Jodoh Terbaik Pilihan Tuhan

Jodoh Terbaik Pilihan Tuhan
Part 32


__ADS_3

Satu minggu kemudian.


Seminggu telah berlalu, Hari ini Zahra berangkat bareng ke kantor dengan Sasa karena kini Zahra sudah tidak tinggal di rumah abangnya Arga dan Kakak iparnya Wulan melaikan tinggal di rumah Sasa yang jaraknya ke kantor tidak terlalu Jauh.


 


Seperti biasa setelah meletakkan tas di ruang kerjanya, Zahra ke dapur kantor untuk membuatkan Kopi bosnya Rey. ini adalah rutinitas yang harus di kerjakan Zahra, hampir setiap hari juga dia kesal selalu menggerutu melakukan kerjaan yang seharusnya di lakukan OB.


Zahra membawa segelas Kopi masuk keruangan Rey yang tampak masih kosong dan meletakkannya di atas meja lalu merapikan berkas-berkas yang sedikit berserakan di meja itu. Zahra melihat foto seorang wanita cantik menggendong seorang anak laki laki ganteng, kira kira berusia 4 tahun. Anak itu tersenyum sangat lucu dan menggemaskan.


" Apa ini pak Rey ya? " Tanya Zahra dalam hati.


" Tetapi di foto ini anak itu seperti nya sangat ceria berbeda dengat pak Rey yang dingin seperti batu es, " batinnya tak percaya.


" Ya Allah aku lupa semalam bawa foto ku. " melihat foto tadi Zahra teringat dengan fotonya bersama Papa, Mama, kedua abangnya Arga dan Arya, foto keluarga saat ia masih kecil. Zahra selalu meletakkannya di samping tempat tidur di mana ia tinggal tetapi karena semalam ada drama perpisahan antara dia dan keluarga kecil abangnya membuat ia terlupa membawa foto kesayangannya itu.


 


 


 


Flash back.


Minggu sore Sasa kerumah Arga dengan mengendarai mobil. Rencanya dia mau menjemput Zahra yang akan tinggal bersamanya.


tok.... tok.... tok...


Suara pintu Rumah di ketuk. Wulan membukakan pintu.


" Assalamualaikum mbak, Sasa mencium punggung tangan Wulan. Sasa sudah dekat dengan Wulan sewaktu masa kuliah dia juga sering berkunjung.


" Eh ada Sasa yuk masuk Sa. " ajak Wulan ramah.


" Iya mbak." Sasa pun masuk mengikuti langkah kaki Wulan.


" Siapa sayang?." Tanya Arga yang duduk di ruang keluarga bersama anak kesayangannya. Mereka menonton Tv Sambil mengunyah cemilan yang selalu tersedia di atas meja.


" Sasa bang. " Jawab Wulan. " Duduk Sa, Zahra sepertinya di kamar sebentarya mbak panggilkan. " ucapnya lagi tersenyum manis.


Sasapun duduk, ia menggoda Daffa yang sangat menggemaskan dengan mencubiti pipi cuby Daffa.


" Hai Daffa sayang makin ganteng aja cih, cini cama tante ya, tante kangen cama Daffa." Sasa juga menciumi Daffa karena gemas.


" Kalian mau pergi Sa? " tanya Arga sambil mengunyah cemilan.


" Nggak kok bang, Sasa cuma mau jemput Zahra. "


" Jemput Zahra? emang mau kemana? "


" Loh apa Zahra belum bilang ke abang? "

__ADS_1


" Bilang apa?" Tanya Arga lagi heran.


" Zahra kan mau tinggal di rumah Sasa bang,?


" Apa??? " Arga terkejut.


Zahra turun dan menyamperi mereka.


" Da datang lo Sa? " Ucap Zahra.


" Dek, Kata Sasa lo mau tinggal di rumahnya ya? kenapa gak bilang sama abang dek? apa ada masalah?. " Tanya Arga pada adiknya dengan raut wajah sedih.


