Jodoh Terbaik Pilihan Tuhan

Jodoh Terbaik Pilihan Tuhan
Part 115. Pelukan Hangat.


__ADS_3

Rey keluar dari kamar mandi, berjalan melihat Zahra yang masih duduk di bangku depan meja rias untuk membersihkan wajah dari make up.


Rey membentangkan sajadah untuk menunaikan shalat isa.


Beberapa menit berlalu Rey telah selesai menunaikan kewajibannya sebagai muslim.


Mata Rey tertuju pada Zahra yang belum juga beranjak dari kursi rias. Zahra mencoba membuka resleting pakaian yang ia kenakan, terlihat Zahra kesulitan membukanya, berulang kali ia mencoba tapi tetap tak bisa.


Rey berjalan ke arah Zahra, tanpa berkata Rey membantu Zahra membuka resleting.


Perlahan tapi pasti, Resleting terbuka hampir sampai pinggang.


" Sudah pak, saya bisa melanjutkannya." dengan cepat Zahra menghentikan Rey. Jantung Zahra berdetak tak karuan ada rasa panas yang menjalar di tubuhnya.Zahra berlari masuk ke kamar mandi.


" Terimakasih ya pak." kata Zahra lagi sebelum menutup pintu.


Rey hanya terdiam, dengan susah payah ia menelan salivanya sendiri.


Rey berjalan menuju ranjang duduk bersandar menyelonjorkan kaki sambil memainkan ponselnya.


25 menit berlalu.


" Pak Rey! " panggil Zahra dari dalam kamar mandi hanya wajahnya yang iya tunjukkan.


Rey pun menoleh kearah Zahra.


" Bisa tolong ambilkan handuk." pinta Zahra dengan suara ragu, karena terburu-buru masuk ke kamar mandi Zahra lupa membawa handuk.


" Dimana handuknya?" Rey bangkit dari tempat tidur.


Zahra berfikir sejenak tidak mungkin menyuruh Rey mengambil handuk di dalam lemari karena letak handuknya bersampingan dengan pakaian dalam.


" Ra handuknya di lemari ini?" tunjuk Rey pada bagian lemari tempat handuk.


" Bukan pak." ucap Zahra sedikit berteriak membuat Rey terkejut mengernyitkan dahi.


" Handuk yang bapak pake tadi saja." jawab Zahra cepat.


" Rey pun mengambil handuk yang tadi dia gantung dan akan memberikannya pada Zahra.


Saat Rey sudah berada di depan pintu Zahra menyembunyikan kepalanya di dalam dan mengulurkan tangan yang masih terlihat basah.

__ADS_1


Rey kembali duduk di ranjang setelah memeri handuk pada Zahra.


" Pak Rey." Terdengar lagi suara Zahra memanggil Rey.


" Ya ada apa lagi, kenapa kamu belum keluar juga, nanti kamu masuk angin Zahra jika terlalu lama di dalam sana."


Zahra mengembangkan senyum nyengirnya.


" Aku lupa bawa baju ganti, bisa bapak tolong ambilkan di lemari paling ujung."


Rey langsung berjalan menuju lemari bagian ujung yang ditunjuk Zahra dengan kode mata.lalu langsung membuka pintu lemari, melihat deretan beberapa baju tidur.


" Ini baju nya mana satu yang mau diambil.?" lirih Rey.


" Ambil aja pak yang mana pun jadi." Sahut Zahra dengan bibir gemetar, Zahra sudah mulai kedinginan.


Rey mengambil satu buah pakaian secara asal, kemudian menutup lemari lalu memberikannya pada Zahra.


Di dalam kamar mandi Zahra melihat pakaian yang di berikan Rey.


Mata Zahra membulat ketika mendapati pakaian yang di berikan Rey bukannya piyama melainkan daster tak berlengan diatas lutut.


" Mengapa dia harus mengambil daster ini sih." keluh Zahra.


Cklek...


Rey melihat Zahra keluar dari kamar mandi. melihat penampilan aneh Zahra yang masih menggunakan jilbab dengan daster pendek.


" Kenapa Zahra masih menggunakan jilbab, akukan sekarang bukan lagi suami kontraknya, aku berhak untuk melihat Zahra tanpa sehelai baju sekalipun." batin Rey kesal. " Sudahlah Rey, mungkin Zahra belum nyaman membuka hijabnya." Batin Rey kembali menenangkan.


Dengan Ragu Zahra berjalan ke luar.


" Kemarilah panggil Rey menepuk ranjang, Rey sudah menyilakan kaki sehingga Zahra bisa duduk tepat di depannya.


Jantung Zahra berdetak tak karuan, Zahra yang duduk di depan Rey dengan posisi miring pun hanya menunduk.


