
" Aku tidak tahu pasti apa yang terjadi dengan diriku tetapi yang aku tahu, pasti aku tidak suka melihat kau tersenyum dengan oranglain selain diriku."
..........................................................
Happy Reading. Jangan lupa 👍, Vote dan absen ya di kolom komentar 😆*.
.........................................................
Mobil yang di kemudi Rey melaju membelah jalanan, pandangan Rey fokus ke depan. Hatinya masih dipenuhi amarah mengingat kejadian di Foodcourt tadi. Ingin sekali rasanya ia menggebuki laki-laki yang sudah berani mengatakan cinta pada wanita yang dia tahu sudah menikah. Dan hal yang paling menyakitkan bagi Rey di saat mendengar Zahra mengatakan kesiapannya untuk menerima lelaki itu. Rey tak rela jika harus melepaskan Zahra.
Mobil Rey memasuki pintu Tol.
" Kita mau kemana pak? kenapa kita kemari?" tanya Zahra tetapi tak mendapatkan jawaban dari Rey.Rey hanya diam.
" Pak sebenarnya kita mau kemana?" tanya Zahra lagi melihat Rey yang terus saja mengemudi.
" Pak Rey bapak dengar saya kan?"
Rey tetap tak menjawab.
Zahra menggeleng lalu menggerutu pelan.
" Seperti biasa, bertanya juga percuma dasar orang aneh, ngidam apalah dulu ibunya waktu hamil sehingga yang lahir anak patung." Kesal Zahra.
" Apa kamu bilang?" Tanya Rey yang mendengarkan celotehan Zahra samar-samar.
" Tidak apa apak pak Rayhan aku cuma udah lapar, lama sekali nyampenya.Sepertinya ini juga bukan jalan pulang ke Rumah." Jawab Zahra ngasal dia tersenyum paksa sedikit.
" Tadi waktu aku tanya kuat berulang kali dia gak denger giliran aku ngedumel eh dianya dengar. Sabar-sabar ngadapi limited edision macam ni." Batin Zahra.
Sudah dua jam mereka di perjalanan tapi belum sampai juga Zahra sendiri gak tahu mau di bawa kemana oleh Rey.Mobil sudah keluar dari jalur Tol, sekitar 15 menit kemudian Rey membelokkan mobil masuk ke area parkiran Masjid di pinggiran jalan.
" Kita turun dulu selesai Sholat baru nanti kita cari rumah makan terdekat." Rey melepaskan seatbelt lalu turun dari mobil, diikuti oleh Zahra.
Di teras Masjid, Rey melepaskan sepatu dan kaus kakinya. Zahra hanya berdiri melihat Rey.
" Kita Shalat dulu nanti baru kita makan." kata Rey lagi.
Zahra tetap berdiri saja Rey heran dengan Zahra yang tidak beranjak dari tempatnya masih memandang dengan tatapan yang sulit diartikan.
" Kamu kok berdiri saja Ra, apa kamu gak mau sholat?" Tanya Rey.
Zahra tersenyum kecil." Saya lagi cuti pak?"
__ADS_1
" Cuti?" Rey mengerutkan dahinya belum mengerti dengan maksud Zahra.
" emh...Iya pak. Maksud saya lagi datang bulan." Zahra tersenyum malu.
" Oh, ya udah tunggu sebentar ya."
" Zahra mengangguk mengiyakan. Rey berjalan menuju tempat wudhu'.
Zahra duduk di kursi panjang di bawah pohon sambil menunggu Rey.
" Ini pertama kalinya aku lihat pak Rey sholat biasanya dulu setiap aku ajak dia malah menunggu di mobil, sejak kapan ya pak Rey berubah?. Tapi baguslah aku ikut senang dengan perubahan baik ini mudah mudahan aja setelah sholat pak Rey gak galak lagi." Batin Zahra senyam senyum sendirian.
Zahra menoleh ke dalam Masjid, Kaca putih tembus pandang dari luar membuat Zahra bisa melihat Rey, ditambah lagi jarak yang tidak begitu jauh sehingga Rey terlihat begitu jelas. Zahra melihat Rey sudah memulai Sholat dengan mengangkat kedua tangan saat takbir.
" Pak Rey itu sebenarnya ganteng banget sayangnya dia galak." Zahra tersenyum memandangi Rey. " Astaghfirullah kenapa kamu Zahra kamu gak boleh berfikir macam macam." Zahra tersadar dari lamunanya kemudian mencari kegiatan lain untuk tidak lagi memandangi Rey yang kemudian malah berfikir macam-macam tetapi semakin sering di tepisnya keinginan itu ia malah Zahra semakin hanyut pada lamunanya sendiri.
" Ra, yuk kita jalan lagi!." Ajak Rey yang sudah selesai Sholat.
Zahra tak mendengar ajakan Rey. Dirinya masih asyik melamun. Satu tangannya menopang dagu.
" Zahra." panggil Rey lebih kuat dari pertama sehingga Zahra terkejut.
" I...iya pak, udah selesai."
" Ehm..... gak kok pak " Zahra tersenyum lagi. "Kita makan yuk pak! lapar ni!" Rengek Zahra seperti anak kecil yang sudah sangat kelaparan. Wajar juga sih lagian sudah jam setengah 2, jam makan siang sudah sangat telat.
