
Di depan pintu masuk, Sesil sepupunya Zahra yang sudah satu bulan ini bekerja di toko Papanya Zahra, bangkit dari duduknya karena terkejut melihat kedatangan Zahra bersama Rey dan Reza berada di belakang mereka berdua.
" Zahra, kamu bersama...." Sesil gak melanjutkan ucapannya dia hanya melihat ke arah Reza dengan begitu Zahra sudah tahu maksud dari Sesil.
" Papa mana? " Tanya Zahra membuyarkan pertanyaan dipikiran Sesil.
" A... ada di dalam lagi istirahat, soalnya om lagi kurang sehat. " Jawab Sesil gugup.
" Kita masuk yuk Pak. " Ajak Zahra Pada Rey, tak menggubris ucapan Sesil.
Merekapun masuk bersama ke dalam toko dengan posisi Zahra jalan terlebih dahulu di ikuti oleh Rey baru Reza.
Di dalam toko ada ruangan yang sengaja di sediakan untuk ruang keluarga bila kebetulan ada saudara atau teman yang berkunjung sekedar ingin bertamu saat papa tidak di rumah, Karena kesehariannya Papa selalu berada di toko.
Buk Neha mamanya Zahra baru keluar dari dapur kecil di belakang, berjalan menuju ruang keluarga yang luasnya cuma empat kali Lima meter.
" Zahra, " Ucap Mama terkejut saat mendapati anak gadisnya di depan pintu masuk antara toko dan ruang keluarga.
Mama pun berjalan mendekat lalu memeluk Zahra melepaskan rindu pada putri sematawayangnya itu.
" Kenapa Zahra gak kabari Mama kalau mau pulang, kan Mama bisa siapkan masakan kesukaan Zahra. " Kata Mama dengan kedua tangan menangkup di pipi Zahra.
Zahra tak mengatakan apapun hanya menjawab dengan tersenyum manis.
" Zahra kemari sama siapa? sendiria apa sama Sasa? " lanjut mama bertanya.
Rey pun masuk ke ruang keluarga setelah sebelumnya Zahra memberi kode tatapan agar Rey yang masih berada di toko masuk ke dalam.
" Nak Rey. " Ucap Mama tersenyum senang melihat kehadiran Rey.
" Assalamualaikum tante." Sapa Rey.
" Waalaikumsalam, yuk duduk nak Rey. " ajak Mama.
Saat Rey masuk ke dalaman menuju kursi santai, Reza pun juga mengikuti langkah di belakang Rey. Seketika senyum di bibir Mama Neha hilang melihat Reza yang juga berada tepat di hadapannya.
" Kamu, mau apa kamu kemari lagi?" tanya Mama, wajah mama langsung tegang karena tak percaya akan kembali bertemu Reza lelaki yang sudah menipu putri kesayangannya.
Reza diam terpaku begitu juga dengan Rey dan Zahra mereka gak tahu mau menjelaskan dari mana?
" Siapa yang datang Ma? " tanya Papa keluar dari kamar karena mendengar keributan di luar kamar.
Belum sempat Mama menjawab. Pak Arman terlebih dulu melihat Reza, sontak membuat darah Pak Arman mendidih.
" Kamu, beraninya kamu masih datang kemari setelah apa yang udah kamu lakukan, apa kamu da bosan hidup?" Sarkas Papa dengan nada marah. Tangan papa mengepal sudah siap untuk melayangkan pukulan ke wajah Reza, tetapi Mama menahannya.
" Pa sebaiknya kita duduk dulu." Ajak Mama yang takut keadaan Papa semakin buruk karena papa memang lagi tidak sehat. "
Papa pun duduk di tuntun Mama.
__ADS_1
Kalian duduklah, sebaiknya kita bicarakan ini baik-baik. " Kata Mama lagi.
Zahra duduk di samping Mama sedangkan Rey dan Reza duduk di depan Zahra.
