
Malam telah berganti pagi. Rembulan telah digantikan mentari yang menyapa hangat dengan pancaran sinar indah. burung-burung tak mau kalah, kicauan merdu bersahut-sahutan menambah suasana pagi lebih bermakna.
Rey bersama nenek sarapan bersama di meja makan. mereka hanya makan berdua karena tak ada lagi saudara yang masih menginap di rumah besar ARDANA semua sudah kembali pulang menjalani aktifitasnya masing-masing. Kyara dan Farhan masih berlibur ke puncak sebelum mereka kembali ke Brunai. Sedangkan Zahra juga belum turun untuk sarapan bersama.
" Kok Zahra belum turun ya Rey, apa dia masih tidur? setahu nenek Zahra selalu bangun subuh dan tidak tidur lagi setelahnya." Nenek mengakhiri sarapannya dengan segelas jus jeruk.
Rey diam tidak berkomentar apa pun dia juga sudah selesai sarapan.
" Bik bawakan sarapan ke kamar non Zahra ya!." pinta Nenek pada bik Ati.
" Iya Nyonya." Bik Ati mengambil makanan untuk Zahra.
" Rey kenapa kamu sembunyi dari Zahra? padahal selama Zahra sakit kamu selalu merawatnya namun kamu malah tidak menunjukkan dirimu saat dia sadar."
Rey masih diam tak menjawab pertanyaan nenek.
" Rey, Zahra mencarimu dia bertanya langsung ke nenek tadi malam, temuilah Zahra Rey."
Bik Ati selesai mengambil makanan dan Segelas jus jeruk hangat, Meletakkannya di baki, ia melangkah menuju kamar Zahra.
" Bik biar saya saja yang membawakan makanannya." Rey berdiri mengambil baki dari tangan bik Ati kemudian berjalan menaiki tangga menuju kamar Zahra.
Nenek tersenyum melihat Rey berjalan menaiki anak tangga menuju kamar Zahra.
Rey mengetuk kamar Zahra berulang kali tetapi tidak ada jawaban lama menunggu, Rey memutar knop pintu kamar. Ternyata kamar Zahra tidak dikunci. Rey masuk melihat Zahra yang masih tertidur pulas.
Makanan yang dibawa di letakkannya di atas nakas. Rey duduk di atas Ranjang di samping Zahra memandangi wajah polos Zahra yang sangat cantik dengan masih menggunakan jilbab, Rey pun tersenyum tipis. Mata Zahra mulai mengerjap-ngerjap,cahaya masuk ke retina mata yang belum terbuka sempurna terlihat masih menyipit. Zahra melihat Rey berada dihadapannya seketika Zahra tersenyum manis kemudian Zahra menarik satu tangan Rey lalu meletakkan di pipi sebelah bawah dan kembali tertidur.
" Sepertinya dia membawaku di dalam mimpinya." batin Rey tersenyum kembali melihat kelakuan Zahra.
Beberapa detik kemudian Zahra sadar sepertinya dia tidak sedang bermimpi. Zahra kembali membuka mata, membulatkan mata dengan sempurna. Wajah yang sama terlihat, Rey beneran ada di depan Zahra. Zahra terkejut, bangkit dari tidur dan melepaskan tangan Rey.
" Pak Rey? Kenapa anda di Sini?" tanya Zahra."
Rey mengambil baki dari atas nakas. " ini sarapanmu makanlah!"
" Aku bisa mengambil sarapanku sendiri nanti , bapak gak usah repot seperti ini mengantarkannya untuk ku."
" Zahra, kamu sakit karena aku, jika bisa maafkanlah aku Ra, sekarang makanlah Setelah itu kamu bisa lanjutkan ritual tidurmu." sahut Rey kembali yang berubah seketika dari ekspresi lembut ke ekspresi datar.
" Aku udah terlalu banyak istirahat pak. Aku akan bekerja hari ini. Udah lama kan aku gak ke kantor." sambar Zahra cepat.
" Kantor tidak pernah di buka hari minggu. kecuali Urgen" Jawab Rey tanpa melihat Zahra, berjalan keluar kamar.
