
............................................................
Maafkan Author yang lama up cerita ini, dikarenakan tiba-tiba author menjadi malas nulis, ada rasa hendak memberhentikannya saja sampai di sini, ini karya pertama author awalnya cuma iseng iseng nulis gak tahunya udah lumayan banyak juga episode nya. ternyata menulis itu butuh semangat yang tinggi dan hati yang senang serta adanya dukungan. Salut author buat penulis yang satu hari bisa up beberapa episode mereka luar biasa. Sepertinya author belum bisa ngikut jejak mereka karena semangat author masih hilang2 timbul. jika banyak dukungan, itu membuat author jadi semangat. Terimakasih buat yang udah dukung author karena kalian pulalah author sekarang masih lanjut meneruskan cerita ini.🙏🙏🙏
Agar bacanya lebih seru dan nyambung author sarankan baca part sebelumnya ya dan jangan lupa kasih vote lagi tapi jika berkenan kalau gak juga gak apa, mungkin belum rezekinya author 😊
HAPPY READING...
.................................................................
Zahra dan Rey sudah selesai melaksanakan shalat Magrib. Rey terlebih dahulu selesai, Ia menunggu Zahra seraya duduk di bangku panjang depan Mushalah Hotel.
Zahra yang baru keluar dari Mushalah menghampiri Rey dan duduk di sampingnya.
" Terimakasih ya pak, bapak telah menyelamatkan ku hari ini." Ucap Zahra, melihat sekilas ke Rey lalu pandangannya kembali ke depan.
Rey memandang Zahra yang duduk di sampingnya.
Zahra menoleh ke Rey lagi. " Kita kembali ke sana yuk pak." Ajak Zahra.
" Kamu yakin? kamu gak kenapa-napa kan ?" tanya Rey sangat lembut menunjukkan perhatiannya.
Zahra mengembangkan senyumnya.
"Ini pertama kali aku ikut acara ulangtahun Perusahaan Ardana Grup, aku ingin melihatnya pak. Tapi pak, nanti kita duduk aja gak usah ikut dansa segala ya." Cicit Zahra dengan wajah sumringah seperti anak kecil yang ingin melihat wahana bermain.
" Baiklah, yuk kita kesana sekarang." Ajak Rey.
***
MC melihat Rey dan gadis cantik bergaun Navy yaitu Zahra, kembali berkumpul bersama mereka. Pria yang menjadi MC adalah Karyawan hotel's, dia masih takut karena tadi saat Zahra berjalan ke pinggir gedung yang berbatasan pagar pendek, dia tidak memberi aba-aba pada Zahra untuk berhenti malah diam saja. MC itu mengakui kesalahannya, bersyukur Zahra diselamatkan Rey jika tidak mungkin Zahra akan celaka dan sudah bisa dipastikan pria itu akan kehilangan pekerjaannya.
Rey dan Zahra sudah berkumpul bersama karyawan lainnya.
" Kami ucapkan terimakasih kepada bapak Rayhan yang sudi kiranya mau kembali berkumpul bersama kita. Nona Zahra, saya pribadi mohon maaf karena saya teledor saya tadi memperhatikan yang lain sehingga saya tidak melihat nona mau terjatuh dan tidak memberi aba-aba untuk berhenti. Sekali lagi saya mohon maaf Nona." Ucap MC tulus masih dengan menggunakan Mic nya. sang MC tahu nama Zahra dari Lany.
__ADS_1
Zahra mengangguk tanda sudah memafkan yang disertain senyum manis Membuat Rey menjadi semakin kagum dengan kebaikan hati yang dimiki Zahra.
" Baiklah karena semuanya sudah menemukan pasangan dansa masing-masing kita akan mulai saja lomba kita malam hari ini. Walau sebagian sudah tahu bagaimana cara bermainnya tapi gak ada salahnya jika saya ingatkan kembali peraturan lomba dansa kita. Di depan anda semua sudah ada kertas untuk tempat kalian berdansa dan jika ada yang keluar dari kotak maka dia akan kalah dan tidak bisa lanjut ke babak berikutnya. Di setiap babak kertas akan dilipat semakin kecil yang bertahan sampai akhir dia lah pemenangnya. Sekarang silahkan berdansa di tempat yang sudah disediakan di depan kalian." kata MC menjelaskan panjang Lebar.
Semua pasangan berjalan menuju kertas mereka dan berdiri di atasnya.
