
Rey masuk ke dalam ruang kerja Papanya Zahra, tak lupa Rey mengucapakan salam.
" Assalamualaikum om. " Sapa Rey.
" Waalaikumsalam, " Jawab Papa dengan ekspresi datar. " Duduklah! " Pak Arman mempersilahkan Rey untuk duduk di kursi yang tepat berada di depan meja kerjanya.
" Bagaimana, apakah kamu udah siap mentartilkan Surah Ar-Rahman sekarang? " Tanya Papa dengan senyum kemenangan, Papa yakin Rey tidak akan mungkin bisa menghafal surah Ar-Rahman dalam waktu satu minggu.
" Insyaallah saya siap Om. " Rey berusaha menahan rasa tak percaya dirinya, seumur hidup, baru kali ini Rey berhadapan dengan seseorang sampai berkeringatan, padahal di ruang kerja Papanya Zahra suhu AC yang menyala cukup dingin.
" Ehm...besar juga nyali anak ni, baiklah aku akan lihat sebatas mana kemampuannya." Batin Papa dalam hati.
" Sekarang mulailah. " Papa mempersilahkan Rey untuk mulai mentartilkan bagian surah Alqur'an yang di pinta Papa sebagai syarat untuk mendapatkan restu menikahi Zahra.
Rey memulai dengan terlebih dahulu membaca Taawuz dan melanjutkan membaca Basmallah.
" A’uudzu bil-laahi minas syaithaanir rajiim. Bismillahirrahmannirrahiim......
" Ehm.. Ternyata dia memiliki suara yang merdu, permulaan yang baik. Tapi suara merdu saja belum cukup. " Papa berkata lagi dalam hati saat mendengarkan lantunan sepenggal ayat suci Alqur'an.
" Ar raḥmān (1), 'Allamal qur`ān (2), Khalaqal insān (3), 'Allamahul bayān (4) Asy syamsu wal qamaru biḥusbān (5) Wan najmu wasy syajaru yasjudān (6) Was samā`a rafa'ahā wa waḍa'al mīzān (7) Allā taṭgau fil mīzān (8) Wa aqīmul wazna bil qisṭi wa lā tukhsirul mīzān (9) wal arḍa waḍa'ahā lil-anām (10) fīhā fākihatuw wan nakhlu żātul akmām (11) Wal ḥabbu żul 'aṣfi war raiḥān (12) Fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān (13) Khalaqal insāna min ṣalṣāling kal-fakhkhār (14) Wa khalaqal jānna mim mārijim min nār (15) Fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān (16) rabbul-masyriqaini wa rabbul-magribaīn (17)..............." ( Rey terus membaca sampai selesai).
Pak Arman tertegun mendengarkan bacaan yang dilantunkan Rey. Bukan hanya suara saja yang merdu tapi bacaan Rey sangat baik. Fashohahnya hampir sempurna sama seperti bacaan Salim yang mengenyam pendidikan di di Universitas Islam ternama di Turki. Bahkan bagi Papa, suara Rey malah jauh lebih merdu dari pada suara Salim.
Setelelah Rey menyelesaikan semua bacaan surah Ar-Rahman, perlahan Rey memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya menatap ragu papa Zahrah. Rey sangat takut jika yang dibacaannya barusan tidak bagus menurut penilaian Om Arman.
" Apakah kamu pernah mondok di pesantren?" tanya Om Arman.
" Tidak om, saya gak pernah sekolah di pesantren, saya juga baru belajar mengaji lagi semenjak bertemu dengan Zahra om, maaf jika bacaan saya tadi masih banyak yang belum pas atau salah. " Ucap Rey merendah, sadar akan dirinya yang baru beberapa bulan belakangan ini belajar mengaji kembali.
" Dengan siapa kamu belajar?" Papa terus menginterogasi Rey karena rasa penasaran yang bersarang di kepalanya.
" Dengan seorang guru ilmu Tafsir yang di kenalkan sahabat saya Om, "
" Membaca Alqur' an saja belum bisa dikatakan lulus. Alqur'an yang kita baca akan menjadi bermakna jika kita mengetahui artinya, ya setidaknya kita memahami isi kandungan surah yang kita baca. Maka dari itu saya berharap kamu mengetahui maknanya bukan hanya sekedar baca. " Pak Arman masih berusaha untuk mencari tahu seberapa dalam ilmu agama Rey.
Rey terdiam beberapa saat.
__ADS_1
" Dalam surah Ar-Rahman terdapat beberapa ayat yang diulangi, Fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān, yang artinya maka nikmat Allah yang manalagi yang Kau dustakan.Yang ingin saya tanya berapa kali ayat itu diulang dan apa sebenarnya maksud dari kalimat yang diulang itu.? " Papa menatap tajam Rey.
