Jodoh Terbaik Pilihan Tuhan

Jodoh Terbaik Pilihan Tuhan
Part 22


__ADS_3

Dalam waktu kurang 10 menit Rey sudah memberentikan mobilnya di sebuah parkiran Rumah Makan. Di depannya terpampang besar tulisan Rumah Makan Wong Deso.


Zahra melihat ke sekitar, ia terpesona melihat Rumah Makan yang berada di tengah kota namun berkonsep pedesaan, segar dan menyejukkan karena banyak tanaman hijau.


" Ayo turun!. " Ajak Rey dengan nada dingin.


" Pak mau apa kita kemari?. " Tanya Zahra.


" Kamu bisa baca kan tulisan di atas?. " Rey mengarahkan pandangannya ke arah plang Rumah makan itu.


Zahra mengangguk mengiyakan.


" Tapi pak kita kok kemari, apa ada meeting sepagi ini di sini?." Tanya Zahra masih tak mengerti.


" Zahra, ini tempat apa?. " Tanya Rey mulai kesal.


" Tempat makan?. " Jawab Zahra.


" Jadi kalau orang-orang ke mari biasanya mau ngapain?".


" Makan. " Jawab Zahra lagi.


" Ya udah cepatan turun. " nada bicara Rey sudah semakin tinggi.


" Tapi pak a..... "


" Denger ya Zahra, aku gak mau kalau perusahaan ku jadi viral gara-gara ada karyawan nya yang mati kelaparan mengerti kamu? " Rey memotong ucapan Zahra dan turun dari mobilnya.


Sementara Zahra masih duduk.


" Berarti dia kemari mau ngajak aku sarapan? gak nyangka bos galak itu bisa perhatian juga sama karyawannya." Zahra tersenyum sendirian.


tok.... tok... tok....


Kaca pintu mobil di ketuk Rey. terlihat wajah Rey yang memerah karena marah menunggu Zahra yang tak keluar juga. Zahra pun segera membuka pintu mobil dan keluar.


Rey berjalan memasuki Rumah makan dan disambut hangat oleh dua orang pelayan yang sepertinya sudah mengenal Rey dengan baik.


" Selamat pagi bapak, tempat yang bapak pesan sudah kami sediakan silahkan pak!" ucap salah satu pelayan dengan senyuman yang mengembang di bibirnya.


" Terimakasih. " Rey berjalan menuju tempat yang sudah di sediakan pihak RM.


Zahra mengikuti Rey dari belakang. semakin masuk ke dalam, mata Zahra semakin dimanjakan dengan pesona pemandangan di sekitarnya, banyak tanaman hidroponik dan terdapat beberapa kolam kolam ikan.


" Wah indah banget ya pak tempatnya, dingin lagi banyak anginnya serasa di pegunungan." Zahra merentangkan tangannya menghirup udara segar yang susah sekali di dapatkan di tengah kota yang udaranya penat dan sesak penuh polusi.


Rey geleng kepala melihat kelakuan Zahra yang seperti anak-anak. langkah kakinya terhenti.


" Hei gadis ceroboh, kamu mau sarapan apa mau makan angin ha? ." Tanya Rey sehingga membuat Zahra menurunkan tangannya.


Rey melanjutkan jalannya.


" Gitu aja gak boleh, galak amat sih jadi orang ." Grutu Zahra sambil mengikuti langkah kaki Rey.

__ADS_1


Rey berjalan menuju Gazebo di tengah kolam-kolam ikan yang jalannya di hubungkan dengan jembatan kayu.


Di depan Gazebo Rey melepas sepatu dan kaos kakinya, duduk di lantai kramik beralas busa duduk yang mana kakinya menyentuh air yang di isi dengan ikan Garra Rufa ( ikan terapi).


Zahra pun ikut melepas sepatu dan kaos kakinya tetapi iya malah memilih duduk bersila di samping kanan depan Rey, ia tidak memasukkan kakinya ke dalam air.


" Kenapa kamu takut?. " Tanya Rey.


" Tidak pak, cuma geli saja lihat ikan-ikannya."


" Ini tidak berbahaya malah bagus untuk kesehatan. Cepat masukkan kaki kamu. "


Zahra menggeleng.


" Dasar penakut. " Ujar Rey.


Mendengar itu Zahra tidak senang.


" Siapa yang takut aku berani kok lihat ini." Dengan perlahan Zahra menurunkan kaki nya masuk ke dalam air. Ikan-ikan itu pun segera menggigiti kaki Zahra mengisap sel sel mati di kulit.


Zahra yang tak pernah, merasa aneh spontan iya menaikkan kakinya. Rey yang melihat itu menjadi tertawa. Akhirnya Zahra menurunkan kembali kakinya dengan perlahan kali ini ia sudah bisa mengikhlaskan kakinya di serbu oleh ikan-ikan kecil itu.


Pelayan membawa makanan dan menghidangkan di meja mereka.


" Silahkan pak! selamat menikmati. " ucap pelayan lalu pergi meninggalkan mereka.


Zahra yang dari tadi menahan lapar langsung menelan air liurnya melihat begitu banyaknya makanan yang di sajikan. Menu tradisional Indonesia. Nasi gurih, Ikan bakar, Ayam bakar, Sambal kecap, Pepes tahu kemangi, Sambal teri dan lalapan sayur serta dua gelas jus jeruk hangat dan dua gelas air putih. Mereka berdua pun menyantap hidangan yang sudah tersedia.


