
Seminggu berlalu, hari ini Rey akan kembali kerumah Zahra. Waktu yang di berikan Papanya Zahra telah habis.
Ada rasa gugup, takut, cemas semua bercampur jadi satu di dalam hati Rey.
" Rey kamu da siap sayang. " Tanya nenek membuyarkan lamunan Rey.
" Su, su...sudah nek. " Jawab Rey gagu.
Nenek tersenyum menepuk lembut bahu Rey.
" Kenapa Rey? " Tanya Nenek.
" Tidak apa nek. Rey baik-baik saja kok. "Jawab Rey dengan raut wajah yang masih tegang.
" Rey, dari kecil sampai sekarang nenek belum pernah melihat cucu nenek dengan wajah setegang ini, apa kamu takut? " Tanya nenek lagi.
Rey menghela napas panjang. Rey gak pernah bisa menutupi apa yang dia rasakan pada nenek yang paling ia sayangi.
" Ya nek, Rey gugup,Rey merasa ini adalah ujian kehidupan Rey yang paling berat setelah Rey kehilangan Mama dan Papa. Rey sangat takut kalau Rey gak bisa membacakan surah Ar-Rahman dengan baik nantinya. Rey takut kalau Papanya Zahra akan menolak Dan malah akan menikahkan Zahra dengan pemuda pilihannya itu. " Raut wajah Rey yang tadi tegang seketika berubah sendu.
" Sayang, Rey harus yakin kalau Rey bisa. Rey udah berusaha keras untuk menghafal surah Ar-Rahman satu minggu ini. Nenek sangat yakin kalau Rey akan lulus ujian ini. Sekarang kita berangkat yuk, semoga aja gak macet biar kita gak telat. "
Rey merasa lebih legah mendengar semangat dari neneknya. Wanita yang sangat berjasa di dalam kehidupannya.
Di depan rumah, mobil yang akan mereka naiki sudah kurang lebih menunggu selama tiga puluh menit. kali ini mereka mengajak supir karena Rey masih ingin mengulang-ngulang hafalannya sehingga ia tidak mau terganggu jika dia harus membawa mobil sendiri tanpa supir.
" Saat hendak masuk ke dalam mobil tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggil Nek Retno dan Rey.
" Mbakyu, Rey tunggu. "
Nenek dan Rey menoleh kebelakang dimana sumber suara itu berasal.
Terlihat Nek gendis yang baru keluar dari mobilnya berlari kecil tergesa-gesa.
" Aku ikut mbakyu, hos....hos.... hos... " terdengar suara nafas nek Gendis ngos-ngosan karena berlari mendatangi Rey da Nek Retno.
" Masuk lah nek biar Rey duduk di depan. " kata Rey.
Nek Gendis tersenyum.
" Nenek duduk di depan aja ya, biar kamu bisa lebih santai di belakang. " Pinta nek Gendis yang kemudian masuk ke dalam mobil duduk di kursi depan samping sopir lalu di ikuti nek Retno dan Rey setelahnya di kursi bagian belakang.
__ADS_1
Mobil yang mereka naik mulai smart membelah jalan menuju tempat tujuan.
Di tengah perjalanan, merasa sudah cukup mengulang hafalan, Rey pun memulai pembicaraan agar mengurangi rasa gugup yang masih bersemayam di hati.
" Nek kenapa dulu Tante Kal menghilang, sebenarnya apa yang terjadi nek, antara mama dan Tante Kal. " Tanya Rey penasaran.
Nenek menarik nafas panjang kemudian nenek mulai menceritakan kisah masa lalu dimana Elyn dan Kal bertengkar karena salah faham.
" Berarti mama dan nenek berbohong selama ini pada Rey. " kesal Rey.
" Maafkan nenek Rey, mamamu dan nenek gak punya cara lain untuk menenangkan mu waktu itu yang selalu merengek minta bertemu dengan Kal, makanya kami mengarang cerita bohong bahwa Kal ketahuan mencuri perhiasan berharga Mamamu. Saat itu nenek tahu Rey gak sepenuhnya percaya dengan cerita nenek, tapi setidaknya setelah itu Kamu lebih tenang dan mulai melupakan Kalvita." jelas nenek.
" Rey memang gak pernah percaya kalau tante Kal mencuri. Mungkin itu juga sebabnya saat Rey kecelakaan, Rey masih mengingat semua hal tentang tante Kal hanya satu yang gak bisa Rey ingat yaitu wajah cantik alami tante Kal yang selalu bisa buat Rey dan orang di sekelilingnya merasa nyaman. " kata Rey matanya kini berkaca-kaca mengingat kenangan masa kecilnya.
" Dan sekarang kecantikan itu menurun pada Zahra, sehingga begitu banyaknya wanita yang mengejarmu cuma Zahra lah yang bisa buat cucu nenek yang tampan ini jatuh cinta. Bukan begitu kan mbakyu.? " sambar Nek gendis.
