Jodoh Terbaik Pilihan Tuhan

Jodoh Terbaik Pilihan Tuhan
Part 83. Apartemen 1


__ADS_3

" Merelakan bukan berarti menyerah, tapi menyadari bahwa ada hal yang tidak bisa dipaksakan. "


.........................................................


HAPPY READING


..........................................................


Di dalam mobil Zahra hanya diam saja. Dia tak bertanya lagi mau di bawah kemana oleh Rey,karena bertanya pun percuma seperti biasa Rey gak akan memberitahukannya.


Zahra melirik Rey yang lagi fokus menyetir mobil. Pikiran Zahra masih terganggu dengan perkataan Sasa tadi.


" Apa mungkin ya Pak Rey suka sama aku, sebenarnya sih pak Rey baik juga, Pak Rey selalu ada menolongku saat aku dalam masalah, tapi kayak nya gak mungkinlah Pak Rey suka sama aku, cuek gini mana galak lagi." Zahra masih memperhatikan Rey dengan pikiran bertanya-tanya sendiri.


Rey yang tahu dari tadi di lihati oleh Zahra pun juga menoleh ke Zahra, mempergoki Zahra yang lagi menatapnya.


" Kenapa ngelihati aku terus,baru nyadar ya kalau aku ganteng?" Ucap Rey enteng melihat ke Zahra sebentar lalu fokus lagi kedepan melihat Jalanan.


" Idih pede amat." Jawab Zahra yang kemudian memalingkan wajanya dari Rey dan melihat ke jendela. " Bisa-bisanya dia bercanda, dasar air laut, ehm tapi emang bener sih Dia ganteng." Batin Zahra memainkan bibirnya berbicara sendiri dalam hati.


" Nahkan tu nyadar kalau aku ganteng." Tebak Rey asal, Ia menebak Zahra lagi berbicara sendiri dalam hati, mencoba membaca dari raut wajah yang di lihatnya, Rey tersenyum manis pada Zahra kemudian kembali melihat ke jalan.


Jantung Zahra terasa mau copot mendengarkan Rey yang seolah-olah tahu apa yang dikatakan oleh hatinya ditambah lagi dengan senyuman manis dari seorang Rafasya Rayhan Ardana, bos yang gak mau senyum apalagi sama karyawannya. Ini malah senyuman Rey sangat manis dan sangat menggoda Zahra membuat Zahra hampir pingsan.


" Kok Pak Rey tahu ya isi hati ku apa dia punya ilmu baca pikiran orang?" Zahra kembali berbicara sendiri dalam hati dan berusaha setenang mungkin.


Zahra berusaha menetralkan detak jantungnya. Seperti biasa Zahra selalu menyangkal ucapan Rey.


" Gak usah kepedean lah Pak, lebih baik bapak fokus aja nyetirnya biar cepat sampai, karna aku pingin tahu Bapak mau bawa aku kemana lagi kali ni." Sahut Zahra ketus mengalihkan pembicaraan.


" Iya, iya, cantik-cantik kok galak." sambung Rey masih tersenyum manis.

__ADS_1


Zahra kaget dengan ucapan Rey barusan.


" What dia bilang aku cantik. Kok tiba-tiba Pak Rey jadi aneh gini, dia tadi minum apa ya? pertama muji dirinya ganteng, trus bisa denger isi hati ku,barusan bilang aku cantik. kok aku jadi ngeri gini ya." Batin Zahra lagi, tangannya memegang tengkuk yang mulai merinding karena kelakuan Rey yang gak seperti biasanya.


Suasana menjadi hening kembali Zahra tak berani lagi memandang Rey, Zahra terus memalingkan wajahnya ke jendela, Tak lama Rey membelokkan mobil ke area parkir Aparteman mewah.


Melihat Gedung Apartemen yang menjulang tinggi bulu kuduk Zahra semakin merinding.


" Kenapa Pak Rey membawa aku kemari, sebenarnya dia mau apa? mana aku gak bawa pisau.( biasanya jika pergi malam hari Zahra selalu membawa pisau belati kecil untuk jaga-jaga). Ya Allah lindungi Zahra, jangan biarkan Zahra di apa-apain sama ni kulkas dua pintu." Zahra terus berdoa dalam hatinya.


" Itu di bawah ada sendal, pakai lah, " Perintah Rey.


Zahra nengangguk cepat dan langsung memakainya, Zahra gak ingin buat masalah yang nantinya malah membuat Rey marah. Karena jika Rey marah dia akan kehilangan kontrol seperti saat Rey mencium kasar Zahra yang membuat Zahra jatuh pingsan dan harus dirawat di rumah sakit.


Rey sudah turun. Lalu berjalan memutari mobil dan membukakan pintu untuk Zahra. Zahra pun turun. Mereka berdua berjalan memasuki gedung Apartemen, berjalan di loby menuju lift.


