Jodoh Terbaik Pilihan Tuhan

Jodoh Terbaik Pilihan Tuhan
Part 68. Terkejut


__ADS_3

Rey tersentak dari tidurnya mendengar suara mengaji di masjid yang berjarak tidak jauh dari Villa.


Listrik juga sudah hidup kembali.Saat Rey membuka mata, pertama sekali yang ia lihat adalah wajah cantik Zahra, wajah yang hanya beberapa inci jaraknya dari wajah Rey. Dia sendiri tidak tahu mengapa bisa tertidur disamping Zahra padahal tadi malam Rey dalam posisi duduk berselonjor kaki.


Jarak yang begitu dekat membuat jantung Rey terpacu cepat, ada rasa panas menjalar di tubuhnya, bagaimana mungkin jantungnya tak bereaksi, bergemuruh seperti khalilintar tadi malam, jika Zahra tidur dengan menyandarkan kepala di dada bidang Rey di tambah lagi tanganya melingkar seolah olah dia sedang memeluk bantal guling.


Rey terus saja memandangi wajah Zahra yang polos tanpa polesan bedak dan make up malah terlihat semakin cantik. Tanpa disadari ada senyum yang mengembang di bibir Rey. Sejak berjumpa dengan Zahra entah mengapa Rey menjadi mudah tersenyum. Terkadang ia bisa tersenyum tanpa alasan.


" Zahra, aku berharap setiap hari aku bisa bangun seperti ini, dimana engkaulah yang menjadi wajah pertama yang kulihat di awal hari ku. " Batin Rey masih tersenyum.


Rey membetulkan jlbab Zahra yang sedikit miring. " Aku tahu kau sangat menjaga dirimu Ra, bahkan saat ini kau masih tidur dengan menggunakan jilbab. Walau kau belum bisa terima aku ini suami mu, tapi itu tidak bisa merubah kenyataan kalau aku ini adalah suamimu yang sah. Aku berhak melihat rambut indahmu. Ku harap aku menjadi lelaki pertama dan yang terakhir melihatmu tanpa mengenakan jilbab." Tangan Rey kini menyentuh lembut pipi Zahra sehingga Zahra mengerjapkan matanya. Dengan cepat Rey kembali pura pura tidur tapi tangannya tak sempat di turunkan dari pipi Zahra.


Zahra membuka mata, alangkah terkejutnya dia saat tahu ia tidur memeluk Rey yang memegangi pipinya. Zahra langsung mendorong tubuh Rey menjauh. Rey pun terkejut membuka matanya ia masih pura pura baru bangun tidur seolah olah tak tahu apa-apa.


" Bapak cari kesempatanya?" tuding Zahra.


" Apa kamu bilang cari kesempatan? gak salah?" Sangkal Rey dengan nada santai.


" Lalu kenapa bapak tidur meluk dan megang pipi saya." perdebatan mulai terjadi lagi antara Rey dan Zahra.


" Hei gadis ceroboh plus penakut, kamu jangan asal nuduh ya, yang meluk itu kamu bukan saya. Yang nyuruh saya tetap disini siapa kamu juga kan? dasar penakut."


" Siapa yang penakut? jangan asal ngomongya? lagian tadi malamkan bapak duduk mengapa jadi tidur disamping saya."


" Ya saya juga gak tahu mungkin karena saya kecapean duduk makanya gak sadar ikut tidur disini juga. Tapi tadi jelas kita lihat kamu yang tidur di dada ku berarti kamu yang cari kesempatan Zahra?" ledek Rey.


" Nggak, nggak, nggak mungkin, lebih baik bapak keluar dari sini.?" Perintah Zahra keras.


Rey meletakkan tangannya di kening Zahra.

__ADS_1


" Apaan sih pak?" tangkis Zahra.


" Gak demam kok." kata Rey lagi.


" sekarang Pak Rey keluar dari sini cepetan." teriak Zahra.


" Hei gadis penakut, kamu da bangun apa masih ngelindur ha?"


