
"Garam akan terurai dan pasir akan mengikis, tapi kenangan itu bertahan selamanya dan Pantai memiliki cara tersendiri membuat kita merinduinya dan kembali kepadanya."
Zahra dan Rey berjalan menelusuri bibir pantai. Sesekali Zahra membiarkan kakinya diterjang ombak kecil yang datang.Rey memperhatikan Kelakuan Zahra yang seperti anak kecil berlari kegirangan, matanya tertuju pada kaki Zahra.
" Kenapa gak pakai kaus kaki?" tanya Rey melihat kaki putih Zahra yang basah terkena air laut.
" Kan mau main air makanya gak di pakai." jawab Zahra santai.
" Tapi itu aurat kalau dilihat sama laki-laki lain gimana?" Sewot Rey lagi dengan nada tak bersahabat.
" Kok mendadak pak Rey jadi peduli sama yang ku kenakan ya." batin Zahra mengerutkan keningnya sedikit.
" Kita duduk disini aja, disana Ramai." kata Rey lagi.
" Ya ke sana dong pak banyak lampunya disini gelap."
Suasana pantai cukup ramai karena ini hari minggu jadi banyak pengunjung villa yang masih berlibur apalagi besok hari senin tanggal merah menambah panjang masa libur bagi mereka yang mempunyai Villa di kawasan pantai ini.
Rey menghentikan langkahnya, duduk di atas pasir putih pantai, kakinya di biarkan menyentuh air laut. Dengan terpaksa Zahra ikut duduk di samping Rey padahal sebenarnya Zahra masih terus ingin berjalan menuju tempat yang lumayan Ramai dan terang karena banyak lampu dari para penjual stand makanan.
Rey mendungakkan kepala keatas langit melihat bintang-bintang bertaburan. Zahra juga mengikut Rey mendungak ke Atas.
" Wah bintangnya banyak banget pak, indah sekali ya tempat ini, pasti bapak sering kemari ya?" Zahra masih dengan ekspresi bahagianya menoleh ke arah Rey kemudian kembali melihat bintang-bintang.
" Dulu setiap hari libur kami sekeluarga sering kemari. Ini tempat pavorit mama, mama sangat senang ada disini begitu juga dengan Kyara dan aku. Jika kami di sini hampir setiap malam kami bermain di pantai ini berlarian. Setelah lelah bermain papa akan membelikan kami eskrim." Rey menceritakan kenangan indah bersama keluarga dengan mata masih menatap ke langit, sementara Zahra melihat Rey yang lagi berbicara.
" Kamu tahu Zahra, ternyata kebahagiaan itu tidak bertahan lama, Papaku selingkuh dengan wanita lain, cukup lama papa menutupinya dari mama. Akhirnya mama tahu kalau papa menikah lagi bahkan papa sudah memiliki anak dari selingkuhannya itu." Rey kini berbicara dengan menatap wajah Zahra.
" Mama begitu percaya sama papa tapi papa malah menghianati mama. Tepat di depan mataku papa dan mama berantam hebat malah papa membela selingkuhannya. Waktu itu aku masih kecil belum mengerti apapun aku hanya diam saja melihat pertengkaran mereka, akhirnya papa membawa mama dan aku pulang, di dalam mobil mereka masih bertengkar sampai akhirnya sebuah truk berada tepat di hadapan kami. kecelakaan itu merenggut nyawa papa dan mamaku Ra, " mata Rey berkaca-kaca meluaspkan duka yang sekian lama ia pendam.
" Mama adalah segalanya buat ku, tapi sekarang mama malah pergi jauh dariku." Rey menunduk, ada rasa sakit yang tersimpan di hati.
" Pak Rey, bapak harus ikhlas ini semua sudah di takdirkan Allah, tidak semestinya bapak larut dalam kesedihan. Mama pak Rey juga gak ingin bapak terus-terusan sedih, percayalah pak." Zahra mencoba menguatkan Rey.
" Aku rindu mama ku Ra, aku ingin memeluknya, aku sangat menyayanginya, aku tahu dia pasti merasakan sakit sekali saat tahu papa bersama wanita lain."
__ADS_1
" Jika bapak Sayang pada almarhumah mama bapak. Pak Rey bisa meluapkannya lewat doa. Kini hanya doa anak yang sholeh yang di harapkan mama pak Rey."
" Kamu benar Ra, selama ini akau lupa mendoakannya, dulu aku marah sama Allah yang sudah tidak adil mengambil mama dari ku, sejak saat itu aku tak pernah mau menjalankan ibadah sholat dan yang lainnya tapi sekarang aku sadar bahwa selama ini aku salah, terimakasih Ra." Rey menatap lekat Zahra.
Zahra mengernyitkan dahinya. " Terimakasih untuk apa pak?" tanyanya bingung ia merasa tak berbuat apa-apa.
" Karena kamu udah mau mendengarkan dan menyadarkanku. Dari mu aku belajar bahwa ternyata hidup ini tak semuanya bisa terjadi sesuai keinginan kita. Kamu menunjukkan padaku bahwa aku jauh lebih beruntung dari pada anak- anak panti yang mereka sendiri terkadang tidak tahu siapa orang tuanya.