" Om, Tante, sebenarnya Reza ini adalah adik saya, saya tidak tahu bahwa ternyata Reza telah berbuat salah karena menipu Zahra, Om, dan Tante dengan berpura-pura melamar Zahra. saya juga baru tahu saat Zahra bertemu kembali dengan Reza dan menceritakannya pada saya. Jadi kami kemari dengan tujuan meminta maaf kepada Om dan Tante atas hal buruk yang dilakukan adik saya reza. Saya harap Om dan Tante bisa memaafkannya. " Jelas Rey.
" Iya Om, Saya kesini mau minta maaf pasa Om dan Tante, saya tahu saya kesalahan saya terlalu fatal, karna saya, keluarga Om jadi malu, dan tante sampai dirawat di Rumah Sakit, jika mungkin saya mohon om, maafkanlah saya. " Mohon Reza dengan nada memelas bersalah.
" Apa yang mebuatmu tiba-tiba minta maaf ha? Apa karena kamu dipaksa abangmu ini?" Tanya papa lagi masih dengan nada emosi.
" Tidak om, sebenarnya sudah sejak lama saya ingin minta maaf. Saya sadar ternyata saya hanya dimanfaatkan oleh pacar saya sepupunya Gilang tunangan Zahra yang pertama Om, saya sangat bodoh, mau saja terpengaru untuk ikut terlibat membalaskan dendamnya pada Zahra karena Zahra memutuskan untuk mebatalkan pernikahan mereka. Saya mohon sekali lagi Om, maaf kan saya. " Reza berlutut di depan Pak Arman mencium tangan pak Arman menunjukkan bahwa dia memang sangat menyesal.
" Sudahlah, kami sudah memaafkanmu, tapi untuk melupakannya itu sangat sulit sebaiknya kamu tidak usah lagi menampakkan diri dihadapkan kami, karena itu hanya akan membuat luka yang sudah kering kembali ternganga. " Sahut Papa menarik tangannya.
Reza pun kembali duduk di samping Rey.
" Masalah kita sudah selesai sebaiknya kalian pulang. Tapi ingat Reza, jangan pernah lagi kamu coba dekati Zahra karena sebentar lagi zahra juga akan menikah. " Ujar Papa masih sinis.
" Om, Tante, sebenarnya ada satu hal lagi yang ingin saya katakan pada Om dan Tante. " kata Rey.
" Apa lagi.? " tanya Papa.
" Sebenarnya, selain ingin meminta maaf saya kemari juga bertujuan ingin memohon restu dari om dan Tante...... "
" Restu apa maksudmu? " Papa memotong perkataan Rey.
" Apa? " Kata Papa keras sangkin terkejutnya. Pak Arman pun berdiri dari duduk.
" Sebaiknya kalian keluar sekarang sebelum saya benar-benar melakukan hal buruk pada kalian berdua! " Usir Pak Arman dengan tatapan nanar.
" Pa. " panggil buk Neha dan Zahra bersamaan berusaha menenangkan Papa.
Mama mengajak Papa kembali duduk. Papa pun duduk kembali sambil memegang dadanya yang sesak. Kepalanya sudah mulai pusing.
" Om saya mencintai Putri Om Zahra, Saya sangat berharap Om merestui hubungan kami." Suara Rey kembali terdengar meyakinkan Papanya Zahra.
" Hei anak kota, apa kamu pikir aku ini bodoh, setelah apa yang dilakukan adikmu yang begajulan ini, lantas sekarang apa aku juga harus mengikhlaskan putriku dengan abangnya yang mungkin kelakuannya tidak jauh beda. Aku gak akan melakukan kesalahan untuk kedua kalinya. " Papa berusaha untuk mengendalikan emosi agar tidak memukul Rey dan Reza. Papa sidah samgat geram dengan mereka berdua.
" Tapi Om, aku benar-benar mencintai Zahra, Aku ingin menjalani rumah tangga bersamanya, dan Zahra juga mencintai saya Om, kami hanya bisa bahagia jika Om dan Tante merestui kami. " Rey mencoba meyakinkan Pak Arman dengan sikapnya yang masih santai tidak sedikitpun menunjukkan emosi walau di tolak padahal biasa Rey tidak pernah mau berkompromi dengan orang yang sudah menolak keputusan atau keinginanya sekalipun itu neneknya sendiri, tapi kali ini dia mampu menahan emosinya hanya demi Zahra, gadis yang kini samgat berarti bagi kehidupannya.
