
Setelah jam istirahat siang. Zahra keruangan Rey.
tok.... tok.... tok......
" Masuk. "jawab Rey dari dalam.
Zahra masuk berdiri di depan meja Rey.
" Ada apa?? " Tanya Rey tanpa melihat Zahra.
" Pak, untuk pengaturan party apa tidak lebih baik bapak serahkan saja sama buk Lani yang udah berpengalaman. " kata Zahra.
" Bukankah kita udah bahas tadi, jadi kerjakan saja. "
" Tapi pak, "
" Tidak ada tapi-tapi mulai lah bekerja sana! " perintah Rey.
Zahra tetap berdiri air matanya sudah jatuh ke pipi. Rey yang dari tadi berbicara tidak melihat Zahra kini dia memandang Zahra yang mematung dan menangis tanpa suara.
Rey berdiri dan berjalan mendekati Zahra.
" Zahra, kenapa kamu menangis, ini! lap air mata mu!.Rey memberikan saputangan yang diambilnya dari saku celananya.
" Aku hanya terbiasa mendesain bangunan pak, aku gak pernah mengatur pesta aku gak tahu pak bagaimana menyiapkannya, aku takut kalau nanti aku malah mengecewakan bapak dan perusahaan ini hiks.... hiks.... lebih baik bapak berikan saja tanggung jawab ini pada buk Lani hiks... hiks.... " Zahra menangis, rasa takut dan khawatir nya membuat kebiasaan manja dan cengengnya tak bisa di tahannya lagi. Walau Zahra terlihat kuat dan pemberani tapi sebenarnya dia sama dengan wanita pada umumnya, punya hati yang rapuh sehingga gampang menangis.
Rey menatap wajah cantik Zahra yang membuatnya semakin melembut.
" Jika aku dan Very saja pecaya kalau kamu bisa melakukannya mengapa malah kamu sendiri tidak percaya dengan kemampuanmu Zahra?. "
" Aku takut pak kalau ternyata aku gak mampu." Ucap Zahra memandang Rey.
" Kamu gak perlu takut aku akan membantu mu Ra, kamu bisa bertanya apa aja yang di butuhkan.
" Bapak mau bantu saya??"
Rey mengangguk mengiyakan dan terseyum pada Zahra.
" Sebentar ya pak. " Zahra menyeka air matanya dengan sapu tangan milik Rey setelah menghapus air matanya ia memberikan kembali pada Rey dan ia berlari keluar. Rey tersenyum lagi melihat kelakuan Zahra ia pun kembali duduk di kursinya.
Tak lamakemudian Zahra kembali dengan sebuah buku kecil dan pena di tangannya, ia duduk di kursi yang ada di depan meja Rey.
" Bisa kita mulai pak?."
" Baiklah sekarang kamu catat baik baik,"
Zahra menangguk.
" Party akan di adakan di ARDANA HOTEL, mereka menginginkan konsep outdoor party, jadi nanti hubungi pihak hotel untuk pesan restoran yang dekat kolam berenang. dan Pesan juga makanan kontinental." Jelas Rey.
__ADS_1
" Untuk dekor nya, mau pakai kain warna apa pak? "
" Metalik, dan untuk musiknya langsung saja minta pihak hotel yang menyediakannya."
Rey terus menjelaskan persiapan party sedangkan Zahra menulis pada buku catatannya. Setelah selesai Zahra kembali memeriksa catatannya. Ia sesekali menggigit ujung penanya dan Rey yang melihatnya tersenyum tipis.
" Udah selesai semua pak, makasih ya pak, permisi!. Ucap Zahra mengembangkan senyum manisnya dan keluar dari ruangan Rey. "
" Kenapa setiap bersamanya aku merasa sangat yaman, aku selalu ingin melihat dia tersenyum bahagia, tidak, tidak, tidak, aku tak boleh jatuh cinta padanya." Rey menepis senyumannya dan menggelengkan kepalanya.
***
Jam kerja kantor sudah berakhir, waktunya para karyawan pulang kerumah masing-masing.
Zahra dan Sasa berjalan keluar kantor. merekapun berbincang sambil berjalan.
" Ra tadi kamu bawa sepeda motor ya? " tanya Sasa.
" Enggak sa tadi aku diantar bang Arga. "
" Jadi ini pulangnya naik apa?"
" Naik bus umum aja Sa atau taxi lah, kalau susah cari bus umum."
" Iya sih ya mau gimana lagi, besok lah mungkin aku baru bawa motor maticnya bang Arga."
" Aku antar aja yuk Ra! "
" Gak usah Sa rumah kita kan lain arah ntar kamu malah pulang malam. Biar aku pulang sendiri aja. " tolak Zahra.
Sasa mengangguk.
