
Very dan Zahra sudah bersama Vano dan Rey yang masih bengong melihat Zahra.
" Van, ini karyawan baru kami yang menghandle Party malam ini." kata Very pada Vano.
" Oh ya kenalkan saya Vano. " Vano mengulurkan tangannya pada Zahra.
Zahra mengatupkan kedua tangannya kedepan sejajar dada. " Saya Zahra pak " ucap Zahra memperkenalkan dirinya dan memberikan senyumannya.
Vano menarik kembali tangannya.Ia kini paham gadis sholeha seperti Zahra tidak mau bersentuhan dengan lelaki selain mahramnya.
" Senang berkenalan dengan anda Zahra, sepertinya kita harus segera menanda tangani kontrak kerjasama proyek baru kita ni Rey, agar bisa semakin sering berjumpa dengan Zahra yakan pak Sigit?. "
Pak Sigit tersenyum dan mengangguk mengiyakan sementara Zahra tersenyum sedikit dan melihat ke arah Rey. Rey tersadar dari lamunannya ketika mata Zahra menatapnya dia hanya ikut tersenyum karena dia tidak mendengar apa yang di katakan Vano tadi.
Sedangkan Very menaikkan alisnya dan matanya sedikit di pelototkannya ke Vano tanda tak setuju dengan ucapan Vano yang mulai menggombali Zahra. Vano melihat Very.
" Saya becanda kok Zahra jangan di ambil hati ya."
Zahra hanya membalas dengan senyuman.
" Kamu luar biasa Zahra, bukan hanya dekorasi yang kamu sulap menjadi sempurna, tapi dari penampilan kamu juga berbeda, walau kamu tahu tema malam ini tapi kamu tetap bisa mempertahankan apa yang kamu suka, dan terbukti malam ini kamu menjadi pusat perhatian malah saya sendiri kalah gaya sama kamu. Saya sangat suka dengan gayamu ini." Vano tersenyum lebar.
Zahra tersenyum terpaksa dia kembali melihat Rey," Kalau bukan karena bos galak ini yang memberikan baju, pasti aku gak akan dipermalukan seperti ini." Batin Zahra.
" Den Vano gimana kalau kita cek makanan dulu sebelum para tamu memakannya kita cicipi terlebih dahulu." Kata pak Sigit.
" Ide bagus pak, yuk kita ke meja hidang dulu." ajak Very.
" Gak usah lah pak, makanannya pasti sudah ok semua ini kan Hotelnya Rey yang sangat terkenal apalagi malam ini sudah di tangani semua oleh nona Zahra pasti semuanya sudah beres. " jawab Vano.
" Pak sigit betul Van, sebaiknya kita kesana aja dulu. " ajak Rey.
" Baik lah ayok kita kesana, nona Zahra kami tinggal sebentar ya nanti kita ngobrol lagi. "
Zahra mengangguk seraya tersenyum.
Rey, Vano dan pak sigit berjalan menuju meja makanan. Sedangkan Very memilih tetap bersama Zahra.
Saat Vano membuka tutup saji makanan alangkah terkejutnya mereka melihat makanan yang dihidangkan, bukan makanan kontinental melainkan makanan khas Indonesia. Ada Nasi, Rendang daging, Semur ayam, Sambal teri, Semur jengkol, Sayur lalapan, Sambal terasi semua hidangan pesta hajatan.
Rey yang melihatnya juga terkejut dan langsung memanggil Zahra. Zahra dan very pun mendatanginya.
" Apa-apaan kamu Zahra, kemarinkan kamu udah catat semua. Aku katakan pesan makanan kontinental kenapa malah makanan ini yang kamu pesan. " Rey marah pada Zahra.
Zahra juga sangat terkejut dengan makanan yang dihidangkan pihak Hotel, ia sama sekali tidak memesan makanan itu.
" Zahra, untuk dekorasinya sih ok, tapi kalau untuk makanannya tidak sesuai dengan party malam ini. " kata Vano masih tersenyum pada Zahra yang sudah hampir menangis.