Dengan lembut Rey memegang pipi Zahra dan menghadapkan ke Arahnya, kemudian membuka hijab Zahra perlahan.


" Cantik. " Satu kata yang keluar dari bibir Rey membuat wajah Zahra merah merona, Rey tersenyum gemas melihat Zahra dengan wajah memerah.


Rey kini memegang puncak kepala Zahra Seraya membaca doa.

__ADS_1


" Allahumma inni as'aluka min khairiha wa khairi ma jabaltaha 'alaihi. Wa a'udzubika min syarriha wa syarri ma jabaltaha 'alaihi. (Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan yang Engkau tetapkan atas dirinya)"


Rey mengecup dahi Zahra dengan sangat lembut. Rey kembali melafazkan doa.


"Robbanaa hablanaa min azwaajinaa wa zurriyaatinaa qurrota'ayuniw waj'alna lil-muttaqiina imama. (Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa."


Rey mengecup untuk yang kedua kalinya tetapi di bagian kelopak mata Zahra secara bergantian. Zahra memejamkan mata sambil berusaha menetralkan debaran jantung yang kini seperti lari maraton.


"Allahumma jannibna wa jannibisy syaithon maa rozaqtana. "Ya Allah, jauhkalah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari apa yang Engkau karuniakan kepada kami." Tatapan Rey kini ke bibir tipis Zahra yang merona alami, Perlahan Rey mulai mendekatkan wajah siap menyatukan........


Tetapi Rey berhenti saat Zahra menutup bibir dengan tangan. Seketika wajah Rey berubah menjadi kesal.


" Saya lagi datang bulan Pak." ucap Zahra cepat tidak ingin Rey berfikir macam-macam.


" Datang bulan?" tanya Rey mengulang perkataan Zahra barusan.


Zahra mengannguk.


" Bagaimana mungkin? kemaren malam kamu Khatam Qur'an, bukannya kalau wanita lagi datang bulan gak boleh megang mushaf AlQur'an." Rey mengintimidasi Zahra meluapkan rasa kesal.


" Baru tadi pagi datang bulannya pak." Zahra tersenyum nyengir menunjukkan deretan gigi putihnya membuat wajah Zahra semakin menggemaskan dimata Rey.


" Ya Tuhan...saat menjadi suami kontrak aku hanya bisa memandangi wajah Zahra tanpa melakukan apa-apa dan sekarang meski kami didah benar-benar sah aku juga hanya bisa memansanginya saja." Batin Rey sambil menutup mata dan melepaskan nafas dengan kasar.


" Maaf Pak," Zahra merasa bersalah karena melihat ekspresi kecewa Rey.


" Tidurlah ! " titah Rey yang membaringkan tubuh dengan posisi miring.


Zahra berjalan memutari tempat tidur dan naik kesisi ranjang, melihat Rey tidur membelakanginya.


Zahra merasa sangat bersalah telah membuat suaminya kecewa. Zahra pun berbaring membelakangi Rey juga, menutup mata agar tertidur.


Baru saja Zahra hendak terlelap , tiba-tiba matanya terbuka karena terkejut merasa ada tangan yang melingkar di atas perut, ternyata itu tangan Rey.


" Pak Rey," panggil Zahra spontan berharap Rey melepaskan pelukannya sambil menoleh ke samping melihat wajah Rey dengan jarak yang sangat dekat, mata Rey terpejam.


Bukannya melepaskan Rey malah mengeratkan pelukan dan menenggelamkan kepala di leher Zahra.


" Kumohon Ra, biarkan aku seperti ini, aku sudah lama menantikan hari ini." ucap Rey dengan suara serak khas orang yang mengantuk.


Zahra kembali menoleh ke samping melihat Rey dengan mata masih terpejam, tangannya begitu erat mendekap tubuh Zahra.

__ADS_1


" Apa katanya? dia sudah lama menantikan hari ini? Apakah pak Rey sudah benar-benar mencintai ku? Pak Rey terlihat seperti anak kecil manja yang begitu menggemaskan, wajahnya sangat tampan, Pantas banyak wanita yang tergila-gila, tapi aku selama ini gak pernah mengakui ketampanannya hanya karena melihat sikap dingin yang selama ini ia tnjukkan. Pelukan hangat ini membuat ku merasa nyaman dan damai. Aku sama sekali gak nyangka dibalik sifat pak Rey yang dingin,galak,sombong ternyata ada kelembutan yang membuat jantungku berdetak tidak normal." Zahra memegangi dada menetralkan detak jantung yang tak karuan.


" Terima kasih Ya Allah, Engkau memilihkan jodoh yang baik untuk ku, kuharap rumah tangga kami sakinah mawaddah warahmah selamanya." Zahra pun menutup mata memulai tidurnya malam ini dengan senyum bahagia yang tanpa sadar mengembang di bibirnya.


__ADS_2