
Hari terus berganti, sepekan sudah Zahra tinggal bersama Arga dan Ulan, beberapa perusahaan telah dimasuki untuk mengajukan surat lamaran kerja tetapi satu pun belum ada panggilan.
Setiap minggu toko Arga dan Butik Ulan tutup. Kali ini mereka memilih bersantai di rumah saja, apalagi Ulan kurang enak badan.
Zahra bersantai duduk di ruang Tv.Arga keluar dari kamar duduk di samping Zahra,
" Dek, gimana lo da dapat kerjaan? " tanya Arga pada Zahra yang lagi asyik menonton drakor ditemeni krupuk udang.
Zahra menggeleng menandakan belum mendapatkan pekerjaan.
" Gimana kalau lo buka usaha aja? "
" Krius...... krius usaha apa bang?" jawab Zahra masih mengunyah krupuk.
" Ya jualan, atau buka kafe bakso aja macam mama."
" Zahra tu pengennya ngerancang bangunan bang bukan ngulek tepung." sahutnya manyun.
" Dek, kita contoh papa yang lebih milih buka usaha dari pada jalankan perusahaan opa, padahal opa berulang kali nyuruh papa yang kelolah tapi papa gak mau dan ternyata Alhamdulillah papa bisa sukses dengan usahanya, itulah makanya Abang dan bang Arya juga memilih buka usaha dari pada kerja jadi karyawan gak enak dek disuruh ini itu, enakan jadi bos bisa nyuruh-nyuruh hehehe"
" Iya sih bang, tapi Zahra Kalau ngerancang bangunan itu bisa buat Zahra senang serasa gak kerja, tantangan nya dapat, serunya juga dapat gimana dong bang?."
" Buat perusahaan sendiri aja jasa desain bangunan, kan keren itu? " Arga memberi saran.
" Abang kira gampang buat Perusahaan, modalnya gede tahu bang. "
" Tapi kalau kerja tetap aja lah kita jadi babu di perintah-perintah abang mah ogah, " Arga memajukan bibir bawanya.
" Ya tinggal nikahin aja bosnya kan nanti Zahra jadi bos juga hahaha."
Pletak......
" Arga menjitak kepala Zahra.
" Sakit bang." teriak Zahra terkejut.
" Kalau ngomong tu jangan asal, iya kalau bosnya masih single kalau da tua gimana mauloh sama aki-aki? "
" Idih engaklah, Zahra kan masih bisa milih, kalau muda dan ganteng ok lah tapi kalau galak cem abang siapa juga yang mau, mbak ulan rabun kali ya matanya maka nya mau sama abang? hahaha."
" Eh jangan sembarangan ya, gini-gini abang nih dulu inceran para wanita ya. "
" Emh... dasar air laut, "
" Kok air laut sih? " tanya Arga menaikkan alis matanya.
" Ia, air lautkan asin sendiri sama kayak abang yang suka puji-puji diri sendiri."
" Bukan muji, emang beneran ganteng dan keren lihat aja nih!" Arga mengacungkan tangan nya di bawah dagu berpose seperti model.
" Iya ganteng sih, tapi galak,"
" Enak aja di bilang galak awas loh ya dek, ntar abang sumpahi dapat suami yang lebih galak dari abang baru tahu lo?"
" Sumpahi aja Zahra yakin tu sumpa juga membal di bantai doa mama hehehe.Udah ah Zahra mau ke kamar." Zahra berdiri dan mau berjalan menuju kamar tetapi dihentikan Arga.
" Dek tunggu dulu, nih tolong belanja ya! ini ada uang dan daftar barangnya,mbakmu masih pusing tadi mbakmu mau maksa belanja juga tapi gak abang izini kasian wajahnya da pucat kali." Arga meletakkan uang dan secarik kertas di telapak tangan Zahra.
" Kayak begini nih, resiko numpang dirumah bos, di suruh suruh deh" ledek Zahra.
" Bukan nyuruh loh zahra sayang, abang minta tolong, " Arga menarik hidung mancung milik adiknya itu.
" Iya, iya,lepas dong bang hidung Zahra nanti makin mancung kalau di tarik-tarik terus, da ah Zahra mau ke kamar nanti siang ya Zahra shopingnya." ia ke berjalan meninggalkan Arga di ruang keluarga.
Arga tersenyum melihat tingkah adiknya yang selalu gemesi walau kini sudah dewasa tingkahnya masih saja ke kanak-kanakan yang suka bicara seenaknya.
#######
Matahari kini sudah mulai condong ke barat,. udaranya pun tidak lagi menyengat kulit, menandakan hari sudah sore sekitar jam empatan.
