Jodoh Terbaik Pilihan Tuhan

Jodoh Terbaik Pilihan Tuhan
Part 92. Rumah Farhan.


__ADS_3

Mobil yang di kemudikan Rey telah sampai di pelataran rumah Farhan.


" Yuk kita turun," Ajak Rey.


" Pak Rey, sebenarnya apa yang terjadi tadi malam?" Bukanya turun Zahra malah bertanya, ia masih penasaran dan berharap tak terjadi apapun antara mereka saat dia tak sadarkan diri.


" Kamu bener ingin tahu?" tanya Rey balik.


Zahra mengangguk cepat.


" Baiklah nanti malam kita makan diluar,aku akan menceritakan semuanya padamu, sekarang kita turun dulu pasti nenek sudah menunggu.." Rey memasang senyum manisnya.


" Kenapa gak sekarang saja bapak menceritakan nya?". Sambung Zahra lagi.


" Ra, kita turun dulu ya, nenek pasti cemas menunggu kita karena terlalu lama di perjalanan." Rey membuka pintu mobilnya dan hendak turun tetapi Zahra mencegah dengan memegang tangan Rey.


" Bapak harus menjawab pertanyaanku tadi sekarang juga." Titah Zahra keras kepala.


" Emh...Baiklah. " Rey mendekatkan wajahnya ke Zahra hendak mencium bibir Zahra. Zahra kaget dan menjauhkan wajah sebelum Rey beneran mencium dirinya.


" Bapak mau apa?" Pekik Zahra kaget.


" Mau menjelaskan padamu tentang kejadian tadi malam, akan ku ulang langsung perbuatan yang kamu lakukan ke aku Ra," jelas Rey.


" Lupakan Saja." Jawab Zahra seraya membuka pintu mobil lalu segera turun. Zahra merasa gugup dan takut.


Rey tertawa melihat Zahra yang ketakutan langsung keluar mobil.


 


 


Di dalam rumah Farhan, Rey dan Zahra di sambut ramah oleh nenek Farhan dan Ibunya. Tak lama nenek Retno juga datang menghampiri cucu kesayangannya Rey. Nenek baru saja keluar dari kamar yang di sediakan keluarga Farhan.


Rumah Farhan juga sangat besar sehingga sebagian keluarga Kyara tidak menginap di hotel melainkan di rumah Farhan . Begitu juga dengan Rey dan Zahra.


" Kyara antar abang dan kakak iparmu ke kamar mereka. Pasti mereka berdua sangat lelah. " ucap Nenek Farhan.


" Baik nek, yuk bang, Zahra, biar Kyara antar ke kamar kalian." Ajak Kyara.


" Kyara kamu harus panggil kakak pada Zahra. Karena sekarang dia kakak iparmu." perintah Rey.


" Bener itu Kyara kamu harus menghormati kakak iparmu walaupun usianya lebih muda dari mu." sambung Nenek Farhan lagi.


Kyara mengernyit memautkan dahi, agak sedikit aneh dengan yang di katakan Rey,


" Bukankah ini hanya pernikahan bohongan yang bentar lagi juga berakhir mengapa bang Rey malah menyuruhku untuk memanggil Zahra dengan sebutan kakak kan Zahra lebih mudah dari ku." kesalnya.


" Baiklah, Kak Zahra ayuk!." Ajak Kyara berjalan terlebih dahulu.

__ADS_1


Zahra berjalan di belakang Kyara dan Farhan, sedangkan Rey berjalan di belakang Zahra sambil membawa koper milik Zahra karena kopernya di bawakan oleh Farhan.


" Ini kamar kalian." kata Kyara di depan sebuah kamar yang telah di buka pintunya sambil mengulum senyum.


Rey melihat kamar dengan seksama yang juga di perhatikan oleh Farhan.


" Bang Rey, Maaf ya kalau kamar ini gak sebesar dan semewah kamar abang." ucap Farhan sedikit gak enak, dia tahu kalau Rey biasa tidur di kamar yang mewah seperti hotel berbintang sedangkan kamar yang di sediakan keluarganya malah kecil yang di sebabkan semua kamar sudah terisi oleh keluarga yang terlebih dahulu datang.


" Its ok." Jawab Rey enteng lalu masuk ke dalam kamar.


Kyara membulatkan mata gak percaya dengan Reaksi abangnya itu, sebelumnya Kyara malah berfikir kalau Rey bakal pergi mencari hotel ternyata malah sebaliknya.


" Bang Rey sudah jauh berubah, ini pasti karena Zahra." Pikirnya.


" Baiklah bang kalau begitu kami pamit kebawah, masih banyak yang harus di persiapkan untuk acara besok, bang Rey sama kak Zahra istirahat saja dulu." Pamit Farhan.


Farhan dan Kyara pun pergi meninggalkan mereka berdua. Rey meletakkan kopernya dan Koper Zahra di samping lemari. Sementara Zahra masih berdiri di depan pintu dengan pikirannya sendiri.


" Bagaimana ini?, aku akan sekamar lagi dengan Pak Rey, mana gak ada sofanya lagi. kalau gini terus bahaya ni." lamun Zahra.


" Ra, ngapain kamu terus di sana cepat masuk, istirahatlah." Titah Rey.