" Rey terdiam sejenak memikirkan jawaban atas pertanyaan Papanya Zahra.
" Bagaimana Rey, apakah kamu bisa menjelaskan pada saya? " Pak Arman berbicara santai tetapi setiap kata penuh penekanan.
" Jumlahnya cukup banyak. ada 31 kali pengulangan. tentu saja Ada rahasia besar pada kalimat tersebut sehingga Allah SWT mengulanginya hingga 31 kali." Rey berusaha tetap tenang menjawab pertanyaan mertuanya itu.
" Kalimat ini bisa ditemukan pada ayat ke-13, 16, 18, 21, 23, 25, 28, 30, 32, 34, 36, 38, 40, 42, 45, 47, 49, 51, 53, 55, 57, 59, 61, 63, 65, 67, 69, 71, 73, 75, dan 77. Jika surat ini dikaji dari segi numerologinya, maka akan ditemukan keindahan rahasia yang ingin Allah sampaikan kepada kita terkait rasa syukur yang seharusnya dimiliki setiap jiwa." Rey menjedah ucapannya sejenak kemudian melanjutkan jawabannya.
" Angka 31 jika dikaitkan dengan surah ke-31 dalam Alquran maka akan ditemukan Surat Luqman. kita akan semakin takjub dengan isi dari ayat ke-31 yang artinya : Tidaklah engkau memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan nikmat Allah agar diperlihatkan-Nya kepadamu sebagian dari tanda-tanda (kebesaran)-Nya. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran)-Nya bagi setiap orang yang sangat sabar dan banyak bersyukur. Allah SWT ingin menujukan kepada kita bahwa kapal yang berlayar dilautan merupakan tanda kebesaran Allah berupa nikmat. Allah SWT ingin menegaskan bahwa manusia yang tidak memiliki perangkat untuk bisa berjalan di air ternyata mampu melakukannya dengan perantara alat yaitu sebuah kapal yang mengapung di atas air. Jika dikaitkan ke Surat Ar Rahman, jadi, nikmat Tuhan mana yang akan kita dustakan?". ucap Rey terus menatap Pak Arman yang mencoba mencerna apa yang di katakannya barusan.
" Dalam kalimat istimewa ini Allah SWT juga menggunakan kata dusta bukan ingkar. Dusta memiliki makna menyembunyikan kebenaran, sangat dekat dengan kesombongan yang acap kali menolak kebenaran dan menyepelekan hal lain kecuali dirinya.Perhatikan saja, apa yang manusia perbuat dengan uang yang mereka dapatkan? kebanyakan menganggap bahwa apa yang Ia dapatkan merupakan kekuatannya sendiri hasil kerja kerasnya sendiri, padahal selalu ada campur tangan Allah dalam setiap pencapaian yang didapatkan. Kalau kita berhasil meraih gelar sarjana itu karena otak kita yang cerdas? Kalau kita sehat, jarang sakit, itu karna kita pandai menjaga makan dan rajin berolahraga, dan sebagainya.Setiap yang kita dapatkan seolah-olah merupakan kerja keras sendiri dan tanpa campur tangan Allah. Kita sepelekan kehadiran Allah pada semua keberhasilan kita dan kita dustakan bahwa sesungguhnya nikmat itu semuanya datang dari Allah. Maka nikmat Tuhan mana lagi yang engkau dustakan? Alloh mengingatkan kita untuk selalu bersyukur." jelas Rey panjang lebar.
" Tes hari ini selesai. Kita ke ruang tamu sekarang. keputusan akan saya katakan di depan nenekmu. " ucap Papa Zahra dengan ekspresi datar sama seperti yang biasa di lakukan Rey bila berbicara pada orang lain.
Papa Zahra berjalan menuju pintu keluar ruang kerjanya.
" Seperti ini rasanya dicueki, sungguh tidak mengenakan. " eluh Rey dalam hati sambil berjalan mengikuti papa Zahra di belakang.
........
Nek Retno dan nek Gendis bergeser bersamaan memberikan ruang untuk Rey agar duduk diantara mereka. Rey yang mengerti dengan maksud kedua neneknya itu pun langsung beranjak duduk diantara mereka.
" Gimana Rey, berhasilkan? " bisik Nek Gendis yang sudah sangat penasaran.
Rey menaikkan kan kedua bahunya tanda tak tahu.
" Maksudnya belum ada keputusan gitu? " tanya nek gendis lagi masih berbisik.
" Iya nek, Rey sendiri bingung. "
" Ehem.... " papa Zahra berdehem.
Papa meletakkan sebuah kalender di atas meja.