Rey menghulurkan tangan mengajak Zahra berdansa. Zahra yang tadinya melihat kedepan lalu menoleh Rey.
" Pak kita gak usah ikut ya pak." Pinta Zahra.
" Kenapa, aku adalah suamimu ku rasa Allah gak akan marah jika aku menari dengan istriku sendiri."
Detak jantung Zahra bergemuruh,dia juga merasa gugup tak tahu bagaimana harus menolak Rey, apalagi Zahra memang tak pernah berdansa sama sekali. " Tapi Pak aku gak bisa dansa."
" Aku ada disini dan gak akan ku biarkan kamu terjatu Ra, Ayo!" ajak Rey mengedipkan kedua matanya tanda mengajak Zahra.
Akhirnya Zahra memegang uluran tangan Rey mereka berjalan menuju kertas mereka dan berdiri di atasnya. Zahra melepas tangannya dari Rey.
" Musik " kata MC, musik romantis pun di nyalakan semua pasangan mulai menari mengikuti irama musik begitu juga dengan Rey dan Zahra. Dibabak pertama kertas sebagai alas masih sangat besar ukurannya, jadi masih aman untuk menari tanpa pegangan tangan.
Rey menatap wajah Zahra sementara Zahra sendiri malah melihat kearah kanan dan kiri tidak memperhatikan Rey yang menatapnya sangat dalam penuh makna. Verry yang berdansa dengan Sasa juga memperhatikan Zahra. begitu juga dengan Lany.
" Babak pertama sudah berakhir. belum ada satupun yang keluar dari permainan ini, sekarang kita akan memasuki babak selanjutnya silahkan lipat kertas kalian." perintah MC dengan sangat semangat.
Para pria melipat dua kertas mereka begitu juga dengan Rey, dengan begitu kertas semakin kecil.
Semua pasangan mulai kembali berdansa. Rey dan Zahra juga berdiri di kertas mereka yang sudah dilipat. tapi masih bisa berdansa tanpa pegangan tangan.
Rey semakin lekat menatap wajah cantik Zahra,mengagumi betapa sempurnanya Allah menciptakan gadis di depannya itu. Dan Zahra malah melihat rekan-rekan yang lain mereka semua berdansa dengan berpegangan tangan, bahkan sudah ada yang berpelukan saling merangkul.
Musik kembali berhenti masih belum ada yang keluar di babak kedua, MC langsung memberikan pengarahan untuk lanjut ke babak berikutnya, kertas kembali di lipat.
Semua sudah mulai menari Zahra masih berdiri di tempatnya melihat kertas yang semakin kecil. Zahra semakin gugup, detak jantungnya sudah semakin kencang tak beraturan.
Rey memegang tangan Zahra dan menbawanya berada di atas kertas. Tangan Zahra diletakkan Rey di pundaknya. dan Rey memegang punggung Zahra. Zahra terkejut dengan yang dilakukan Rey sehingga Zahra juga menatap Rey, mereka saling bertatapan lalu mulai berdansa mengikuti irama musik. Tanpa berbicara, keduanya hanyut pada pikiran masding-masing sampai sampai tak sadar musik berhenti. Terdengar suara MC barulah Rey dan Zahra tersadar bahwa babak ke tiga juga sudah selesai.
Banyak yang sudah gugur di babak ini. Hanya meninggalkan beberapa pasangan saja.
Baiklah kali ini finalnya lipatan kertas terakhir karena setelah ini sudah di pastikan kertas tak mungkin bisa di lipat lagi. Jadi yang bertahan dialah pemenangnya.
__ADS_1
Peserta dansa yang tersisa melipat dua kembali kertas mereka. Kemudian berdiri diatasnya.
Kini sudah tidak ada jarak antara Rey dan Zahra. Lipatan kertas sangat kecil. Kedua tangan Zahra kini berada di leher Rey sementara tangan Rey saling bertemu berada di punggung Zahra. Mereka terus berdansa mengikuti irama musik. Verry sesekali memperhatikan Zahra dan Rey. Ada kecemburuan di mata Verry melihat Rey dan Zahra sedekat itu padahal dia sendiri juga melakukan gaya dansa yang sama dengan Sasa seperti Zahra dan Rey.
Lany sedari tadi memperhatikan Zahra.
" Kenapa belum lepas juga sih, " Batin Lany melihat ke arah high heels yang di pakai Zahra.