Dengan Ragu Zahra pun masuk, Zahra gak punya pilihan lain jika dia tidak masuk maka neneknya Farhan pasti curiga. Zahra gak mau buat masalah lagi.


Rey tahu bahwa Zahra sangat tidak nyaman.


" Bisa-bisanya dia ngingatkan itu di saat aku udah masa bodoh dan gak mau tahu lagi, aku takut kalau si kulkas dua pintu ini beneran mempraktekkannya, membayangkannya saja aku sudah merinding." umpat Zahra dalam hati sambil memejamkan matanya merasa takut.


" Kamu harus mengumpulkan banyak tenaga Ra, untuk mendengarkan ceritaku nanti malam. Aku gak mau ya kalau kamu sampai pingsan." Ledek Rey sambil berjalan kearah pintu hendak keluar.


" Pak Rey mau kemana?" tanya Zahra.


" Keluar."


" Kenapa?"


" Kalau aku terus di sini aku takut khilaf kayak tadi malam." Ledek Rey lagi mengembangkan senyumnya.


" Pak Rey." kesal Zahra.


" Sudah-sudah jangan terus dipikirkan, tidurlah jangan lupa kunci pintunya." Rey lalu keluar kamar.


Zahra semakin kesal dengan Rey yang dari semalam selalu saja meledeknya, entah mengapa Zahra merasa saat ini sikap Rey lebih lembut dan perhatian tidak seperti sebelumnya padahal waktu di apartemen saat Rey belum menghilang, Rey bilang bahwa dia akan jujur pada Neneknya Farhan tentang pernikahan kontrak mereka agar bisa semakin cepat bercerai. Tapi sekarang sikapnya yang semakin lembut membuat Zahra merasa tak ingin bila perceraian itu terjadi. Zahra menghembuskan nafas panjang, dia merasa sangat lelah.


" Pak Rey, aku gak mengerti sebenarnya apa yang ada di pikiranmu dan apa yang akan bapak lakukan, apa bapak akan menceraikanku nanti malam?" Gumam Zahra dengan wajah tertekuk.


Zahra pun merebahkan tubuhnya di kasur mencoba menutup mata untuk tidur, bukan hanya tubuhnya yang merasa lelah, hati dan pikirannya pun ikut merasa lelah. Jarum jam sudah menunjukkan pukul dua siang. Tak butuh waktu lama untuk Zahra terlelap jauh memasuki alam mimpi.


 

__ADS_1


 


Waktu semakin soreh, Rey telah kembali. Rey mengetuk pintu kamar tetapi tak ada jawaban.


Rey memutar knop pintu.


Cklek.....


Pintu terbuka.


" Dasar gadis ceroboh sudah dikatakan untuk mengunci pintu tetapi dia malah tidur, gimana coba kalau ada orang lain yang masuk." Rey menggelengkan kepala melihat Zahra yang masih tidur terlelap.


Rey mengambil handuk dan baju di dalam koper lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah Rey selesai mandi, Zahra belum juga bangun. Rey mendekati Zahra untuk membangunkan Zahra.


" Ra, bangun Ra, udah jam lima ni." Panggil Rey menepuk pelan bahu Zahra.


" Emh..." Zahra menggeliat tetapi matanya masih terpejam.


" Ra kamu beflum shalat ashar kan Ra? ayo bangun shalat dulu." Rey menepuk lembut lengan Zahra. tapi Zahra gak bangun juga.


Rey memandangi wajah Zahra yang terlelap dengan sangat lekat. sudut bibirnya tertarik menunjukan senyuman tipis melihat gadis yang ia cintai berada di depannya.


Entah mengapa Zahra merasa dirinya diperhatikan, sehingga Zahra membuka mata. dan benar ternyata Rey lagi menatapnya. Manik mata keduanya bertatapan sekian detik yang membuat dada Zahra berdegup kencang.


" Kenapa Pak Rey lihatin aku.?" tanya Zahra salah tingkah karena gugup dipandangi Rey begitu dalam.


" Emangnya dosa ya, kalau lihatin istri sendiri?" tanya Rey masih dengan tatapan dalam yang sulit diartikan oleh Zahra.


" Ta..tapi aku kan cuma istri dalam kertas, sebentar lagi bapak juga akan menceraikan ku kan? jadi tak perlulah bapak pandangi seperti itu." Zahra memalingkan wajahnya kesamping mengurangi rasa gugupnya kalimat yang di keluarkannya pun ngasal, Zahra benar-benar salah tingkah karena ditatap terus oleh Rey.


" Sepertinya kamu udah gak sabar ya ingin berpisah denganku? apa karena kamu mencintai laki-laki itu Ra?" tebak Rey.


Deg....


Zahra tak mampu menjawab pertanyaan Rey. rasanya ia ingin mengatakan bahwa sebenarnya ia tak ingin berpisah.tapi lidahnya seakan keluh.


" udah cepetan mandi, kamu belum shalatkan?" tanya Rey.


Zahra mengangguk.


" Aku tunggu di depan, cepatlah bersiap aku gak suka menunggu lama." Sambung Rey lagi kemudian berjalan keluar kamar.


Zahra memandangi punggung Rey sampai tak terlihat lagi. Zahra pun masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


 


 💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟

__ADS_1


__ADS_2