
Mama mendekati Papa yang duduk bersandar di ranjang. Melihat suaminya yang terduduk lemas Mama keluar menuju dapur untuk mengambilkan minum. Tak lama kemudian Mama sudah kembali ke kamar dengan segelas air di tangannya.
" Minumlah dulu obatnya Pa, Papa belum minum obat siang ini kan?" Mama menyodorkan air beserta obat ke depan Papa.
Papa pun menerima lalu meminum obat pemberian Mama.
" Ma tolong ambilkan HP Papa di rak Tv. " Pinta Papa.
Mama berdiri untuk mengambil HP Papa di ruang keluarga lalu segera memberikan pada Papa.
Pak Arman memencet tombol kontak sepertinya ia ingin menelepon seseorang.
" Papa mau nelepon siapa? " tanya Mama.
" Ustadz Abdul, Papa mau kabari kalau Pernikahan Zahra dan Salim harus segera kita laksanakan sebelum Salim kembali ke Turki. " Jelas Papa.
" Pa, kenapa harus tergesa-gesa. Allah melarang kita bersifat tergesa-gesa karena itu adalah salah satu bagian dari sifat syaitan. " Mama mengingatkan pada Papa.
" Kita udah membicarakan perjodohan antara Zahra dan Salim jauh sebelum ini, jadi gak ada yang tergesa-gesa, semua sudah kita rencanakan dengan Ustadz Abdul. Hanya saja keadaan sekarang yang mengharuskan kita untuk mempercepatnya. Bukankah pernikahan itu memang lebih baik di segerakan. " Sargah Papa.
" Tapi Pa, tadi Zahra sendiri kan yang bilang dia tidak mau menikah secepat ini. Zahra belum siap Pa. "
" Zahra sudah dewasa, sudah saatnya Zahra menikah. Sekarang atau nanti kapanpun itu waktunya Zahra harus siap. "
" Pernikahan sekali untuk seumur hidup, Zahra akan menjalani kehidupan baru bersama suaminya. Mama rasa kita harus mendengarkan pendapatnya juga karna Zahra yang akan menjalaninya bukan kita Pa. "
" Keputusan ini adalah yang terbaik buat Zahra. Salim itu punya segala hal yang di impikan banyak Wanita, dia tampan, cerdas, soleh, mapan. Zahra pasti akan bahagia hidup bersamanya. "
" Tapi mama merasa kalau Zahra tidak mencintai Salim. Mama melihat itu di mata Zahra." ucap Mama meyakinkan.
" Cinta itu akan datang dengan sendirinya bila mereka nanti sudah menikah. Papa rasa tak sulit untuk mencintai lelaki Soleh seperti Salim. Salim itu mencintai Zahra ma, Pasti Zahra juga nantinya akan mencintai Salim. " kekeh Papa.
" Tidak semudah itu Pa, disaat dalam hati sudah ada seseorang maka akan sulit untuk melupakan dan menggantikannya dengan orang lain. " jawab mama tegas.
" Apa maksud Mama? " Papa mengerutkan dahi.
" Nak Rey tadi mengatakan bahwa dia mencintai Zahra. Mama juga merasa bahwa Zahra juga mencintai Rey. mama melihat ketulusan itu di mata mereka berdua. "
" Mama jangan ngaco, Papa gak mungkin menyerahkan putri Papa pada anak kota yang gak jelas asal usulnya. Zahra adalah putri Papa jadi Papa berhak menentukan dengan siapa dia menikah. Papa yang berhak memutuskannya. " tegas Papa.
" Zahra juga putri Mama Pa, jadi Mama juga punya hak untuk memastikan dia bahagia. " Sela Mama.
" Oh jadi Mama sekarang mau bantah keputusan Papa hanya karena anak kota yang gak jelas itu, ya? " pandangan Papa nanat menatap Mama.
" Mama sama sekali tidak ingin menentang Papa, Mama hanya mengatakan yang mama lihat. Seorang ibu bisa tahu apa yang diinginkan anak-anaknya walaupun mereka tidak mengatakan langsung keinginan itu."