Semua barang yang tertulis di daftar belanjaan sudah di beli Zahra, kemudian dia mencari beberapa kebutuhan dirinya setelah itu langsung menuju parkiran mobil dan bergegas pulang.
Di tempat lain nenek Retno dalam perjanlanan pulang dari rumah temanya. seperti biasa nenek diantar supir. di tengah perjalanan, tiba-tiba ban mobil mereka kempis sedangkan ban serepnya ternyata kemarin juga kempis belum sempat di tambal.
Nenek turun dari mobil dan menelpon Rey.
__ADS_1
" Ya nek ada apa?" Rey menjawab panggilan nenek.
" Rey ban mobil nenek kempis, jemput nenek ya! nenek udah capek banget dari tadi keliling sama teman nenek. "
" Gak bisa nek, Rey lagi meeting. "
" Kalau kamu gak bisa suruh Very aja ya jemput nenek. "
" Gak bisa juga nek Rey dan Very sama sama di ruang meeting, nenek naik taxi aja ya.!"
" Ya udah lah kalau kerjaan itu lebih penting dari nenek."
" Bukan begitu nek, kalau Rey tidak lagi meeting pasti Rey jemput nenek. " jawab Rey lembut.
" Iya iya nenek ngerti."
" Ya udah nenek hati hati ya. "
" Iya Assalamu'alaikum "
" Wa'alaikumsalam" Rey mematikan ponselnya.
Nenek memasukkan ponsel ke dalam tasnya sambil berjalan sedikit ke tengah dan tidak melihat ke belakang sehingga nenek tersenggol pengendara sepeda motor.
Nenek terjatuh, tangan kanannya sedikit lecet terkena aspal jalan, pengendara motor yang menabrak nenek langsung pergi tidak menolong nenek terlebih dahulu.
Zahra melihat seorang wanita terduduk di pinggir jalan saat ia melintas. Dia memarkirkan mobilnya ke pinggir dan turun menolong wanita itu.
Dilihatnya ternyata seorang wanita tua, wanita itu sedang kesusahan untuk bangkit.
" Nenek baik baik saja kan? tangan nenek terluka? " ucap Zahra memegangi tangan nenek.
Nenek Retno terkejut melihat Zahra, dia memandang takjub Zahra karena tak menyangka akan bertemu untuk kedua kalinya.
" Sepertinya kita berjodoh" kata itu terucap begitu saja dari mulut nenek melihat Zahra.
" Apa nek? tanya Zahra bingung.
" Kamu yang nolongi nenek di mall tempo hari kan nak? tanya nenek.
" Nenek masi ingat? " tanya Zahra lagi.
Zahra tersenyum
" Apakah nenek mau di bawa ke Dokter?" tanya Zahra lagi masih memegangi tangan nenek yang terluka.
,
" Tidak perlu ini hanya luka kecil. Nenek pulang saja nanti di obati sendiri di rumah.
" Nenek sendirian? " Zahra melihat ke sekitar tak ada yang bersama wanita tua itu.
" Nenek sama supir tapi mobil nenek kempis, " nenek menunjuk ke arah mobil Alphard warna silver yang berada tidak jauh dari tempat mereka." Tadinya nenek udah telepon cucu nenek, minta jemput tapi mereka lagi sibuk kerja, ni nenek lagi mau cari taxi.
" Kalau begitu biar saya antar ya nek!" tawar Zahra.
" Gak usah nanti malah ngerepoti, biar nenek naik taxi.
" Enggak apa nek lagian saya gak ada kegian lain sore ini, yuk nek! " Ajak Zahra membantu nenek berjalan masuk ke mobilnya.
Keduanya sudah duduk dan memasang seat belt..
" Rumah nenek di mana? " tanya Zahra.
" Di perumahan Menteng " jawab nenek
Zahra melajukan mobil dengan kecepatan sedang, fokus menyetir sedangkan nenek berpikir bagai mana bisa lebih kenal dekat dengan gadis ini.
" Ohya nama nenek Retno, boleh nenek tahu nama kamu nak? " tanya nenek hat hati ia tak ingin lagi kelupaan menanyakan nama seperti tempo hari.
" Saya Zahra nek." Zahra tersenyum melihat nenek kemudian kembali melihat ke depan jalan.
" Nama yang cantik pas dengan orang nya"
Zahra hanya tersenyum mendengar pujian nenek, pandangannya masih lurus ke depan.
__ADS_1
" Kamu tinggal di mana Zahra?"
" Di perumahan Cempaka putih nek. "
" Itu kan jauh dengan rumah nenek, nenek jadi gak enak ni merepotkan Zahra."
" Gak kok nek, malah Zahra senang bisa ngantar nenek. "
Nenek menoleh ke kursi belakang, ia melihat banyak sekali belanjaan, dan terlihatnya beberapa kotak susu BALITA di dalam kantong plastik bening. Nenek bertanya
dalam hati jangan-jangan Zahra sudah menikah,barang barang itu seperti belanja stok bulanan rumah tangga.