" Terimakasih ya pak atas makanannya pagi ini." Zahra memulai percakapan di antara mereka sambil memasukkan makanan ke mulutnya.


" Terserah bapak deh mau bilang apa yang penting sekarang gua bisa makan. " Zahra tersenyum terus mengunyah makanan.


" Kamu ini lapar apa doyan sih?. " Tanya Rey melihat Zahra makan dengan lahap.


" Dua dua nya pak, mumpung gratis, " Zahra melihat Rey dengan tersenyum lalu kembali memasukkan makanan ke mulutnya.


Rey hanya geleng kepala melihat Zahra sambil makan juga.


Kini mereka makan tanpa bersuara lagi. Zahra sangat menikmati sarapannya sedangkan Rey makan dengan sesekali melihat ke arah Zahra. Di tengah asyiknya menyantap makanan Zahra bertanya pada Rey.


" Bapak sering ya kemari?. "


" Tidak juga, saya kemari kalau lagi emosi saja. " Jawab Rey.


" Uhuk.. uhuk... " Zahra tersedak mendengar jawaban Rey.


" Ini minum, makanya kamu tu makan pelan pelan, " Rey memberikan segelas air putih pada Zahra. Zahra mengambil lalu meminumnya.


" Apa bapak sekarang lagi marah,? tanya Zahra lagi menatap Rey lalu meneruskan makanannya.


" Tadi sih iya tapi sekarang saya malah kepengen lihat kamu kena serangan jantung."


" Uhuk.... uhuk.... Zahra kembali tersedak mendengar ucapan Rey, Ia mengerti maksud Rey menyindir Zahra karena gibah nya tadi.

__ADS_1


" Kamu gak papa Zahra?? ni minum lagi." Rey memberikan air pada Zahra untuk kedua kali nya.


Zahra kembali meminumnya.


" Pak saya tadi cuma bercanda, anggap aja bapak gak dengar ya!." Zahra sedikit mengembangkan senyumnya.


" Tapi kali ini saya serius, biar kamu tu jangan sembarangan ngomong lagi. "


" Aku ni masih muda pak, lebih baik bapak cari aja yang tuanya sama dengan bapak, atau yang emang udah penyakitan yang biar makin cepat proses mati nya pak."


mendengar ucapan polos Zahra, Rey bukannya marah malah tertawa. baru kali ini Zahra melihat Rey tertawa.


" Gitu dong pak, sering-sering tertawa, kan bapak kelihatan gantengnya."


Rey memang lelaki yang sangat tampan, postur badannya yang tinggi dan kekar, ditambah dengan kulitnya yang putih bersih, Bola mata yang coklat gelap serta hidungnya yang mancung dan bibirnya yang tipis membuat dirinya itu sangat terlihat perfect. Semua gadis yang melihatnya akan tergila-gila dengan ketampanannya. Tapi sayangnya hampir tak pernah Rey tersenyum apalagi tertawa. Sikapnya terlalu dingin dan cuek, walaupun begitu Dia tetap idolanya para wanita.


" Oh.... kamu baru sadar ya kalau saya ini ganteng?. " Rey kembali memasang wajah dinginnya.


" Idih pede amat sih, " Zahra memajukan bibir bawanya.


" Bukan pede, ini Fakta. Jangan-jangan bener kata teman kamu kalau kamu ini gak normal? aku ingin tahu?." Rey mendekatkan dirinya ke Zahra.


Zahra terkejut langsung mengangkat garpu dan mengarahkannya ke hadapan Rey.


" Jangan macam macam pak." Wajah Zahra pun terlihat sangat panik, dua bola mata itu beradu sangat dekat.


Rey yang memperhatikan ekspresi wajah Zahra dari dekat membuatnya tidak tahan ingin tertawa.


" Hahaha..... " Tawanya pun pecah munyudahi kedua mata yang bertemu. Zahra bernapas lega, meski detak jantungnya masih tak beraturan walau Rey sudah menjauhi dirinya.


" Kamu ini lucu juga ya. " Rey masih tertawa.


" Terus aja tertawa, biar wajah bapak itu gak ketat lagi kayak pakaian baru. Zahra mengerucutkan bibirnya karena kesal dikerjai Rey.


Rey masih tertawa kecil mengingat ekspresi Zahra. sedangkan Zahra melihat ke bawa.


" Pak ikan-ikannya tadi kemana kok gak ada.gak masuk kedalam kaki kan pak?. " Tanya nya heran melihat tak ada satupun lagi ikan di bawah tempat mereka duduk.


" Ikan itu hanya 15 menit saja setelahnya akan kembali ditarik masuk ke tempat nya. " jawab Rey masih tersenyum merasa lucuh dengan tingkah Zahra yang sangat polos.


" Oh... " Zahra mengangguk.


" Sudah selesai makannya?." Tanya Rey lembut.


Zahra kembali mengangguk.


" Yuk kita kembali ke kantor. " Ajak Rey.


Mereka berjalan keluar, Rey memberikan sebuah kartu pada penjaga kasir, kemudian berjalan ke parkiran, masuk ke dalam mobil dan kembali ke kantor.


 


 

__ADS_1


💟💟💟💟💟💟💟💟💟


Jangan lupa like, komen dan vote nya ya Readers 🙏🙏😘😘


__ADS_2