" Astaghfirullahalazhiim, kenapa aku sampai lupa hari gini ya?, sepertinya bukan hanya pikiranku yang bermasalah tetapi jantungku juga. kenapa jadi berdebar tak karuan setelah ketemu pak Rey." batin Zahra memegangi dadanya. Rey sudah berada tepat di depan pintu." Pak Rey " Panggil Zahra.
" Emh " Rey berbalik menoleh Zahra.
" Kenapa bapak tidak pernah terlihat selama aku di rumah sakit?" suara Zahra terdengar lirih. Kedua netra bertatapan cukup lama,di iringi dengan debaran jantung yang cukup cepat diantara keduanya.
" Habiskanlah sarapanmu. " Ucap Rey kemudian pergi meninggalkan Zahra.
" Dasar orang aneh, di tanya bukannya di jawab. Baru aja berbaik hati membawakan sarapan, eh ini malah kembali lagi ke tabiat aslinya kulkas dua pintu limited edition. emh..... bodoh amat dah. Zahra lebih baik kamu makan aja habis itu siap-siap, ketemuan deh sama Sasa." ucap Zahra pada dirinya sendiri kemudian menyantap makanan yang dibawakan Rey untuknya.
................
" Bik, bibik lihat nenek?" Tanya Zahra pada bibik yang sedang membersihkan rumah.
" Nyonya lagi di taman belakang non sama bik Ati." jawak bik Mia.
" Makasih ya bik, " Zahra mendatangi nenek di taman belakang rumah.
Tak terlalu lama Zahra sudah kembali dari taman belakang sehabis bertemu dengan nek Retno. Zahra menuju pintu utama. saat Zahra melewati ruang keluarga, Rey yang duduk dengan laptop di depannya melihat Zahra berjalan melewati ruangan itu.
" Zahra kamu mau ke mana?" tanya Rey, Zahra sangat cantik dengan gamis berwarna moca.
Zahra yang awalnya tak melihat Rey berbalik menoleh ke sumber arah suara yang memanggilnya.
" Eh pak Rey, saya mau keluar sebentar pak mau bertemu dengan Sasa, tadi saya juga udah pamit sama nenek, dan nenek udah beri izin."
" Kalau begitu saya antar." Rey berjalan mendahului Zahra menuju garasi mobil.
" Gak usah pak, saya naik taxi aja." Zahra mengikuti jalan Rey.
Rey menghentikan langkahnya tiba tiba sehingga Zahra menubruk Rey dari belakang.
__ADS_1
Rey berbalik. jarak keduanya sangat dekat membuat debaran jantung mereka berirama bersahutan. Rey memutus pertemuan dua pasang mata dengan memalingkan pandangannya kesamping.
" Baik jika kamu tidak mau saya antar batalkan saja pertemuanmu dengan Sasa."
" Mana bisa gitu pak?"
" Tentu bisa karena aku tidak mengizinkanmu pergi keluar sendirian."
" Tapi aku da izin sama nenek pak, nenek juga sudah mengizinkan."
" Suami mu itu aku bukan nenek, ku rasa kamu lebih faham jika seorang istri tidak boleh keluar tanpa izin dari suaminya." Rey menyilangkan kedua tangan di depan dada.
Zahra menarik nafas panjang melepaskannya dengan kasar, berfikir sejenak dengan bibir yang masih manyun. berdebat dengan Rey percuma membuang- buang energi. " Baiklah ayok kita berangkat." jawabnya pasrah.
Rey dan Zahra masuk ke dalam mobil setelah Zahra memberitahukan tempat tujuan pada Rey. Mobil pun melesat ke jalan Raya.
Di sepanjang jalan Zahra berfikir bagaimana cara agar dia bisa ngobrol dengan Sasa tanpa ada Rey karena Sasa bilang ada hal penting yang ingin di bicarakan mana mungkin hal pribadi akan di katakan Sasa di depan Rey.
Zahra mendapat ide lalu mengirimkan Wa ke Sasa.
" Pak kita gak jadi ke kafe, kita ke mall aja ya." kata Zahra ke Rey.
" Bukankah kamu janjiannya di Kafe kenapa sekarang malah ke mall kamu mau bohongi saya ya?" mata Rey sinis memandang Zahra.
