
" Zahra kamu pilih apa? " tanya Very yang ngelihat Zahra diam memikirkan apa yang akan dipilihnya.
" Ehm tantangan aja pak". Jawab Zahra.
" Kalau begitu aku yang kasih tantangan ya, " sosor Lani tanpa spasi.
Yang lainnya setuju meski sebenarnya beberapa diantara mereka ada juga yang ingin memberi tantangan ke Zahra tapi udah kedeluanan Lani.
" Kamu lihat panggung itu kan Zahra? setelah Vokalis band itu selesai dengan lagunya kamu harus ke sana menyanyikan sebuah lagu untuk kita semua. " Lani tersenyum lebar.
" Tantangan yang bagus itu," sambung Vano.
" Nyanyi, saya gak biasa nyanyi, apa tantangan nya gak bisa di ubah aja buk. " kata Zahra.
" Bisa, tapi kamu harus minum ini karna kamu tak bisa menyelesaikan tantangan yang sudah di berikan dan kita akan lanjut ke tantangan berikutnya." Lani memegang sebotol minuman.
" Tapi saya gak minum itu, pak Very bapak gantikan saya ya, " pinta Zahra memohon pada Very.
" Gak bisa gitu dong Zahra kamu harus selesaikan tantangannya kamu pasti bisa. " Very memberikan semangat ke Zahra.
" Gua kesana dulu ya bilangkan habis ini Zahra akan nyumbangkan lagu untuk kita semua. " Vano berjalan menuju panggung hiburan.
Lani dan jeny tersenyum.
" Lo rasain Zahra lo bakal malu ni malam." batin Lani.
" Udah deh Ra, jangan nerves, keluari tu suara emas lo. " bisik Sasa pada Zahra.
" Lo tahukan Sa, aku gak pede kalau disuruh nyanyi, kalau ngaji ma aku biasa."
" Ya anggap aja lo lagi ngaji, " Sasa tertawa geli melihat sahabatnya yang udah gak tenang karna harus menyanyi diatas panggung.
" Lo gila ya Sa, ini tu nyanyi bukan ngaji, mana da lama banget aku gak nyanyi di panggung, terakhir kali nyanyi waktu masih TK tahu. tolongi aku dong Sa, gantiin gitu. "
" Idih mana bisa, Aku yakin kamu pasti bisa Ra, anggap aja lo masih anak TK sekarang. " Ledek Sasa tertawa kecil. Mereka masih berbisik yang sedari tadi di perhatikan Rey.
***
" Baiklah sebelum saya lanjut ke lagu berikutnya sekarang kita akan di hibur oleh seseorang pengunjung Cafe malam ini yaitu Nona Zahra, kepada nona kami persilahkan." panggil Vokalis band.
Zahra semakin panik ia sudah lama tak menyanyi di atas panggung Zahra melihat Rey yang ada di depannya. " Pak Rey, bapakkan suka musik pasti bapak pintar nyanyi bapak aja ya yang nyanyi gantiin saya." ucap Zahra mencoba mencari bantuan.
" Kamu yang milih tantangan kan, jadi kamu harus menyelesaikannya. jika kamu seperti itu bagaimana kamu bisa, Kamu harus yakin dengan kemampuanmu. " Rey menyakinkan Zahra yang dilihatnya dari tadi sangat gugup.
" Iya Ra,kamu harus Yakin kamu pasti bisa," Very juga memberikan motivasi pada Zahra.
" Ayo Ra, da ditunggu itu. " Vano meminta Zahra naik ke panggung.
Zahra pun berjalan menuju panggung, di panggung ia mendatangi pemain Band untuk memberi tahukan nyanyi yang akan dibawakannya.
Lani dan Jeny tersenyum mereka berdua membayangkan Zahra akan bernyanyi dan akan di tertawakan semua pengunjung.
Sedangkan yang lainnya menunggu Zahra mengeluarkan suaranya mereka juga pingin mendengar Zahra menyanyi.
Musik sudah dimainkan oleh personil band Zahra masih menunduk menunggu intro.
Zahra pun bernyanyi
Mulia indah cantik berseri
Kulit putih bersih merah dipipimu
Dia Aisyah putri Abu Bakar
Istri Rasulullah........
Sungguh sweet nabi mencintamu
Hingga nabi minum di bekas bibirmu
Bila dia marah, nabi kan bermanja
Mencubit hidungnya
Aisyah...
Romantisnya cintamu dengan nabi
__ADS_1
Dengan baginda kau pernah main lari-lari
Selalu bersama hingga ujung nyawa
Kau disamping Rasullallah...