" Loh kamu mau pindah Ra, kok mendadak, apa kamu gak betah disini? atau mbak ada salah? " tanya Wulan yang baru datang dari dapur membawakan minuman untuk Sasa.


Zahra duduk di samping Arga.


Maaf bang, Mbak, Zahra belum bilang. Zahra betah kok disini, mbak juga gak ada salah apa-apa kok ke Zahra..."


" Tapi kenapa lo mau pindah dek? " Arga memotong pembicaraan Zahra.


" jarak rumah ini ke kantor jauh bang, Zahra harus berangkat pagi-pagi sekali agar gak telat, pulangnya juga selalu hampir magrib makanya Zahra mau pindah ke rumah Sasa, lagian kalau dari rumah Sasa dekat, cuma sekitar 15 menit bang. "


" Oh gitu Abang kira karena ada apa-apa?, tapi kenapa lo gak bilang sebelumnya dek? "


" Iya Zahra lupa bang seminggu ini kan Zahra juga kalau pulang langsung tidur."


" Daffa bakal rindu dong sama bunda, ya kan nak. " kata Wulan mengambil Daffa dari pangkuan Sasa. " diminum dulu tante minumnya." Wulan mempersilahkan Sasa minum.


" Sip " Sasa menunjukkan jempolnya pada Zahra.


tak lama dari kepergian Zahra Arga pun pamit ke atas sebentar mau ke kamar Zahra. sementara Wulan berbincang dengan Sasa sambil bermain dengan si ganteng Daffa.


Arga masuk ke kamar Zahra, ia melihat adiknya memasukkan baju-bajunya ke dalam tas.dia duduk di tempat tidur.


" Dek lo yakin mau pindah apa gak mau di pikir-pikir lagi. Ntar kita sunyi dong gak ada lo dek yang selalu baweli abang. " Kata Arga.


" Makanya Zahra pindah biar abang tu tenang gak ada Zahra lagi yang gangguin abang. "


" Lo pindah dek bukan karena ada masalah kan sama mbak mu?" tanya Arga.


" Enggak loh bang? " Jawab Zahra tanpa melihat Arga.


" Beneran?? " Tanya arga meyakinkan. "


" Iya lo abang. " Zahra masih tak melihat Arga.


" Zahra, lo tu adek abang. Kita tinggal bersama bukan baru satu bulan dek. Jadi kita harus saling jujur bukankah mama selalu mengajarkan kita untuk saling berbagi di dalam suka dan saling menguatkan di kala duka, Zahra masih ingat kan? " Arga yakin kalau adiknya itu menyembunyikan sesuatu darinya.


Zahra mengambil napas panjang dan melepaskannya dengan perlahan. ia tahu betul jika abangnya itu sudah memanggil namanya dia tak bisa menyembunyikan apapun pada abangnya. ia pun duduk di samping Arga.


" Zahra akan cerita tapi abang janji ya jangan kasih tahu mbak Wulan.

__ADS_1


Arga mengangguk.


" Kemaren waktu Zahra dan mbak Wulan berjalan jalan sekitar komplek membawa Daffa kita ketemu sama ibu-ibu kompleks ini."


" Terus? " tanya Arga penasaran.


" Saat kita melewati mereka mbak Wulan menyapa dengan ramah. Tetapi pas kita terus jalan mereka malah gosipi Zahra. ngatain Zahra gadis sial, Zahra ini gadis gak bener makanya sampai dua kali gagal menikah, mbak Wulan udah mau ngelabrak mereka tapi Zahra larang. Zahra gak mau mbak Wulan sampe betantam."


" Terus. "


" Mereka bilang lagi agar jaga suami masing masing takutnya nanti malah suami mereka digodain sama Zahra, yang lajang tak mampu di dapatkan ya pasti ganggu suami orang. Begitu kata mereka bang, mbak Wulan udah gak tahan lagi dia langsung marah sama mereka. Makanya Zahra gak mau kalau mbak Wulan jadi ikutan susah karna Zahra.