" Aku da kirim pesan ke Sasa jumpa di foodcourt aja, kan nanti saat kami ngobrol bapak bisa keliling mana tahu ada barang yang mau bapak beli." Zahra tersenyum menunjukkan deretan gigi putihnya.
Rey semakin menajamkan pandanganya pada Zahra.
Di foodcourt Zahra dan Rey menunggu Sasa yang belum datang. Sepuluh menit menunggu akhirnya Sasa juga tiba.
" Hei Ra, lo da lama nunggu ya? " sapa Sasa yang belum melihat Rey karena Rey ke toilet.
" Assalamualaikum Ra, kita boleh duduk ni kan?" Sapa Yazid.
" Waalaikumsalam, gak usah minta izin gitulah bang macam baru kenal aja.hehehe...." sahut Zahra tertawa kecil. " Kapan pulang bang, kayaknya kemaren di telpon abang bilang mau pulang bulan depan ya?" tanya Zahra lagi.
" Iya Ra, cutinya memang bulan depan, tapi karena semalam abang ada dinas di dekat sini makanya sekalian singgah ke rumah dulu sebelum balik lagi."
Rey berjalan kembali ke tempat duduk yang kini sudah ada Sasa dan Yazid.
" Ra, lo kemari sama pak Rey? kok bisa sih Ra, tadikan gua da bilang ada hal penting yang mau di omongin." bisik Sasa.
" Ya mau cemana lagi tu orang maksa kalau gak gua gak boleh pergi. Emang ada apa si Sa? " tanya Zahra penasaran.
" Sebenarnya bang Yazid yang mau ngomong ke lo Ra, gua juga bentar lagi mau ke bawah ada yang mau gua beli tapi kalau ada pak Rey gimana mungkin bang Yazid bisa ngomong empat mata sama lo."
" Ya udah kalau gitu lo ajak aja sekalian pak Rey ke bawah."
" Gila lo ya Ra, lo mau buat gua mati kehabisan oksigen gara gara jalan sama pak Rey." Sewot Sasa yang di balas tawa kecil oleh Zahra.
" Emang ada apa si Sa,?"
" Nanti juga lo tahu kok." Mereka berdua masih berbisik yang sebenarnya bisa didengar oleh yazid.
Rey sudah sampai dan dia menarik kursi di samping kanan Zahra karena kursinya tadi yang tepat berada di depan Zahra di duduki oleh Yazid. Rey duduk tanpa basa basi menyapa Sasa dan Yazid.
" Hai pak Rey maafya kita ganggu waktunya." sapa Sasa sedikit gugup.
Rey hanya melihat Sasa dengan wajah datar tak berkata apapun.
" Pak Rey, kenalkan ini bang Yazid abangnya Sasa." Zahra memperkenalkan Yazid pada Rey.
" Yazid." Yazid mengulurkan tangannya pada Rey.
" Rey " jawab Rey singkat tanpa menerima uluran tangan Yazid. Yazid pun tahu maksud Rey sehingga ia menarik kembali uluran tangannya.
Sasa semakin gugup melihat tindakan Rey bagaimana mungkin abangnya akan mengungkapkan isi hatinya jika pak Rey tidak pergi. Sedangkan Zahra sendiri merasa jengah dengan sikap Rey yang sangat sombong tidak bisa menghargai orang lain.
" Pak Rey, sebenarnya ada yang ingin saya bicarakan pada Zahra." Yazid membuka pembicaraan.
" Ya silahkan saja." jawab Rey.
" Ra, aku ke bawa dulu yah ada yang mau aku cari. Pak Rey apa bapak mau cari sesuatu? kita bisa bareng pak. " Sasa berdiri sambil memberanikan diri untuk mengajak Rey pergi demi abangnya.
__ADS_1
" Rey memberikan pandangan mematikan pada Sasa yang membuat Sasa gugup ketakutan.
" E...kalau bapak gak mau juga gak apa, saya pergi sendiri aja." Sasa pun pergi meninggalkan Zahra, Rey dan Yazid.
" Pak Rey, ada hal yang ingin saya sampaikan pada Zahra ini bersifat pribadi, jika bapak keberatan pindah biar kami aja yang pindah tempat duduk." Ujar Yazid lagi.