Aisyah...
Sungguh manis oh sirah kasih cintamu
Bukan persis novel mula benci jadi rindu
Kau istri tercinta Ya Aisyah, ya Humairah...
Rasul sayang, kasih, Rasul cintamu.....
Lani terkejut mendengar suara Zahra yang sangat merdu.
" Jen, lo gimana sih? lo bilang Zahra gak bisa nyanyi?" bisik Lani kesal.
" Kemarin aku dengar dia bilang gak bisa nyanyi buk mana tahu aku kalau suaranya ternyata bagus gitu. " jawab Jeny.
Sementara Rey, Very, Vano dan yang lainnya terpukau dengan suara merdu Zahra, kecuali Sasa yang memang tahu suara Zahra itu merdu hanya saja Zahra gak Pede bila di suruh nyanyi.
Mulia indah cantik berseri
Kulit putih bersih merah dipipimu
Dia Aisyah putri Abu Bakar
Istri Rasullallah
Sungguh sweet nabi mencintamu
Bila lelah nabi baring dijilbabmu
Mengikat rambutnya
Aisyah...
Romantisnya cintamu dengan nabi
Dengan baginda kau pernah lari-lari
Selalu bersama hingga ujung nyawa
Kau disamping Rasullallah...
Aisyah...
Sungguh manis oh sirah kasih cintamu
Bukan persis novel mula benci jadi rindu
Kau istri tercinta Ya Aisyah, ya Humairah...
Rasul sayang, kasih, rasul cintamu.
" Gak nyangka ya, suara Zahra bagus bener, tapi kenapa dia tadi nolak ya untuk nyanyi. " ucap Very kagum tapi bingung.
" Suara Zahra itu emang merdu pak, dulu di kampus setiap ada kegiatan keagamaan pasti Zahra yang jadi qori'ah nya, tapi Zahra memang gak pede aja kalau di suruh nyanyi." jelas Sasa yang mendengar ucapan Very.
" Temen loh itu ternyata paket komplit ya Sa, enak tu di jadiin istri tiap malam bisa dinina bobokkan dulu. " Kata Vano tertawa kecil.
" Lo tu ya Van, ngayal aja terus. " sewot Very.
Lani dan Jeny semakin kesal mendengar yang lainnya memuji - muji Zahra. Apa yang direncanakannya tidak sesuai dengan yang ia lihat, bermaksud mempermalukan Zahra eh malah semuanya semakin kagum pada Zahra.
Istrinya Roky mendatangi tempat duduk mereka sepertinya dia sudah melihat foto Roky selfie dengan seorang cewek pengunjung cafe, dia membawa Roky setelah Roky pamit ke Vano mereka berdua pergi meninggalkan Cafe.
Selesai menyanyi Zahra kembali ke tempat duduknya.
" Ra, suara lo bagus banget tahu gitu seharusnya tadi tantangannya satu album bukan satu lagu. " Kata Vano tersenyum manis.
" Ia Ra suara lo bagus banget. Enak di dengarnya " Very juga memuji Zahra.
__ADS_1
" Makasih pak," Ucap Zahra tersenyum.
Rey hanya melihat Zahra tanpa memujinya padahal di dalam hatinya ia semakin kagum pada gadis cantik yang duduk di hadaoannya itu. gadis yang kini sudah membuat tidurnya tidak nyenyak karena selalu membayang bayangi di setiap malamnya.
" Karna Roky da gak ada berarti permainannya kita udahin aja ya,gimana kalau kita lanjuti dansa aja Van. " kata Jimy memberi ide.
" Ok ide bagus itu, yuk kita berdansa sekarang." ajak Vano yang sudah berdiri.
" Rey kita dansa yuk? " ajak Lani.
" Lo sama Vano aja Lan, gua lagi malas ni. " tolak Rey.
" Udahla Lan malam ni lo dansa sama gua aja." Vano menarik Lani berjalan meninggalkan mereka.
Jimy mengajak Jeny berdansa,seorang Jeny tak mungkin menolak ajakan cowok seganteng Jimy.
" Ra kita dansa juga yuk. " Ajak Very.
Rey dan Sasa memandangi Zahra.
" Maaf pak tapi saya tidak berdansa, " tolak Zahra sopan. " gimana kalau bapak menari sama Sasa aja, dia ini pintar menari lo pak. "
" Kamu apaan si Ra. " Sasa melototkan matanya pada Zahra.