Zahra tersenyum." Sekarang bapak harus belajar untuk ikhlas menerima ketentuan yang digariskan Allah pada hidup bapak. Jangan larut dalam kesedihan masa lalu, di depan ada kebahagiaan yang menunggu bapak."
" Aku akan belajar untuk itu." Angguk Rey yakin.
" Satu lagi pak?"
" Apa?"
" Bapak juga harus belajar untuk tidak galak lagi." Sahut Zahra di selingi tawa kecil.
" Rey memandang tajam Zahra kemudian ikut tertawan dan menyipratkan air laut kewajah Zahra.
Pak Rey!" Zahra pun membalas kelakuan Rey, mereka berdua malah tertawa karena wajah dan baju mereka sudah hampir basah. Mereka terus saja saling membalas menyiram air, Rey mengelak ia berdiri dan berlari menghindari Zahra. Zahra gak mau kalah dia terus mengejar Rey akan tetapi Rey susah sekali di tangkapnya.
Zahra ngos-ngosan mengejar Rey, nafasnya terasa berat." Pak Rey udah dong aku capek ni hu, hu, hu, hu. " Zahra berhenti mengatur nafas. Rey masih tertawa melihat Zahra yang kelelahan.
" Pak Rey kita minum es disana aja yuk. " Ajak Zahra menunjuk sebuah stand eskrim di tempat yang lumayan ramai pengunjung Stannya.
" Kita pulang aja besok baru kita minum es.
" Ayolah pak aku maunya sekarang.
" Nggak kita pulang aja, disitu rame kamu gak pakai kaus kaki.
" Pak Rey." Zahra memanggil Rey yang sudah berjalan hendak pulang membelakangi Zahra
" Non kalau pacarnya gak mau nemeni makan eskrim, non sama kita- kita aja kita mau kok.." Ucap salah seorang pengunjung pantai yang lagi berkumpul dengan beberapa temannya yang ternyata sedari tadi memperhatikan Zahra da Rey.
__ADS_1
" Iya non sama kita aja, jangankan cuma ke warung es, ke hotel sekalipun kita mau kok nganterinya ya kan friend, hahaha..." sambung temannya yang lain, mereka kompak tertawa.
Rey berbalik melihat segerombolan anak muda itu, tangannya mengenpal ingin menghajar mereka tetapi dengan cepat Zahra menghalanginya. Zahra menggeleng "gak usah di ladeni pak, yuk kita pulang aja." ajak Zahra.
Rey menurut, mereka pun kembali hendak melangkah namun langkah kaski terhenti karena omongan salah satu pemuda tadi. "Brow kalau lo da bosan sama tu cewek bagi ke kita ya brow, kan sayang bening gitu."
" Iya men lihat aja kakinya, mulus bener deh gimana lagi yang tertutup itu pasti....hahaha..." Mereka tertawa ternahak- bahak.
Bug... satu pukulan mendarat ke pipi pria yang berkata tadi. spontan pria itu ingin membalas tapi dengan cepat Rey menangkis pukulannya dan memelintir tangan pemuda itu membuat nyali yang lainnya juga ciut tak berani membalas Rey.
" Jika kalian masih ingin hidup jangan coba-coba berani goda istri gua." ucap Rey dengan pandangan mematikan lalu melepaskan tangan pria tadi.
Zahra bengong tak percaya dengan yang di dengarnya barusan. kemudian Rey menggenggam tangan Zahra lalu mereka berjalan mengarah villa.
" Pak lepasin tangan saya pak saya bisa kok jalan sendiri, jangan di tarik gini seperti anak kecil aja." Pinta Zahra setelah agak jauh berjalan meninggalkan gerombolan pemuda tadi, tapi Rey tak menghiraukan permintaan Zahra sama sekali.
" Pak Rey, lepasi pak."
" Jangan berisik, kalau begini gak ada yang bakalan berani godain kamu lagi." Rey sama sekali tak melihat Zahra dia fokus berjalan ke depan sambil tangannya masih menggenggam erat Zahra.
Zahra berjalan mengikuti langkah Rey pandangannya menatap Rey dengan lekat." Ya Allah kenapa jantungku berdebar kencang. Genggaman tangannya begitu kuat seolah-olah dia tak ingin melepaskanku. Ini pertama kalinya aku berjalan digandeng lelaki lain selain papa, bang Arga dan bang Arya. Ya Allah bantu aku mengatur nafasku sepertinya aku udah hampir kehabisan oksigen. Pak Rey jika kau seperti ini maka aku akan sulit berpisah denganmu." Batin Zahra terus menatap Rey.
" Jika kamu sudah puas menatapku lihatlah ke depan, aku gak akan menolongmu jika kamu terjatuh." Rey tahu Zahra melihati dirinya.
lamunan Zahra buyar karena perkataan Rey Zahra menghempaskan tangannya kuat agar terlepas dari genggaman tangan Rey.
" Aku bisa jalan sendiri." Zahra berlari meninggalkan Rey dengan wajah yang memerah merasa malu ketahuan memandangi Rey.
Rey tersenyum melihat tingkah Zahra yang sangat menggemaskan, walau Rey tak tahu pa yang sedang dipikirkan Zahra tapi Rey cukup senang mengetahui bahwa Zahra menatapnya penuh makna.
💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟
__ADS_1
Salam manis dari Author 😘😘👍👍