
Sebelum kembali ke kediaman Farhan, Rey mengajak Zahra berkeliling kota, Rey merasa mereka tidak punya banyak waktu untuk berkeliling kota Karena setelah acara pernikahan Kyara selesai Rey akan segera pulang membawa Zahra untuk meminta Restu pada keluarga Zahra.
Setelah merasa cukup memanjakan mata melihat keindahan kota Brunaidarusalam di malam hari, Rey dan Zahra kembali ke kediaman Farhan sekitar jam 10 malam.
Rumah Farhan masih sangat ramai karena sebagian keluarga besarnya sudah berdatangan, mereka semua berkumpul bercengkrama, ada yang di teras, ada ya di ruang tamu dan ada juga yang di ruang keluarga. Nenek Retno dan nenek Gendis juga ikut berkumpul bersama keluarga besar Farhan.
Ketika sampai, Rey dan Zahra langsung masuk ke dalam rumah tak lupa Rey menyapa keluarga Farhan yang mayoritas Bapak-bapak sedang asyik berkumpul di teras.
" Assalamualaikum. " Salam Rey dan Zahra bersamaan masuk ke dalam Rumah.
" Waalaikumsalam ." Jawab beberapa orang yang lagi berada di ruang tamu, termasuk nek Retno dan Nek Gendis.
" Wah pengantin baru ini pulang jalan-jalan ya? Gimana Zahra kamu di bawa ke tempat Romantis gak sama suami mu Rey?" Tanya nyonya Raudha tersenyum ramah.
Zahra hanya menjawab dengan membalas senyum kepada nyonya Raudha.
" Jelas dong nyonya Raudha, cucu kami Rey ini tipe pria romantis, pasti dia akan selalu membuat cucu menantu kami ini bahagia." sambar nek Gedis. " Gimana Rey? rencana kita sukseskan?" bisik nek Gendis pada Rey yang di jawab dengan kode mata menyatakan ya dari Rey. Nek gendis pun tersenyum legah.
" Nek kami istirahat dulu ya." Ucap Rey.
" Ya istirahatlah." Jawab nek Retno.
" Mbak sepertinya kita bakalan cepat dapat cucu nih." Ledek nenek Gendis masih tersenyum lebar, dia tahu bahwa Zahra dan Rey sekarang saling mengetahui perasaan masing-masing, karena sebenarnya nya Nek Gendis lah yang membantu Rey menyiapkan kejutan untuk Zahra.
" Maksudmu apa Gendis?" Tanya nenek Retno tidak mengerti.
" Nanti Gendis ceritain ke Mbakyu.
Zahra yang mendegar percakapan itu tersipu malu, pipinya merah merona seperti pakai blas on tebal. Rey pun juga ikut tersenyum tipis melihat perubahan warna wajah Zahra.
Rey menggenggam tangan Zahra lalu menuntun Zahra dengan langkah terlebih dahulu menuju kamar mereka.
Nek Retno dan Nek Gendis sangat bahagia melihat kedekatan Rey dan Zahra saat ini.
***
Lagi -lagi malam ini Rey dan Zahra harus tidur sekamar berdua. Sepertinya tak dir membawa mereka untuk terus bersama. Akan tetapi setelah Rey mengungkapkan perasaannya pada Zahra, keduanya menjadi canggung berada dam sati kamar. Ada gemuruh hebat di dada keduanya.
" Istirahatlah kamu pasti lelah." ucap Rey melihat Zahra masih diam terpaku ketika baru keluar dari kamar mandi yang sudah mengenakan piyama panjang lengkap dengan hijab.
" Pak bagaimana ini, ranjang nya cuma satu."
" Ya mau bagaimana lagi, untuk malam ini kita harus tidur satu ranjang lagi. ya itung itung aja latihan." gelak Rey.
Zahra menatap Rey dengan tatapan mengancam.
