
Rey dan Zahra masih saling bertatapan. jantung keduanya berdetak kencang. Zahra menundukkan pandangannya membuat Rey tersadar dan melepaskan tangannya dari punggung Zahra.
Mereka berdua jadi canggung, lalu Rey memulai percakapan memecahkan suasana.
" Hei gadis ceroboh, kamu punya mata gak ha?. " Ucap Rey menajamkan pandangannya.
" Bapak Rey yang sombong, Mata saya sudah sebesar ini apa jangan-jangan bapak yang gak punya mata jadi gak bisa lihat ya?. " Jawab Zahra gak mau kalah, ia mendelikkan matanya.
" Oh, kalau begitu berarti kamu punya hobby nabrak orang, atau memang sengaja nabrak saya untuk cari perhatian ya kan?. " Rey tersenyum nyengir.
" Helow....... ini masih pagi, jangan menghalu ya? " Zahra jadi kesal di buat Rey.
" Jadi apa namanya setiap bertemu pasti kamu sengaja kan mau terjatuh di hadapan saya biar ditolongi. Atau kamu ketagihan ya saya peluk, apa mau lagi?? " kali ini Rey menggoda Zahra dia melangkahkan kakinya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Zahra.
Zahra terkejut, spontan ia menolak Rey sehingga tubuh Rey menjauh.
" Tolong ya, Jangan kurang ajar, saya tidak pernah berharap kamu tolong. Lebih baik saya terjatuh dari pada dipegang orang yang bukan mahram saya. Saya ingatkan kamu, jika kamu melihat saya akan terjatuh tolong biarkan saya jatuh, saya tak ingin kamu menyentuh saya lagi. " jawab Zahra geram menunjuk kan jarinya ke depan wajah Rey.
" Baik saya juga tidak ingin menolong gadis ceroboh seperti kamu, berjalan saja tidak becus. "
" Dasar orang sombong pandainya menghina orang saja, lebih baik sekarang kamu keluar. lama-lama mata saya sepet lihat kamu di sini." Zahra menunjuk kearah pintu keluar.
" Apa?? kamu berani ngusir saya?. " Tanya Rey menaikkan alisnya.
" Emang kamu siapa sampai saya harus takut ha? " Zahra semakin emosi menghadapi kelakuan Rey.
" Kamu sendiri siapa sampai kamu berani mengusir saya?? " tanya Rey balik.
" Saya sekretaris baru pak Ardana jadi saya tidak akan biarkan sembarang orang masuk ke ruangannya, apalagi orang sombong seperti anda."
" Oh jadi kamu sekretaris baru ya? Sebentar."
Rey berjalan ke mejanya dan memanggil Very lewat telepon kantor.
" Ver kemari sekarang! "
Rey duduk di kursinya, dan Very masuk ke ruangan itu.
" Ada apa Rey? " tanya Very, ia heran melihat banyak kertas berserakan di lantai.
" Nona Zahra bertanya siapa saya, sekarang tolong kamu beritahukan padanya apa kedudukan saya di kantor ini." Rey masih tersenyum mengejek.
Zahra bingung dengan ucapan Rey ia memandang Very dengan mata penuh pertanyaan.
" Zahra, Rey adalah pemilik sekaligus bos di kantor ini." dengan hati-hati Very memberitahukan kebenaran yang di sembunyikan nya dari Zahra.
" Apa?? bukan kah kemarin bapak bilang kantor ini milik bapak Ardana? "
" Ya bapak Ardana itu adalah Rey, Rafasya Raihan Ardana. "
Zahra sangat terkejut mulutnya sampai ternganga karena tak percaya.
" Hei gadis ceroboh sebaiknya kamu tutup itu mulut nanti masuk lalat."
Zahra tersadar dan menutup mulutnya.
" Baik kalau begitu, pak Very saya tidak ingin bekerja lagi disini. " Zahra berbalik ingin pergi.
" Kamu mau kemana Zahra." tanya Very.
" Saya mau pulang pak, saya mengundurkan diri. "
" Kamu lupa ya, kalau kamu sudah menanda tangani kontrak kerja yang isinya kamu tidak bisa mengundurkan diri selama masa 2 tahun. "
__ADS_1
Zahra baru ingat dengan isi kontrak yang telah di tanda tanganinya semalam.
" Bapak menjebak saya." Ucap Zahra
" Maafkan saya Zahra, saya gak punya pilihan lain, tapi saya pikir kamu itu sangat berpotensi, kerja mu bagus, ide-ide mu juga brilian. Perusahaan ini butuh orang seperti mu. "
" Tapi bapak lupa, perusahaan ini bukan milik bapak, dan pemiliknya hanya mengaggap saya sebagai gadis ceroboh yang selalu buat masalah." Zahra menatap Rey.
