Jodoh Terbaik Pilihan Tuhan

Jodoh Terbaik Pilihan Tuhan
Part 73 Ungkapan Hati Verry


__ADS_3

Matahari kembali menyapa dengan sinarnya, malam telah berganti pagi, Zahra masih tertidur pulas ntah jam berapa tadi malam mereka pulang.


" uamh......." Zahra menggeliat merentangkan tangan, matanya mulai terbuka perlahan, ia mulai melihat sekitarnya. Saat matanya terbuka sempurna Zahra terlonjak kaget mendapati dirinya sudah berada di dalam kamar.


" Kenapa aku di sini, bukannya tadi malam aku ketiduran di mobil, kok aku gak sadar gimana caranya bisa sampai ke kamar." Tanyanya sendiri sambil memijat- mijat kening.


" Apa pak Rey menggendongku ke kamar ya?, ah mana mungkin." Zahra masih bingung bagaimana bisa tidur di kamar. Mata Zahra melihat Jam di atas nakas samping tempat tidur. Jarum Jam sudah menunjukkan pukul tujuh kurang dua puluh menit.


" Astaghfirullah, aku kesiangan." pekik Zahra berlari menuju kamar mandi.


Zahra sangat terburu-buru. Selesai mandi ia langsung bersiap untuk ke kantor. Zahra menuruni anak tangga dengan sedikit berlari.


" Pagi nek," Sapa Zahra melihat nenek di meja makan. Matanya menelusuri ruangan tapi Zahra tidak menemukan Rey.


" Pagi Zahra." Jawab nek Retno tersenyum.


" Nek Zahra berangkatya," Zahra mencium punggung tangan Nenek.


" Sarapan lah dulu nak, "


" Zahra da telat nek, nanti aja di kantor. Pak Rey da pergi ya nek?"


" Sudah sayang, kamu minta antar supir aja biar cepat."


Zahra mengangguk, dia gak punya pilihan lain, untuk keluar gerbang rumah Rey saja butuh waktu 10 menit jika berjalan kaki.


" Assalamualaikum nek."


" Waalaikumsalam, hati-hati Zahra." Jawab nenek melihat Zahra yang sudah berjalan terburu-buru.


Zahra diantar supir nenek, mobil melaju dengan cepat sehingga Zahra tidak terlalu terlambat. Zahra juga minta di turunkan di parkiran yang sepi, lumayan jauh dari pintu masuk kantor agar tak ada yang melihat dia diantar oleh supir keluarga ARDANA. Dia berlari kecil memasuki kantor kemudian berjalan masuk ke dalam lift.


lift terbuka, Zahra terus berjalan menuju ruangannya, Lani dan Jeny melihat Zahra dengan pandangan tidak suka.


" Buk, kok Zahra masi ada di kantor sih, ku kira seminggu lebih gak masuk Zahra udah di pecat, eh ini masih ngantor, malah datang terlambat pula, dasar gak punya malu." kesal Jeny menceritakan pada Lani.


" Saya juga heran apasih istimewanya gadis kampung itu sampai-sampai Rey masih memperkerjakannya di sini.


Lany dan Jeny terus memandang Zahra yang berjalan melewati mereka, sementara Zahra sendiri tak mempefhatikan mereka berdua yang sedang membicarakan dirinya. Saat Zahra akan masuk ke ruangannya dia di sapa seseorang.


" Hai Ra, kamu da sehat? " sapa Verry yang baru saja melihat Zahra hendak masuk ke ruang kerja.

__ADS_1


" U..udah pak, Alhamdulillah." Jawab Zahra dengan nafas terengah-engah karena kelelahan berlari.


" Kamu kenapa Ra, kamu baik kan?"


" Baik kok pak, maaf saya telat, tadi saya kesiangan." Wajah Zahra keringatan.


" Ya ampun Zahra, lebih baik kamu istirahatlah di ruanganmu dulu agar nafasmu bisa kembali teratur."


Zahra mengangguk dan langsung masuk ke ruanggannya. Zahra duduk bersandar di bangku kerja. kini malah perutnya yang berbunyi karena merasa lapar belum di isi.


" Ya allah kenapa ni perut pake acara nyanyi segala sih. karena kesiangan aku gak sarapan. Andai saja ada rezeki turun dari langit berupa makanan untukku." celetuk Zahra penuh harap.