" Jadi maksud Mama Papa akan membuat Zahra menderita begitu. "
" Bukan begitu Pa. "
__ADS_1
" Papa juga ingin Zahra bahagia. Salim itu punya semua kriteria seorang suami idaman. tidak seperti anak kota itu. Cinta saja tak cukup untuk membina rumah tangga yang sakinah. Apakah dia tahu cara menjadi imam yang benar? baik itu imam saat sholat maupun iman dalam keluarga. Mama juga harus pikirkan tentang itu. " sarkas Papa.
" Kenapa Papa gak cari tahu sendiri. jangan karena Rey anak kota Papa bisa menyimpulkan seolah-olah Rey tidak mengerti apapun tentang agama dan Salim jauh lebih baik darinya. Masih ada waktu untuk menyelidiki asal usul keluarga Rey Pa, dan Papa juga bisa beri Rey tantangan dengan begitu kita tahu seberapa besar perjuangannya untuk bisa menikah dengan Zahra setidaknya kita kasih kesempatan untuk Rey, jika dia gagal Papa bisa nikahlah Zahra dengan Salim, Mama tidak akan melarang Papa. " pinta mama masih dengan suara lembut menenangkan.
" Tapi Salim juga sangat mencintai Zahra. Ini tidak adil buatnya karena Salim yang deluan mengungkapkan keinginan untuk menikahi Zahra. Papa juga gak enak sama Ustadz Abdul kalau ternyata kita malah menikahkan Zahra dengan orang lain saat dia juga sudah mengutarakan maksud kedatangannya kemaren. " suara Papa melemah ada beban yang sedang di pikirkannya.
" Kalau begitu uji saja mereka berdua. kita akan tahu siapa yang tepat untuk Putri kita. dan kita juga harus libatkan keputusan Zahra, siapa yang Zahra pilih antara Salim dan Rey. Adilkan Pa." mama memberi solusi.
Di tempat lain diwaktu yang bersamaan Rey mencari keberadaan Zahra. Beberapa kali Rey menghubungi Zahra tetapi Zahra tidak mengangkat panggilan Rey.
Rey menghidupkan aplikasi GPRS untuk menghubungkan ke ponsel Zahra agar mendapat lokasi di mana Zahra sekarang berada.
Rey melajukan mobil menuju tempat yang terdeteksi dari GPRS. Berselang Lima menit Rey pun sampai. Zahra berada di sebuah taman, duduk sendiri di kursi panjang, sesekali Zahra menyeka airmata yang jatuh di pipinya.
" Aku gak pernah menyangka wanita galak yang hobinya berdebat ini ternyata juga sangat hobi menangis ya. " Ucap Rey yang sudah duduk di samping Zahra.
Zahra langsung mengusap kasar airmata yang masih ada di pipi lalu menatap Rey.
" Pak Rey jangan katakan itu lagi karena aku akan menikah dengan lelaki pilihan papa minggu yang akan datang. " sambung Zahra memalingkan wajah.
" Kenapa tak boleh? kamu memang istriku dan tidak mungkin seorang istri bisa menikah lagi dengan lelaki lain. " Rey memberi nada penekanan pada kata lelaki lain
" Kalau begitu segera ceraikan aku. " Ucap Zahra tidak melihat Rey.
" tapi sayangnya aku gak akan pernah melepaskannya Ra, itu berarti kamu gak bisa menikah dengan lelaki manapun. karena kamu udah punya suami. "
" tapi pak, wahyu kita gak mungkin seperti ini terus. pak Rey lihatkan tadi papa sangat marah. Papa gak menyetujui hubungan kita. dan papa gak akan mungkin merubah keputusannya aku tahu benar bagaimana papa. " Zahra kembali menangis.
" enggak pak, kagak boleh bilang apapun tentangnpernikahan kita ini. bapak lihat kan papa lagi gak sehat. kata dokter jantungvpapa beradalah. aku tak mau kalau ini nanti malah mbuat keadaan papa memburuk. " tolak Zahra.
" tapi Ra, kita gak punya cara lain. "
masih ada satu cara pak. "
" apa? " tanya Rey.
" Pak Rey harus menceraikan ku dan aku akan menikah dengan pilihan Papa. "
" Zahra kenapa kamu menyerah kita masih bisa pikirkan cara lain. kita harus penjuangkan cinta kita jika kamu tidak mau setidaknya izinkan aku memperjuangkanmu untuk tetap menjadi pendamping hidupku Ra. " Rey menatap lekat mata Zahra yang berkaca-kaca.
