
" Terkadang aku menyukai hujan dan petir. Karena bersama hujan aku punya alasan berada di dekatmu."
....................................................
Happy Reading
....................................................
Zahra masuk ke villa kemudian langsung ke dalam kamarnya. Zahra membersihkan diri terlebih dahulu kemudian ia berbaring di ranjang.
Rey juga masuk ke villa ia mengunci pintu sudah waktunya beristirahat. Rey juga masuk ke kamar. Sama seperti Zahra membersihkan diri terlebih dahulu mengganti pakaian lalu istirahat.
Mata Zahra belum mau terpejam pikirannya masih tertuju pada Rey, mengingat kembali apa yang dikatakan Rey tadi.
" Ya Allah kenapa aku masih memikirkan pak Rey ya, dengan lantangnya pak Rey bilang ke mereka bahwa aku ini istrinya, andai saja pernikahan ini sungguhan." Zahra meletakkan tangan kirinya di pipi sambil menghayal bibirnya pun mengeluarkan senyum
"Aduh Zahra, apaan sih, kok malah berfikir ngaco. Sekarang kalian harus menunggu selama tiga bulan agar bisa bebas dari perjanjian ini setelah itu mungkin aku akan pertimbangkan lamarannya bang Yazid biar bagai mana pun bang Yazid itu lelaki yang baik, penyayang, bertanggung jawab dan pastinya lembut, tidak galak seperti pak Rey.
umh..... " Zahra menguap karena mengantuk. " Sekarang lebih baik aku tidur aja, Bismika Allahumma Ahya Wa Bismika Amuut.Aamiin Selamat tidur Zahra Have a nice dream " Zahra menarik selimut dan memejamkan mata.
Malam semakin larut, angin laut berhembus semakin kencang, tak lama hujan turun, udara suhu kamar semakin dingin sehingga membuat Zahra tertidur pulas.
Hujan semakin deras menumpahkan begitu banyak air dari langit ditambah suara petir yang menggelegar membuat Zahra tersentak dari tidur nyenyaknya.
" Zahra beranjak menuju jendela membuka tirai melihat ke arah luar.
" Ya Allah hujannya deras sekali." Zahra menengadakan tangan seraya mengucap doa " Allahumma shoyyiban nafi'an, Ya Allah, turunkan lah pada kami hujan yang bermanfaat. Aamiin." Zahra menutup tirai kemudian kembali berbaring di tempat tidur.
Duar....duar.....duar.....duar....
Tiba-tiba listrik padam bersamaan dengan suara petir kuat beruntun.
" Mama, Papa, Zahra takut." Zahra menjerit ketakutan. Ia turun ke bawah tempat tidur dengan posisi duduk memeluk kedua lututnya sambil menangis.
Rey mendengar suara teriakan Zahra, segera Rey berlari ke kamar Zahra dengan penerangan senter di tangannya.
Rey mendengar suara isak tangis tapi tak menemukan Zahra diatas tempat tidur. Rey terus berjalan ke sumber suara tangisan itu, Ia melihat Zahra duduk dilantai tertunduk ketakutan. Segera Rey mendekati Zahra.
" Zahra kamu baik-baik saja kan." tanya Rey tapi Zahra tak menoleh masih menangis terisak ketakutan.
"Zahra, Ra! " Rey memberanikan diri memegang lengan Zahra. " Ra!" panggilnya lagi.
Zahra menoleh dengan mata sembab penuh air. " Pak Rey, lampunya mati, aku takut hiks...hiks."
" Jangan takut, mungkin listriknya padam, sebentar aku hidupkan mesin gensetnya dulu." Rey hendak berdiri tetapi tanganya di pegang Zahra.
" Jangan pergi pak." geleng Zahra.
" Cuma sebentar kok biar lampunya bisa hidup kembali."
Zahra masih menggeleng tidak mau di tinggal.
" Ra, bentar aja kok." bujuk Rey.
" Ikut."
Rey menghela napas, kemudian mengagguk. mereka berjalan bersama, di depan pintu kamar Rey membuka kunci.
" Pak Rey,bagaimana bapak bisa masuk pintunya kan saya kunci dari dalam."
" Kamar ini terhubung dengan pintu itu." tunjuk Rey pada sebuah rak hia, sama sekali tak seperti pintu.
Zahra terlihat bingung.
" Dulu ini kamar ku dan Kyara sedangkan yang disebelah kamar utama punya Mama dan Papa, mereka sengaja memasang pintu penghubung antara kedua kamar agar mudah memantau kami kalau membutuhkan sesuatu. Makanya suara teriakan kamu tadi jelas terdengar dari kamar ku.
