
Zahra masih melihat layar ponselnya.
" Biasanya Mama paling senang kalau aku pulang tapi ini Mama sepertinya malah melarang aku pulang, pasti ada yang gak beres. Pak, besok kita ke desa ya aku harus cari tahu sebenarnya apa yang terjadi sama Mama, Mama gak biasanya seperti ini." kata Zahra pada Rey.
Rey menganguk kemudian tersenyum tipis ia senang akhirnya Bisa mengantarkan Zahra pulang besok.
Sementara di kamar Zahra Mama menangis.
" Maafkan Mama sayang, bukannya Mama gak mau Zahra pulang tapi Mama gak mau kalau Zahra harus sedih lagi mendapatkan pertanyaan tentang pernikahan Zahra. Mama gak mau Zahra terluka lagi." Mama memandangi foto Zahra di meja rias.
Ceklek.....
Pintu di buka oleh Papa.
Dengan cepat Mama menghapus airmatanya.
" Mama disini, tadi Papa cari di kamar ga ada, rupanya disini." Ujar papa mendekati mama yang hanya diam saja.
" Mama nangis, " mama masih diam.
" Ma, sebenarnya maksud mereka itu baik, mereka sama dengan mama, juga ingin melihat Zahra bahagia."
" Apa mereka sudah pulang?" tanya mama tak melihat papa.
" Belum, sebenarnya mereka kemari mau minta tolong."
__ADS_1
mama menoleh ke papa.Papa tahu maksud pandangan mama, bertanya mereka mau minta tolong apa.
" Ma, Syahril dan Sinta mau pinjam dua ratus juta untuk bebasin Zidan."
Mama mengerutkan dahi kemudian berpaling dari tatapan papa " Mama gak bisa bantu. Mama udah niat mau ngasih uang ke Arya buat modal buka rumah makan masakan khas indonesia.
" Ya sudah kalau Mama gak bisa bantu nanti papa bilang baik- baik ke mereka." Papa keluar kamar kembali menjumpai saudara-saudaranya.
Di ruang keluarga.
" Syahril, maaf kali ini abang gak bisa bantu karena uangnya mau di kasikan Neha ke Arya untuk modal usaha."
" Kamu ini gimana sih Man, masa gak bisa bilang ke Neha kalau ini lebih penting dari pada modal usaha. Kasian Zidan kalau harus mendekap di penjara, kamu bujuk lagi dong itu istrimu.
" Istri kamu memang seperti itu, gak pernah aja mau peduli sama keluargamu." sewot Yanti lagi.
" Oh ya, aku emang gak perduli sama keluarga suamiku, sekarang aku tanya, kelurga suamiku yang mana yang belum pernah aku bantu mbak?" tanya Neha yang kembali ke ruang tamu.
" Ya buktinya sekarang kamu gak mau kasih pinjaman ke kita." Jawab Yanti.
" Mbak tadi kan bang Arman da bilang kalau uangnya mau di pake Arya untuk modal Usaha."
" Usahakan bisa nanti- nanti, kamu apa gak kasian lihat Zidan mendekam di penjara bila gak di tebus, lagian anak udah besar, udah juga nikah aja masih di modalin untuk usaha biarkan dia mandiri buat usaha sendiri." cibir Yanti.
" Mbak ini uang punya kami dan Arya itu anak kami jadi lebih baik uangnya aku kasih untuk modal anak ku ke timbang ngeluarin Zidan. Aku rasa lebih baik dia mendekam di penjara biar dia sadar gak nyusahin orang tuanya terus."
__ADS_1
" Kalau kamu gak mau bantu ya sudah gak usah ngatain anak ku segala. Benar kata mbak Yanti kamu tu memang gak pernah mau membantu jika itu berurusan sama kekuarga bang Arman." Sinta merasa marah dengan perkataan Neha yang menyinggungnya.
" Baiklah sepertinya aku harus ingatkan pada kalian semua apa yang sudah aku lakukan ke keluarga suamiku." Neha berjalan mendekati yanti. " Mungkin mbak lupa waktu usaha mbak menurun kami yang membiayai sekolah anak mbak sampai selesai bahkan anak bungsu mbak memakan uang kuliah yang kami berikan sehingga dia sampai di keluarkan dari kampus. Dan kamu sinta saat Syahril butuh dana pengobatan waktu dia oprasi kami yang membiayainya bukan bahkan sebulan yang lalu kalian juga pinjam uang tiga ratus juta untuk ngeluarin Zidan dari penjara, dan sampai hari ini belum sesen pun kalian bayar eh dia udah di tahan lagi dengan kasus yang sama penyalah gunaan obat-obatan terlarang. Siapa lagi yang tidak aku bantu ha bahkan untuk pesta Lili besok juga kami yang membiayayainnya tapi itu semua tak pernah nampak bagi kalian kan? sekarang giliran aku yang bertanya apa yang udah kalian berikan ke kelurgaku? hanya hinaan dan cacian untuk ku dan anak-anakku. Disaat anak ku Arya menikah kalian malah liburan keluar negri dengan alasan tiket udah di booking jauh-jauh hari. Dan saat anak ku Zahra gagal menikah bukannya kalian memberikan semangat padanya tapi malah mengatakan hal yang tidak- tidak membuat anak ku semakin terpuruk karena kesedihannya. Itukah yang kalian bilang saudara." Mama menangis emosi meluapkan isi hatinya yang selama ini ia pendam bertahun tahun.
" Ma, " Papa memegang pundak mama berusaha menenangkan.
" Pa, buka mata hati papa, sebenarnya siapa yang gak peduli Pa. Sebenarnya Papa tahu tapi apa yang selalu Papa katakan ke mama, Sabar, sabar, mama da cukup sabar Pa, Mama selalu diam jika mereka mengatakan hal buruk tentang Mama, tapi Mama gak akan pernah diam jika mereka melukai hati anak anak ku terutama putriku Zahra." Mama pergi meninggalkan mereka.
" Syahril maaf ya sepertinya untuk kali ini abang gak bisa bantu, coba kamu tanya papa mungkin papa bisa bantu." Arman menyusul Neha ke kamar dan meninggalkan saudaranya di ruang tamu.
" Sial, kita selalu saja kalah dari Neha. Arman pasti selalu membelanya." kesal Yanti.
" Lebih baik kita pulang saja mbak." Ajak Syahril yang mulai beranjak meninggalkan ruangan itu diikuti abang iparnya suami Yanti. sementar Yanti dan Sinta masih berdiri, wajah mereka terlihat sangat kesal.
" Hari ini kita memang kalah mbak, tapi lain kali aku akan balas wanita sok suci itu. Neha menghina anak ku Zidan tapi lihat saja, suatu saat aku akan menghina putri kesayangannya di depan orang banyak bahkan suami yang slalu membelanya juga akan berada di pihak kita." sinta tersenyum licik ke Yanti. Yanti membalas senyuman yang tak kalah liciknya.
" Kita akan balas sama-sama perbuatan Neha ke kita." tambah Yanti.
💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟
Terus dukung Author ya 👍 semangat kasih like dan vote nya biar Author semangat juga menghalunya 😅😅
__ADS_1