
Selesai shalat Rey dan yang lainnya kembali dari masjid. Kini waktunya makan siang. Mama mempersilahkan seluruh keluarga besannya untuk menikmati makanan, begitu juga dengan Rey.
Saat Rey akan mulai menikmati makan siangnya, Arya memukul pelan pundak Rey.
" Hai Han, gak nyangka gua kalau lo sekarang jadi adik ipar gua " Arya mengulum senyum kemudian duduk disamping Rey.
" Gua lebih2 gak nyangka Ar kalau Zahra tu ternyata adek lo, kenapa dari dulu lo gak pernah bilang kalau punya adek secantik bidadari." jawab Rey mengembangkan senyumnya.
" Waktu Zahra gak jadi nikah untuk yang ke dua kali, aku pernah berfikir buat ngenalkan lo ke Zahra tapi kembali lagi gua mikir lo kan orang kota, tazir pula pastilah selera lo tu cewek metropolitan, mana nyangka aku Han ternyata gadis macam Zahra yang buat lo kesemsem gak bisa tenang siang dan malam." Arya terkekeh mengingat curhatan Rey tempohari.
" Eh ya Han, lo kan belum cerita gimana awalnya lo bisa jatuh cinta sama adek gua."
" Aku sendiri juga gak tahu Ar kapan waktu pastinya aku jatuh cinta sama Zahra,tapi dari awal aku ketemu sama Zahra entah mengapa aku selalu ingin terus bersamanya menghapus setiap air matanya dan menggantinya dengan senyum kebahgiaan."
" Aku sekarang lega Han, akhirnya adek ku menemukan lelaki yang tepat, aku yakin kalu lo pasti akan selalu buat Zahra bahagia. jagain dia ya brow." Arya menepuk bahu Rey.
" Pasti Ar, Aku janji akan buat Zahra selalu bahagia karena sekarang kebahagiaaannya adalah kebahagiaanku.
" Thanks ya Han, Gua seneng banget saat ini."
" Lo kapan pulang Ar, trus istri lo mana? Gak ikut?" tanya Rey.
" Semalam gua nyampe, dan istri gua sekarang lagi di rumah sakit, Tadi pagi dia lahiran. "
" Wau, Selamat Ya Ar, Istri lo di sini apa di Kairo.?"
"Di sini, dia ikut aku pulang, sebenarnya kalau perkiraan dokter seminggu lagi, mungkin karena kecapean di perjalanan jadi lebih cepat lahiranya."
" Istri loh sama siapa sekarang kok lo di sini?"
" Ada bibik yang jaga. Umay maksa agar aku pulang lihat acara nikahannya Zahra, karna dia tahu aku punya janji sama Zahra kalau Zahra nikah aku akan ada nemeni dia. jujur tadi aku terkejut saat ngelihat lo di sini, palagi keadaan tadi sangat tidak baik buat Zahra. sekali lagi gua berterimakasih pada lo udah ngelindungi Zahra."
" Zahra itu istriku Ar, jadi udah jadi kewajiban ku untuk ngelindungi dia."
Arya tersenyum. dia sangat senang ternyata yang menjadi suami adiknya adalah orang yang pernah ingin di kenalkannya pada adiknya. Arya adalah sahabat tempat Rey curhat dan meminta saran saat Rey galau karena seoeang wanita yang telah mengisi hatinya. Arya tahu betul kalau Rey sangat mencintai Zahra.
" Han, tu adek gua da datang. gimana adek gua cantik kan?"
" Iya Ar, Zahra itu wanita yang sempurna, bukan hanya wajahnya yang cantik tetapi juga hatinya. aku sangat beruntung menjadi suaminya." Mata Rey tak lepas dari Zahra yang berjalan menghampiri tempat mereka.
Arya masih mengulum senyum.
" Dek kemari?" Panggil Arya pada Zahra.
__ADS_1
Zahra pun menghampiri, lalu duduk di samping Arya.
" Dek selamat ya sekarang kamu da jadi seorang istri. lo mau kado apa?" Tanya Arya.
Zahra menggeleng." Aku gak mau apa-apa lagi bang, abang da ada disini saja itu udah cukup, ehya bang gimana keponakan ku, mirip siapa? pasti mirip aku kan bang?" cicit Zahra sumringah.
" Mirip abang mu ini lah gantengnya, " ujar Arya Pd.
" Zahra da gak sabar bang pingin lihat, ada fotonya kan bang? Zahra lihat dong !"
" Sama kak Umay. hp abang habis batre, ni abang gak bisa lama-lama disini karena abang harus balik ke Rumah Sakit kasian kakak mu di tinggal lama-lama. nanti kalau da sampe abang kirim fotonya."
Zahra mengangguk. " Salam buat kak Umay ya bang, sampekan maaf Zahra karena belum bisa kesana."
" Ok, abang pigi dulu ya," Arya memandang adiknya Zahra. "Han titip adek gua Zahra. pastikan dia tersenyum selalu ya."
" Pasti brow." Jawab Rey lantang.
Arya beranjak pergi meninggalkan kekediaman mereka menuju kembali ke Rumah Sakit tempat Istri dan anaknya di rawat.