" Zahra berbeda dengan gadis lain nek. Bukan hanya cantik Zahra itu gadis sederhana, tampil apa adanya dan sangat baik. Yang nenek katakan tadi benar, sifat Zahra hampir semua sama seperti tante Kal.Tapi ada satu hal yang berbeda dari keduanya. "
" Apa? " Tanya nek Retno dan nek Gendis serentak. Keduanya terlihat kepo.
Rey tersenyum melihat kedua ekspresi neneknya itu.
" Kok ketawa sih Rey, jawab dong Rey nenekkan pingin tahu juga apa perbedan ibu dan anak itu. "
Nek Retno dan Nek Gendis tertawa.
" Iya nenek pernah lihat sendiri gimana Zahra memarahimu kan Rey. Cuma Zahra yang bisa buat kamu mengucapkan kata maaf. " Ledek Nek Retno lagi.
" Serius mbakyu." Tanya Gendis tak percaya. karena sampai sekarang ia tak pernah sekalipun mendengar Rey minta maaf walaupun dia bersalah.
Nek retno masih tertawa.
Nenek tahu, pertama kali Rey makan masakan mamanya Zahra. Rey merasa masakan itu sama seperti yang dibuat tante Kal. Ternyata tante Neha adalah tante Kal. Ini membuat Rey semakin takut nek. Rey bukan hanya takut kehilangan Zahra tapi juga takut berpisah lagi dengan tante Kal." wajah arey tertekuk sedih.
" Rey, kamu harus yakin, ini bukan kebetulan, tetapi semuanya sudah ditakdirkan Allah. setiap yang menjadi doa seorang ibu pasti akan di kabulkan Allah."
Mobil pun sampai di tempat tujuan.
" kita da sampai Rey, yuk kita turun. "
Ketiganya turun dari mobil dan menuju pintu masuk rumah Zahra yang sudah terbuka lebar.
__ADS_1
Di depan pintu, sudah ada Zahra dan Mama yang menyambut hangat.
Mama menyapa ramah kedua wanita paruh baya yang kini berada dihadapkannya lalu mempersiapkan ketiganya masuk kerumah.
Mereka semua duduk di ruang tamu.
" om Arman mana tan?" Tanya Rey, matanya menyapu setiap sudut rumah tetapi tak menemukan keberadaan Papanya Zahra.
" Papa Zahra ada di ruang kerjanya, dia dari tadi sudah menunggu kedatangan nak Rey. " mama mengembangkan senyum.
Rey semakin gugup mengetahui bahwa Papanya Zahra sudah menantinya itu berarti papa Zahra menunggu Rey menjalankan tantangan yang sudah disepakati.
" Zahra antarkan nak Rey ke ruang kerja Papa ya. " Pinta Mama masih mengembangkan senyum.
Zahra mengangguk.
" Ayuk pak.! " Ajak Zahra.
Sebelum berdiri Rey menatap nek Retno dan nek Gendis bergantian. Kedua neneknya itu memberi semangat tanpa mengeluarkan kata hanya dengan ekspresi wajah.
Rey berjalan mengikuti langkah kaki Zahra.
" Ini ruang kerja Papa pak. Sebentarya Zahra mau pastikan di dalam ada papa atau tidak." Zahra membuka pintu, dari depan pintu Zahra sudah melihat Papanya duduk di depan meja kerjanya. Dalam waktu bersamaan papa yang mendengar deretan pintu terbuka menatap ke depan pintu. Papa dan Zahra saling berhadapan.
" Pa, pak Rey sudah datang. " Kata Zahra memberitahu.
" Suruh dia masuk. " jawab papa melanjutkan aktivitasnya membaca.
Zahra berjalan lagi mendekati Rey.
" Papa nyuruh pak Rey masuk.
" Zahra memberikan isyarat mata menunjuk ke pintu ruang kerja Papa.
" Kamu ikut masuk kan Ra?, " Tanya Rey yang sebenarnya adalah kalimat permintaan agar Zahra juga ikut masuk.
" Papa memanggil pak Rey ke ruang kerja ini, itu berarti Papa hanya ingin berbincang berdua saja dengan pak Rey. Aku yakin Pak Rey pasti bisa membacakan surah Ar-Rahman dengan baik dan benar." Zahra menyunggingkan senyum. Sebenarnya di dalam hati Zahra tak tenang, takut kalau Rey akan gagal menjalankan tantangan yang di berikan Papanya.
" Doa kan aku ya Ra, agar mendapatkan restu dari Papa mu Ra, "
Zahra hanya menjawab dengan senyuman manis yang seketika dapat menenangkan Hati Rey yang jauh lebih kacau tak menentu karena gugup dan juga takut.
__ADS_1
Melangkahkan kaki dengan mengucap Basmallah, Rey masuk ke ruangan kerja Papanya Zahra. Zahra menutup pintu ketika Rey sudah berada di dalam ruang kerja.