
" Ketika hujan turun, tidak hanya membawa sejuta kenangan indah bersamamu, namun juga membawa sejuta keberkahan untuk bumi ini. Karena Semua orang ingin bahagia, tak ada yang ingin bersedih, kamu tak akan bisa melihat pelangi tanpa adanya hujan."
...........................................................
HAPPY READING
............................................................
Zahra menghela nafas lalu menatap Rey.
" Baiklah jika ini yang bapak perintahkan, seperti biasa kan, aku harus nurut, dan gak punya hak untuk bilang tidak." Jawab Zahra kemudian berbalik membelakangi Rey berlari menuju dapur. Zahra masuk ke toilet yang ada di dapur.
Zahra sudah tak tahan lagi. Air matanya pun jatuh bebas meluncur membasahi pipinya.
" Ya Allah kenapa denganku seharusnya aku senang bisa lebih cepat perbisah dari pak Rey dengan begitu aku bisa nerima lamaran dari bang Salim atau bang Yazid. ini pasti karena perkataan Sasa tadi, makanya aku nangis gini. Sekarang da jelaskan aku gak perlu bertanya-tanya sendiri lagi. Sikap peduli Pak Rey hanya karena kasian tidak lebih." Air mata Zahra kini mengalir deras.
Zahra menyeka air matanya lalu Zahra mencuci wajah. Setelah merasa baikan Zahra keluar dan menuju dapur. Zahra membuat dua cangkir minuman lalu membawanya ke ruang nonton tempat Rey duduk.
" Kopi Pak." Zahra memberikan segelas kopi pada Rey.
Rey menerimanya dan meminum dengan perlahan. Kopi buatan Zahra sangat cocok dengan selera Rey.
" Zahra, yuk ikut denganku, aku akan tunjukkan tempat pavoritku di Apartemen ini." Rey berdiri menarik tangan Zahra menuju lorong sempit di sudut ruangan samping ruang nonton TV.
" Kita mau kemana Pak." tanya Zahra penasaran.
" Nanti kamu juga tahu." mereka berdua menaiki anak tangga.
Rey membuka pintu, sampailah mereka di atap Apartemen yang di jadikan tempat indah oleh Rey.
" Wah indah banget pak di sini. kita bisa lihat kota yang berkilau dengan taburan lampu, pemandangannya keren." Zahra berjalan ke pinggir pagar melihat kota yang begitu ramai dengan lampu.
Angin bertiup kencang, di langit tak ada satupun bintang sepertinya akan turun hujan.
" Ternyata jadi orang kaya tu enak ya pak, punya rumah mewah, villa indah dan Apartemen keren seperti ini pasti masih banyak yang lainnya." Zahra menatap ke bawah meflihat kota ramai yang dipenuhi lampu
__ADS_1
" Sekarang Apartemen ini milikmu jadi kamu bisa tahu enak atau tidaknya."
Zahra menatap Rey sesaat kemudian kembali menatap pemandangan indah di bawahnya.
" Ra, udaranya dingin banget sepertinya akan turun hujan, kita masuk yuk." Ajak Rey.
" Sebentar dong pak kitakan baru beberapa menit di sini, aku masih ingin menikmati indahnya suasana malam ini." Zahra memejamkan mata merasakan hembusan angin menerpa tubuhnya. suasana ini membuatr hatinya menjadi lebih baik.
Rey mengikuti keinginan Zahra untuk tetap berada di atap Apartemen.Hujan pun mulai turun perlahan untuk sekian detik, kemudian berubah menjadi sangat deras.
" Hujan Ra, ayuk kita berteduh." Ajak Rey pada Zahra kemudian Rey berlari menuju teras pintu yang atasnya tertutup atap.
Rey melihat Zahra yang masih berdiri di tempatnya membiarkan air hujan membasahi tubuhnya.
" Zahra cepat kemari, hujannya sangat deras ni." Teriak Rey.
" Hujan itu Rahmat, ayolah sesekali kita mandi hujan." Ajak Zahra.
" Kamu jangan gila Ra, nanti kamu sakit."
" Tenang aja pak ini yang di namakan terapi bahagia. Bahagia itu mudah asal kita bersyukur, hal-hal kecil akan membuat kita bahagia." Zahra merentangkan tangan menangkap setiap tetesan hujan.
Zahra berbalik ke arah Rey dia tertawa kecil.
" Bapak ini seperti orang yang setiap saat menunggu kebahagiaan datang, makanya bapak tak pernah bahagia"
Rey mengerutkan dahi tak mengerti apa yang di katakan Zahra.
" Pak kebahagian itu sebenarnya ada di dekat bapak, dan ada pada hal-hal sepele. Bapak saja yang gak pernah sadar. Jika bapak gak percaya tutuplah mata, bapak akan melihat kebahagian itu." Zahra melanjutkan bermain hujan. Air hujan yang membasahi dirinya membuat hatinya menjadi tenang, untuk sejenak Zahra bisa melupakan semua masalah di hidupnya.
Rey mengikuti saran Zahra. Ia pun menutup mata. Rey melihat bayangan Zahra saat pertama kali ia berjumpa di danau Mauntara, bayangan Zahra saat Zahra tersenyum dengan anak panti, bayangan Zahra yang selalu ceria tersenyum manis, hanya Zahra yang terlihat oleh Rey. Rey pun membuka matanya. Rey kembali melihat Zahra yang berada di depan sedang asyik bermain hujan.