Rey merasakan hatinya sakit mendengar ucapan Zahra, sebenarnya dia tak bermaksud merendahkan dan menyakiti hati Zahra hanya saja bila berada dekat Zahra dia tidak tahu berbuat apa. Selalu yang di katakannya kebalikan dari yang dirasakan oleh hatinya.
" Zahra biar bagaimana pun kamu tetap harus bekerja di kantor ini. dan kamu Rey, kamu juga gak bisa memecat Zahra seenaknya karena semua sudah tertera di kontrak kerja."
Rey mengingat tadi malam Very mendatanginya untuk tanda tangan beberapa berkas dan juga kontrak kerja sekretaris baru. Karena terburu-buru hendak masuk ke kamar Rey menanda tanganinya tanpa membacanya terlebih dahulu.
" Tidak percuma aku menjadikan mu asisten pribadiku. lo pintar juga buat ni cewek tidak berkutik lagi sekarang ". Batin Rey dan tersenyum tipis.
" Rey aku harap kamu tidak mempersulit Zahra, dan Zahra aku tinggal dulu semoga hari mu menyenangkan. " Very meninggalkan Zahra dan Rey.
Zahra masih terdiam, walau tak mau dia harus terima bahwa sekarang dia adalah sekretaris Rey.
" Nona Zahra Asyila Sarfaraz, sekarang mulai lah pejerjaan pertama mu dengan membereskan kertas-kertas yang berserakan itu. " Ucap Rey tersenyum puas.
Tanpa berkata Zahra mengutipi kertas-kertas itu.
Rey terus memandangi Zahra. setelah kembali bertemu Zahra hari nya menjadi sangat menyenangkan tanpa disadarinya pagi ini Zahra telah membuatnya tersenyum beberapa kali.
Zahra telah selesai dengan pekerjaan pertamanya dia ingin pergi ke ruangan kerjanya tetapi belum sempat dia keluar Rey sudah memanggilnya.
" Zahra, buatkan saya kopi." Pinta Rey tanpa melihat Zahra.
" Apa?? kopi?? " tanya Zahra.
" Ya kopi, apa pendengaran mu juga bermasalah? kali ni Rey melihat Zahra.
" Kamu ingat kan poin kontrak nomer tiga, harus mematuhi perintah atasan, mengerti? cepat buatkan sana!. perintah Rey.
Zahra berjalan ke luar. " Benar kata bang Arga setinggi apa pun jabatannya kalau jadi pekerja tetap aja disuruh-suruh ya kayak gini sekretaris tapi kerjaannya OB. Gerutu Zahra pelan.
" Apa lo bilang? tanya Rey yang mendengar ocehan Zahra walau tak begitu jelas.
Zahra berbalik melihat Rey, " tidak ada bapak.... " ucapnya lembut dengan senyum di buat buat, ia pun pergi untuk membuat kan kopi.
Rey tersenyum dengan kelakuan Zahra yang baginya sangat lucu dan menggemaskan.
" ingin rasanya ku cubit pipi gadis itu, tingkahnya sangat menggemaskan. " batin Rey masih dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
Tak lama kemudian Zahra masuk dengan secangkir kopi di tangannya.
" Ini pak kopinya." Ucap Zahra.
" Letakkan saja di atas meja." Jawab Rey pokus pada layar laptopnya.
Zahra pergi setelah meletakkan kopi di atas meja Rey.
Rey meminum kopi buatan Zahra. " Pandai juga ni anak buat kopi, walau dia tidak bertanya takaran kopi dan gulanya tetapi rasanya sangat pas, tak salah Very memilihkan sekretaris untukku." senyum Rey kembali mengembang.
Rey telah menyiapkan beberapa file untuk di pelajari Zahra. Ia menelepon Zahra dari telepon kantor. karena tidak di angkat Rey menarik tirai jendela yang kacanya menjadi pembatas antara ruangan Rey dan Zahra. Dilihatnya ruangan zahra kosong.
" kemana anak ini? " gumamnya, iapun keluar mencari keberadaan Zahra.
Rey melihat Zahra berjalan ke meja kerja seorang karyawan.
" Oh pantes aku seperti pernah melihat temannya itu ternyata dia kerja disini. " Batin Rey melihat Zahra ngobrol dengan Sasa yang terdengar jelas dari tempatnya berdiri memperhatikan dua wanita itu.
__ADS_1
" Sa, lo punya roti gak?." Tanya Zahra.
