
Zahra dan mama sudah kembali ke depan.
" Pak Rey maafya lama nunggu."
Rey gak menjawab seperti biasa,cuma memberi ekspresi datar saja.
" Sesil, kamu kok bisa di sini?" tanya Zahra pada Sesil yang duduk di depan Rey.
" Iya aku lihat tadi mas Rey duduk sendirian jadinya kubawakan minum, sambil di temeni ngobrol." Jawab Sesil santai.
" Nak Rey, apa kabar?" Sapa mama pada Rey.
" Alhamdulillah baik tante, tante sendiri pa kabar?" balas Rey ramah.
" Gak biasanya pak Rey ramah sama orang, sama aku aja datar banget, ni sama mama bisa ramah gitu." batin Zahra.
" Alhamdulillah seperti yang Rey lihat tante sehat, nak Verry gak ikut?"
" Verry lagi ada kerjaan di kantor tan jadinya cuma saya dan Zahra yang nangani proyek di sini."
" Oh, " Mama mengangguk mengerti.
Papa Zahra sudah melihat kedatangan Zahra, Papa memanggil Zahra dengan memberi kode mengapit tangan tanda menyuruh Zahra datang ke tempatnya.
" Ra, Papa manggil tu, datangi dulu sana biar Rey mama yang nemeni." Ujar Mama." Nak Rey bentar ya Zahra di panggil Papanya.
" Iya tante."
Zahra melihat Mama dan Rey kemudian berjalan mendatangi Papa.
" Tan, sebaiknya tante kesana juga nemeni Zahra,biar mas Rey Sesil aja yang nemeni." ucap Sesil.
__ADS_1
Mama menatap Sesil dengan senyuman lembut, " tante di sini aja, mau ngobrol sama Rey, Sesil tolong ambilkan cemilan ya buat Rey." Mama sengaja menyuruh Sesil dan tetap duduk di samping Rey karena Mama tahu benar Sesil mempunyai sifat yang hampir sama dengan Mamanya Yanti yang tidak suka melihat Zahra bahagia. Mama takut jika Sesil dibiarkan berdua dengan Rey Sesil akan berbicara hal buruk tentang Zahra. Walau bagaimanapun Rey adalah teman kantor Zahra, Mama gak ingin Zahra punya masalah dikantornya hanya karena berita yang tak benar tentang masa lalu Zahra.
Dengan terpaksa Sesil beranjak mengambilkan cemilan untuk Rey. " Dasar perempuan tua tahunya mengganggu saja." Batin Sesil dengan wajah sedikit cemberut.
Zahra menyalami Papanya dan menangkupkan tangan ke ustadz Abdul dan Salim.
" Duduk sini Zahra! " Pinta Papa. Zahra pun duduk.
" Apakabar Zahra? kamu da besar ya sekarang." Sapa ustadz Abdul.
" Alhamdulillah Baik Ustadz." Jawab Zahra diiringi senyum.
" Zahra ada yang ingin di sampaikan Salim nih pada Zahra, Salim bicaralah." Kata ustadz Abdul.
Salim menatap Lekat Zahra " Ra, sebenarnya kedatangan kami kemari selain memenuhi undangan Tante Ita kami juga ingin menyampaikan sesuatu hal yang penting." ucap Salim
" Ada apa bang?" tanya Zahra penasaran sepertinya serius.
Zahra bengong dia tak menyangka akan dilamar di depan papanya langsung, Zahra tak mampu berkata sepatah katapun.
" Zahra bagaimana, Salim menunggu jawabanmu, Papa da cerita tentang batalnya pernikahanmu pada Salim dan keluarganya Alhamdulillah mereka gak mempersalahkan itu semua." tambah Papa.
Zahra masih diam terpaku. " Ya Allah apakah ini ujian untukku. Apakah keputusan yang ku ambil salah, mengapa setelah aku melakukan pernikahan kontrak dengan pak Rey malah aku dilamar tiga lelaki dalam waktu berdekatan, pak Verry, bang Yazid, bang Salim, ketiganya lelaki yang baik bahkan aku gak tahu siapa yang harus kupilih diantara ketiganya. jika keputusankubsalah maafkan aku ya Allah aku gak bermaksud mempermaikan pernikahan, tapi aku terpaksa melakukannya." batin Zahra.