Di dalam lift hanya mereka berdua, Rey memencet tombol di samping pintu lift. Pintu lift pun tertutup kemudian naik ke lantai atas, entah lantai berapa yang di tuju Rey, Zahra sendiri tidak tahu.


lift terbuka, Rey jalan menuju sebuah pintu yang terlihat dari lift. Zahra mengikuti Rey di belakang.


Tepat di depan pintu Rey membuka pintu.


" Masuklah?" perintah Reu pada Zahra.


Zahra hanya diam saja, dirinya pun sangat terlihat jelas ketakutan.


" Kamu tenang saja aku gak akan apa-apain kamu kok. Jika aku berniat jahat, gak mesti di Apartemen ini mungkin sudah kulakukan di Vlla tempo hari." Rey berjalan masuk ke dalam Apartemen.


Zahra menghela nafas lega setelah mendengar perkataan Rey barusan.


" Kamu ni kenapa si Zahra, lagian pak Rey juga gak tertarik dengan mu jadi amanlah." batin Zahra yang kini juga melangkah masuk ke dalam.

__ADS_1


Zahra melihat isi Apartemen yang sangat luas.


" Ini kamar utama. Biasanya kalau kemari aku tidur di sini,dan yang di sana ada dua kamar tamu. " Jelas Rey menunjuk pintu kamar tamu.


Rey mengangkat tangan Zahra dan meletakkan kunci di telapak tangan Zahra.


" Sekarang Apartemen ini milik mu Ra, jadi kamu bisa tidur di kamar ini." Rey dan Zahra masih berdiri di depan pintu kamar utama yang telah di buka Rey barusan.


Mata Zahra membulat sempurna. Zahra gak mengerti dengan maksud Rey.


" Maksud bapak apa, memberikan kunci ini.?"


" Ini sebagai tanda terimakasihku karena kamu menyelamatkan kehidupan Kyara.kamu menukarkan kebahagianmu pada Kyara. Maafkan aku yang telah membawamu dalam masalah keluargaku. Aku tahu Apartemen ini juga belum setara harganya dengan air mata yang kamu keluarkan atas pernikahan ini. Tapi inilah yang bisa ku berikan pada mu Ra,"


Perkataan Rey sangat lembut dengan tatapan yang sangat dalam.


" Aku gak mau Apartemen ini Pak, aku gak ingin apa-apa. Aku ikhlas membantu Kyara. lagian bukankah Bapak sudah memberikan sejumlah uang sumbangan yang ku pinta untuk pesantren. itu udah lebih dari cukup." Zahra mengembalikan kunci Apartemen yang ia pegang ke tangan Rey.


" Zahra aku mohon jangan keras kepala. Anggaplah aku memberi mu bonus. Bulan depan resepsi pernikahan Kyara dan Farhan di Brunai akan di gelar. Di sana aku akan jujur sama neneknya Farhan tentang pernikahan ini. Dengan begitu kamu tidak harus menunggu lebih lama lagi, kita akan mengakhiri pernikahan kontrakyang sangat kamu benci ini dan kamu bisa dengan mudah memilih lelaki yang kamu harapkan untuk menjadi suamimu."


Deg... jantung Zahra terasa berhenti berdetak, ada butiran bening yang ia tahan untuk tidak lolos dari mata indahnya.


" Ya Allah aku memang tidak pernah mengharapkan pernikahan seperti ini, tetapi mengapa saat ini hati ku sakit ketika pak Rey mengatakan maksudnya untuk menyudahi pernikahan ini sebelum waktu yang di tentukan. perasaan apa ini Ya Allah, apa yang terjadi kenapa hatiku terasa sangat sakit." batin Zahra, ia tertunduk berusaha sekuat tenaga agar tak meneteskan air mata.


" Zahra, jarak Apartemen ini juga tidak jauh dari kantor jadi kamu bisa dengan mudah ke kantor tiap hari, dengan begitu kamu gak perlu kembali ke rumah Sasa atau rumah abangmu yang jauh dari kantor, besok akan aku kirim seseorang untuk menjadi temanmu disini, dia akan membantumu menyelesaikan semua perkerjaan di sini." jelas Rey lagi.


Zahra menghela nafas lalu menatap Rey.


" Baiklah jika ini yang bapak perintahkan, seperti biasa kan, aku harus nurut, dan gak punya hak untuk bilang tidak." Jawab Zahra kwmudian berbalik membelakangi Rey berlari menuju dapur. Zahra masuk ke toilet yang ada di dapur.


Zahra sudah tak tahan lagi. Air matanya pun jatuh bebas meluncur membasahi pipinya.

__ADS_1


bersambung..........


__ADS_2