Very tidak enak jika menolak saran Zahra dan tidak ingin Sasa merasa sakit hati bila ia menolaknya akhirnya ia pun mengajak Sasa bergabung menari dengan yang lainya, tentu saja Sasa menyetujuinya dengan senang hati.
Kini tinggal Zahra dan Rey duduk berdua menikmati minuman mereka sambil melihat teman-temannya lagi ngedance.
Zahra meminum jusnya sedangkan Rey mengambil botol minuman, ia meminumnya beberapa gelas sampai ia mabuk hampir tak sadarkan diri.
Rey menggenggam tangan Zahra dan membawa paksa Zahra keluar dari Cafe.
" Pak lepaskan, " Zahra mencoba melepaskan genggaman tangan Rey yang begitu kuat. "
" kamu ikut aja. " Rey terus membawa Zahra berjalan menuju mobilnya.
" Masuk," perintah Rey menyuruh Zahra masuk ke dalam mobil.
" Enggak pak, bapak sedang mabuk aku gak mau kalau orang lain celaka bila bapak mengemudi dalam keadaan seperti ini. "
" Masuk saya bilang atau tidak saya....."
" Baik saya akan ikut bapak tapi saya yang nyetir. " Zahra merampas kunci mobil Rey dan duduk di kursi kemudi.
Rey pun duduk di samping Zahra. Zahra mengemudikan mobil Rey.
" Kita mau ke mana pak? " tanya Zahra.
" Ke taman. " jawab Rey.
Sesampainya di taman Rey tidak turun ia memandang Zahra ntah apa yang merasukinya sehingga Rey menarik Zahra dan hendak mencium Zahra. Zahra yang kaget melihat Rey mendekat dengan sekuat tenaga menolak Rey menjauh.
Rey yang mabuk kepalanya terbentur pintu mobil sehingga dia pingsan.
" Pak,Pak Rey, bangun pak, " Zahra mengguncang tubuh Rey tetapi ia tak bangun juga.
Zahra bingung harus bagaimana, ingin membawa Rey pulang tetapi ia tak tahu alamat rumah bosnya itu. Ingin menelpon Very atau Sasa tetapi ponselnya tadi ada sama Sasa, Waktu di Cafe Sasa meminjam ponsel Zahra karena tadi Rey membawa paksa Zahra ia tidak sempat mengambil kembali ponselnya dari Sasa.
Zahra mencoba mengambil ponsel milik Rey di saku celana Rey. Zahra menghidupkan ponsel dan ponsel meminta sidik jari.Zahra ingat Rey menggunakan jari kelingking untuk membuka kunci ponselnya.
Zahra pun meletakkan jari kelingking Rey di layar ponsel dan berhasil tetapi ponsel kembali meminta kata sandi. berulang kali Zahra mencoba memasukkan kata sandi tetapi gagal, kata sandinya tidak sesuai. merasa putus asa Zahra meletakkan ponsel Rey ia semakin bingung tidak mungkin kembali ke Cafe karena terlalu jauh.
Akhirnya Zahra mengemudikan mobil ia punya ide untuk membawa Rey Ke ARDANA Hotel.
Di depan Hotel Zahra menuju meja Resepsionis hotel.
" Mbak, di depan ada bapak Rey ARDANA pemilik hotel ini, dia mabuk dan sekarang pingsan tolong bawa dia ke kamar hotel ini, dan segera hubungi keluarga nya mbak. " kata Zahra panik.
" Mbak ini siapa jangan mengada-ngada kalau bicara. " penjaga hotel tidak percaya begitu saja dengan ucapan Zahra.
" Mbak saya gak bohong, pak Rey belum sadarkan diri, saya juga kemari menggunakan mobil pak Rey, mbak bisa cek sendiri diluar." Zahra menunjukkan kunci mobil Rey.
" Jika memang benar kenapa mbak gak bawa pak Rey ke rumahnya aja, mengapa malah kemari." Penjaga berbicara semakin ketus ke Zahra.
" Saya gak tahu alamat rumahnya pak Rey makanya saya bawa kemari dan saya pinta mbak hubungi keluarganya sekarang. "
" Baiklah kita akan cek jika anda berbohong kami akan laporkan anda kepihak berwajib. "
Mbak dan beberapa pelayan hotel melihat ke dalam mobil ternyata benar pak Raihan pingsan mereka membawa Rey ke kamar dan segera menghubungi nenek Retno dan Dokter.
Zahra pulang setelah melihat Rey sudah di baringkan di tempat tidur, ia memberikan kunci mobil kepada pelayan dan berjalan keluar hotel. tak lama kemudian nenek Retno pun sampai di hotel.
__ADS_1