Jodoh Terbaik Pilihan Tuhan

Jodoh Terbaik Pilihan Tuhan
Part 95. Ungkapan Hati Rey.


__ADS_3

" Pak Rey gak tahu sebenarnya tentang ku, aku ini wanita yang buruk pak, bahkan saudara ku sendiri mengatakan aku wanita pembawa sial setiap orang yang bersamaku pasti akan mendapat masalah sama seperti bapak saat ini dalam masalah semenjak mengenalku kan, sebelumnya hidup pak Rey baik-baik saja dan menjadi kacau sejak aku bekerja dengan bapak." Zahra memalingkan wajahnya dari Rey.


Rey menggenggam kedua tangan Zahra membuat Zahra kembali menatap Rey.


" Zahra aku nggak peduli dengan masa lalu mu, mau kamu gagal menikah 2 kali atau 10 kali aku gak peduli karena aku ingin menjalani masa depanku bersama mu. Aku juga gak akan pernah takut mengalami kesialan seperti yang bude dan tantemu katakan, karena bagiku kesialan terbesar dihidupku ketika aku gak berani menyatakan perasaanku padamu Ra, apalagi kalau sampai berpisah aku gak bisa bayangkan jika kamu pergi jauh dari ku, hidupku pasti akan kembali pada kegelapan." Rey masih menggenggam tangan Zahra menatapnya lekat begitu juga dengan Zahra. Air mata sudah menggenang di sudut mata indahnya.


" Zahra kamu mengajarkan banyak hal kepadaku. Karna mu lah sekarang kehidupanku yang hitam abu-abu menjadi penuh warna. Dari mulah aku sekarang menyukai bunga, menyukai keramaian, Aku belajar untuk peduli dan berbagi dengan orang lain, Aku belajar untuk lebih dekat dengan Allah yang dari dulu aku lupakan, Sekarang aku gak butuh alasan untuk tertawa dan bahagia. Semuanya itu terjadi begitu saja semenjak aku bersama mu Ra, aku yakin hati ku gak akan salah. Aku mencintai mu Zahra dan aku ingin selalu bersamamu bukan untuk dirimu, tapi untuk ku." Tatapan mata Rey semakin dalam.


Nyes...


Kata-kata yang di ucapkan Rey membuat hati Zahra seperti di siram air es. Sangat menyejukkan, Kini air mata tak mampu ditahan Zahra lagi. Butiran-butiran bening itu meluncur bebas melintasi pipi putih Zahra.


" Hei, kenapa kamu menangis." Tanya Reydengan suara lembut seraya mengusap perlahan air mata di pipi Zahra dengan kedua tangannya. Tetapi Zahra hanya diam membisu, bibirnya kelu tak mampu berkata-kata.


" Ra, apa kamu menangis karena kamu mencintai pria pilihan Papa mu itu?" suara lirih Rey memberi tekanan memastikan perasaan Zahra.


Zahra menggeleng. Air matanya semakin deras.


" Lalu." Rey menaikkan satu alisnya, ia bingung tak mengerti penyebab Zahra menangis.


Tiba-tiba Zahra memeluk Rey dengan erat. memejamkan mata dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang Rey.


" Aku juga sayang sama Pak Rey, aku gak mau berpisah dari bapak." Kata Zahra tersedat tangis.


Rey tersenyum bahagia lalu membalas pelukan Zahra dengan sangat erat mengusap lembut puncak kepala Zahra yang berbalut jilbab.


Zahra sangat nyaman berada di pelukan Rey, ini bukan yang pertama kali ia memeluk Rey. selalu saja Zahra merasa tenang setiap berada di dalam dekapan Rey yang menghangatkannya.


Zahra membuka mata dan melepas pelukan Rey.


" Maaf, aku terbawa emosi." lirih Zahra menundukkan kepala. Pipinya merah merona menahan rasa malu karena memeluk Rey terlebih dahulu.


" Tidak apa, aku malah senang kamu meluk aku, tidak seperti dulu yang selalu galak hanya karena tak sengaja memegang tanganmu padahal untuk menyelamatkanmu agar tidak terjatuh." Rey tersenyum mengingatkan kegalakan Zahra sebelum mereka menikah.

__ADS_1


" Itu kan dulu sebelum kita menikah, sekarang pak Rey suamiku jadi gak berdosa jika aku memeluk bapak." Zahra menggigit bibir bawahnya membuat Rey gemas melihatnya sehingga menggoda Zahra.


" Kalau begitu kita juga bisa dong melakukan hal lain yang lebih dari pelukan, kan gak dosa?" ledek Rey mengedipkan satu matanya.


Buk....buk....buk.....Zahra memukul dada Rey.