__ADS_1
" Tenang, aku gak akan macam-macam. karena kalau aku mau pasti sudah aku lakukan kemaren, malam kemaren kamu lebih hot dari malam ini." Rey menunjukkan tawa renyahnya.
" Pak Rey," panggil Zahra dengan raut wajah masam. Zahra tahu betul apa maksud perkataan Rey.
" Sudah, kemarilah kita istirahat, aku janji akan sabar menunggu sampai waktunya tiba." panggil Rey menepuk kasur di sampingnya.
Zahra pun berjalan ke sisi ranjang sebelah Rey dan berbaring di samping Rey. Mereka tidur miring berhadapan. Rey menatap Zahra dengan pandangan amat dalam membuat Zahra yang di pandangi menjagi grogi.
" Pak, aku gak bisa tidur kalau bapak lihati terus macam tu." Zahra membuka suara.
Rey terkekeh geli mendengar ucapan Zahra.
" Aku belum mengantuk Ra, jadi ngapain dong? kamu kan gak mau di apa-apain masa di lihat aja juga gak boleh." jawab Rey.
" Pak Rey balik deh ke arah sana." pinta Zahra agar Rey membelakanginya.
Rey berfikir sejenak." emh mungkin Zahra nyuruh akau membelakanginya agar dia bisa memelukku dari belakang. Baiklah." batin Rey lalu mengikuti permintaan Zahra.
Beberapa detik setelah Rey berbalik. Rey gak merasakan apa pun seperti yang ia fikirkan. kepala Rey menoleh ke belakang. Dilihatnya Zahra susah memejamkan mata. Rey melepas nafas kasar kembali keposisi membelakangi Zahra.
" Kirain mau di peluk gak tahunya di tinggal tidur, Nasib nikah belum dapat restu orang tua ya gini." Celetuk Rey pelan tetapi masih jelas di dengar Zahra sehingga Zahra tertawa geli membuka mata melihat Rey yang masih dalam posisi membelakanginya.
Akhirnya seiring dentingan jarum jam keduanya pun tertidur dengan posisi saling membelakangi satu sama lain.
Keesokan hari Acara resepsi pernikahan Kyara dan Farhan di gelar dengan sangat mewah di gedung hotel berbintang. Banyak tamu undangan dari kelas atas berdatangan. Jelas saja Ayah Farhan adalah salah satu orang penting di Negri Brunai.
Rey dan Zahra memakai pakaian cuple yang telah di rancang khusus oleh Nek Gendis. Keduanya terlihat sangat serasi yang satu tampan bagai tuan Raja sedangkan satunya lagi sangat cantik menawan bak Permaisuri.
Zahra duduk sendirian di meja dekat pelaminan Farhan dan Kyara, tadinya Zahra ditemani oleh Rey, Nek Retno dan Gendis tapi karena mereka ada kesibukan masing-masing sehingga mereka bertiga meninggalkan Zahra secara bersamaan.
Zahra melihat ke arah Farhan dan Kyara yang bersalaman dengan para tamu. Senyum selalu mengembang di wajah keduanya terlihat mereka sangat bahagia.
Zahra juga memperhatikan dari kejauhan Farhan berbincang dengan seorang pria. terlihat sangat akrab yang tak lama kemudian berjalan ke arah Zahra.
" Hei sendiri aja." Tanya pria itu ramah yang hanya di balas Zahra dengan senyuman.
" Boleh aku duduk disini?" tanyanya.
" Silahkan." Ucap Zahra masih mengulum senyum.
" Aku Kevin sepupunya Farhan." Kevin mengulurkan tangan tanda perkenalan.
__ADS_1
" Zahra." Sahut Zahra mengatupkan kedua tangan.
Kevin menarik kembali tangannya ia mengerti bahwa Zahra adalah gadis sholeha yang tidak ingin bersentuhan dengan non muhrim.
" Aku gak tahu ternyata Kyara punya saudara secantik kamu Zahra, kalau gak kan udah aku ajak kenalan dari dulu." Kevin memulai ocehan recehnya, Zahra hanya menanggapi dengan tersenyum.