" Aku gak akan pernah merestui Putri ku dengan orang seperti kalian karena aku udah putuskan bahwa seminggu lagi Zahra akan menikah dengan lelaki pilihanku. Lelaki soleh penghafal Qur'an, tentunya dialah lelaki yang tepat yang akan membahagiakan putriku Zahra. Sekarang kalian berdua pergilah karena kehadiran kalian tak di harapkan di sini. " Usir Papa sekali lagi.
" Zahra segera urus surat pengunduran dirimu, Papa akan hubungi Ustadz Abdul agar segera menyiapkan pernikahanmu dengan Salim sebelum Salim kembali ke Turki." Papa menatap mata putri kesayangannya Zahra.
" Tapi Pa, Zahra gak mungkin menikah secepat ini, Zahra belum siap Pa untuk menikah dengan bang Salim. "
" Tidak ada tapi-tapi, Papa udah memutuskan dan itulah yang akan terjadi. " Papa pergi masuk ke dalam kamar.
Airmata Zahra menetes, Zahra tertunduk sedih, hatinya tak terima dengan keputusan yang diambil Papanya itu. Zahra kemudian mengangkat kepala menatap Rey.
__ADS_1
" Sebaiknya Pak Rey pulang saja karena Papa gak akan merestui hubungan kita. Aku juga akan menikah jadi Pak Rey harus lupain aku mulai sekarang. " Zahra menyeka airmata lalu berlari keluar.
" Zahra. " Panggil Rey hendak menghentikan langkah Zahra. Akan tetapi Rey tersadar ada sepasang mata yang sedari tadi hanya diam memperhatikan perdebatan yang terjadi. Rey menoleh ke arah Mamanya Zahra bermaksud untuk meminta izin pergi untuk mengejar Zahra.
" Tante saya permisi dulu ya Tan," Pamit Rey lalu berbalik akan keluar.
" Nak Rey tunggu. " cegah Tante Neha.
Rey kembali berbalik mengarah ke Tante Neha.
" Apakah nak Rey sungguh-sungguh mencintai Zahra? " tanya mama penuh penekanan.
" Ya Tan, saya sangat mencintai nya, dan hanya ingin menjalani hidup bersama Putri Tante Zahra. saya akan memperjuangkan cinta ini, dengan sangat berharap sekali kalau Tante merestui Saya untuk menjadi suami Zahra. " mata Rey berkaca-kaca. terlihat jelas oleh ibu Neha ketulusan cinta untuk Zahra di mata Rey.
Bu Neha tersenyum. " Tante akan coba bicara pada Papanya Zahra, sekarang carilah anak tante, hatinya saat ini lagi sedih, dia butuh seseorang untuk menenangkannya. Pastikan Zahra baik-baik saja. Tante percaya kalau nak Rey bisa menjaga kepercayaan Tante. "
" Makasih Tan, kalau begitu saya pamit dulu. Assalamualaikum. " Rey menangkupkankan kedua tangan didapa tanda hormatnya pada Mamanya Zahra.
" Waalaikumsalam. " Jawab Tante Neha.
Rey berjalan keluar.
" Tante, kalau begitu saya mohon undur diri juga. sekali lagi mohon maafkan saya Tante. Tapi tolong jangan salahkan Bang Rey atas kesalahan yang saya perbuat. Karena bang Rey tidak tahu sama sekali. " Ucap Reza.
" Pergilah, Tante sudah memaafkanmu. " Mama berusaha tersenyum walaupun sebenarnya hatinya masih sakit mengingat apa yang udah dilakukan Reza.
" Makasih Tan. Permisi. Assalamualaikum." pamit Reza
" Waalaikumsalamsalam. "
Setelah kepergian Reza, Mama berjalan masuk ke kamar untuk mencoba berbicara pada suaminya yang saat ini masih sangat emosi.
…
…
…
…
…
💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟
Makasih buat yang masih dukung Author, maaf lama up nya karena Author kurang fit. Alhamdulillah sekarang sudah lebih baik.
Semoga kita semua selalu sehat ☺☺☺
🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1