Lany sudah merusak tumit sepatu Zahra dengan cara melonggarkannya saat Zahra melaksanakan ibadah sholat maghrib.Lanny sengaja melakukan itu agar Zahra terjatuh sehingga mereka akan kalah dan Rey yang sangat tidak suka dengan kekalahan pasti akan marah besar pada Zahra. Lany masih sangat berniat untuk mempermalukan Zahra di depan orang ramai.
Zahra sudah mulai merasakan keanehan pada kaki sebelah kirinya. Tumit sepatu yang dikenakan Zahra terasa tidak nyaman seperti akan terlepas.
Gerakan Zahra juga sudah tidak stabil. Rey juga merasakan keanehan pada gerakan yang dilakukan Zahra. sampai akhirnya.
Kletek...
Tumit sepatu Zahra patah sehingga tubuh Zahra oleng hendak terjatuh. Spontan Zahra mengeratkan pegangan di leher Rey, Zahra benar-benar memeluk Rey saat ini.
Rey mengerutkan dahi, di dalam hati Rey heran mengapa tiba-tiba Zahra memeluknya. Tapi Rey hanya diam saja dia gak ingin pertanyaannya membuat Zahra merasa tak nyaman atau malah marah.
" Maaf pak, tumit sepatu ku lepas aku gak ingin jatuh makanya aku.." bisik Zahra tak menyelesaikan perkataannya. Zahra malu ingin memgatakan makanya aku meluk bapak.
Rey tersenyum tipis, Rey merasa senang dengan yang dilakukan Zahra. tindakan yang sangat tepat. Jika seandainya Zahra tak memeluknya, Rey juga tidak akan membiarkan Zahra terjatuh Rey pasti yang membawa Zahra ke pelukannta tapi mungkin itu akan membuat Zahra marah. Malam ini Zahra yang memeluk Rey jadi sangat aman bagi Rey. Rey pun melanjutkan iringan kakinya yang juga diikuti dengan irama kaki Zahra.Rey semakin mengeratkan pelukannya membuat jantung Zahra serasa dangdutan walau musik yang diputar sebenarnya adalah musik slow yang romantis.
cukup lama mereka berdansa detak jantung mereka kini bersatu bersahut-sahutan sungguh sangan romantis, Aroma parfum yang dikenakan Zahra tercium jelas oleh Rey mmembuat Rey perlahan semakin mengeratkan pelukannya, seolah-olah Rey tidak ingin melepaskan Zahra. sampai saatnya Rey sadar saat musik berhenti dan terdengar suara dari MC.
" Selamat buat pak Rey dan nona Zahra kalian pemenang lomba dansa malam ini karena hanya tinggal kalian lah yang masih berada diatas kertas dansa."
Zahra melepaskan tangan dari Rey begitu juga dengan Rey. Zahra hampir terjatuh lagi tapi dengan cepat Rey menopang tubuh Zahra agar bisa berdiri tegak walau satu dari tumit sepatunya sudah lepas.
" Wah pak Rey ini pertama kali bapak ikut lomba dansa dan bapak malam ini jadi pemenangnya. Sekarang terimalah hadiah ini." pria berbaju hitam yang memandu acara itu memberikan tropi berbentuk sepasang kekasih yang berdansa kepada Rey, dan Rey memberikannya kepada Zahra.
Semua orang bertepuk tangan hanya Lany yang melihatnya dengan penuh amarah karena apa yang direncanakan gagal tak sesuai dengan yang terjadi.
Rey sepertinya kolega ARDANA Grup sudah datang, kita harus menyambut mereka." Ajak Verry.
Rey mengaguk. " Sasa kamu bawa Zahra duduk di sana." perintah Rey menunjuk ke sebuah meja tamu. " Ra, kamu duduk lah di sana, surulah Sasa mengambilkan makanan yang kamu inginkan, aku dan Verry akan menjumpai beberapa rekan perusahaan yang sudah hadir." lanjut Rey dengan nada sangan lembut dan penuh perhatian pada Zahra. Zahra pun mengangguk.
Sasa menuntun Zahra menuju meja tamu. Sepatu yang dikenakan Zahra, tumitnya lepas sebelah sehingga Zahra susah untuk berjalan jika tidak di tuntun.
__ADS_1
" Ra, kamu duduk di dini aja, biar aku ambil makanan dulu ya." Sasa kembali berjalan menuju stan makanan untuk mengambil makan malam mereka.