
Zahra keluar dari ruang kerja Rey, di depan pintu Zahra bertemu dengan nenek Retno. Zahra tak menyangka bertemu nenek di kantor.
" Nenek, " ucap Zahra.
" Zahra, kamu kerja di sini?? " tanya nenek pura-pura tidak tahu padahal sebelumnya nenek pernah melihat Zahra berada di dalam kamar saat ia sakit tempo hari.
" Nenek mau ketemu siapa?, ada yang bisa Zahra bantu? "
Nenek berpikir untuk tidak memberitahukan Zahra bahwa dia adalah neneknya Rey, dia masih ingin cari tahu bagaimana hubungan Zahra dengan Rey. Belakangan ini nenek memperhatikan perubahan sikap Rey yang tampak mulai ceria beberapa kali nenek melihat Cucunya itu tersenyum sendiri.
" Nenek. " panggil Zahra membuyarkan Lamunan Nenek.
" Iya Zahra, nenek ingin berjumpa dengan pimpinan Perusahaan ini, bapak Raihan." Jawab nenek.
" Apa nenek sudah buat janji?"
" Belum. "
" Kalau begitu nenek tunggu aja dulu di ruangan Zahra, Bapak Rey belum datang. "
" Baiklah. " Kata nenek.
" Ayuk nek! " Ajak Zahra. " Silahkan duduk nek!" tak lupa Zahra mempersilahkan nenek untuk duduk setelah memasuki ruang kerjanya.
Nenek berpikir bagaimana caranya mencari tahu sejauh apa hubungan Zahra dan Rey apa hanya sebatas pekerjaan atau ada yang lainnya. Zahra memberikan air mineral kepada nenek dan juga setoples cemilan yang sengaja di sediakan karena Zahra suka mengemil meski saat bekerja.
" Zahra, bos kamu itu seperti apa sih? " tanya nenek ingin mengetahui seperti apa Rey di mata Zahra.
" Emh dia itu bukan manusia nek. " Jawabnya enteng.
" Jadi apa? " Tanya nenek heran.
" Kalau manusia pasti punya hati nek tapi dia itu seperti monster yang tak memandang siapapun, berbicara tak pandang usia, tua muda sama saja baginya. Hatinya itu beku seperti es, kerjaannya marah-marah terus nek dan menyuruh orang sesukanya." Zahra mulai mengeluarkan unek-uneknya ke nenek.
" Seperti nya Zahra sangat kesal dengan Rey." Batin nenek. "
" Nenek tahu tadi saya dari ruanggannya itu baru ngantarkan kopi. Padahal ada OB kan Nek, seenaknya dia nyuruh saya setiap hari untuk membuatkannya kopi di kira saya pelayannya apa? kalau bukan karna terjebak dengan kontrak kerja, dari awal Zahra pasti udah resign dari sini nek. " Wajah Zahra berubah menjadi lesu.
" Terjebak kontrak apa? " Nenek masi belum faham.
" Pak Very membuat Zahra dan pak Rey menandatangani kontrak kerja yang isinya selama dua tahun Zahra tidak bisa mengundurkan diri dan pak Rey juga tidak bisa memecat Zahra. Pak Very takut kalau Zahra tahu pak Rey bosnya pasti Zahra tidak mau bekerja lagi karena dulu Zahra berhenti juga karna bos galak itu nek. sewaktu itu masih bekerja di kantor Zahra yang lama. " jelas Zahra.
Nenek tersenyum dengan penjelasan Zahra. " pintar juga si Very ." Batinnya lagi.
" Apa pak Raihan segalak itu ya Zahra? "
" Seluruh karyawan kantor ini saja sampai takut dengannya nek."
" Oh ya, apa kamu juga takut padanya? "
" Tidak sama sekali nek, kita malahan selalu bertengkar, karena selalu tak sependapat. Zahra jadi kasian nek sama orang tuanya yang setiap hari harus berurusan dengan orang sepertinya, Zahra aja yang cuma delapan jam sehari sudah naik tensi nek. "
__ADS_1
Nenek kembali tersenyum, ia merasa lucu dengan ocehan Zahra meski diakuinya yang di katakan Zahra itu ada benarnya juga dia saja kewalahan menghadapi Rey yang berhati dingin dan keras kepala.
" Tapi nak, Yang nenek tahu, Bapak Raihan itu kan tampan, mapan pula, banyak wanita di kantor ini yang mengaguminya. " Nenek berusaha mengetahui perasaan Zahra.
" Dia memang idola di kantor ini nek, Zahra juga heran walau galak gitu mereka tetap aja ngidolain pak Rey. " Zahra minum karena dia merasa haus setelah menceritakan kelakuan Rey yang menguras emosinya.
" Zahra, apa kamu sendiri tidak menyukai Bapak Rayhan?. " Tanya nenek memastikan.
" Uhuk.. uhuk..." Zahra tersedak mendengar pertanyaan nenek.
" Kamu gak kenapa kan Zahra? "
Zahra melihat dari kaca Rey sudah datang.
" Nek pak Rey udah datang. sebentar ya nek," Zahra menghubungi Rey dari telepon kantor.
" Assalamualaikum pak, ada seseorang yang ingin bertemu bapak? "
" Siapa? " tanya Rey.
" Seorang wanita kira-kira seusia lah dengan nenek bapak. " Jawab Zahra.
" Apa itu nenek?. " Batin Rey. " Suruh dia masuk."
" Baik pak. " Zahra menutup telepon. " Nek silahkan keruangan pak Rey. " Zahra mempersilahkan nenek menemui Rey. Nenek pun berjalan meninggalkan Zahra.
" Kenapa nenek senyam senyum? " kata Rey tidak melihat nenek.
