
Sasa membawa dua piring makanan, meletakkan diatas meja di depan Zahra lalu duduk disamping zahra.
Makasih, tahu aja lo sa kalau akulagi lapar. "kata Zahra mengambil sendok hendak menyuapkan makanan ke mulutnya.
" Makan no yang banyak, gua ma tahu lo kan habis dansa sama Pak Rey pasti tu jantung da macam marathon, capek bangetkan ya?" Sasa tertawa nyengir.
" Apaansih Sa,?" sangkal Zahra,sambil menyuap makanan dari piringnya.
" Emh, tadi aja katanya gak mau dansa eh gak tahunya lo tadi mah romantis pisan sama Pak Rey udah macam di sinetron gitu pake pelukan lagi." Sasa menaikkan alis meledek Zahra masih dengan senyum khas menjelengehnya.
" Apaan sih, lo gak tahu apa, ni sepatu gua lepas tumitnya makanya gua pegangan yang kenceng sama pak Rey. Lo tu sa, yang kegenitan sama Pak Verry, belum muhrim, dosa tahu, pegang-pegangan apalagi tadi sampe pelukan juga kan." Gantian Zahra menskak Sasa.
" Yaelah mentang-mentang yang da muhrim, mulai dah ceramah, sekalian aja noh gantiin Mama Dedeh, jadi Mama Zahra." sewot Sasa.
" Idih gak lucu ah." Zahra tertawa kecil melihat ekspresi sahabatnya Sasa yang lagi kesel.
" Eh Ra, emang lo tadi waktu dansa sama pak Rey jantungloh gak berdetak gitu.?" tanya Sasa kepo.
" Is, berdetaklah kalau gak mati dong gua. hehe..." Zahra menunjukkan deretan gigi putihnya.
" Bukan gituloh, maksudnya berdebar-debar."
" enggak tuh biasa aja." Zahra kembali menyangkal tapi wajahnya memerah mengingat kejadian saat Ia memegang leher Rey dengan kencang.
" Biasa aja, tapi tu muka lo da macam kerang rebus." Sasa mencebikkan bibirnya.
" Masa sih" Zahra memegang kedua pipinya.
" Ra, sebaiknya kalian berdua nikah beneran aja,.."
" Biar lo bisa sama pak Verry gitu?" sambung Zahra meledek.
" Ya itu iya juga hehehe... tapi kalau memang lo cinta sama pak Verry gak apa kok Ra, gua ikhlas." Sasa agak sedikit lemas.
Saat Zahra di rumah sakit Sasa sudah cerita bahwa sebenarnya dia udah tahu kalau Verry suka sama Zahra, Sasa merasa sakit hati saat Zahra gak cerita ketika Verry mengungkapkan isi hatinya pada Zahra. Tapi Zahra meyakinkan pada Sasa bahhwa Zahra lebih memilih Verry bersama Sasa dari pada dirinya. Zahra adalah tipe orang yang sangat memikirkan kebahagiaan temannya ketimbang kebahagiaannya sendiri.
" Lo tenang aja Sa, setelah bercerai nanti aku gak akan pilih Pak Verry kok."
" Lalu bagaimana dengan bang Yazid Ra, bang Yazid juga sangat mencintai mu. Terlihat jelas di matanya."
" Entah lah Sa, aku gak tahu takdir membawaku pada siapa. Biarlah kujalani saja aku yakin siapapun yang di pilihkan Allah sebagai jodohku dialah yang terbaik bagiku." Zahra kembali tersenyum dan meneruskan makannya.
" Tapi Ra, kalau aku perhatikan sepertinya pak Rey mencintaimu Ra,"
" Uhuk..uhuk.." Zahra tersedak mendengar ucapan Sasa.
__ADS_1
" Ni minum dulu Ra," Sasa memberikan segelas air putih pada Zahra.
Setelah meneguk air putih Zahra mengelap mulutnya dengan tangan kanan.
" Ra, lihat saja dari tadi pak Rey selalu memandang kemari padahal dia lagi sama rekan bisnisnya, apa namanya itu kalau gak cinta."
Zahra melihat Rey yang memang lagi menatapnya kemudian kembali berbicara pada rekan bisnisnya.
" Lo gak usah mengada-ngada deh Sa, kalau cinta itu pastilah perhatian, lembut gak galak macam tu, tiap hari di marah-marah, disuruh-suruh macam babu."