" Ra, kamu gak harus jawab sekarang, Zahra bisa pikirkan dulu biar bagaimanapun pernikahan bukanlah mainan jadi harus di pikir baik-baik. Tapi jika boleh, abang minta keputusan Zahra sebelum abang kembali ke Turki minggu depan. jika Zahra setuju abang ingin kita tunangan dulu sebelum abang pergi tapi jika Zahra menolak abang juga akan menerimanya dengan lapang dada." Ucap Salim Mantap.
" Zahra, ayo nak kasih keputusan mu." pinta Papa lagi. Papa sendiri sangat setuju jika Zahra menikah dengan Salim. Papa merasa Salim lelaki yang tepat untuk menjadi suami anaknya Zahra.
" Pa, Zahra gak bisa menerima bang Salim sekarang." Zahra menundukkan kepalanya.
" Zahra kenapa kamu menolak Salim." Tanya Papa dengan nada kecewa.
__ADS_1
Wajah Salim juga terlihat kecewa.
" Bang salim maafkan Zahra, tapi Zahra gak bisa menikah sampai waktu tiga bulan. Zahra udah menandatangani kontrak kerja yang isinya Zahra tidak bisa menikah selama waktu tiga bulan ini, untuk resain dari kerjaan Zahra juga tidak bisa karena Zahra terikat dengan kontrak kerja itu." Jelas Zahra.
Tentu saja Zahra tak bisa menikah karena sebenarnya dia sudah menikah dengan Rey, syarat yang diberikan neneknya Farhan membuat Zahra dan Rey harus tetap bersama selama tiga bulan.
" Oh, jadi itu toh masalahnya, giman salim? " Tanya ustadz Abdul pada anaknya.
" jika itu masalahnya gak papa Ra, kita kan gak langsung menikah kita bisa menunggu selama tiga bulan untuk persiapan tapi bagaimana kalau kita tunangan aja dulu." saran Salim.
" Sekali lagi maaf bang, tapi bukan hanya menikah, tunangan juga tidak bisa." jawab Zahra lagi.
" Ya udah kalau gitu nanti saja setelah tiga bulan baru kalian tunangan dan gak usah lama-lama, saat tunangan langsung kita tentukan aja kapan hari pernikahannya. gimana menurut Ustadz." tanya Papa meminta pendapat Ustadz Abdul.
" Ya begitu juga bagus."
Ustadz abdul menangkap bahwa ada yang ingin dikatakan Salim pada Zahra, Salim merasa tak nyaman karena tadi melihat Zahra datang dengan seorang lelaki yang tidak mereka kenal, hanya saja Salim tak enak menanyakannya karena masih ada pak Arman Papanya Zahra.
" Pak Arman saya kepingin lihat pesantren pak Arman ni, kawasannya tak jauh dari sini kan? bisakah kita kesana mumpung belum terlalu soreh." inisiatif ustadz Abdul.
" Tentu boleh lah Ustadz, yuk kita kesana sekarang." ajak Papa.
" Salim kamu disini aja sama Zahra bukankah kalian da lama gak jumpa, bolehkan pak Arman disinikan Ramai, kalau cuma cerita gak masalahkan?."
" Iya gak apa, Salim disini aja dulu. Yuk kita berangkat Ustadz." Pak Arman dan Ustadz Abdul pergi meninggalkan Zahra dan Salim.
Zahra dan salim masih belum berbicara setelah di tinggalkan Papa mereka berdua. Keduanya baru pertama kembali bertemu jadi bingung memulai pembicaraan dari mana apalagi setelah salim mengutarakan maksudnya ingin menjadikan Zahra sebagai istri membuat keduanya menjadi canggung. Sementara Rey yang bersama Mama Zahra dan Sesil masih berbincang-bincang tetapi mata Rey tetap memperhatikan Zahra dari kejauhan.
" Zahra, lama sekali ya kita gak jumpa, kamu ternyata nampak dewasa dan makin cantik." Salim memuji kecantikan Zahra, Zahra memang gadis yang sangat cantik setiap lelaki yang melihatnya mustahil tidak terpesona pada Zahra.
" Terimakasih bang." ucap Zahra tersipu malu. Biasanya dulu Zahra sangat manja dengan Salim, sama seperti sikapnya pada kedua abangnya Arga dan Arya. memang mereka sangat akrab dan kerena dulu masih kecil tapi sekarang berbeda, mungkin karena lama tak berjumpa dan karena mereka sudah sama sama dewasa keduanya jadi tak se akrab dulu.
__ADS_1
bersambung........