*****
Selesai makan siang Zahra dan Rey kini duduk di kursi pelaminan, mereka sekarang adalah raja dan Ratu sehari yang jadi pusat perhatian.
Walau hanya mengundang saudara dan kerabat dekat, ternyata banyak tamu dari kalangan tetangga yang berdatangan mengetahui Zahra anaknya pak Arman dan buk Neha menikah.
Jam delapan malam tamu sudah berpulangan. Disaat itu Zahra melihat dan mendengar mama izin sama papa untuk pergi ke rumah Sakit.
" Ma, kenapa gak besok aja. Besok pagi Papa yang antar, malam ni masih ada tamu kita, kan gak enak sama mereka." kata papa mencoba mencegah mama.
" Kan Papa disini, jadi bisa mewakilinya." jawab Mama singkat.
" Tapi ma,ini kan hari bahagianya putri kita masa belum selesai mama tinggal gitu aja."
" Ini juga hari spesial untuk Arya dan Humairah. Humairah baru saja melahirkan tadi pagi, bahkan dia tidak di temani keluarganya, sebagai seorang ibu mama harus bersikap adil Pa, mama gak ingin menantu mama merasa terasingkan, mama pinta Papa tetap disini dan izinkan mama pergi menjaga Umai malam ini."
" Baiklah, jika itu mau mama." Papa mengalah, sebenarnya Papa tahu Mama masih sangat kecewa dengan apa yang dilakukannya tadi mungkin ini juga salah satu protes dari Mama untuk malam ini Mama tidak mau tidur sekamar dengan Papa makanya Mama memilih untuk pergi ke Rumah Sakit.
Mama pergi diantar Arga, sebelumnya Mama juga pamit dengan Zahra dan Rey.
" Zahra sayang, maafkan Mama ya nak malam ini Mama harus jagain kakamu Umay, Mamanya gak ada di sini, pasti dia butuh mama,lagian acara malam ini juga hampir selesai, maafi mama ya sayang, mama berangkat sekarang,takut nanti kalau kemalaman malah gak di izinkan masuk lagi.
" Zahra ikut ya ma, Zahra juga da gak sabar ingin ketemu sama keponakan Zahra."
__ADS_1
" Sayang, kamu ini gimana sih, kamukan pengantinnya masa malah pergi. "
" Tapi ma Zahra...."
" Zahra anak sholeha mama, ingat kamu sekarang adalah seorang istri jadi Zahra punya tanggung jawab yang harus Zahra penuhi pada suami Zahra. jadi besok aja Zahra ke rumah sakitnya sama nak Rey."
Zahra mencebikkan bibirnya tapi dia juga gak bisa menolak perkataan mama.
" Nak Rey, mama pergi dulu ya, titip kesayangan mama Zahra, dia ini sangat manja dan agak keras kelapala, nak Rey bersabarya ngadapi tingkahnya."
" Iya, tante, eh mama." Jawab Rey juga mengembangkan senyum.
Mama dan Arga pun pergi menuju Rumah sakit.
Lebih kurang satu jam dari kepergian mama dan Arga, tamu sudah berpulangan, hanya menyisakan beberapa keluarga dekat dari pihak mama yang menginap dirumah mereka.
Zahra dan Rey masuk ke dalam kamar Zahra yang kini menjadi kamar pengantin mereka berdua.
Zahra mengeluarkan sebuah handuk dari lemarinya.
" Pak Rey bisa mandi duluan." Zahra mengulurkan handuk pada Rey.
" Kenapa? APa aku bau?" Tanya Rey mengernyitkan dahi.
" Bu...bukan gitu maksud saya pak, tapi bapak kan belum mandi kita udah satu harian duduk nerima tamu apa bapak gak gerah."jawab Zahra.
" Aku justru lebih gerah mendengar istriku masih memanggilku dengan sebutan bapak."
" lalu aku harus panggil apa dong."
" Panggil aku sayang ." Rey mendekatkan wajahnya ke Zahra membuat Zahra spontan mundur dua langkah.
Zahra tersenyum menunjukkan deretan giginya yang putih. " untuk sementar biarkan aku tetap memanggil bapak ya, Zahra udah terbiasa dengan panggilan itu, dan masih janggal kalau harus diubah sekarang, boleh kan pak." Zahra memasang wajah memohonnya.
" Baiklah." Jawab Rey singkat kemudian berbalik arah berjalan menuju kamar mandi.
" Zahra memegangi Dadanya yang sudah hampir copot berhadapan dengan jarak yang begitu dekat dengan Rey.
" Zahra," Panggil Rey sebelum menutup pintu kamar mandi.
" Ya pak?"
" Apakah kamu mau mandi bareng dengan suamimu ini?" goda Rey mengulum senyum.
__ADS_1
Sementara Zahra terpaku terperangah tak percaya bahwa bos yang resmi sekarang menjadi suaminya yang ia kenal galak, cuek dan dingin seperti bongkahan es mengapa menjadi begitu lembut,
" Udah bengongnya nanti kesambet loh." kata Rey lagi membuyarkan lamunan Zahra. Rey pun menutup pintu kamar mandi.