Jodoh Terbaik Pilihan Tuhan

Jodoh Terbaik Pilihan Tuhan
Part 54


__ADS_3

“Cinta itu seperti angin. Kau tak bisa melihatnya, tapi kau bisa merasakannya”


..........................................................


Happy Readding. Jangan lupa 👍


..........................................................


Azan magrib telah berkumandang Zahra bersama Sasa shalat Magrib Berjamaah berdua di kamar Rey. Rey sendiri kini berada di kamar Nenek Retno. Tadi sore setelah ashar Rey dan Zahra di pakaikan hena di tempat berbeda. Awalnya Rey menolak tetapi kembali lagi ia mengalah hanya karena adik kesayangannya Kyara. Setelah Nek Gendis memakaikan inai di tangan dan Kaki Rey, sisanya baru di pakaikan ke Zahra, sama halnya dengan Farhan dan Kyara, mereka berdua juga harus mengikuti tradisi yang di buat keluarga Farhan.


Zahra malam ini menggunakan gamis berwarna putih, kedua tangannya yang kini sudah berukir hena di tutup dengan sarung tangan putih karena selesai magrib Kyara dan Zahra akan katam kaji disaksikan oleh mempelai pria dan keluarganya.


Kyara dan Zahra turun ke bawah bersamaan, di mana para keluarga sudah menantikan mereka. keduanya terlihat sangat cantik. Mereka pun duduk di tempat yang sudah di sediakan.


Acara katam kaji, membaca bagian akhir Alqur'an ( juz 30 ) dimulai. Kyara yang terlebih dahulu membacanya. Saat Sekolah Menengah Umum Kyara sudah katam kaji tetapi karena aktivitasnya yang padat membuat Kyara jarang sekali mengulang kajiannya malah hampir tidak pernah membuka Alqur'an sehingga bacaannya agak terbata bata. Sebenarnya Kyara tidak ingin melakukan kataman ini tetapi karena desakan Nenek Farhan mau gak mau dia harus pasrah melakukannya untungnya ada Zahra sehingga ia tidak mengaji sendirian.


Setelah Kyara selesai membaca beberapa surah kini giliran Zahra. Zahra mengaji dengan sangat Fasih. Suaranya yang merdu membuat semua orang tertegun dan semakin bersimpati padanya begitu juga dengan Rey matanya tak lepas dari memandang Zahra yang kini telah menjadi istri sah nya.


" Farhan, begini ni yang harusnya di jadikan istri, sudah cantik, sholeha, pandai mengaji pula, bukan seperti Calon istri mu Kyara, mengajinya saja sudah seperti anak TK. " bisik nyonya Raudha pada Farhan cucunya.


" Nek, Farhan cintanya sama Kyara bukan Zahra.Kyara juga baik nek jadi nenek gak usah banding-bandingkan Kyara lagi. "


" Baik apaan, hobby nya aja pakai baju yang sexi gimana mau pandai mengaji. Nenek nggak mau tahu ya Farhan setelah dia menjadi istrimu kamu harus bisa buat dia berpakaian muslimah bukan pakaian yang kurang kain." Kesal Nenek. Nyonya Raudha tidak terlalu menyukai Kyara karena Kyara kerap kali memakai pakaian minim sedangkan keluarga Farhan juga tergolong keluarga yang Religius.


" Nenek...... "


Zainab segera memegang tangan Farhan seraya menggelengkan kepalanya memberi isyarat untuk tidak berdebat dengan neneknya. Farhan pun menurut dengan ummi nya Zainab. Ia memilih diam dan ngedumel dalam hati meluapkan emosi pada kebawelan neneknya itu.


Satu jam berlalu acara pun selesai setelah di tutup dengan doa oleh pak Ustadz yang sengaja di undang oleh keluarga ARDANA.


Nyonya Raudha bersama Zainab, umminya Farhan mengajak nenek Retno untuk mendatangi Kyara dan Zahra. Mereka akan melihat warna hena di tangan dua wanita cantik itu.


" Kyara sekarang lepaskan sarung tangan mu sayang, ummi ingin melihat warna hena di tangan mu sebelum engkau menunjukkannya pada calon suami mu. " kata Zainab lembut.


" Kyara melepaskan sarung tangannya dan menunjukkan kedua telapak tangannya pada calon ibu mertuanya itu. "


" MasyaAllah warnanya cantik sekali, merah cerah berarti Farhan mencintai mu sayang. semoga kamu selalu bahagia hidup bersama putra ummi Farhan. "

__ADS_1


" Aamiin, " Jawab Kyara tersenyum sumringah.


" Buk Retno sebaiknya ibuk juga menyuruh istrinya Rayhan melepaskan sarung tangannya, kita juga pingin lihat gimana warna nya, yakan? ." pinta nyonya Raudha.


" Zahra bolehkan nenek lihat tangan Zahra tanpa sarung tangan! " pinta nek Retno lembut.


Zahra mengangguk dan melepaskan sarung tangannya dengan perlahan. diangkatnya kedua telapak tangannya di hadapan nenek.


" MasyaAllah warna nya merah pekat, jauh lebih merah berkali lipat di banding dengan Kyara. Berarti nak Rayhan sangat mencintai mu nak. " celoteh nyonya Raudha memegang tangan Zahra.


