
Pagi-pagi sekali sebelum Zahra bangun Rey sudah kembali ke kediaman Farhan untuk bertemu dengan Reza.
" Rey, kamu dari mana tadi malam kenapa gak pulang kemari?, trus Zahra mana?" Tanya Nek Retno yang melihat Rey baru saja masuk ke dalam rumah.
" Reza mana nek?" Rey balik bertanya dengan wajah kesal.
" Ada apa kamu mencari Reza sepagi ini Rey? "
" Aku perlu bicara dengan Reza, katakan sekarang dia dimana nek.?" Desak Rey.
" Dia masih tidur, kamarnya di atas." Jawab Nenek.
Rey berjalan cepat menaiki anak tangga wajahnya memerah menahan emosi.
" Rey sebenarnya ada apa ini kanapa kamu tergesa-gesa seperti ini." Nenek mengikuti langkah kaki Rey. Nek Gendis yang melihat itu pun juga ikutan naik ke Kamar Reza.
Pintu kamar di mana Reza tidur di kunci dari dalam sehingga Rey tidak bisa masuk.
Tok... tok.. tok...
Pintu di gedor Rey dengan kuat.
" Reza, buka pintunya. " Teriak Rey.
" Rey, jangan keras -keras gak enak sama nyonya Raudha sayang, Ini bukan rumah kita jadi nenek mohon jangan buat keributan. " ucap Nenek tetapi Rey tak peduli.
Rey terus menggedor pintu malah semakin keras.
" Reza, cepat buka pintunya atau tidak aku dobrak ni. " Teriak Rey lagi.
Reza pun membuka pintu. Matanya masih menyipit, Reza masih sangat mengantuk karena tidurnya terganggu oleh suara teriakan Rey.
" Ada apa sih bang, ganggu orang tidur saja."
Jawab Reza dengan suara serak khas orang bangun tidur.
Buk...
" Ada apa kamu bilang? "
__ADS_1
Satu pukulan keras mendarat di wajah Reza sampai mengeluarkan darah.
" Aw.. " teriak Reza kesakitan memegang hidung yang sudah mengeluarkan darah segar.
" Rey, apa-apaan ini, kenapa kamu memukul adek mu seperti ini. sebenarnya ada apa jelasi ke nenek." Teriak nek Retno histeris.
Nek Gendis juga terkejut melihatnya, ia berinisiatif langsung menutup pintu agar keributan ini tidak terdengar oleh anggota keluarga Farhan.
" Nenek tanya saja sama cucu nenek ini, apa yang udah dilakukannya pada Zahra dan keluarganya." Rey meninggikan suara, wajah Rey sudah sangat merah menahan emosi yang sudah tidak bisa di tahannya lagi. Jika Reza bukan adiknya sudah bisa di pastikan Reza akan dihabisi Rey saat ini juga.
" Zahra, kenapa Zahra Rey, Zahra baik-baik saja kan? " Tanya nek Retno cemas.
Reza masih diam saja tangannya diletakkan di hidung untuk menyumbat agar darah tidak terus keluar.
" Cucu nenek ini membayar orang, mengaku keluarganya lalu membawa mereka untuk melamar Zahra." Tunjuk Rey dengan tatapan nanar.
" Bagaimana mungkin Rey, Reza gak akan mungkin melakukan itu. " Nek Retno tak percaya.
" Nenek tanya saja langsung, benar gak kalau dia udah nipu Zahra, lihatkan Nek, dia tidak bisa menjawabnya bukan?, Nenek tahu Zahra dan keluarganya percaya bahwa yang dibawa Reza adalah orang tuanya sehingga mereka menerima lamaran itu. Tepat satu bulan sebelum Pernikahan, disaat persiapan sudah hampir rampung dia malah membatalkan pernikahan itu. Nenek Bayangkan saja Bagaimana keadaan Zahra dan keluarganya gara-gara kelakuan cucu nenek ini, Mama Zahra sampai koma di rawat di rumah sakit." Jelas Rey dengan nada marah.
Nenek masih tak percaya, perlahan Nenek mendekati Reza.
Reza menunduk dengan satu tangan masih di hidung.
" Maafkan Eza nek, Eza memang salah, Eza juga da minta maaf sama Zahra dan Eza ingin menebus kesalahan yang pernah Eza lakukan ke Zahra.Kali ini Eza ingin beneran menikahi Zahra, Eza akan minta maaf pada Papa dan Mamanya Zahra sekaligus minta restu mereka Nek."