" Aku takut pak. Aku takut jika terjadi sesuatu hal buruk pada Papa. Aku sangat menyayangi Papa aku gak mau membuat papa sedihdan kecewa. " Hati Zahra kini sangat kalut. Zahra benar-benar takut sekarang. Disatu sisi Zahra tak ingin Papanya bersedih disisi lain Zahra juga ingin tetap bersama Rey, lelaki yang kini menjadi suaminya tetapi tidak ada satupun dari keluarga Zahra yang mengetahui tentang hal itu.
Drrrt....... drrrt....drrrrt......
Ponsel Zahra bergetar. Zahra melihat satu panggilan dari Papa tetapi dibiarkan saja oleh Zahra sampai panggilan itu mati.
Drrrt....... drrrt....drrrrt......
Ponsel kembali bergetar tetapi Zahra tetap tak mengangkatnya.
__ADS_1
" Kenapa gak diangkat? " Tanya Rey lembut.
" Dari Papa paling juga Papa mau bilang kalau dia udah ngubungi Ustadz Abdul tentang rencana pernikahan yang dibilang Papa tadi. " Tebak Zahra.
Rey tersenyum tipis. " Tidak baik mengabaikan orangtua, jawablah Mungkin Papa ingin menyampaikan hal penting." Ucap Rey bijak.
Akhirnya Zahra menjawab panggilan masuk dari papa.
" Assalamualaikum." Ucap Zahra dari telepon.
" Waalaikumsalam, Zahra kamu di mana sayang? " tanya Mama khawatir. Mama menelpon dari ponsel Papa.
" Zahra lagi di taman ma. "
" Apa Zahra bersama Rey?. " Tanya mama lagi.
Zahra menoleh ke arah Rey dengan begitu mereka saling bertatapan.
" Iya. " Jawab Zahra singkat.
" Kalau begitu Zahra Ajak Nak Rey kerumah kita ada yang ingin dikatakan Papa padanya. "
" Apa yang mau di katakan papa ma? " Tanya Zahra penasaran.
" Mama juga gak tahu pasti, kalian cepatlah pulang. ingat bawa ke rumah aja jangan ke toko. Mama dan Papa juga udah mau pulang ni.
" Baiklah Ma. Assalamualaikum."
" Waalaikumsalam." Mama memutuskan panggilan.
" Ada apa? " Tanya Rey.
" Mama nyuruh kita pulanh ke rumah. kata Mama Papa ingin bicara sesuatu sama Pak Rey.
Rey tersenyum kembali.
" Kalau gitu kita pergi sekarang yuk!. " Ajak Rey yang dijawab dengan anggukan oleh Zahra. mereka berdua berjalan menuju tempat mobil diparkir.
.
.
Di toko, Pak Arman dan Ibu Neha berjalan keluar ruangan hendak pulang ke rumah.
" Sesil, tante sama om pulang dulu nanti kamu pastikan semuanya di kunci, ntar hitungannya dirumah aja ya." Perintah Mama Zahra pada Sesil.
" Iya, tante. Om kenapa tante kok kayaknya gak sehat gitu. " Tanya Sesil kepo.
" Om mu memang dari semalam kurang sehat makanya kita pulang cepat biar banyak istirahat." Jawab Mama lagi tegas, agar Sesil gak banyak tanya. Mama sengaja pulang karena Mama tak ingin Sesil tahu tentang masalah yang terjadi mengenai putrinya Zahra. Mama gak mau jika keluarga belah suaminya itu ikut campur yang nantinya malah akan membuat keadaan semakin runyam.
__ADS_1
Mama dan Papa meninggalkan toko menuju rumah mereka.
" Aneh gak biasa-biasanya pulang cepat. pasti ada yang gak beres nih? tadi aku juga dengar suara ribut-ribut dari dalam. Aku harus cari tahu sebenarnya apa yang terjadi. Kok tiba-tiba Zahra pulang malah bersama Reza pula. Wah Mama harus tahu ni. " Sesil mengirimkan pesan dan Foto Kedatangan Zahra dan Reza yang tadi sempat dia ambil diam-diam. Tentu saja pesan Wa itu dikirimkan ke Mamanya, kakak dari Papanya Zahra.