Jodoh Terbaik Pilihan Tuhan

Jodoh Terbaik Pilihan Tuhan
Part 101. Pulang ke desa.


__ADS_3

Keesokan harinya Rey sudah bersiap untuk menjemput Zahra di Apartemen yang saat ini menjadi tempat tinggal Zahra. Rey segaja tidak menginap di sana karena Rey gak tahan jika harus terus bermalam bersama Zahra. Rey takut khilaf meski Zahra adalah istrinya tapi Rey tidak ingin melakukan hal yang lebih jauh sebelum mendapat restu dari keluarga Zahra.


Akan terapi Rey juga tidak membiarkan Zahra sendirian di Apartemen, setelah Rey pulang mengantarkan Zahra, Sasa pun datang. Sasa diperintahkan Rey untuk menginap menemani Zahra dengan memberikan alamat Apartemennya.


Sebelum pergi, Rey masuk ke kamar Nenek melihat kondisi Nenek yang kurang baik. Penyakit nenek kambuh, mungkin karena lelah baru pulang dari perjalanan jauh ditambah lagi dengan pikiran yang mengkhawatirkan keadaan kedua cucunya yang lagi bertengkar.


" Nek bagaimana keadaan nenek sekarang? " tanya Rey duduk di samping nenek.


" Udah lebih baikan. Kamu sudah mau berangkat sekarang Rey?. " tanya Nenek balik.


" Iya Nek."


" Apa gak sebaiknya nenek ikut biar Nenek bisa menjelaskan pada orangtuanya Zahra."


" Nenek istriahat aja, biar cepat sehat. " jawab Rey lembut.


" Tapi Rey kalau Nenek ikut mungkin orangtua Zahra bisa lebih yakin."


" Nenek kan masih sakit, Rey gak mau kalau nanti Nenek malah tambah sakit. Insyaallah Rey bisa mengatasinya, Nenek doakan Rey aja ya agar Papa dan Mamanya Zahra mau memaaaf kan Reza dan mau menerima Rey.


" Pasti akan Nenek doakan, Rey, kamu gak ngizini nenek ikut, tapi nek Gendis bisa gantiin nenekkan? biarkan Nek Gendis menemani mu ya!." saran Nenek.


" Nek, Rey sendiri aja, Nek Gendis nemeni Nenek di sini aja, nanti kalau Papa dan Mama Zahra sudah setuju baru Rey membawa Nenek dan Nek Gendis ke sana untuk melamar Zahra. " sambung Rey.


" Baiklah. " jawab nenek pasrah.


" Kalau begitu Rey berangkat sekarang ya Nek. Assalamualaikum " Rey mencium punggung tangan nek Retno lalu nek Gendis.


" Walaikumaalam. " Jawab kedua wanita paruh baya itu serentak. Saat Rey berbalik untuk keluar kamar, Reza terlihat berada di depan pintu.


" Aku ikut bang. " Kata Reza. Ketiganya memandang Reza.


" Bang Rey maafkan aku. Aku memang egois, aku bersalah pada Zahra dan keluarganya biarkan aku yang meminta maaf bang, aku gak ingin melibatkan abang. Sekarang aku sadar bahwa Zahra lebih pantas bersama Bang Rey dari pada bersama ku. " Reza menatap Rey dengan pandangan menyesal.


Rey mendekati Reza dan menepuk pelan pundaknya. " Maafkan Abang juga ya, karena sudah memukulmu kemarin, maaf karena abang gak bisa mengendalikan emosi."


" Gak apa bang lagian memang aku yang salah aku pantas mendapatkannya, aku boleh ikutkan bang?"


" Tentu, tapi kamu bawa mobil sendiri ya, Abang mau jemput Zahra dulu. Abang minta satu hal tolong jangan katakan apapun tentang pernikahan Abang dan Zahra, kami udah memutuskan untuk tetap menyembunyikan pernikahan ini. " jelas Rey.


" Baik Bang. " Kata Reza menyetujui.


" Kalau begitu abang deluan, nek, Rey pergi. "

__ADS_1


" Hati-hati Rey." Sahut Nek Retno dan Nek Gendis kompak.


Setelah Rey keluar dari kamar, Reza mendekati Nenak yang lagi kurang sehat.


" Kemarilah Za duduk di samping Nenek. " panggil nek Retno.


Reza duduk tepat di samping Nenek sama seperti saat Rey duduk sebelumnya.


" Terimaksih sayang karena kamu udah mengalah demi Abangmu Rey.


Reza tersenyum. " Bang Rey memang pantas mendapatkan Zahra, Lagian Eza juga gak ingin dibilang perebut istri abang sendiri. Eza gak ingin sama seperti mama Eza yang merebut Papa dari Mamanya Bang Rey dan Kyara. "


Nenek memandang Gendis, nenek tahu bahwa adiknya Gendis pasti sudah membuka semua rahasia tentang Reza yang sudah tersimpan sejak lama. Nenek kemudian kembali menatap wajah sedih Reza.


" Za, siapapun Mama mu, kamu tetap cucu Nenek, Nenek sangat menyayangi Eza sama seperti nenek menyayangi Rey dan Kyara. " Kata Nenek lagi.