" Eh ya Zahra, kamu ini apanya Kyara? " Tanya Kevin agar lebih mengetahui tentang Zahra.
" Kakak ipar nya Kyara. Istri dari abang Kyara." Sambar Rey.
" Eh bang Rey, Sejak kapan di situ bang ayuk duduk dulu bang." Kevin tersenyum gugup melihat Rey berdiri tepat di belakanggnya.
" Cukup lama lah untuk mendengar perkataanmu tadi yang mencoba menggoda istri ku." ketus Rey
" Maaf bang saya gak tahu kalau kak Zahra ini istri abang aku kirain adik sepupunya Kyara yang baru tamat SMA. Maaf ya bang aku gak bermaksud menggoda istri abang. Sumpah bang." Kevin menunjukkan dua jari telunjuk dan jari tengah, Kevin memang sudah kenal lama dengan Rey sejak awal Kyara dan Farhan berpacaran.
" Zahra kita pindah yuk sayang, disini pemandangannya sangat buruk." Rey memengang bahu Zahra yang masih duduk sedari tadi melihat percakapan Rey dan Kevin.
Zahra sangat terkejut mendengar Rey memanggilnya sayang dengan sangat tegas. di mata Rey pun terlihat jelas api kecemburuan melihat Kevin duduk dengannya.
Zahra bangkit dari duduk dan mengikuti Rey barjalan berpindah tempat. Rey membawa Zahra duduk di sudut yang cukup jauh dari pelaminan. Saat berjalan Rey merangkul Zahra membuat zahra menjadi kikuk karena beberapa orang yang mereka lewati melihat kearahnya.
" Pak pestanya sangat meriah ya." ucap Zahra yang sebenarnya sangat terpukau dengan konsep pesta Kyara yang menurutnya sangat mewah. Zahra juga memulai percakapan agar bisa mengurangi rasa canggung dan debaran jantung yang semakin kuat karena perlakuan Rey.
" Jika kamu mau, pesta kita nanti akan saya buat lebih mewah dari ini." Sahut Rey.
Zahra menggeleng. " Gak usah pak yang sederhana aja, tapi sejak dulu aku punya satu impian di acara pernikahanku kelak, mudah- mudahan saja bisa terwujud."
" Apa?" tanya Rey penasaran.
" Aku ingin mengundang anak yatim dan anak panti, ya kira- kira 100 orang lah." jawab Zahra tersenyum.
" Insyaallah nanti kita akan undang mereka ya." kata Rey lagi membalas senyum Zahra.
" Ra sebentar ya, aku mau nemuin rekan bisnis kita, itu di sana. tunjuk Rey pada seseorang yang terlihat baru saja memasuki gedung.
Zahra mengagguk mengiyakan.
Lama menunggu Rey, Zahra menjadi bosan, Zahra berdiri, memutuskan untuk mengambil makanan dan minuman di meja yang sudah disediakan.
Zahra hendak mengambil piring sebelum ia mencapainya seseorang dari belakang memanggil Zahra.
" Zahra." suaranya sangat familiar sehingga Zahra menoleh kebelakang.
Alangkah terkejutnya Zahra saat mendapati orang Yang memanggil dirinya itu ternyata Reza. Pria yang hampir menjadi suaminya.
" Zahra aku sangat senang bisa bertemu denganmu. Sebenarnya aku memang berencana untuk menemuimu setelah aku kembali ke Indonesia, tak menyangka kita malah bertemu di sini. mungkin ini yang di namakan jodoh."
Zahra masih diam membisu berdiri menatap Reza orang yang secara tidak langsung menjadi penyebab Mamanya koma di rumah sakit.
__ADS_1
Zahra tak menggubris perkataan Reza. Zahra malah berbalik meninggalkan Reza akan tetapi Reza mencegah dengan memegang tangan Zahra.