Jodoh Terbaik Pilihan Tuhan

Jodoh Terbaik Pilihan Tuhan
Part 113. Perbincangan Dua Sahabat.


__ADS_3

Adzan zuhur telah berkumandang, para lelaki segera berangkat ke Masjid Pondok yang berada di kawasan rumah Zahra.


Sedangkan Zahra kembali ke kamarnya di temani oleh Sasa.


Riasan wajah Zahra dibenahi oleh mbak MUA. setelah selesai, si mbak ingin membantu Zahra untuk mengganti pakaian.


" Mbak biar saya sendiri saja yang memakainya." Tolak Zahra saat si mbak akan membukakan baju Zahra.


" Tapi ini tugas saya mbak, mbak gak perlu sungkan saya da biasa kok melakukannya."


" Saya tahu ini tanggung jawab mbak, tapi untuk kali ini biarkan saya pakai sendiri saja ya mbak." pinta Zahra lagi.


" Baiklah mbak kalau begitu saya izin keluar." dengan mengulum senyum si mbak keluar dari kamar Zahra.


Zahra pun dengan perlahan membuka risleting baju yang berada di punggung bagian belakang. Zahra sedikit kesusahan.


" Sa tolongin dong,susah ni di bukanya." Pinta Zahra pada sahabatnya yang sedang berbaring di tempat tidur Zahra.


" Emh lo ni ya Ra,tadi di bantuin sama si mbaknya lo nolak, sekarang malah ngerepoti gua kan jadinya, padahal gua lagi enak -enaknya ni bayangi malam pertama loh nanti sama Pak Rey, kira-kira nanti malam kalian berdebat lagi gak ya?." Sasa tertawa geli, ntah apa yang kini ia fikirkan.


" Gak usah ngeres lo ya Sa, udah cepet bantuin buka ni." titah Zahra.


Sasa pun bangkit dari tidurnya mendekati Zahra.


Kreett...... dengan satu tarikan risleting baju Zahra pun terbuka.Sasa kemudian beranjak kembali ke kasur.


" Is Kasar amat si Sa,gak bisa apa pelan dikit, untung gak lecet." decah Zahra sebal.


" Sorry sayang ku Zahra, guakan bukan Pak Rey. ntar kalau pak Rey yang buka baru deh...." Sasa tak melanjutkan ucapannya hanya senyam senyum tak jelas.


" loh kenapa si senyam senyum mulu? pasti tu kepala ngeres semua isinya." tuding Zahra melirik Sasa sebentar kemudian kembali menghadap cermin merapikan pakaian yang sudah di kenakannya.


" Ets enak aja, isi kepala gua ni yang baik- baik semua ya. guakan wanita muslimah haram berfikir ngeres." sangkal Sasa dengan lantang.


" Iya-iya yang wanita muslimah, percaya ana, tapi pasti ada alasannya kan Seorang Sasa senyum lebar begitu sekarang ni.


Sasa kembali melebarkan senyumnya.


" Ra, lo inget gak dulu pernah bilang kalau pak Rey nikah, Pasti ntar istrinya cepat mati gegara kena serangan jantung ngadapi Pak Rey yang galak, jadi kepikiran, gak Rela gua kalau sahabat gua ni mati muda." ucap Sasa dengan wajah polosnya.


" Sasa......, kamu nyumpai aku cepet mati ya, tega lo Sa." Zahra memasang wajah meweknya sebenarnya dia tahu kalau Sasa cuma bercanda.

__ADS_1


" Hahaha..... ya enggak lah Zahra ku sayang, Akukan cuma teringat aja, makanya kalau ngomong tu jangan ngasal, kan gak enak kalau lagi bucin- bucinnya eh malah mati muda." Sasa ngakak ngeledek Zahra.


Zahra mendatangi Sasa ke tempat tidur lalu menutup wajah Sasa dengan bantal.


" Lo itu ya Sa sahabat duralek."


" Ampun-ampun Ra, kalau gini malah gua yang mati, gak bernafas."


" Biarin." Zahra mencebikkan bibirnya, dan mengangkat bantal dari kepala Sasa.