" Reza tahu Nek, Eza sangat berterimakasih pada Nenek yang tetap mau merawat dan menyayangi Eza meskipun Mama Eza adalah wanita yang sudah menghancurkan keluarga Nenek dan yang sudah mencoba untuk membunuh Bang Rey. Jika mungkin tolong maafkan Mama Eza nek. " Reza kini menangis sedih menerima kenyataan bahwa ia adalah anak dari seorang pelakor yabg tamak akan harta.


" Nenek juga sudah memaafkan mama mu, " Nenek mengusap lembut tangan Reza.


" Nek bolehkah Eza tahu di penjara mana Mama berada, Eza ingin menemuinya setelah pulang dari rumah Zahra nanti. "


" Za, nanti Nenek akan share lokasinya. maafkan Nenek juga ya, mungkin selama ini Nenek udah sering menyakiti hatimu. " Sambar nek Gendis menjawab pertanyaan dari Eza yang sebenarnya di tujukan pada nek retno mbakyu nya.


Kedua nenek itu tersenyum melihat sikap reza yang sangat bijak.


" Kalau begitu Eza pamit ya Nek. Eza gak mau kalau nanti Bang Rey menunggu Eza terlalu lama.


" Iya sayang berangkatlah, hati hati di jalan." sahut nenek.


Eza mencium punggung tangan kedua Neneknya itu lalu pergi dengan mengendarai mobil sport miliknya pemberian Rey saat dia berulangtahun lima bulan yang lalu.


 


***


Rey sudah sampai di Apartemen menjemput Zahra, Zahra juga sudah siap untuk berangkat pulang ke rumahnya bersama Rey.


Zahra mengunci pintu Apartemen, Dia sendirian karena Sasa sudah berangkat ke kantor tadi pagi.


Di dalam mobil sepanjang perjalanan Zahra terlihat murung. Zahra sangat khawatir jika Papanya akan marah dan tidak menerima Rey. Zahra terus memandang keluar jendela.


Sesekali Rey yang fokus menyetir melirik kesamping melihat Zahra. Rey pun memegang tangan Zahra yang berada di atas tannya membuat Zahra langsung menoleh.

__ADS_1


" Semuanya akan baik-baik saja. " Ucap Rey mengedipkan kedua mata dengan senyum tipis di bibirnya lalu kembali melihat ke depan Jalan.


Zahra masih menatap Rey tanpa berkata apapun. Tangannya masih berada dalam genggaman Rey.


" Jangan dilihati terus nanti bucin loh," Rey tersenyum menatap Zahra sekilas lalu kembali fokus mengemudi.


Zahra yang mendengar itu pun tertawa kecil.


" Kalau akunya bucin pak Rey tanggung jawab dong. " cicit Zahra.


" Belum juga diapain, masa tanggung jawab. " kata Rey lagi membalas. "


" Nah ni tadi da di buat bucin. " Zahra menunjuk genggaman tangan Rey sambil memainkan mimik wajahnya dengan memajukan bibir bawah.


" Ah masa sih, seperti nya biasa aja kalau cuma pegangan tangan, gak kayak anak ABG yang kalau bucin itu suka nyiumi pipi pacarnya, ini malah gak pernah."


Buk.... Zahra memukul lengan Rey.


" Aw, sakit Ra.! eluh Rey.


" Biarin makanya jangan mesum. " Dumel Zahra.


" Masa minta cium aja mesum. " Sambung Rey sambil manyun.


Zahra tersenyum tipis, ia tak pernah menyangka kalau Rey yang dia kenal galak dan bersikap dingin ternyata sekarang malah sangat lembut dan manis. Zahra semakin takut bila harus berpisah dengan Rey.


Rey menghidupkan musik memutar kaset Nisya Sabyan yang baru ia beli. Lagu pun mengalun merdu dengan singgle yang pertama berjudul Aisyah istri Rasulullah.


Mendengar lagu Religi ini membuat Rey teringat dengan penampilan Zahra saat bernyanyi waktu permainan Truth and Dare. Waktu itu Zahra juga menyanyikan lagu ini. Suara Zahra sangat merdu tak kalah dengan penyanyi aslinya. Bayangan wajah Zahralah yang terlihat di pikiran Rey saat ini. Keduanya kini tak berbicara lagi, mereka mendengarkan lagu dengan pikiran masing-masing.


Hampir dua jam perjalanan, akhirnya Rey dan Zahra sampai. Mereka tidak pulang ke rumah Zahra melainkan ke tokonya Papa Zahra karena setiap Hari Papa berada di toko, kebetulan Mamanya Zahra juga ikut bersama Papa.


Saat Zahra dan Rey turun bersamaan, mobil reza pun sampai. Reza turun dari mobil membuat Zahra terkejut melihatnya.


" Pak Rey, apa bapak yang mengajak bang Reza?" Tanya Zahra.


Rey mengangguk pelan." Ra, Reza harus bertangung jawab dengan kesalahan yang ia perbuat. Jadi biarkan dia mengakui dan meminta maaf langsung sama Papa dan Mama mu.


" Tapi Pak Papa pasti akan sangat marah melihat Bang Reza dan Papa pasti... "


" Ra, jangan mikir yang macam-macam, Part serahkan semuanya pada Allah, jika kita yakin, semua pasti akan baik-baik saja. sekarang kita masuk yuk. " Ajak Rey.


Akhirnya Zahra setuju mereka pun berjalan masuk ke toko dan reza berjalan di belakang Rey dan Zahra.

__ADS_1


__ADS_2