Dari kejauhan Lani dan Jeny memperhatikan mereka. keduanya pun tersenyum. Lani berjalan mendatangi mereka.
" Ada apa ini Rey, apa ada masalah. "
" Ya kamu lihat sendiri, gadis ceroboh ini buat masalah lagi. Seenaknya saja dia mengganti menu makanan dengan menu seperti ini, benar perkataanmu Lan, tak seharusnya aku memberikan tanggung jawab besar pada gadis ceroboh ini yang ada dia hanya buat masalah saja. " Rey memandang Zahra dengan penuh amarah.
" Kamu sih Rey gak mau dengarkan aku. yang namanya gadis kampung, pasti seleranya juga kampungan kayak gini. " Lani melihat Zahra dengan tatapan sinis.
" Masih ada waktu setengah jam lagi kan acaranya?? aku akan urus semua. Inikan Hotel besar pasti menyediakan stok makanan Kontinental. Akan aku hubungi manager dan kepala masak restorannya agar mengganti makanan kampung ini semua. Pelayan!! " panggil Lani. " bawa kembali makanan ini semua ke dapur." perintah Lani pada seorang pelayan.
" Baik buk. " Pelayan menganggkati semua hidangan masuk ke dalam.
__ADS_1
" Aku tinggal dulu ya, Van gua harap lo bersabar sebentar, dalam kurang waktu setengah jam semua hidangan sesuai permintaan lo akan dihidangkan."
" Makasih ya Lan lo emang bisa diandalkan. Aku gak ingin malu di depan rekan-rekanku."
" Kamu tenang saja. " Lani pergi, sebelum meninggalkan mereka dia tersenyum licik pada Zahra.
Zahra masih terdiam, dia tidak tahu harus berbicara apa semua di luar rencana kerjanya. Dia gak tahu kenapa makanan yang dipesannya bisa berubah.
" Zahra, udah jangan di pikiri mungkin ada kesalah pahaman di sini. " ucap Very.
" Iya benar Zahra, gak usah di pikiri lagi lagian semuanya udah di tangani Lani aku yakin akan baik-baik saja. Lani itu sudah terbiasa menghandle masalah, lain kali kamu nanti belajar padanya." sambung Vano. "
Rey masih sangat kesal dan emosi melihat Zahra.
" Rey, Ver, gua pinjam Zahra sebentar ya, yuk Zahra kita kesana!" Ajak Vano menunjuk meja di depan panggung hiburan.
Very mengangguk mengiyakan dia sadar meski tak suka dia gak punya hak melarang Zahra.Sedangkan Rey hanya diam saja tak menjawab.
Vano dan Zahra pergi dan duduk di meja pilihan Vano sambil menunggu para undangan hadir semua, karena acaranya akan di mulai jam 8.00 WIB malam.
" Pak Vano, saya minta maaf ya atas hidangan tadi," Zahra memulai pembicaraan.
" Udah Zahra, lupakan saja lagian kan undangan juga belum tahu. " jawab Vano.
" Saya benar-benar minta maaf pak, sebenarnya saya sudah memesan makanan kontinental tapi saya tidak tahu kenapa makanannya jadi berubah. " Rasa bersalah dan bingung campur aduk semuanya di pikiran Zahra.
" Sudahlah Zahra gak usah di pikiri lagi yang penting kan semuanya da di tangani Lani. Kalau kamu pikirkan terus ya jadinya seperti ini, kamu terlihat jelek lo kalau cemberut gitu, ayo dong senyum seperti saat kamu datang tadi. " Vano meminta Zahra tersenyum karna ia merasa Zahra sangat merasa bersalah atas kejadian tadi.
" Begiitukan enak dilihatnya hehehe." Mereka berduapun kini tersenyum dan berbincan-bincang.