Plak.. Rey menampar Reza
" Enak saja kamu berbicara setelah kau membuat Zahra dan keluarganya malu sekarang kau malah ingin menikahinya gitu? asal kau tahu, saat ini Zahra adalah istriku jadi tak ada lelaki manapun yang bisa menikahinya. "
" Aku tahu bang, Tapi bang Rey menikah dengan Zahra hanya karena syarat dari neneknya Farhan kan?, bukan karena cinta, Abang udah maksa Zahra biar mau menikah dengan mengancamnya, aku yakin itu karena aku tahu Zahra masih mencintaiku. "
Plak....
Sekali lagi tamparan keras mendarat di pipi Reza sampai bibirnya berdarah.
Cukup Rey, jangan kau pukuli terus adikmu, biar bagaimana dia tetap adikmu, jadi jangan seperti ini. " Air mata nenek jatuh karena tak tega melihat kedua cucunya bertengkar.
" Biarkan saja nek bang Rey memukuliku sampai puas, pukul bang, pukul ayo pukul lagi! " Tantang Reza.
__ADS_1
Rey semakin geram dengan Reza. Tangannya kembali mengepal.
" Bang Rey gak usah merasa paling benar, bang Rey itu sama aja. kita berdua sama sama salah pada Zahra. Aku sadar aku salah karena aku uda ngikuti Vivi untuk bekerjasama dengan sepupunya buat balas dendam sama Zahra. Aku udah buat Zahra dan keluarganya malu, tapi bagaimana dengan bang Rey sendiri? bang Rey menikahi Zahra, tetapi satupun keluarganya gak ada yang tahukan? bagaimana hancurnya perasaan Mama dan Papa Zahra jika tahu anaknya udah menikah tapi cuma sebatas kontrak. Bang Rey udah ngancuri impian Zahra yang ingin punya hubungan pernikahan yang bahagia. Apa abang masih bisa bilang kalau yang abang lakukan ini lebih baik dari ku ha? Jawab aku bang! jawab! " Reza juga gak mau kalah dia kini membalikkan kesalahan pada Rey.
Rey terdiam mendengar ucapan Reza dia juga sadar kalau di awal pernikahannya dengan Zahra memang membuat Zahra selalu menangis sedih.
" mengapa abang diam, abang gak punya jawaban dari apa yang ku katakan barusan kan?, aku akan berjuang untuk kembali mendapatkan kepercayaan dan cinta Zahra. Sebulan lagi bang, waktu abang hanya satu bulan lagi bersama Zahra setelah itu abang harus menceraikan Zahra dan aku akan menikahinya. itu janji ku bang. " Reza keluar dari kamar dengan membanting pintu.
" Reza dengarkan nenek dulu. " Panggil Nek Retno tetapi Reza tak mendengar panggilan nenek.
" Rey, nanti nenek akan bicara sama Reza, nenek yakin dia pasti mengerti. " Nenek memegang bahu Rey.
" Nek, Rey dan Zahra akan pulang dengan penerbangan siang ini. Rey juga akan urus tiket kepulangan nenek dan Reza nanti sore. Rey akan menemui orang tua Zahra besok walau mungkin Reza gak mau ikut Rey akan tetap menemui papa dan Mama Zahra nek. Sekarang Rey mau ke kamar dulu ambil koper." Rey keluar dari kamar Reza.
" Rey, pesankan tiket nenek juga ya. " Ucap Nek Gendis saat Rey berjalan melewati Nek Gendis yang di jawab dengan anggukan dari Rey.
Setelah kepergian Reza dan Rey tinggallah Nek Retno dan Nek Gendis. Nek Retno terduduk lemas di kasur.
" Mbak yu, kita harus bujuk Reza agar kali ini Reza mau mengalah dengan Rey, Gendis takut kejadian pada melynda terulang pada Rey mbak. "
" Ntahlah Gendis, mbak juga bingung harus bagaimana, kamu kan tahu kalau Eza itu keras kepala setiap yang ia inginkan harus ia dapat kan. "
" Tapi tidak untuk kali ini mbak, Rey dan Zahra saling mencintai, keadaan mereka baru saja membaik malah sekarang jadi kacau karena kembalinya Reza. Aku akan bicara dengan Reza sekarang. " kata Gendis beranjak dari duduknya.
" Kamu mau kemana Gendis.? "
" Mau mencari Reza. Dia udah dewasa mbak satnya kita memberitahukan siapa dia sebenarnya. "
" Tapi Gendis... " belum siap Nek Retno menyelesaikan ucapannya, Nek gendis sudah keluar dari kamar.
Saat Nek Gendis menuruni anak tangga ia bertemu dengan Kyara.
" Kyara tolong lihat Nenekmu di kamar Eza, Nenek mau keluar dulu. " pinta Nek Gendis.
" Kenapa dengan Nenek, Nenek gak sedang sakitkan?" tanya Kyara.
" Kamu lihat saja dulu, nanti Nenek cerita sekarang Nenek buru-buru. " Nek Gendis pergi keluar rumah mencari Reza.
__ADS_1