" Rey kapan kamu pulang? " Sudah dua hari Rey tidak pulang ke rumah ARDANA hanya karena nenek mengungkit tentang kapan dia mau menikah.
Rey diam saja tak menjawab.
" Rey pernikahan adikmu Kyara tinggal satu bulan lagi kamu ingatkan janjimu padanya. Kamu sendiri yang akan mempersiapkan acaranya."
" Iya Rey ingat, " Jawabnya masih sibuk dengan pekerjaan nya sendiri.
" Dari dulu nenek berharap, sebelum Kyara kamu bisa menikah terlebih dahulu. Tapi sekarang itu mustahil setidaknya setelah Kyara menikah, Rey nenek juga akan segera menikah umur kamu sudah hampir 30 tahun Rey. "
" Harus berapa kali sih Rey bilang sama nenek Rey tidak ingin menikah kenapa nenek gak ngerti juga. " Kini Rey menatap nenek Retno dengan amarahnya.
" Rey jika memang kamu belum menemukan gadis yang tepat, nenek bisa kok mencarikannya untuk mu. "
" Tidak perlu, Rey sudah menemukannya. " karena emosi Rey keceplosan, berbicara tentang gadis ia teringat pada Zahra. Nenek pun terkejut dengan yang ia katakan terlihat dari ekspresi wajah nenek.
" Ma..maksud Rey, Rey tak perlu susah susah untuk mencari dan menemukannya karna Rey tak ingin menikah." Rey sedikit gagu, ia tersadar dengan apa yang di katakannya.
Seperti biasa nenek mengalah pada Rey ia beranjak pergi meninggalkan Rey. Biasanya nenek sedih jika sudah berdebat tentang pernikahan tapi kali ini ia tersenyum, ada seberkas harapan di hatinya setelah melihat Zahra dan mendengar ucapan Rey tadi saat berbicara tentang gadis yang akan di carikan nenek. Rey mengatakan dia telah menemukannya. Nenek berharap semoga Allah segera mempertemukan Rey dengan jodohnya, gadis yang bisa membawanya dari kegelapan menuju cahaya terang yang membuatnya kembali tertawa bahagia.
__ADS_1
*****
pukul 16.00 Wib beberapa karyawan sudah bersiap untuk pulang. Begitu juga dengan Sasa. Tak sabar menunggu akhirnya Sasa ke ruang kerja Zahra.
ceklek.....
Sasa membuka pintu dan masuk menghampiri Zahra.
" Yuk Ra, kita pulang!" ajaknya.
" Lo pulang duluan aja Sa, kayaknya aku lembur ni, lo lihat aja ni masih banyak lagi harus siap ni hari besok kata pak Rey mau ke lapangan. " Zahra menunjukkan kerjaan yang harus segera di selesaikan nya.
" Ya mana enak, tadi kan kita berangkat bareng masak pulangnya enggak, apa perlu aku tungguin Ra? "
" Gak usah Sa lo pulang aja duluan nanti aku pulang naik gojek aja. Biar cepet. "
" Yakin ni gak mau di tungguin? " tanya Sasa lagi memastikan.
" Iya, dah ah sana lo pulang ntar kalau bos galak itu lihat aku ngobrol saat lembur maulah di potongnya gaji ku nanti Sa, hehehe... " Zahra tertawa.
" Hahaha....., iya juga ya, ya udah deh aku pulang duluan ya Ra, nanti lo hati-hati,"
" Iya lo juga Sa hati-hati jangan ngebut kayak tadi. "
" Ok, da Zahra." Sasa berjalan keluar meninggalkan Zahra yang masih sibuk dengan pekerjaannya.
Hampir dua jam berlalu, karena lelah Zahra ketiduran. Rey yang juga lembur keluar dari ruangannya. Ia melihat Zahra apakah sudah selesai mengerjakan file yang ia suruh kerjajan tadi atau belum.
Rey masuk, ia melihat Zahra yang tertidur. Rey berjalan mendekati Zahra. Dipandanginya wajah Zahra yang sedang tertidur kelelahan.
" Wajahnya terlihat sangat lembut jika ia sedang tertidur." Gumam Rey tersenyum tipis.
Rey hendak membangunkan Zahra dengan menepuk bahu Zahra tetapi ia ragu karena ia tidak mau Zahra marah bila tahu di sentuh olehnya.
Rey pun memanggil Zahra beberapa kali tetapi Zahra tak terbangun juga.
Rey memukul meja walau tidak terlalu keras tetapi berhasil membuat Zahra terbangun sehingga ia terkejut repleks langsung berdiri. kepalanya terantuk dengan kepala Rey yang jaraknya dekat dengan posisi sedikit membungkuk ke arah kursi Zahra.
" Aduh. " Teriak Zahra kesakitan dengan mata masih terpejam. Saat ia membuka mata, Rey sudah ada tepat di depannya dengan jarak yang sangat dekat. Seperti nya sudah menjadi takdir mereka selalu saling bertubrukan yang akhirnya saling pandang.
Jantung mereka berdetak kencang. Cukup lama mereka berpandangan. Zahra menundukkan kepalanya membuat Rey juga mengakhiri pandangannya. kini keduanya menjadi canggung.
" Apa sudah selesai? " tanya Rey menghilangkan kecanggungan diantara mereka.
" Sedikit lagi pak, Maaf saya ketiduran, saya akan melanjutkannya. " kata Zahra.
" Sudah lah besok saja dilanjutkan sekarang kita pulang. ayuk ikut denganku. " Ajak Rey berjalan mendahului Zahra.
Zahra mengikuti Rey berjalan menuju parkiran tanpa berbicara.
__ADS_1