jam berlalu nenek Retno telah sampai dan disambut hangat dengan Gendis.
" Mbakyu pa kabar, kangen Gendis sama mbakyu." Nek Gendis mencium pipi kakaknya Retno lalu memeluknya.
Nek Gendis masih sangat muda apalagi gayanya selalu mengikuti tren masa kini sehingga ia terlihat lebih muda 10 tahun dari usianya.
" Mbakyu sendirian? Raihan mana mbak? " tanyanya melihat ke arah pintu masuk.
" Bentar lagi juga dia datang. " jawab nek Retno.
" Loh kok gak bareng aja mbakyu?
" Dia masih ada kerjaan di kantor lagian ntar dia kemari bersama Zahra. "
" Zahra? siapa itu Zahra mbakyu? " tanya gendis penasaran.
" Zahra itu sekretarisnya Rey. "
" Kok tumben Raihan mau ngajak sekretarisnya, ini aneh mbakyu pasti Raihan menyukai gadis itu?. " cicit nenek Gendis lagi
" Sepertinya begitu. "
" Loh kenapa mbakyu gak semangat, ini bagus dong berarti keinginan mbakyu agar Raihan menikah sebentar lagi terwujud. "
Nenek menghembuskan napasnya dengan kasar. " Masalahnya Very juga mencintai Zahra, mbakyu khawatir jika salah satu dari mereka akan patah hati." Raut wajah kekhawatiran terlihat jelas di wajah wanita tua itu.
" Mbakyu, kita serahkan aja semuanya pada Allah, Dia sebaik-baik pengatur rencana pada Hamba -hambaNya.
" Assalamualaikum " terdengar suara dua orang bersamaan dari pintu kaca butik milik nenek Gendis.
" Waalaikumsalam." jawab kedua wanita tua itu dengan kompak.
Setelah mendengar jawaban dari dalam Rey langsung masuk ke dalam butik neneknya.
" Eh Rayhan cucu tampan nenek sudah datang. " Gendis mencium pipi Rey serta memeluknya.dia selalu gemes jika bertemu cucunya itu.
Nek Gendis melihat seorang gadis cantik yang ada di belakang Rey. " cantiknya gadis ini pantas Dia bisa meluluhkan bongkahan es di depanku. " batinnya.
Zahra menyalami nek Gendis.
" Cantiknya kamu nak, siapa namamu? pacarnya Raihan ya? " tanya Gendis beruntun.
__ADS_1
" Bukan nek, Saya Zahra sekretarisnya pak Rey.
" oh, Yuk kita ke dalam." ajak Gendis.
Di ruang tunggu butik.
" Nenek di sini?"
Nek Retno tersenyum.
" kalau Rey tahu, Rey gak bakalan kemari kan bajunya bisa nenek aja yang bawa. " ucap Rey ketus yang melihat neneknya sedang duduk menikmati secangkir teh.
" Nenek Retno! " kata Zahra terkejut yang baru saja melihat nenek.
" Kamu udah kenal dengan nenek ku Ra? " Rey mengkerutkan dahinya.
" Sini Zahra duduk di samping nenek."
Zahra tersenyum terpaksa menghilangkan kecanggungannya dan ia duduk di sebelah nek Retno, sedangkan Rey menatap curiga perubahan wajah Zahra yang aneh setelah melihat nenek sepertinya ada sesuatu diantara mereka.
" Zahra ini gadis yang menolong nenek Rey saay di mall dan di jalan tempohari.
" oh.... " jawab Rey.
" Rey ikut nenek kita ukur baju untuk mu. " Gendis menarik tangan Rey.
" Udah kamu nurut aja sama nenek. "
Rey pasrah jika bersangkutan dengan kedua wanita tua itu baik Retno maupun Gendis, meski terkadang marah tapi Rey tetap menuruti kemauan mereka kecuali sesuatu yang berhubungan dengan jodoh atau pasangan hidupnya.
" Jadi Pak Rey itu cucu nenek ya? " tanya Zahra.
Retno tersenyum dan mengangguk pelan.
" Kenapa nenek diam saja saat Zahra menceritakan kejelekan pak Rey tempohari di kantor. " ia merasa tidak enak ternyata dia meluapkan kekesalan kepada nenek bosnya sendiri.