" Oh." Angguk Zahra mengerti.
Mereka pun melangkah kembali menuju ruang genset di belakang dapur.
__ADS_1
Zahra memegangi Rey dengan erat dia masih sangat ketakutan, sekilas Rey menatap wajah Zahra yang menunduk kebawah tak tahu di tatap Rey. " Tadi aja di pegang teriak-teriak minta di lepasin eh ini malah dianya yang gak mau ngelepasin tanganku." Batin Rey tersenyum tipis.
Di ruang mesin genset Rey mengecek mesin mencoba menghidupkannya sementara Zahra menerangi dengan lampu senter.
" Mesinnya gak bisa hidup sepertinya kehabisan minyak. Mungkin bibik lupa ngecek minyaknya." Kata Rey.
" Lalu gimana pak? gak bisa hidup dong lampu nya."
" Ya terpaksa kita tunggu sampai PLN menghidupkan listriknya. Lebih baik sekarang kita kembali ke kamar."
Di depan pintu kamar Zahra Rey hendak membuka pintu.
" Pak, aku boleh numpang tidur di kamar bapak ya, sampai listriknya nyala." Pinta Zahra sedikit memohon.
" Kamu masih takut.?"
Zahra mengagguk dengan cepat.
Ya udah kita ke kamar ku.
Zahra dan Rey masuk ke kamar, Rey memasang sebuah lilin yang memang biasa selalu ada di kamar utana villa beserta tempat lilinnya.
" Ra, kamu tidurlah di sana, biar aku tidur di sofa."
Zahra mengangguk dan segera naik ke tempat tidur. Merebahkan tubuhnya, menarik selimut dan memejamkan mata. Rey juga merebahkan diri di atas sofa.
Hujan belum juga reda malah semakin deras, kilat halilintar mengeluarkan cahaya menembus tirai jendela memasuki kamar. suara petir pun kembali menggelegar sangat kuat seakan-akan petir itu tepat beradadi atas villa.
Zahra kembali ketakutan ia menjerit dan duduk memegangi kedua lututnya. Rey juga ikut terkejut mendengar Zahra teriak memanggil Mama dan Papanya. Rey berlari mendekati Zahra.
" Ra, jangan takut Ra," Rey kembali menyentuh lengan Zahra. Zahra menoleh Rey yang berada disampingnya dengan air mata yang membasahi pipi.
" Hei, kenapa kamu menangis, jangan takut bukankah ada aku disini." kedua tangan Rey menghapus lembut air mata di pipi Zahra dengan penuh kelembutan.
Duar..... suara petir kembali terdengar.
Zahra semakin takut langsung memeluk Rey.
Rey terkejut di peluk Zahra tiba-tiba jantungnya berdesir, ia berusaha menetralkan detak jantungnya kemudian merangkul Zahra dengan kedua tangannya mengeratkan pelukan berusaha menenangkan Zahra.
" Aku janji aku gak akan ninggali kamu Ra, sekarang tidurlah."
Zahra mendungakkan kepala memandang Rey. " Maaf." lirih terdengar suara Zahra.Zahra sadar bahwa dia sedang memeluk Rey karena rasa takut yang tidak dapat di kendakikannya. Zahra pun melepas pelukannya lalu tidur disamping Rey yang masih duduk.
Zahra memejamkan mata kemudian membukanya kembali.
" Tidur lah, aku akan menjagamu di sini." ucap Rey meyakinkan.
Zahra kembali menutup matanya akan tetapi kembali lagi Zahra membukanya.
" Kenapa? " tanya Rey menaikkan dagunya.
" Boleh aku pinjam tangan bapak." ucap Zahra ragu.
Rey memberikan tangannya pada Zahra kemudian Zahra meletakkan satu tangan Rey di pipi sebelah bawah. Zahra memejamkan mata berusaha untuk tidur tubuhnya masih terasa gemetaran karena takut tapi tak separah tadi.
Rey memandangi wajah Zahra yang lagi terlelap hanya dengan cahaya lilin. " Ternyata gadis tegar multi talent seperti Zahra juga punya sisi lemah. Dia mampu melewati semua cobaan dalam hidupnya dengan tegar tapi dia tak bisa menyembunyikan rasa takutnya pada gelap dan petir." Batin Rey. Rey pun mulai memejamkan mata dalam posisi duduk disamping Zahra menyandar sandaran kepala tempat tidur.
Flash back
Saat Zahra berusia 4 tahun di rumah kakek Zahra ada acara keluarga. Semua anak dari kakeknya pun berkumpul lengkap bersama cucu- cucunya.
