Jodoh Terbaik Pilihan Tuhan

Jodoh Terbaik Pilihan Tuhan
Part 78. Nyesek


__ADS_3

Pagi ini sangat cerah, angin menembus pentilasi udara memasuki kamar Zahra. Zahra sudah siap untuk berangkat kerja ke lokasi Danau Mauntara. Zahra berangkat dengan menaiki honda maticnya, sudah lama sekali Zahra tidak berangkat dengan kendaraan kesayangannya itu. Berangkat ke kantor dengan hati yang gembira memancarkan rona wajah yang ceriah.


Tadinya Rey ingin menjemput Zahra tapi Zahra melarangnya. Zahra sampai di Danau, langsung menuju lokasi Hotel, di sana ternyata sudah ada Rey dan Adi.


Mereka memulai pekerjaan, dengan mengawali berkeliling ke beberapa bagian Hotel dan meninjau semua proses pengerjaan, apa saja kekuranggan dalam proses pengerjaan agar target pembangunan tercapai sesuai dengan waktu yang di tentukan.


Saat ini proses pengerjaan baru 35 persen, Rey meminta pada Adi agar pengerjaan di percepat, mempersiapkan segala sesuatunya termasuk menambah pekerja.


Zahra mencatat semua hal yang diperlukan begitu juga rancangan lanjutan yang sudah di diskusikan Rey dan Adi. Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, kini sudah hampir jam 12 siang. Adi mengajak Rey dan Zahra makan di Rumah makan dekat danau.


Setelah selesai makan siang Adi pamit pulang duluan.


" Rey aku cabut dulu ya, ini Isriku da nelepon, maaf ya Rey hari ini aku gak bisa datang ke acara Ulangtahun kantor karna Rencananya hari ini Istriku oprasi."


" Gak apa Di, lo konsen aja sama istri lo, mudah-mudahan oprasinya berjalan lancarya, istri dan anak lo sehat selamat."


" Aamiin makasih bro doanya, gua cabut duluya. Zahra Saya duluan ya."


" Iya pak, salam sama ibuk ya pak."


" Ya nanti saya sampaikan." Adi pun beranjak meninggalkan Rey dan Zahra.


Rey dan Zahra masih duduk karena baru saja selesai makan.


" Laki-laki semalam siapa?" Tanya Rey.


" Yang mana pak?" Zahra balik bertanya.


" Yang karena mau jumpain dia kamu sampai tinggali aku sendiri sama Mama mu." jawab Rey.


" Oh, itu..., dia anak temenya Papa, namanya bang Salim, kita dulu tetanggaan jadinya akrab tapi mereka sekeluarga pindah ke Kairo, ini balik ke indonesia karena ada urusan katanya.


" Urusan apa?"


" Urusan keluarga kali." jawab Zahra tak mau menjelaskan panjang lebar.


" Semalam kata Sesil kalian mau di jodohkan?"


" Sesil bilang gitu?" mata Zahra membulat, Rey mengangguk." Das Sesil ember untuk apa lagi dia pakai cerita segala." gerutu Zahra.


" Bukan di jodohin si sebenarnya."


" Lalu?" Rey menatap lekat Zahra.


" Semalam tu bang Salim ngelamar Aku jadi istrinya."


" Kamu terima?" tanya Rey mengintrogasi.

__ADS_1


" Ya enggak lah mana mungkin perempuan yang udah nikah nerima lamaran dari laki-laki lain. Walau pernikahan kita cuma sebatas perjanjian tapi tetap aja hukumnya gak boleh menerima pinangan." jawab Zahra lirih menundukkan kepalanya dan mengaduk ngaduk sisa minumanannya dengan pipet.


" Baguslah." ceplos Rey.


" Apa?" Tanya Zahra memastikan yang di dengarnya.


" Ya, bagus berarti kamu mengerti hukum agama. "


Zahra kembali mengaduk minumannya. ada rasa kecewa di hati Zahra mendengar penjelasan Rey.


" Ra kamu suka ya sama dia?."


Zahra mengangkat kepalanya menatap Rey mereka saling bertatapan beberapa saat.


" Kalau iya kenapa?" Jawab Zahra sengaja ingin tahu reaksi Rey.


Rey terdiam mendengar jawaban Zahra, entah mengapa ada rasa sakit dalam hatinya. sedangkan Zahra masih menatap dirinya menunggu jawaban Rey.


" Ya gak papa" cicit Rey spontan berusaha menutupi rasa sakit itu.


" Udah hampir Zuhur kita pulang sekarang. " ajak Rey. Mereka berdua berjalan beriringan menuju tempat parkir.


" Zahra, jam 5 kita harus da sampai Hotel. ke acara ulang tahun kantor."


" Acaranya kok soreh pak, kan nanggung kenapa gak sekalian malam aja?" Tanya Zahra mereka berdua terus berjalan beriringan.


" Semuanya wajib hadir ya pak?, kalau aku izin gak datang bolehkan pak?."


" Gak bisa, kamu harus datang."


" Tapi aku gak tahu pak konsep pestanya seperti apa, mana waktunya mendadak, ntar salah konstum lagi seperti tempo har...." Zahra teringat kejadian buruk saat dia di kerjain Lany dan Jeny sehingga tak melanjutkan ucapannya.


" Kamu gak usah khawatir aku da menyiapkan semua termasuk gaun untuk kamu kenakan nanti, kamu tenang saja kali ini gaun itu dari ku, jadi tak akan terjadi kesalahan."