" Tapi kan Ra, lihat aja tadi waktu pak Rey marah saat kamu hampir terjatuh, Pak Rey itu khawatir sama lo, terus tempohari waktu kamu kecebur di kolam renang Pak Rey juga kan yang nolongin, setahu aku Pak Rey itu gak pernah perduli sama orang lain kecuali nenek dan adiknya saja." cicit Sasa.
Zahra terus saja mengunyah makanannya. dia gak menanggapi perkataan Sasa.
" Ra lo denger gua gak sih, "
" Emh" Jawab Zahra sambil terus mengunyah dan tak melihat Sasa.
" Ra,seandainya pak Rey bilang kalau dia suka sama lo gimana, apa lo terima?"
" Uhuk....uhuk....." Zahra kembali tersedak.
" Pelan-pelan dong Ra, minum lagi ni." kata Sasa menyodorkan air putih miliknya yang belum di minum.
" Lo sih, ganggu makan gua aja. "
" Gak usah berandai-andai deh, itu gak mungkin, noh lihat aja tu, galak gitu, dingin lagi macam kulkas dua pintu,hatinya da beku. dia juga gak percaya sama pernikahan apalagi cinta."
" Eh jangan salah Ra, gak ada yang gak mungkin loh."
" Udalah Sa, gak usah dibahas buat selera makan gua hilang aja." Zahra meletakkan sendok dan menjauhkan piring tanda ia sudah selesai makan."
" Hilang selera apaan, da habis gitu juga."
Zahra tersenyum mendengar perkataan kesal Sasa, ya memang makanan Zahra sudah habis makanya dia menyudahinya.
Selesai makan Zahra dan Sasa hanya duduk di bangku mereka dikarenakan sepatu Zahra rusak makanya Zahra hanya duduk saja dan sasa ikut menemani Zahra.
" Ra, bosan juga ya duduk aja." kira kira mereka ngapain tu ya kumpul disana." Sasa memperhatikan rekan kerjanya yang berkumpul menikmati pesta.
" Lo mau kesana Sa?"
" Gak lah disini aja nemani lo, "
" Udah lo kesana aja, gua gak papa kok disini."
__ADS_1
" Beneran?."
" Iya."
" Kalau gitu gua kesana bentar ya
,cari gosip, nanti kemari lagi."
" Emh dasar ratu gosip." Zahra tertawa kecil.
Sasapun pergi meninggalkan Zahra berkumpul dengan rekan kerja yang lain. Zahra duduk sendiri mengaduk-aduk minuman sambil melamun. Perkataan Sasa mengganggu pikirannya.
" Apa bener ya Pak Rey suka sama aku, Tapi mana mungkin," Batin Zahra.
Dari kejauhan Rey melihat Zahra yang duduk sendirian. Rey bersama Verry dan beberapa rekan bisnisnya.
" Silahkan nikmati acara malam ini pak, jika perlu sesuatu beritahukan saja pada Verry. saya tinggal sebentar ."
" Baik Pak Rey."
" Lo mau kemana Rey?" Ucap Verry pelan.
" Mau ngajak Zahra ganti sepatu." Rey berjalan meninggalkan Verry menuju tempat di mana Zahra duduk.
Verry mulai curiga dengan Rey.
" Kenapa Rey begitu peduli sama Zahra, apa jangan jangan Rey suka sama Zahra?" tanya verry dalam hati." gak bisa aku harus dapatkan Zahra, Zahra milikku." batinnya lagi, Ia masih melihat Rey yang berjalan mendatangi Zahra.
Rey berdiri tepat di hadapan Zahra, tetapi karena masih melamun Zahra tidak mengetahui kehadiran Rey di depannya.
Rey memperhatikan Zahra yang bengong sambil mengaduk-aduk minumannya yang hanya menyisahkan batu es.
" Ra," panggil Rey.
" Gak mungkin." ceplos Zahra kaget. lalu melihat Rey dan semakin terkejut dengan adanya Rey di depannya.
Rey mengerutkan dahi." kamu kenapa?" tanyanya heran.
" Eng...gak, saya baik kok pak." Jawab Zahra gugup.
" Sekarang ikut saya."
" Kemana Pak?"
Rey memegang tangan Zahra dan menggandengnya berjalan meninggalkan lokasi hotel.
__ADS_1
Beberapa karyawan berbisik menggosip melihat Zahra digandeng oleh bos mereka. Sementara Lany semakin emosi melihat kedekatan Rey dengan Zahra. Lany merasa tersaingi dengan kehadiran Zahra saat ini. karena sejak dari SMP lany menyukai Rey tetapi rey tak pernah membalas cinta Lany.