Di dalam mobil Zahra masih senyam senyum melihat Rey yang sudah mau sholat.
" Ya Allah terimakasih karena telah mengabulkan doaku." Batin Zahra mengulum senyum. Zahra pernah berdoa agar Allah memberikan hidayah pada Rey agar kembali mau menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim yaitu melaksanakan ibadah sholat. Doa itu terlontar begitu saja saat Zahra sholat di masjid ketika beberapakali bersama dengan Rey. Ketika itu Rey masih memilih menunggu di mobil saja.
Melihat Zahra yang senyam senyum sendiri, Rey malah mengira Zahra senang karena di tembak abangnya Sasa. Rey fikir Zahra juga mencintai Yazid. Hati Rey pun semakin emosi,tapi Rey menahannya.
Rey memarkirkan mobilnya di sebuah rumah makan yang tempatnya tidak terlalu besar tetapi cukup bersih. Mereka berdua pun masuk ke dalam untuk makan.
Tak butuh waktu lama untuk menunggu, makanan sudah di hidangkan. Zahra yang memang sudah sangat lapar tak ingin buang- buang waktu lagi ia memindahkan sebagian nasi dan laukpauk kepiring untuk disantap.
berbeda dengan Rey, ia tak menyentuh makanan sama sekali hanya memandang Zahra yang sedang asyik makan. Nafsu makan Rey hilang karena suasana hatinya yang sedang buruk saat ini.
Zahra berhenti menyendok makanan ke mulutnya saat sadar hanya dia sendiri yang makan.
" Bapak gak makan.?" tanya Zahra di sela-sela kunyahannya.
Rey menggeleng. " saya gak lapar." jawabnya singkat.
__ADS_1
Zahra meletakkan sendok dan garpunyakembali.
" Pak makan itu bukan hanya karena lapar atau tidaknya,jika memang sudah waktu makan ya kita harus makan apalagi ni hari sudah sangat telat makan siangnya udah hampir jam setengah tiga, jadi bapak harus makan biar gak sakit."
" Saya gak kan sakit jika hanya tidak makan sekali."
" Ni orang selain galak keras kepala juga ternyata." batin Zahra kemudian menghela nafas. " Apa bapak bisa menjamin kalau bapak gak akan sakit? ayolah pak kita makan sama-sama ntar kalau bapak sakit aku juga kan yang repot."
Rey tetap diam tidak mengambil makanan kepiringnya.
" Ayolah pak demi Zahra." Pinta Zahra dengan nada memelas. " Disini gak ada nenek yang bisa jagain bapak kalau sakit. aku gak mau repotya, kalau bapak sakit aku gak mau ngurusi aku tinggal aja." sambung Zahra lagi dengan nada kesal sambil mencebikkan bibir bawahnya.
Rey sangat gemas melihat tingkah Zahra. Hatinya luluh mendengar permintaan dari gadis yang kini selalu ada di fikirannya. Rey mengambil sendok dari piring Zahra dan menyendok makanan memasukkan ke mulutnya. Mata Zahra membulat karena kaget melihat Rey memakan makananya.
" Pak ini makanan saya kenapa di makan?"
" Tadi katanya suruh makan?"
" Ya tapi kan gak harus makan punya saya, bapak bisa ambil sendiri tu." Mata Zahra menunjuk piring kosong di depan Rey. "gak baik pak makan di piring orang lain." Zahra masih memandang lekat Rey gak terima Rey makan dari piring dan sendok bekasnya.
Rey mendekatkan wajahnya ke Zahra membisikkan sesuatu di telinga Zahra.
" Sekarang aku suamimu dan kau adalah istriku bukan orang lain." Rey memindahkan piring Zahra ke hadapannya dan meletakkan piring kosong dihadapan Zahra.
Mulut Zahra tenganga sedikit, bengong tak percaya dengan apa yang di ucapkan Rey yang terus saja mengunyah makanan dari piring Zahra, makanan yang sudah dimakan Zahra sebelumnya. Tak terlihat sedikitpun rasa jijik dari Rey memakan makanan yang sudah di makan Zahra.
" Kamu ambil lah lagi makanan itu." Kata Rey lagi. Zahra masih tak berkedip melihat Rey yang begitu asyik melahap makanan miliknya.
" Awas masuk lalat." Seketika Zahra mengatupkan mulut mendengar ucapan Rey. " Cepatlah makan kita harus melanjutkan perjalanan." lanjut Rey lagi.
Zahra pun mengambil kembali nasi dan lauk pauk ke piring kosong yang diletakkan Rey di depannya tadi, mulai memakan makanan dengan pikiran masih melayang tak percaya dengan apa yang di lakukan Rey hari ini.
Rey sesekali melihat Zahra makan dengan wajah berfikir karena makanannya di sadap, Rey juga tersenyum tipis.
" Sebenarnya bukan hanya makananmu yang ingin ku makan, tetapj juga kamunya Zahra." batin Rey masih dengan senyum tipisnya.Zahra sendiri tidak tahu di perhatikan Rey saat makan.
💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟
Author lagi semangat nulis eh wifi nya mati udah 3 hari. pake data, jaringan lelet jadi nulisnya kalau jaringan bagus aja maaf ya readers 🙏🙏😆
__ADS_1