Zahra bermain dengan kedua abangnya dan juga saudara sepupu yang lain. Mereka bermain petak umpet. Sedangkan mamanya menyiapkan hidangan makan malam.
Sekitar jam lima sore langit menjadi mendung sehingga suasanya gelap. Anak-anak masih asyik bermain di taman belakang, mereka mencari tempat yang aman untuk mengumpet agat susah di temukan.
__ADS_1
Zahra masih bingung mau ngumpet di mana sementara abangnya sudah lari terlebih dahulu.
Zahra bertemu dengan tante Sinta.
" Zahra sayang mau ngumpet ya?" tanya tante.
" Iya tante, tapi Zahla bingung mau unpet di ana." Jawab Zahra polos.
" Ngumpet du situ aja Zahra." Saran sinta menunjuk ke sebuah gudang."
" Gak au ah tante Zahla atut."
" Jangan takut sayang kan ada tante yang jagain di sini."
Zahra kecil berfikir jari telunjuknya di letakkan di kepala." Ok deh tante, tapi tante anji ya again Zahla di depan."
" Pasti dong sayang tante janji." Mereka berdua mengaitkan jari kelingking tanda saling berjanji.
Zahra pun masuk ke dalam gudang. Sinta tersenyum licik ia mengunci pintu gudang dari luar kemudian ia pergi kembali menuju dapur.
Hari semakin gelap hujan pun turun dengan deras, mama Neha dan yang lainnya sudah selesai menyiapkas hidangan makan malam. Mama Neha kembali ke ruang keluarga berkumpul dengan anggota keluarga yang lain.
" Bang Arga, bang Arya adek Zahra mana?" tanya mama karena tak melihat Zahra.
" Gak tahu ma, tadi kita main petak umpet sama-sama tapi habis itu adek Zahra gak tahu kemana." Jawab Arga.
" Pa,Papa lihat Zahra, " tanya Mama pada arman papanya Zahra.
" Tidak ma, dari tadi papa disini gak lihat Zahra, Papa kira sama mama."
Mama sudah mulai panik, disetuap penjuru rumah di telusuri Mama, kamar- kamar,kamar mandi taman depan dan belakang tetapi tak juga menemukan Zahra. Setiap orang yang di tanyain juga berkata gak melihat Zahra termasuk dengan sinta.
Sementara Zahra di dalam gudang sudah menangis ketakutan, berteriak minta tolong untuk di bukakan pintu tetapi tidak ada yang dengar karena letak gudang agak terpencil di taman belakang.
Hari yang sudah hampir magrib membuat ruang gudang nenjadi gelap gulita di tambah lagi suara petir menggelegar membuat Zahra menangis ketakutan.
" Pak,bapak lihat Zahra, " tanya Mama sama penjaga taman.
" Tadi saya lihat main di taman belakang non."
" Makasih ya pak."
Papa dan mama berlari ketaman belakang begitu juga dengan yang lain ikut mencari Zahra.
" Pa mungkin Zahra ada di dalam gudang itu." kata mama.
" Ah mana mungkin Ma," Jawab Papa gak percaya.
" Ayuk pa kita lihat dulu." ajak mama tak sabar.
"Baiklah, tunggu Papa ambil payung dulu."
Neha tak ingin membuang waktu ia berlari menerobos hujan deras menuju gudang. papa yang melihatnya pun berteriak melihat Mama yang sudah berlari" Ma tunggu.. Arga, Arya kalin disini aja ya." Papa berlari menyusul mama.
Mama membuka pintu gudang yang terkunci dari luar alangkah terkejutnya Mama melihat Zahra sudah pingsan di depan pintu.
" Zahra, sayang bangun nak ini mama, Pa cepat bawa Zahra kerumah sakit badannya panas." Teriak Mama menangis.
Papa menggendong Zahra keluar menerobos hujan, mama menutupi Zahra dengan ujung jilbab besarnya berjalan di samping papa agar gadis kesayangannya itu tidak terlalu banyak terkena air hujan.
Zahra di bawa kerumah sakit sejak saat itulah Zahra jadi takut dengan gelap dan petir. Ia trauma, setiap mati lampu atau ada petir Zahra selalu memeluk Mama, Papa,atau abangnya dengan erat, dengan begitu ketakutannya sedikit berkurang.
💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟
Salam dari Author 😆😆 semoga Readers suka ya dengan halunya Author 😅😅
__ADS_1
💟💟💟💟💟👍🙏💟💟💟💟💟💟