" Jangan dong Ra, loh ma enak da nikah la gua?" tanya Sasa menunjukkan wajah bengong.


Keduanya saling pandang lalu tertawa bersama.


Tawa yang dikeluarkan Zahra sangat lepas, kali ini Zahra begitu bahagia,terpancar dari mata dan senyumnya yang mengembang di bibirnya.


" Ra aku harap kamu selalu bahagia seperti ini. ternyata ucapanmu dulu yang tanpa sengaja jadi kenyataan, nikah langsung tanpa cetak undangan, trus jadi istri bos yang galak tapi aku gak mau ya Ra kalau lo kena serangan jantung, Aku yakin kok Ra, kalau Pak Rey pasti akan selalu buat sahabatku ini bahagia. aku sangat yakin itu Ra."


Zahra terkekeh mendengar perkataan tulus sahabatnya itu,lalu Zahra memeluk Sasa.


" Makasih ya Sa, kamu selalu ada saat aku butuhkan. Aku sangat beruntung punya sahabat seperti mu."


Sasa melepaskan pelukan Zahra.


" Kenapa?" Zahra juga mengerutkan dahinya merasa bingung.


" Karna lo gagal jadi kakak iparku." Sasa manyun sebentar kemudian tertawa lebar keduanya pun kembali berpelukan.


" Maafin aku ya Sa, kalau bang Yazid tahu sekarang aku da nikah beneran sama Pak Rey pasti bang Yazid sangat kecewa karena aku gak menerimanya meski aku udah tahu isihatinya." Wajah Zahra kembali sendu merasa bersalah.


" Ra, berhenti mikirin kebahagiaan orang lain, lo berhak bahagia Ra bersama lelaki pilihanmu, aku Rasa pak Rey itu jodoh yang sangat tepat untukmu, Pak Rey sangat mencintaimu itu sudah ku tebak dari awal lo jadi sekertarisnya."


" Mana ada orang cinta tapi galak gitu, perintah sana perintah sini, tapi aku sendiri juga bingung Sa kok tiba-tiba dia bilang suka sama aku dan ingin beneran menjadi suamiku." ucap Zahra lagi.


" Ra, gak ada yang tiba-tiba, Pak Rey itu emang galak tapi dia sangat perhatian sama lo, cuma lo yang bisa bertahan jadi sekertarisnya, kalau dia gak punya rasa mana mungkin dia peduli setiap lo ada masalah, lo ingatkan saat lo datang terlambat terus belum sarapan walau marah-marah dia ngajakin lo makan kan?"


" Kok kamu tahu Sa, aku kan gak ada cerita?"


" Tahulah lo aja yang kadang main rahasia-rahasian, sampai-sampai Pak Rey pandai mengaji pun gak bilang. Gua gak nyangka kalau Pak Rey bisa ngaji dengan suara semerdu itu. salut gua." ucap Sasa.


Tadi pagi menjelang siang setelah akad Nikah dan membacakan ta'liq nikah, Rey diminta pak Arman untuk membacakan Surah Ar-Rahman sebagai persyaratan saat melamar Zahra yang hanya mereka berdua yang tahu. Pak Arman pernah mendengar dari Istrinya bahwa putri mereka Zahra pernah mengatakan punya keinginan ingin mendengar suaminya kelak membacakan surah Ar-Rahman di depannya dan depan semua orang ketika selesai ijab Kabul.

__ADS_1


" Aku sendiri juga gak tahu Sa, ini pertama kalinya aku denger Pak Rey membaca Alqur'an."


" Serius lo Ra, baru tahu ini juga?"


" Iya." Zahra mengangguk.


" Wah kalau gitu kalian memang pasangan serasi, yang satu cantik yang satunya gantengnya kelewatan trus kedua-duanya bersuara merdu, jadi gak sabar aku pingin lihat Pak Rey dan Zahra junior, cemana ya rupanya pasti cakepnya kebangetan." Sasa kembali melebarkan senyum


" Is apaan si Sa, mulai lagi halunya." Zahra menewer kepala Sasa dengan bantal yang di pegannya.