" Au, sakit Ra,." Rey meringis tapi tertawa.


" Biarin, Awas aja ya kalau Bapak berani macam-macam." Ancam Zahra.


" Gak macam-macam kok, cuma satu macam aja." sambung Rey tersenyum lebar lalu menarik Zahra kepelukannya. Zahra mengikut tanpa penolakan. Kembali menenggelamkan wajahnya di dada Rey. Sama seperti jantung Zahra yang berdetak kencang. Zahra juga mendengar debaran dada Rey yang begitu kuat.


" Pak ." panggil Zahra


" Emh......"


" Apa Kita akan jujur sama Papa dan Mama kalau sebenarnya kita udah menikah?, aku takut kalau Papa akan marah dan gak akan terima." Zahra mendungakkan kepala menatap Rey.


" Pernikahan ini tidak Salah, tapi cara terjadinya yang salah, maka aku akan memperbaiki semuanya." Jawab Rey lembut mengelus lembut dagu Zahra.


" Caranya? "


" Aku akan menikahi mu sama seperti impiamu Ra, pernikahan kita ini hanya secara agama belum tercatat di KUA karena sesuai kesepakatan tempo hari kita harus menunggu waktu tiga bulan untuk mengurus berkasnya bukan?, Jadi lebih baik kita tetap merasiakannya dari Keluarga mu. Setelah acara Kyara selesai kita langsung pulang dan aku akan menemui Papa dan Mama mu untuk melamarmu Ra, kita akan menikah sah secara agama dan hukum, dan papamu lah yang akan menjadi walinya. gimana?"


Zahra mengangguk dengan senyuman.


" Oh ya lalu gimana dengan nasib tu cincin? apa kita sedekahkan saja seperti yang kamu bilang tadi? biar di bungkus sama si mbak nya." Rey mengulum senyum.


Zahra memasang wajah marah yang di buat-buat.


" Enak aja. itu kan milik ku, Pak Rey memberikannya spesial untukku kan?" tanya Zahra yang sebenarnya adalah penekanan untuk menggingatkan perkataan pelayan tadi bahwa dessert itu spesial pesanan Rey untuk Zahra.


" Ya siapa tahu aja kamu gak suka, jadi mau di sedekahkan." Ledek Rey lagi.

__ADS_1


Zahra hendak mengambil cincin di atas meja tetapi Rey terlebih dahulu mengambilnya.


Rey mengangkat tangan kiri Zahra, memasangkan cincin dijari Tengah Zahra karena di jari manis sudah berisi dengan cincin saat mereka menikah dua bulan yang lalu.


" Zahra, Cincin ini akan selamanya ada di jari mu yang indah, jangan pernah kamu lepas ya! " titah Rey dengqn intonasi yang sangat lembut.


Zahra mengagguk, tersenyum bahagia ia tak pernah menyangka bahwa pernikahan kontrak yang ia jalani akan berubah menjadi pernikahan yang sesungguhnya yang di landasi cinta. Zahra bahkan tak pernah menyangka lelaki segalak dan sedingin Rey ternyata memiliki sisi yang sangat lembut dan penuh kasih.


" Kita pulang yuk." Ajak Rey membuyarkan lamunan Zahra.


Untuk kesekian kalinya Zahra kembali mengangguk menjadi gadis yang penurut tak seperti biasa selalu berdebat dengan Rey hnya krena persoaln kecil.


Rey dan Zahra berjalan menuju kasir untuk membayar dan membawa makanan yang di bungkus si mbak tadi.


Setelah dari meja kasir Rey dan Zahra berjalan keluar menuju mobil yang mereka bawa.


" Pak, ini untuk bapak, tadi kami pesan banyak dan ini belum dimakan, masih bagus, terima ya pak!." Kata Zahra kepada salah seorang tukang parkir yang kebetulan berada di depan Zahra.


" Ini beneran untuk saya Non." tanya tukang parkir memastikan.


" Iya." Zahra megembangkan senyum.


" terimakasih ya Non, Tuan, semoga Rezekinya melimpah, semoga tuan dan Nona juga selalu bahagia langgeng selamanya." Ucap bapak tukang parkir memanjatkan doa.


" Aamiin." kata Rey mengaminkan yang langsung di lihat Zahra sehingga mereka berdua kembali bertatapan saling melempar senyum.


" Kalau gitu kita permisi ya pak." Zahra dan Rey berjalan masuk ke dalam mobil. Tak butuh waktu lama mobil yang di kendarain Rey melaju meninggalkan lokasi Kafe.


Β 


Β 


Tetap dukung Author ya biar semangat up tiap hari. β˜Ίβ˜ΊπŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2