" Pak Rey nyiapkan baju untuk ku.apa aku mimpi, kenapa tiba-tiba dia perhatian gini ya." batin Zahra hatinya kembali berdebar, Zahra sampai menghentikan langkahnya.


Rey Sadar Zahra gak ada disampinnya ternyata Zahra malah bengong di belakang. " Zahra, kenapa berhenti." Suara Rey membuyarkan lamunan Zahra.


Zahra tersenyum nyengir lalu melanjutkan Jalannya kembali mensejajarkan dengan Rey.


" Kita kerumah mu dulu ngantar honda matic mu, setelah itu baru kita pulang." Ucap Rey lagi.


" Bapak pulang aja sendiri, aku pulangnya sama abangku pak."


Rey menghentikan langkahnya menoleh ke Zahra. " Kenapa, bukankah kita semalam pergi bareng jadi pulangnya bareng juga."


" Tapi pak, Papa ku gak ngizini aku pulang sama bapak.?"

__ADS_1


" Kenapa?"


" Papa gak ngizini aku berduaan dengan laki- laki asing."


" Zahra, aku ini suami mu bukan orang asing."


" Tapi papa kan gak tahu kalau kita menikah pak?" bantah Zahra.


" Ya udah sekarang kita kasi tahu Papamu." Rey menggenggam tangan Zahra lalu berjalan. Zahra melepaskan tanganya dari genggaman Rey, membuat Rey menghentikan langkahnya kembali dan menatap Zahra.


" Untuk apa, agar mereka bisa menghitung mundur hari dimana anaknya akan menjadi janda." Air mata Zahra jatuh tanpa memberi aba-aba.


" Zahra kita akan jelasi ke..."


" Sampai saat ini aku selalu melakukan yang bapak perintahkan, kumohon pak untuk kali ini tolong dengarkan aku, sekali saja. Jika Papa tahu Papa pasti akan marah besar dan keluarga Papa pasti akan menghinaku pak dan pasti mereka akan menyalahkan Mama atas ini Semua. Dulu Mama pernah koma karena aku pak. Aku gak mau itu terulang lagi aku gak ingin kehilangan Mama, Mama adalah kekuatan di saat aku berada dalam keterpurukan, Mama selalu meyakinkan suatu saat aku akan mendapatkan jodoh yang tepat." Zahra memotong pembicaraan Rey. Air mata Zahra keluar dengan deras tak dapat terbendung lagi.


Rey ingin menghapus air mata Zahra dengan tangannya tetapi di tangkis oleh Zahra.


" Jangan sentuh aku pak. Walaupun kita udah menikah bukan berarti bapak bisa menyentuhku seenaknya."


" Ra, aku hanya ingin menghapus air matamu."


" Tidak perlu. Biarkan seperti ini, bukankah bapak menyukainya kan maka dari itu bapak hanya mau menikah denganku agar bapak bisa puas melihat aku selalu menangiskan?" Zahra menunduk isak tangisnya semakin pecah.


Rey merasa terluka dengan tudingan Zahra yangvtak benar sama sekali, Rey juga merasa sakit setiap melihat Zahra menangis.


" Ra.." Rey berusaha menenangkan Zahra ingin memeluk Zahra tapi tangannya terhenti dengan terdengar kembali ucapan dari bibir Zahra.


" Aku benci pernikahan ini. Andai saja ini gak terjadi mungkin aku akan menerima lamaran dari bang Salim atau mungkin dari bang Yazid.hiks..hiks.." Zahra masih menagis tertuduk.


Rey mengurungkan niatnya untuk memeluk Zahra. Ucapan Zahra bagai pisau yang menancap ke dalam hati Rey, terasa sangat sakit, nyesek di dada.Saat ini Rey mengira bahwa Zahra mencintai Lelaki yang bersamanya semalam. Tak ada ruang di hati Zahra untuknya yang ada hanya kebencian.


Rey mundur satu langkah, masih menatap wanita didepannya yang menangis karena dia. Ya dialah penyebab Zahra tak bisa menerima lamaran dari lelaki lain saat ini.


Zahra mengangkat kembali wajahnya menatap Rey.


" Aku mohon pak, jangan kasih tahu apa pun tentang kita pada keluargaku." Zahra berlari menuju parkiran dan pergi meninggalkan kawasan danau dengan sepeda motornya.


Sementara Rey masih diam di tempat melihat kepergian Zahra. " Sebenci itu kah kau pada ku Zahra, apakah selama ini aku tak berarti di hatimu Ra, seharusnya aku sadar, kalau aku memang gak pantas dengan mu, kita sangat jauh berbeda, kau gadis yang baik sementara Aku, aku bahkan baru kembali menjalankan kewajibanku sebagai muslim baru beberapa hari yang lalu. Jika memang pernikahan ini menyiksamu aku akan ikhlas melepasmu untuk lelaki yang kau cinta." Rey berbicara dalam hatinya sendiri tak sadar butiran bening jatuh dari sudut mata Rey. Rey pun juga meninggalkan Danau Mautara tempat pertama kali ia berjumpa dengan Zahra.


 


 


💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟


Hai Readers pa kabar? moga kalian sehat dan selalu bahagia. Author cuma mau bilang beginilah kehidupan terkadang yang terjadi tak sesuai dengan yang kita inginkan tapi tetaplah bersyukur dengan semua ujian yang di berikan Allah karena semua yang terjadi pasti ada hikmanya. tetaplah sabar dan tersenyum walau terkadang hati mu menangis. 😆😆

__ADS_1


__ADS_2