" Pernikahan akan dilangsungkan Jum'at depan. " Papa menunjuk tanggal yang sudah di lingkarinya.
__ADS_1
" Berarti om merestui hubungan saya dan Zahra. " tanya Rey sangat senang.
" saya belum sepenuhnya yakin untuk menyerahkan putriku pada mu. Tapi saya juga harus menepati janji. Kamu telah menyelesaikan tantangan yang telah diberikan, jadi saya gak punya alasan untuk tidak menerimamu. keputusan sudah di tentukan kalian akan menikah jum'at depan, tapi jika kamu belum siap tidak apa-apaan. kamu bisa menolaknya dan kami akan tetap menikahkan Zahra pada hari yang sudah ditentukan walau mungkin bukan denganmu. "
" bukan begitu om. sa.. saya siap menikahi Zahra jika om mau sekarang saya juga siap. " Sambar Rey tanpa spasi yang membuat semua yang mendengarnya tertawa kecuali Papa.
Melihat semua orang tertawa Rey sadar dengan apa yang barusan ia katakan terlihat terlalu bersemangat.
" Pa, apa ini gak terlalu terburu-buru. Kita harus mempersiapkan semuanya. menurut mama 10 hari itu waktu yang sangat singkat. Mama takut kalau kita gak bisa memberikan yang terbaik buat putri kita. " Mama memegang lembut pipi Zahra. Mama sangat bahagia karena akhirnya putri yang sangat dicintainya akan menikah.
" Ma, kali ini Papa gak ingin ngambil resiko, awak Papa gak mau terjadi hal buruk lagi. Kita cukup memanggil saudara dekat dan beberapa tetangga saja, setelah akad nikah hanya resepsi sederhana yang penting sudah menikah dulu. Pestanya bisa kita adakan bulan depan. " Papa kembali mengarah ke Rey dan kedua neneknya. " perlu saya katakan pada kalian bahwa sebelumnya Zahra pernah hampir menikah tetapi pernikahan itu gagal dan itu terjadi sampai dua kali. dan kalian tentu sudah tahu kalau yang ke dua kalinya Zahra malah hampir menikah dengan Reza adik Rey, maka dari itu saya memutuskan untuk melakukan akad nikah saja terlebih dahulu. saya gak ingin Zahra bersedih lagi. semoga saja kalian setuju. "
" Kami setuju Arman, lebih cepat dilaksanakan lebih baik bukan begitu kan Kal?" tanya nenek.
Mama mengangguk tersenyum.
" Baiklah, Saya masih ada urusan diluar, kalian bicarakan lah apa saja yang harus dipersiapkan." Papa Zahra pamit lalu pergi ke luar rumah meninggalkan mereka yang berada di ruang tamu.
" Maafkan Papanya Zahra ya buk, dia memang seperti itu, tapi nanti kalau sudah akrab biasanya dia ramah kok. " Mama tersenyum merasa tidak enak pada Nek Retno dan nek Gendis.
" Gak apa Kal, yang penting sekarang Arman sudah merestui Rey. " Nek Retno membalas senyum kikuk Mama.
" Iya Kal,kamu gak usah merasa gak enak gitu, lagian kami da biasa kok ngadepi yang macam Arman. " cerocos Nek Gendis.
" Maksudnya ? " Mama mengerutkan dahi tanda tak mengerti.
" Iya dikeluarga kami kan ada yang hampir sama kelakuannya macam Papanya Zahra. Malah makin parah, selau bersikap dingin, ekspresi datar dan suka nyueki orang, sekarang dia baru tahu rasa kena karma dicueki sama mertuanya. eh maksudnya sama calon mertuanya. " Nek Gendis keceplosan kemudian langsung meralat kata mertua menjadi calon mertua lalu tertawa melirik Rey yang disampingnya.
Mereka semua tertawa, kecuali Rey yang hanya menunjukkan wajah datarnya sambil menatap Zahra yang tersenyum manis.
Sadar di tatap Rey, Zahra berhenti tertawa, kini hanya meninggalkan senyum tipis yang juga mempesona.
" Udah tatap-tatapannya masih banyak yang mau kita bahas nih. " Ledek Nek Gendis membuat keduanya memutuskan pandangan dan merasa malu terprogok keluarga mereka saat saling bertatapan. Tatapan yang penuh makna di iringgi detak jantung yang berdetup saling bertautan.
💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟
Makasih buat semua yang udah selalu setia membaca karya Author sejauh ini. HP Author rusak mau beli baru belum punya doku 😅😅jadi Maaf karena up nya terlalu lama. 🙏🙏🙏🙏
__ADS_1
semoga Readers sehat selalu 😍😍