Entah dorongan dari mana sehingga Rey berjalan perlahan menerobos hujan mendekati Zahra.
Di tengah asyiknya memainkan air hujan tiba-tiba Zahra teringat kejadian di desa bersama keluarganya. Saat itu Zahra akan ikut acara keluarga besar Papa. ketika akan berangkat hujan pun turun dengan sangat deras. Bu'de dan tante Zahra menyalahkan Zahra akan turunnya hujan. Mereka mengatakan semua itu terjadi karena Zahra ikut, Zahra adalah gadis pembawa sial, setiap ada Zahra masalah pasti akan terjadi pantas saja Zahra juga gagal menikah dikarenakan kesialan yang melekat sejak Zahra kecil. Waktu itu Zahra menangis karena memang baru saja Zahra bersedih atas pernikahan dengan orang yang di cintainya gagal tetapi keluarga dari Papanya bukan memberi suport malah memojokkannya. Zahra menangis di pelukkan Mama. Kejadian itu kembali teringat di pikiran Zahra membuat perubahan yang sangat jelas. Zahra yang tadi bahagia bermain hujan kini ia bersedih kembali meneteskan air mata.
__ADS_1
Rey melihat perubahan Zahra lalu menepuk pelan bahu Zahra.
" Ra, kamu kenapa?"
Zahra berbalik menatap Rey, air matanya membasahi pipi bersama dengan air hujan.
" Ra, mengapa kamu menangis? bukankah kamu bilang tadi...."
Belum selesai Rey berbicara, Zahra menangis terisak dan langsung memeluk Rey.
Rey kaget karena Zahra memeluknya tiba-tiba, tubuh Zahra gemetar karena menahan isak tangis. Awalnya Rey Ragu membalas pelukan Zahra tetapi isak tangis terasa jelas di dada bidang Rey membuat Rey pun memeluk Zahra dengan erat. Satu tangan Rey berada di puncak kepala Zahra yang tertutup jilbab.
Pelukan hangat yang di berikan Rey mampu membuat Zahra tenang sama seperti saat Zahra menangis di pelukan mama yang mampu membuat dirinya tenang menghadapi masalah.
Cukup lama Rey dan Zahra berpelukan di tengah hujan deras. Setelah hati Zahra tenang Zahra membuka mata, Zahra baru sadar bahwa dia menangis bukan di pelukan mama melainkan Rey. Sontak Zahra mendorong tubuh Rey melepaskan dirinya dari pelukan Rey.
Rey juga terkejut membuka matanya dilihat wajah Zahra yang juga menunjukkan ekpresi terkejut. Lalu Zahra berlari masuk ke dalam Apartemen.
" Ra, " panggil Rey.
Rey baru sadar bahwa dirinya hujan-hujanan hanya karena Zahra. Padahal Rey sangat benci dengan hujan, menurut Rey hujan hanya melambat pekerjaan yang sudah di rencanakan. Tetapi hari ini hujan membawa Zahra berada di dekapannya.
Zahra menuruni anak tangga masuk ke kamar tamu. Zahra langsung masuk ke kamar mandi yang ada di dalam kamar itu. Zahra sendiri heran kenapa dia bisa memeluk Rey. Hatinya kini kalut dengan perasaannnya sendiri. Zahra selalu merasa nyaman bersama Rey. Ini adalah ke tiga kalinya Zahra memeluk Rey tanpa di sengaja. Sebelumnya Zahra tidak pernah memeluk lelaki kecuali papa dan kedua abangnya. Meskipun saat ini tak ada dosa bila dia memeluk Rey tetapi tetap saja ia sangat menyesal dengan tindakan bodoh yang dilakukannya. Zahra akan semakin sulit untuk berpisah dengan Rey, melihat Rey sudah menjadi kebiasaannya sejak ijab kabul di ucapkan Rey di depan tuan kadi dan dua orang saksi.
Sementara Rey, ia menuruni anak tangga, melihat kamarnya masih terbuka dan tidak ada Zahra di sana,sedangkan pintu masuk Apartemen masih terkunci dari dalam. Rey melihat ke pintu kamar Tamu yang tertutup.
" Mungkin Zahra di dalam."
Rey mengambil baju tidur lengkap dengan jilbab instan dari dalam lemari kamar untuk Zahra yang memang sudah di persiapkan Rey sebelum membawa Zahra ke Apartemen.
Tok....tok..tok
Pintu di ketuk Rey. Zahra yang mendengar suara ketukan pintu keluar dari kamar mandi masih dengan pakaian basah karena memang Zahra gak punya pakaian ganti. Zahra membuka pintu melihat Rey berdiri di depan.
" Gantilah bajumu." Rey menghulurkan baju pada Zahra.
__ADS_1
Zahra mengambil tanpa berkata lalu menutup pintu, masuk ke dalam kamar.
Rey kembali ke kamarnya, membersihkan diri lalu mengganti pakaian kemudian Rey memilih tidur di sofa ruang nonton TV, memastikan bahwa Zahra baik-baik saja malan ni.