Sasa tak membalas apapun kecuali hanya tertawa.


" Eh ya Sa, aku gak ngelihat pak Verry, padahal kayaknya tadi mama sama papanya datanglah, Pak Verry gak ikut ya? apa ada meeting penting?"


" Iya PAK Verry gak datang karna dia ada meeting yang sangat penting." Jawab Sasa dengan malas.


" Emang meeting sepenting apa sih sampe sepupunya nikah dia gak datang." Tanya Zahra sedikit kecewa, biar bagaimanapun mereka berteman, Zahra merasa masa pak Verry tak ingin memberikan ucapan selamat padaya.


Sasa menarik nafas panjang lalu melepaskannya dengan kasar.


" Meeting menata hatinya yang hancur." ucap Sasa lagi padahal sebenarnya hatinya juga hancur,merasakan sakit yang sama mengetahui selama ini lelaki yang ia impikan mencintai sahabatnya sendiri.


Zahra terkejut mendengar ucapan Sasa. Sesaat dia lupa kalau Pak Verry juga telah mengungkapkan perasaannya pada Zahra jauh sebelum Rey mengatakan cintanya.


" Maaf Ra kalau selama ini aku gak cerita, sebenarnya pak Verry saat ini lagi patah hati karena kamu akhirnya menikah dengan Pak Rey bukan dirinya. Waktu pak Verry tahu Pak Rey melamar mu, saat itu aku ada di rumah Pak Rey mengantarkan berkas pekerjaan mu yang tertunda karena kamu da gak kerja lagi jadi aku yang di tugaskan untuk menyelesaikannya. Pak Verry marah besar, dia gak terima kalau Pak Rey melamarmu dan dia bersumpah akan mendapatkan mu, merebutmu dari pak Rey sama seperti apa yang selalu di dapatnya saat mereka kecil yang mana dia bilang dia selalu berhasil merebut semua mainan dari pak Rey. Tapi dengan tegas Pak Rey berkata kalau dulu saat kecil Pak Rey sengaja memberikan mainan-mainan itu untuk pak Verry karena dia tak membutuhkannya, Pak Rey juga bilang kalau Lo bukan mainan tapi kehidupannya dan sampai kapanpun gak akan pernah di lepaskan untuk siapapun termasuk pak Very." jelas Sasa.


Zahra hanya terdiam mendengarkan cerita Sasa. Ada rasa sejuk menjalar di hati, ternyata orang yang selama ini terlihat galak di matanya malah menganggap dirinya sangat berarti.


" Apalagi saat aku tadi lihat pak Rey membela mu Ra di depan semua orang dan berhasil membungkam mulut bu'de dan tantemu yang jahat itu, aku semakin yakin Kalau pak Rey itu sangat mencintai mu, Pak Rey pasti akan selalu buat lo bahagia. Aku sangat bersyukur akhirnya Sahabatku ini mendapatkan kebahagiaan." Sasa menangis mengingat kejadian sebelum ijab kabul tadi. Kejadian di mana sahabat terbaikknya di pojokkan anggota keluarganya sendiri dan dia tak bisa berbuat apa-apa kecuali diam menahan kesedihan.


Zahra juga ingin menangis tetapi ia menahan dan memilih mengeluarkan senyum lalu kembali memeluk Sasa.


" Zahra sayang Sasa."


" Sasa juga sayang Zahra, nanti setelah ada Pak Rey jangan lupakan Sasa ya." Sasa kini menangis takut kehilangan sosok seorang teman.


Zahra mengangguk airmata sempat menetes tetapi dengan cepat ia seka.


💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗


Terimakasih buat semua yang udah dukung Author. Terimakasih juga buat like dan vote readers semua. itulah yang membuat Author melanjutkan cerita ini. tadinya author udah mau berhenti nulisnya karena setiap lihat likenya sedikit sekali padahal lumayan banyak yang baca😭😭😭. tapi author kembali melanjutkan tulisan ini karena kalian semua yang udah dukung author.

__ADS_1


sekali lagi terimakasih. semoga kita sehat selalu.🙏🙏🙏🙏


__ADS_2