Zahra tak menjawab hanya memasang wajah jutek.


" Nona Zahra, coba kamu inget deh kejadian tadi malam, sekarang kamu lihat ini kamar siapa, jadi siapa yang seharusnya keluar dari kamar ini. Apa jangan- jangan kamu memang sengaja ya tetap di kamar ini agar bisa peluk aku lagi ya? " Rey mengedipkan satu matanya pada Zahra. " Mumpung hari ini aku lagi senang gak apalah kalau kamu mau lagi, sini sini istriku!. "goda Rey lagi, ia tersenyum sambil merentangkan kedua tangannya siap menerima pelukan dari Zahra. sementara Zahra wajahnya memerah karena merasa malu, dengan cepat Zahra mengambil bantal dan melemparkannya ke wajah Rey." Peluk tu bantal." Zahra pun beranjak keluar dari kamar Rey.


Rey tertawa melihat Zahra yang sangat kesal dengan pipi yang masih memerah. " Zahra bersiaplah kita akan jalan- jalan hari ini." teriak Rey.


" Gak mau." jawab Zahra tanpa melihat Rey.


 


 


Sudah jam 10 lewat tapi Zahra belum juga keluar dari kamar, Rey menunggu di meja makan sudah setengah jam lebih.


" Bik panggilkan istri saya di kamar Kyara ya bik." perintah Rey pada bik Munaroh yang selama ini di percaya mengurus Villa. Bik Munaroh sudah kembali jam setengah Tujuh tadi.


" Iya den." bibik segera berjalan memanggil Zahra.


Sementara Zahra di kamar sudah uring-uringan menahan lapar.


" Mana sih pak Rey? kok dia gak manggil aku untuk sarapan? tega amat sih gak tahu dia apa aku da kelaparan gini.?" Zahra ngedumel sendiri mondar mandir gak jelas di kamar. " apa aku keluar aja ya?, tapi akukan masih marah, " gengsi Zahra.

__ADS_1


tok....tok..tok....


Pintu kamar di ketuk dari luar.


" Itu pasti dia." Zahra segera duduk di tempat tidur. " masuk."


" Non, ditunggu den Rayhan di ruang makan." ucap bibik Munaroh dari depan pintu.


" Bibik yang jaga Villa ini ya?,"


" iya non."


" kata pak Rey bibik pergi kok udah disini?" tanya Zahra raut wajahnya tampak kecewa karena ia berharap Rey lah yang datang membujuk ia makan.


" Iya non, semalam emang bibik ke rumah anak bibik rencananya satu mingguan tapi karena dapat kabar den Rayhan dan istrinya mau liburan ke Villa makanya bibik langsung pulang." Jelas bibik.


" Dasar orang kaya emang suka berbuat seenaknya, gak kasihan apa dia sama ni orang tua baru aja nyampe tempat anaknya da harus balik lagi hanya karna dia mau kamari." Pikir Zahra dalam hati.


Sementara bibik memperhatikan Zahra yang terlihat seperti melamun memikirkan sesuatu." wanita ini cantik sekali, ramah, sepertinya juga baik, pantesan den Rayhan mau menikah dengannya, padahal sebelumnya den Rayhan kan bilang kalau dia gak pernah mau menikah, sepertinya den Rayhan sangat mencintai nona ini." Batin bibik. " Non Zahra, Den Rayhan sudah menunggu non dari tadi di ruang makan." ucap bibik membuyarkan lamunan Zahra.


" Bilangkan ke pak Rey Saya gak lapar bik, saya mau istirahat saja."


" tapi non kan belum sarapan? den Rayhan juga belum sarapan, sepertinya den Rayhan sangat menyayangi non Zahra, buktinya sampai sekarang Den Rayhan belum makan apapun sebelum non makan juga."


" Jadi pak Rey belum makan bik?" tanya Zahra sedikit tak percya.


" Iya non."


" Ya udah bik, sebentar lagi saya ke sana."

__ADS_1


Bibik mengannguk ia pun pergi meninggalkan kamar Zahra.


__ADS_2