Zahra membuka file yang akan di kerjakannya. File itu kemarin sudah di jelaskan sekilas oleh Rey.


Selang beberapa menit Verry masuk dengan membawa kotak makanan.


" Makanlah!, kamu belum sarapan kan?"


" Bapak tahu dari mana saya belum sarapan?" tanya Zahra.


Verry tersenyum " kelihatan dari wajahmu."


" Ini ada beberapa berkas yang harus kamu revisi setelah itu pintalah tanda tangan Rey saya akan keluar sebentar mengurus persiapan ulang tahun perusahaan besok."


" Zahra mengambil berkas dari Verry dan meletakkan di atas meja kerjanya." pak bolehkah saya makan sekarang."


" Silahkan." Senyum tipis terlihat dibibir Verry melihat Zahra membuka makanan dan menyantapnya.


" Zahra, masih 78 hari lagi, " Ucap Verry.


" 78 hari maksudnya hari apa pak?" Zahra mengerutkan dahi tanda tak mengerti.


" Hari dimana kamu lepas dari Rey, setelah itu aku akan menemui orang tuamu untuk melamarmu menjadi istriku."


" Uhuk...uhuk..." Zahra tersedak.


" Minumlah!" Verry memberikan air mineral pada Zahra." Ra, Rey tidak berbuat macam-macam kan, dia tidak menyakiti kamu lagi kan?"


" Tidak pak."


" Apa kalian tidur satu kamar?" tanya Verry ragu.

__ADS_1


" Tidak pak kami tidur di kamar terpisah sesuai perjanjian."


" Baguslah. Ra, aku mencintaimu, kamu maukan jadi istriku."


Zahra terdiam, tak tahu mau berkata apa.


Verry terus menatap Zahra, meminta jawaban.


" Pak, aku takut untuk berharap lebih, dulu aku pernah bermimpi menikah dengan orang yang ku cintai, pernikahan yang di rencanakan dengan matang dihiasi dekorasi bunga sesuai yang ku impikan tapi semua itu tak terjadi pak, dua kali pernikahanku batal dan aku malah menikah hanya untuk nenyelamatkan cinta seseorang, sama sekali tak pernah terpikir ini akan terjadi pada hidupku, sekarang aku tak berani berharap jauh kedepan, untuk bermimpi lagi aku tak berani pak, aku takut akan kecewa jika yang di harapkan gak terjadi. Biarlah aku jalani takdir yang membawa kisah ku pak." Zahra menunduk.


" Zahra, aku akan berdoa agar takdir menyatukan kita, sekarang habiskanlah makananmu, nanti siang aku akan mentraktirmu makan di luar, kamu mau kan?"


Zahra mengangguk disertai senyum tipis.


" Aku tinggal dulu ya.aku akan mengurus persiapasn besok, ku usahakan sebelum jam 12 aku udah balik ke kantor, tunggu aku ya Ra."


Zahra hanya tersenyum sebagai jawaban kesediaannya maskan siang dengan Verry, Verry pun ke luar dari ruangan Zahra.


Ternyata Rey sedaritadi memperhatikan perbincangan Zahra dan Verry dari ruang kerjannya melalui dinding kaca pembatas dua sisi antara ruangannya dan ruang kerja Zahra. ada rasa panas menjalar di tubuh Rey.Rasa tak suka melihat Zahra dekat dengan lelaki lain.


 


***


 


Sebelum jam istirahat siang, Zahra sudah menyelesaikan semua pekerjaan yang di tugaskan padanya. Zahra masuk ke ruangan Rey untuk meminta tanda tangan.


" Ini pak silahkan di baca dulu sebelum di tandatangani!" Zahra menyodorkan beberapa berkas yang sudah di revisinya.


Rey mengambil berkas dari tangan Zahra dan langsung menandatangani tanpa membaca terlebi dahulu.


" Bapak tidak mau membacanya dulu mana tahu masih ada yang perlu di revisi ulang."


" Tidak perlu, jika ada yang salah bersiaplah untuk mendapatkan hukumanmu."


" Apa?"mana bisa begitu pak.?" Tolak Zahra.


" Tentu bisa, di sini aku bosnya jadi wewenangku ingin berbuat apa saja." Rey berdiri kemudian berjalan keluar." Ikutlah denganku sekarang!" perintahnya.


bersambung......

__ADS_1


__ADS_2