Rey yang masih kesal pada Zahra, semakin bertambah kesal melihat Zahra dengan Vano yang berduaan dan terlihat tertawa bahagia. Rasa cemburu tak suka melihat Zahra tersenyum pada lelaki lain membuat emosinya tak bisa di tahannya lagi.
" Den Vano, rekan bisnis kita yang dari Singapura ingin bertemu anda." Kata pak Sigit mendatangi Vano.
" Zahra saya tinggal sebentar ya!. " Vano pamit ingin memjumpai rekan kerjanya.
Melihat Zahra duduk sendirian, Rey mendatangi Zahra dan menarik tangan Zahra. Mereka berjalan ke dekat kolam renang di mana tidak banyak undangan yang berada disitu.
" Lepaskan pak. " pinta Zahra mencoba melepaskan genggaman tangan Rey. Tetapi Rey tak memperdulikannya dan terus berjalan membawa Zahra.
Rey baru melepaskan tangan Zahra ketika sudah sampai di tepi kolam.
" Kenapa? kamu tidak suka ya aku bawa kesini?? apa kamu lebih senang bersama Vano. " Ucap Rey ketus.
Zahra hanya diam, ia masih kesakitan karena Rey terlalu keras menggenggam tangannya.
" Seharusnya aku mendengarkan Lani, gadis seperti mu memang keras kepala. tidak bisa menerima saran orang lain hanya melakukan apa yang kamu suka. mengganti makanan seenaknya dan lihat saja penampilan mu walau kamu tahu betul tema malam ini tapi tetap saja kamu berpenampilan sesukamu biar kamu jadi pusat perhatian kan?? dengan begitu kamu akan lebih muda menggoda bos-bos yang ada disini."
" Saya pinta jaga omongan bapak! kalau bukan karena seseorang yang suka mengandalkan kekuasaannya saya tidak akan pernah mau memakai pakaian ini. "
" Jangan mencari-cari alasan, kamu tidak suka kan, tapi itulah kenyataannya, belum berapa lama saja kamu sudah menggoda Vano, terus siapa lagi yang ingin kamu goda dasar wanita matre sama saja seperti wanita murahan di luar sana. "
" Hentikan pak, terserah saya mau menggoda siapa saja itu bukan urusan bapak! mengerti." Zahra menjadi kesal dengan perkataan Rey yang mulai menyudutkan nya.
Rey tersenyum sinis dan berjalan mendekati Zahra sehingga jarak mereka semakin dekat.
__ADS_1
" Aku juga bos, bahkan kekayaan ku jauh lebih banyak dari Vano, ku rasa kamu juga bisa menggodaku." Rey menarik punggung belakang Zahra sehingga mereka hampir berpelukan.
" Lepaskan !!" Zahra menolak Rey sehingga Rey menjauh.
" Saya pinta Bapak jangan kurang ajar, saya sudah bilang kalau saya memesan makanan sesuai yang bapak katakan, saya sendiri tidak tahu kenapa makanannya bisa berubah pasti ada kesalahan. "
" Kesalahan kamu bilang? Hotel ini sudah berdiri selama hampir 35 tahun dan belum pernah terjadi kesalahan sebelumnya. "
" Tapi kali ini saya tidak bersalah."
" Oh ya, kalau begitu saya yang salah. Saya sudah salah memberikan kepercayaan kepada gadis ceroboh seperti mu. "
Air mata Zahra sudah mau jatuh tetapi ia tetap berusaha agar tidak menangis di depan Rey.
" Bukankah dari awal saya sudah menolak tanggung jawab ini pak, tetapi bapak dan pak Very yang sangat yakin kalau saya bisa, saya sudah melakukan sebisa saya agar tidak ada kesalahan dan bapak tidak marah lagi. Saya tidak ingin terus-terusan di hina pak. Tetapi kenapa kali ini bapak tidak percaya dengan yang saya katakan. Saya sudah memesan sesuai yang bapak pinta, cukup dengan satu kepercayaan bapak itu bisa menjadi kekuatan bagi saya untuk membuktikan bahwa saya tidak bersalah. " Air mata Zahra sudah membasahi pipinya ia tak mampu membendung nya lagi.