Rasa penasaran nenek tidak bisa ditahannya dia pun langsung bertanya ke Zahra.
" Zahra, kamu udah menikah ya? "
Zahra melihat ke arah nenek bingung." kenapa tiba-tiba nenek ini bertanya tentang pernikahan." batinnya.
" Ehm maaf, nenek gak sengaja lihat kebelakang, belanjaan Zahra seperti stok orang bekeluarga apa lagi itu ada beberapa kotak susu anak. " Sambung nenek menjelaskan agar Zahra tidak salah faham.
" Oh itu susu anaknya abang Zahra nek, ini semua barang stok bulanan mereka, karena kakak ipar Zahra sakit makanya Zahra yang belanja." jawab Zahra.
" Oh " nenek mengangguk, di dalam hatinya " syukurlah, mudah mudahan Zahra berjodoh dengan cucuku. " nenek tersenyum sendiri tetapi Zahra tidak memperhatikan karena masih pokus menyetir.
Kurang lebih 25 menit, mereka pun sampai di rumah keluarga Ardana yang megah dan mewah.
Zahra membukakan pintu dan membantu nenek turun dari mobil sampai masuk ke dalam rumah.
" Duduk dulu Zahra biar nenek suruh bibik buatkan minum" pinta nenek.
" Maaf nek, seperti nya saya langsung pulang saja, takut nanti abang dan mbak saya nyariin."
" Oh ya udah, makasih ya Zahra da nolongi nenek dan ngantar nenek pulang. kapan-kapan main kesini ya? kan zahra belum sempat minum?" pinta nenek lagi.
" InsyaAllah nek, Zahra pamit ya nek Assalamu'alaikum. " Zahra mencium punggung tangan nenek karena dia terbiasa menghormati yang lebih tua dengan bersalaman menjunjung tangan.
" Wa'alaikumsalam"
Zahra keluar rumah nenek berjalan masuk ke dalam mobilnya kemudian pergi dari situ.
Selang beberapa menit dari kepergian Zahra Rey pun pulang, entah mengapa hatinya merasa tidak enak setelah menerima telepon dari nenek tadi, sehingga ia mempercepat meetingnya dan langsung pulang kerumah.
Rey masuk kedalam rumah, sudah di ruang
keluarga tetapi belum melihat nenek yang ada cuma bik Iyem pembantu keluarga mereka.
" Bik, nenek da pulang? " tanya Rey pada bibik.
" Udah den, ibuk lagi di kamar. " jawab bibik.
Rey langsung menemui nenek di dalam kamar.
ceklek...
Pintu kamar nenek di buka, Ia melihat Nenek berbaring di ranjang, Rey mendekati nenek dan melihat tangan nenek terluka.
" Nenek kenapa? " Rey terlihat khawatir Ia memegang tangan nenek sama percis seperti yang di lakukan Zahra tadi.
" Tadi waktu cari taxi nenek disenggol pengendara sepeda motor. " Jawab nenek enteng.
" Maafi Rey ya nek, kalau tadi Rey jemput nenek pasti gak kan seperti ini, " Rey merasa bersalah.
" Cuma luka ringan kok. lagian nenek bersyukur karena kejadian ini nenek berjumpa dengan gadis cantik baik lagi.
" Apaan sih nenek ni, disenggol motor kok malah bersyukur.
" Kalau nenek gak terluka gini mana mungkin nenek bisa bertemu wanita cantik tadi. Nenek suka sekali dengannya Rey, nenek berdoa semoga kamu berjodoh dengannya satu saat nanti.
" Nenek ini sudah semakin ngelantur ngomongnya. sudah lah Rey mau ke kamar." Ia berdiri berjalan ingi pergi karena malas mendengarkan nenek.
" Rey, nenek suka dengan gadis itu, kamu mau ya menikah dengannya?, nanti nenek lamarkan untuk mu. " Nenek memegang tangan Rey.
" Berapa kali harus Rey ulang, Rey gak mau nikah nek. kalau nenek suka nenek saja yang menikah dengannya. " Rey marah, pergi meninggalkan nenek.
" Rey kamu harus bertemu dengannya sekali saja nenek yakin kamu akan suka." Teriak nenek tetapi Rey terus berjalan tak menghiraukan nenek.
__ADS_1
Nenek menangis melihat nasib cucunya itu.
" Ibuk berjanji padamu Melyn, ibuk akan mengembalikan kebahagiaan anakmu yang hilang, " kembali ia meneteskan air mata mengingat Rey yang kini tak pernah merasakan kebahagiaan di hatinya.