" Oh itu sudah tentu, cucu kami Rey sangat mencintai Zahra istrinya." Sahut Nek Gendis tersenyum lebar.


" Sekarang kita panggil saja Farhan dan Rayhan. "


Farhan dan Rayhan berdiri tepat dihadapan Kyara dan Zahra.


" Farhan, sepertinya kali ini cinta mu ke kyara kalah jauh dengan Cintanya calon abang iparmu pada istrinya. Lihat saja warna hena Zahra jauh lebih merah di banding dengan warna hena di tangan Kyara. " Ejek neneknya.


Farhan dan Rey melihat kedua pasang tangan Kyara dan Zahra bergantian.Farhan terlihat tak senang merasa kalah dari calon abang iparnya itu karena yang dia tahu mereka menikah hanya untuk menyelamatkan pernikahnya dan Kyara jadi mana mungkin cintanya kalah dengan Rey, itu hanya mitos.


" Nek gak palah pake sarung tanganlah nek. "


" Gak bisa kalian belum menikah jadi haram hukumnya pegang-pegangan."


Rey mengambil sarung tangan Zahra yang dipegang Nenek Gendis bermaksud untuk memakainya.


" Nak Rayhan kamu gak perlu pake sarung tangan jangankan cuma pegang tangan pegang yang lain juga bisa kok tapi nanti malam ya di kamar. " ledek nyonya Raudha tersenyum.


Wajah Zahra dan Rey memerah mendengar ledekan neneknya Farhan.


" Ayo sekarang kita mulai saja Farhan, Rey kalian udah siapkan sekarang mulailah mencari inensial nama kalian di tangan Kyara dan Zahra. ayo. "


Farhan lansung memegang kedua tangan Kyara, mencari huruf F disana. sedangkan Rey dan Zahra masih berpandangan.


" Rey. " Panggil nek Retno membuat kedua pasang mata itu sadar bahwa mereka di perhatikan.


Dengan perlahan Rey memegang kedua tangan Zahra. Mengangkatnya tepat di depan dadanya. satu ibu jarinya dengan lembut menelusuri telapak tangan Zahra mencari huruf R disana. Sejenak Rey memberhentikan ibu jarinya. Rey kembali memandangi Zahra yang menunduk.

__ADS_1


" Farhan sudah menemukan nya Nek. " ujar Farhan kegirangan sambil menunjukkan huruf F di telapak tangan Kyara.


Semuanya memandang huruf yang di tunjuk Farhan tidak terkecuali Zahra dan Rey tetapi Rey kembali melihat telapak tangan Zahra yang putih, jarinya lentik ditambah lagi dengan ukiran hena yang warnanya merah pekat sangat indah di tangan Zahra. Tanpa disadarinya ia kembali membelai tangan Zahra dengan sangat lembut membuat yang punya menjadi panas dingin menahan detupan jantungnya yang sangat cepat.


Nek Retno dan Neak Gendis tersenyum sipu memperhatikan Rey. Nyonya Raudha sedari tadi juga memperhatikan Rey.


Nak Rayhan apa kamu sudah menemukan huruf depan namamu di tangan istrimu itu. " Tanya nya.


Rey mengangguk mengiyakan.


" Bisa kamu tunjukkan siapa tahu aja salah. "


" Rey pun menunjukkan huruf R di sidut kanan ibu jari Zahra. Sangat kecil dan hampir saja tak terlihat. tapi Rey mampu menemukannya.


" Bang Rey walau hena di tangan kak Zahra lebih merah daripada hena yang di tangan Kyara, tapi untuk kali ini saya yang menang karna saya yang terlebih dahulu menemukan nama saya si tangan Kyara. " sahut Farhan.


ketepok......


" Aduh nek, sakit.... Kenapa nenek pukul Farhan. " Farhan memegang kepala yang di tapok neneknya.


" Dasar bodoh, Nak Rayhan sebenarnya dari awal sudah menemukan namanya di tangan istrinya itu tetapi ia emang sengaja tak mengatakannya agar ia bisa berlama-lama memegang tangan Zahra. Begitu kan nak Rayhan? "


Semua orang yang mendengarnya tertawa mereka merasa yang di katakan Nek Raudha itu benar. Rey berusaha menyangkalnya.


" Bu... bukan begitu Nek. " jawab Rey gugup.


Rey dan Zahra kembali berpandangan keduanya menjadi canggung merasa di ledek terus.


" Yaudah kita lanjut makan malam aja yuk. " ajak Nek Retno.


Mereka semua pun kini menuju meja hidang untuk menikmati makan malam mereka.


" Disudut, tak jauh dari tempat mereka tadi ada sepasang mata yang memandang tak suka. Matanya penuh amarah kecemburuan. Dia kembali meneguk segelas wine yang ada di tangannya.


" Besok setelah kau menceraikan Zahra aku gak akan biarkan kau menyentuh tangan calon istriku Zahra. " Ucapnya kesal, yang hanya dia yang mendengarnya.


Dari kejauhan Sasa memperhatikan Very yang tak seperti biasanya. Ada beribu pertanyaan di pikiran Sasayang langsung di tepisnya.

__ADS_1


__ADS_2