Rey merasa bersalah melihat Zahra menangis, hatinya terasa sakit ia ingin menghapus air mata Zahra akan tetapi emosi saat melihat Zahra tersenyum pada Vano membuat dia mengurungkan niatnya memberikan sapu tangan pada Zahra. Rey pun meninggalkan Zahra sendirian.
Zahra masih tertunduk menangis, rasa sakit karena hinaan Rey membuat dia terpaku dan berusaha menata hatinya agar tidak terus menangis.
Lani yang melihat dari kejauhan dengan Jeny, sangat senang. Walau mereka tak mendengar apa-apa, dengan melihat Zahra menangis mereka sudah merasa puas.
byur.....
Zahra tercebur ke dalam kolam renang, seseorang mendorong Zahra. Zahra yang tidak pandai berenang mencoba mencari pertolongan dengan kedua tangannya yang mengapai gapai ke atas.
Rey yang belum jauh mendengar suara sesuatu terjatuh ke air,ia melihat kebelakang dan ia terkejut saat tahu Zahra akan tengglelam.
Rey berlari ke kolam renang dan melepaskan jas nya lalu masuk menolong Zahra.
byuur.....
Rey berenang mendekati dan membawa Zahra naik ke atas tepi kolam.
Lani bengong tak percaya dengan apa yang di lihatnya, dia dari kecil mengenal Rey yang tak pernah peduli dengan orang lain kenapa kali ini Rey malah nolongi Zahra. Begitu juga dengan Very yang sama terkejutnya melihat Rey yang ikutan nyebur ke kolam hanya demi Zahra. Di kehidupan Rey, dia hanya peduli sama nenek dan kedua adiknya selebihnya tidak pernah. Sampai-sampai ada seorang gadis yang mati bunuh diri hanya karna cinta nya di tolak Rey, dan Rey tak peduli sedikit pun.
" Buk kenapa pak Rey ikut nyebur nolongi Zahra, bukankah adegan ini gak ada di skenario rencana kita kan buk. " Jeny berbicara pelan pada Lani.
" Diam aja lo Jen, jangan banyak tanya. " Jawab Lani kesal karena melihat Rey menolong Zahra.
Very tadi melihat orang yang mendorong Zahra berlari keluar, Very mencoba mengejarnya mencari tahu siapa yang berniat jahat ke Zahra tetapi Very kehilanggan jejak ia pun kembali ke lokasi pesta.
Zahra basah kuyup begitu juga Rey. Baju Zahra yang berwarna terang agak sedikit membayang, Zahra menyilangkan tangannya di depan dada.
Rey mengambil jasnya dan mamakaikan ke pada Zahra agar Zahra merasa nyaman tubuhnya yang basah tertutupi dengan jas Rey, Zahra yang dari tadi tertunduk kini menoleh ke Rey. Mata mereka saling bertatapan.
Rey mengajak Zahra pergi dari tempat itu. para undangan melihat mereka yang berjalan bersama.
" Ver, lo urus pestanya ya aku mau antar Zahra pulang. "
Very yang masih belum percaya dengan apa yang ia lihat hanya mengagguk mengiyakan.
mereka berdua terus berjalan dan melewati Vano.
" Van, gua minta maaf karena gak bisa mengikuti pestanya sampai selesai. jika ada sesuatu yang kamu butuhkan kamu bisa pinta sama Very." ucap Rey.
" Ok Rey. " baru kali ini vano melihat Rey peduli sama seorang wanita.
Rey dan Zahra pun sudah tak terlihat lagi di lokasi Party mereka berjalan di Loby Hotel menuju meja resepsionis.
__ADS_1
💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟
Terimakasih buat semua yang masih mau baca karya Author, kali ini Author kasi durasi yang lebih panjang karna kemarin2 author lama up nya 😅😅. jangan lupa comen, like dan voote nya ya Readers 🙏🙏🙏😍😍