" Zahra, saat kamu kesal pada Rey nenek gak bisa berkata apa-apa terkadang nenek juga mengalami kekesalan yang sama seperti kamu sayang, nenek kewalahan menghadapi Rey yang dingin, keras kepala tapi sebenarnya hatinya itu lembut."
Zahra tersenyum mendengar jawaban nenek dia merasa sedikit lega.
" Nek kami pulang duluan masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. " ajak Rey yang baru saja keluar dari ruang ukur butik.
" Kamu duduk dulu Rey nenek mau minta tolong dulu ke Zahra bolehkan Zahra? "
" Apa yang bisa Zahra bantu nek? "
__ADS_1
" Begini Zahra nenek baru menyelesaikan rancangan gaun pengantin hijab, tapi belum finis pengerjaannya.masih ada detail model yang harus nenek tambahkan, nenek masih bingung apa yang cocok untuk di tambahkan jika nenek belum melihat gaun itu dikenakan langsung. Zahra maukan mencoba gaun itu?"
" Tapi nek Zahra.... "
" Ayolah sayang kamukan berhijab nenek rasa pas jika kamu yang jadi modelnya mau ya! "
Zahra melihat Rey yang sedari tadi sudah mengajaknya pergi.
" Zahra kamu maukan bantu Gendis paling cuma sebentar kok, Rey nanti nenek yang urus. "
" Baik lah nek" Zahra berdiri,berjalan mengikuti nenek Gendis.
Rey yang melihatnya kemudian duduk di sofa di depan nenek, mengeluarkan ponsel dari dalam saku jas nya.
7 menit kemudian Zahra keluar dengan menggunakan gaun pengantin berwarna putih dengan payet kristal, cantik dan mewah, Zahra terlihat sangat mempesona.
" MasyaAllah Zahra kamu cantik sekali nak. " ucap nenek terpukau dengan kecantikan gadis sholeha di depannya yang sangat sempurna.
Mata Rey tertuju ke Zahra. ia juga terpanah dengan kecantikan Zahra, nenek Gendis memperhatikan Rey yang terus menatap Zahra, iapun mengambil kesempatan untuk menjahili Rey.
" Gimana Rey, Zahra udah cocok kan jadi calon pengantinmu?" bisik Gendis yang kini duduk di sebelah Rey.
" Iya nek." jawab Rey tanpa memalingkan pandangannya.
" Lalu kapan kamu mau ngelamar Zahra?" nenek tersenyum diakhir kalimatnya.
" eh,..... nenek apaan sih, " ucap Rey yang sudah sadar dengan ucapannya tadi.
Kedua wanita tua itu saling pandang memberi kode lalu mereka tertawa kecil.
Sadar dengan perlakuan dua neneknya itu Rey pun berdiri.
" Zahra cepat ganti bajumu, saya tunggu di mobil. " Rey berjalan keluar menuju mobilnya.
Zahra menghembuskan nafasnya karena tingkah bosnya itu.ia kembali masuk ke kamar ganti.
" Nek Zahra pamit dulu ya nek. " Zahra menyalami Gendis.
" Makasih ya Zahra udah mau jadi modelnya nenek. nanti kalau kamu akan menikah kamu buat gaunnya sama nenek ya! nenek pasti akan kasih diskon apalagi kalau nikahnya sama cucu nenek yang macam gunung es itu nenek kasih gratis deh. " ledek Gendis.
" Nenek ini adah aja. bisa ikutan beku aku nek kalau nikah sama cucu nenek itu. " Zahra tertawa kecil kemudian dia juga pamit pada nenek Retno.
" Hati - hati ya Zahra sepertinya bos galak kamu itu lagi marah. "
" Cucu nenek itu emang selalu gitu tapi Zahra udah mulai terbiasa kok nek, jadi nenek tenang aja ya. Zahra pergi dulu ya nek Assalamualaikum."
" Waalaikum salam. "
Zahra dan Rey pergi meninggalkan butik nenek Gendis mereka sekarang menuju kantor wedding organizer yang sudah di hubungi Rey.
__ADS_1