" Ada sih tadi tapi da habis aku makan, emang lo belum sarapan ya Ra? "
Zahra menggeleng. " Belum, Kalau gini aku bisa mati kelaparan nih, padahal aku butuh banyak energi untuk menghadapi bos galak itu. " Jawab Zahra lemas.
" Lo ke kantin aja Ra, mumpung si bos lagi sibuk. " Sasa memberi ide.
" Iya kalau dia tahu aku ngantin jam kerja habis dah aku di semprot nya, emang gak ada ide yang lebih bagus apa.?."
" Lo lihatin aja pak Rey yang ganteng tu pasti lapernya hilang. "
" Yang ada makin tambah lapar gua lihat dia. cocok nya dimakan sekalian tu orang biar gak belagu. " Grutu Zahra kesal.
Sasa tertawa mendengar ucapan Zahra.
" Lo itu beruntung tahu Ra, bisa dekat-dekat dengan pak Rey, andai aku yang jadi lo pasti bahagia banget rasanya. " Ucap Sasa menghayal bersedekap dada.
" Beruntung apanya yang ada aku tu naik darah kalau selalu sama tu orang. Andai sebelumnya aku tahu dia bos di kantor ini aku gak bakalan deh mau kerja di sini. "
" Zahra Zahra, kamu ni gak normal kali ya, semua cewek-cewek di kantor ini ngidolain pak Rey. melihat pak Rey dari jauh aja jantung rasanya mau copot apalagi kalau bisa dekat dengan dia aduh..... " Sasa memejamkan mata ntah apa yang di hayalkannya.
" Yang ada kalian tu yang gak waras. Cowok galak dan sombong gitu di idolain. macam gak ada yang lain aja??. Zahra memajukan bibir bawahnya.
" Eh Lo tahu Ra, kata orang- orang kantor pak Rey itu gak pernah jatuh cinta makanya dia bersikap dingin kayak gitu. Aku yakin kalau dia udah nemuin pujaan hatinya pasti deh bucin banget... duh bahagia banget pasti yang bisa jadi istrinya kelak. jadi pengen.... " celoteh Sasa dengan ekspresi senyum-senyum sendiri.
" Apanya yang bahagia, aku malah yakin istrinya bakal cepat mati kena serangan jantung. "
" Hahaha lo ni ya Ra, asal aja kalau ngomong denger pak Rey baru tahu lo. "
" Biarin emang gua pikirin,.dah ah aku mau balik keruangan ku dulu. " Zahra berbalik baru satu langkah keluar dari meja Sasa, ia melihat Rey berdiri dengan tangan menyilang di depan dada. Zahra terkejut spontan tangannya menutupi mulutnya.
" Mati dah gua jangan-jangan dia dengar kalau aku lagi gibahin dia. " Zahra menarik napas berjalan pelan mendekati Rey yang memandang tajam ke arahnya.
" Bapak da lama ya disini?. " Tanya Zahra sambil sedikit tersenyum menyembunyikan rasa gugupnya.
" Ya cukup lama lah untuk mendengar gibah kalian berdua. "
Mendengar itu Zahra melebarkan senyumnya tetapi terlihat jelas senyum itu di buatnya karena rasa gugupnya setelah dia tahu ternyata orang yang ia gibahin itu mendengar semuanya.
" Ayo ikut saya" ajak Rey berjalan mendahului Zahra.
" Kita mau kemana pak?. " tanya Zahra sambil mengikuti langkah kaki Rey.
" Udah ikut aja jangan banyak tanya. Rey terus berjalan mereka masuk ke dalam lift.
" Tapi pak tas dan ponsel saya masih di atas."
" Kamu gak perlu bawa itu semua kalau pergi bersama saya." Rey berbicara mendekati Zahra, Zahra merasa takut apalagi mereka hanya berdua di dalam lift.
Keduanya saling beradu padang sehingga jantung keduanya berdetak kencang.
ting... lift terbuka mereka pun keluar kantor menuju ke parkiran mobil.
" Ayo naik ajak Rey di depan mobilnya.
Zahra yang detak jantungnya masih tak beraturan kini hanya mengikuti perkatan Rey.
Rey mengedarai mobilnya, selama perjalanan mereka berdua diam saja tak ada yang berbicara.
💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟
jangan lupa ya Readers, kasih like, vote dan comen nya, kalau dapat ketiganya Author serasa dapat uang segepok. 😁😁 Rasanya bahagia....... banget rReaders suka sama halu nya author he.....he... he.....😂😂 jangan lupa ya 👍 terimakasih 🙏🙏
__ADS_1