" Kalau itu masalahnya biar abang yang nyelasaikannya dek. Zahra gak perlu pindah."


" Bang, Zahra tu beruntung punya kakak ipar seperti mbak Wulan, dia sangat sayang sama Zahra seperti adik kandunggnya sendiri. Zahra gak ingin buat mbak Wulan di musuhi sama ibuk-ibuk kompleks hanya karena Zahra. Apalagi sekarang mbak Wulan lagi hamil muda jadi gak boleh banyak pikiran bang. Zahra mohon biarin Zahra tinggal di rumah Sasa lagian dari rumah Sasa ke kantor itu dekat jaraknya bang. kita bisa berangkat dan pulang kerja barengan bang. " pinta Zahra di sudut matanya air mata sudah mengalir.


Arga menyeka air mata adiknya. " jika itu keinginanmu dek ya udah, tapi kamu harus sering main kemari ya!. "


" Siap bos." Zahra meletakkan tangannya di kepala seperti tentara yang sedang memberikan hormat pada komandannya. Tak lupa ia tersenyum meski masih ada air mata yang mengalir.


Arga memeluk adik kesayangannya itu.


" Abang berdoa semoga adik abang yang cantik ini akan segera di pertemukan dengan lelaki baik yang sangat menyayangi mu dek." Arga sangat sedih melihat adiknya yang selalu di ejek dan di hina hanya karna gagal menikah.


" Aamiin. " Air mata Zahra kembali mengalir ia segara menghapus nya agar abangnya itu tidak tahu kesedihannya. ia melepaskan pelukan abangnya itu.


" Da siap kan berkemasnya sini biar abang bawa. "


Zahra mengangguk dan tetap memberikan senyum terbaiknya. " Tapi abang janji ya jangan kasih tahu mbak Wulan!" zahra mengangkat jari kelinggkingnya.


Arga pun menyatukan kelingkingnya dengan kelingking Zahra. " Janji. " Jawabnya dengan satu tangan lagi mengusap kasar kepala adiknya itu.


Arga dan Zahra turun menuju ruang keluarga. Zahra memeluk Wulan.


" Makasih ya mbak da sayangi Zahra, Zahra minta maaf kalau selama di sini Zahra da nyusahin mbak. "


" Kamu ini ngomong apa sih Zahra, kamu sama sekali gak pernah nyusahin mbak, malah mbak yang seharusnya minta maaf da sering nyusahin kamu karena selalu jagain Daffa dan mbak suruh ini itu," Ucap Wulan yang merasa sedih.


" Zahra malah senang bisa bantu mbak."


Mbak dan Daffa pasti akan sangat kangen sama kamu Ra, kamu harus sering sering kemari ya? "


Zahra janji ntar kalau hari libur dan gak ada kegiatan Zahra pasti main kemari. " Zahra kemudian mencium punggung tangan Wulan tak lupa ia menciumi keponakannya yang ganteng. Zahra sangat sayang pada Daffa karena setiap hari Zahra selalu bermain dengan Daffa.


Setelah pamit kepada Arga dan Wulan, Zahra dan Sasa pergi. sepasang suami istri itu mengantar kepergian Zahra sampai mobil Sasa tak terlihat lagi.


Arga melihat kesedihan di mata Wulan dia tahu istrinya itu sangat menyayangi adiknya, karena Zahra adalah seorang gadis baik hati, ceria dan pandai membuat orang di sekitarnya selalu bahagia dengan candaannya walaupun terkadang tingkah Zahra kekanak-kanakan, manja dan keras kepala tetapi setiap yang dekat dengan Zahra pasti akan sayang padanya.


Mereka mengantar Zahra yang akan pindah ke rumah Sasa seperti melepaskan orang yang akan pergi ke luar negri dalam jangka waktu yang lama. rasa sedih itu ada karena mereka sangat sayang pada Zahra.


Flash of.

__ADS_1


__ADS_2