" Ra apa gak lebih baik lo pindah aja ke rumah aku seperti dulu. Kitakan jadi bisa berangkat kerja bareng, kamu juga gak harus menempuh perjalanan jauh setiap hari, lagian di jalan meranti ( jalan yang di lewati dari rumah Arga menuju kantor) itu terkenal banyak begal, bahaya lo Ra "
" Aku juga berpikir seperti itu Sa, nanti aku bilang bang Arga dulu. "
" Baiklah, beneran ni gak mau di antar? " tanya Sasa lagi. "
" Gak usah Sa. " jawab Zahra.
Mereka berdua kini sudah berada di luar, depan pintu masuk kantor, belum sempat Sasa ke parkiran sebuah mobil berhenti tepat di depan mereka. dan seseorang turun dari mobil.
" Hai Sasa, Zahra da mau pulang ya?" tanya Very yang menghampiri Sasa dan Zahra.
" Eh pak Very. ini baru aja mau pulang. " jawab Sasa dengan senyum manisnya.
__ADS_1
" Kalian pulang barengan ya? "
" Tidak pak rumah kami lain arah." jawab Zahrah.
" Oh kalian bawa kendaraan?" tanya Very lagi
" Saya bawa pak, tapi tadi Zahra diantar abangnya."
" Lalu ni pulangnya naik apa Ra? "
" Naik angkutan umum pak. " ucap Zahra.
" Gimana kalau kamu saya antar?" Very menawarkan niat baiknya.
" Gak usah pak, saya bisa sendiri kok. "
" Ayolah Zahra lagian masih ada masalah kerjaan yang ingin saya bahas dengan kamu."
" Maaf pak tapi untuk kerjaan kantor kan bisa dilanjutkan besok."
" Ayolah Zahra ini perintah loh bukan ajakan."
Karena Very memaksa akhirnya Zahra mau diantar pulang oleh nya.
" Kita duluan ya Sa, ucap Very berjalan masuk ke mobilnya.
" Aku pulang ya Sa, lo hati hati di jalan. " ucap Zahra juga masuk ke mobil Very. "
" Ya hati hati juga ya" jawab Sasa. " Zahra beruntung amat ya baru hari pertama kerja udah deket banget sama dua bos ganteng itu. Tadi diajak makan sama pak Rey ini diantar pulang sama pak Very, enak banget sih nasib loh Ra, aku yang udah lama disini di sapa sama pak Rey pun gak pernah. Aduh Sasa. " Sasa memukul jidatnya sendiri. " Aku gak boleh iri sama temen sendiri sudahlah lebih baik aku pulang." ujar Sasa menuju parkiran.
Mobil Very sudah pergi meninggalkan kantor, ternyata saat Very mengajak Zahra pulang, Rey melihatnya, ia terlihat sangat marah, kemarahannya membuat ia tanpa sadar mengikuti mobil yang di kendarai Very dan Zahra.
Very memberentikan mobilnya di sebuah cafe bakso, mereka berdua turun dan masuk ke dalam cafe itu. Rey terus memperhatikan mereka setelah itu ia pun kembali melajukan mobilnya pulang ke rumah.
Sesampainya dirumah Rey langsung masuk ke kamarnya dan tidak memperdulikan nenek Retno yang menyapanya saat berjalan menaiki tangga.
Di kamarnya Rey langsung ke kamar mandi membersihkan diri. Ia berendam di bathtup,membiarkan air dari shower spray membasahi wajahnya. Setiap memejamkan mata ia selalu melihat wajah Zahra, semua peristiwa yang di alaminya bersama Zahra di saat Rey mengingat Zahra bersama Very berdua di dalam mobil dan masuk ke kafe bakso membuat Rey menjadi marah. Rey memukul cermin yang ada di sampingnya sehingga tangannya terluka dan membiarkan darahnya mengalir bersama air yang membasahi dirinya.
Merasa khawatir dengan Rey yang terlihat marah, nenek masuk ke kamar Rey saat itu Rey sudah selesai mandi. Ia melamun duduk di tempat tidurnya memegangi sapu tangan.
" Rey kamu kenapa? " Tanya nenek.
Rey tak menjawab dia hanya diam saja, nenek melihat tangan Rey yang terluka lalu nenek mengobatinya.
" Rey kamu kenapa lagi sih, nenek mohon Rey jika kamu marah, jangan kamu sakiti diri mu lagi. Katakan sama nenek ada masalah apa?"
" Sudah lah nek Rey mau istirahat, lebih baik nenek keluar dari kamar Rey, Rey enggak kenapa-napa." Rey berbaring membelakangi nenek sehingga nenek pun keluar dari kamarnya.
" Apa sebenarnya yang terjadi pada ku, kenapa aku tidak suka dan menjadi semarah ini melihat Zahra dekat dengan Very. ya Tuhan kenapa Zahra selalu saja memenuhi pikiran ku. Jika begini terus gadis itu akan membuatku gila." grutu Rey yang melihat langit langit kamarnya.
__ADS_1
Ia pun memejamkan matanya berusaha membuang Zahra jauh jauh dari pikirannya.