Rey menatap Yazid dengan tatapan tidak suka, ia menangkap ada sesuatu yang tidak beres.
" Bapak disini aja ya kami cuma bentarkok gak lama yakan bang." Zahra hendak berdiri akan pindah tempat duduk tapi Rey meletakkan tangannya di depan meja Zahra tanda melarang Zahra pergi.
" Kalian mau berbicara pribadi kan? tidak perlu pindah." Rey mengeluarkan earphone dari sakunya kemudian ia berkata. "sekarang kalian bebas membahas masalah pribadi kalian." Rey memasang earphon ketelinganya lalu fokus memainkan ponselnya dan tidak melihat Zahra dan Yazid lagi.
Yazid masih menatap Rey mendengarkan musik dari ponselnya melalui earphon dan fokus memainkan ponsel kemudian Yazid memandang Zahra. Zahra melihat keraguan di wajah Yazid untuk memulai pembicaraannya.
" Pak Rey, Pak Rey, pak " panggil Zahra memastikan apakah Rey masih mendengar atau tidak tetapi Rey tak menjawab panggilan Zahra dan terus menatap layar ponselnya.
Zahra kembali melihat Yazid." Sebenarnya ada apa bang? apa yang ingin abang katakan pada Zahra? " tanya Zahra menatap Yazid yang duduk di depannya.
" Ra, abang tahu apa yang sekarang terjadi pada Zahra, Sasa sudah menceritakan semuanya."
Wajah Zahra seketika berubah mengingat kembali nasibnya.
" Ra kamu ingatkan waktu kemaren abang nelpon Sasa kalau bulan depan abang akan pulang dan ingin melamar wanita yang abang cintai?"
Zahra mengangguk mengiyakan.
" Wanita itu adalah Zahra. Abang mencitai Zahra dari pertama Abang kenal sama Zahra."
Deg.....jantung Zahra seakan berhenti. Zahra terkejut mendengar perkataan Yazid yang sama sekali gak menyangka bahwa Yazid selama ini mencintainya.
" Sial ni orang. Dia nembak Zahra di depan suaminya. awas loh, tunggu pelajaran dari gua." Batin Rey yang sebenarnya tidak menghidupkan earphon. Saat Zahra memanggillnya dia sengaja tidak menyahut agar Zahra mengira dia tak mendengarkan apa yang akan mereka bicarakan.
" Bang, abangkan tahu sekarang Zahra udah menikah walau cuma kontrak tapi tetap aja Zahra gak mungkin menerima laki-laki lain bang. Apalagi hanya setelah tiga bulan kami baru akan berpisah, Zahra akan menjadi seorang Janda. Zahra rasa Zahra gak pantas buat bang Yazid. " Zahra menunduk menangis, dia tahu Yazid adalah lelaki yang baik, tetapi Zahra juga sadar dengan statusnya sekarang dan nanti kedepannya.
" Ra, abang gak peduli dengan status Zahra nantinya, abang akan nunggu Zahra sampai kalian bercerai. Abang mengatakan ini pada Zahra agar Zahra tahu rasa cinta yang sudah abang pendam bertahun tahun. Waktu itu abang tahu Zahra gak mau pacaran makanya abang gak mau mengatakannya. Saat kalian sudah lulus abang malah kedeluanan sama laki laki lain dan kali ini abang gak mau itu terjadi meski sekarang Zahra udah menikah tapi abang tahu pernikahan ini cuma sebatas kontrak gak lebih. Abang ingin hidup bersama Zahra, abang janji akan berusaha untuk selalu membuat Zahra bahagia. Zahra mau kan jadi istri abang?"
" Brengsek ni orang berani-beraninya dia melamar istriku tepat di depanku." Rey mengepalkan tangannya dia sudah sangat emosdi mendengar perkataan Yazid. jika tak ada Zahra pasti Rey sudah menonjok Yazid sampai babak belur.
Zahra masih menangis, nasibnya begitu tragis dia gak tahu harus berbicara apa. Yazid adalah pria yang tampan, baik, bertanggung jawab, sayang pada keluarga dan sangat pengertian. Zahra juga sudah sangat akrab dengan Yazid tetapi Zahra gak tahu harus berbuat apa sekarang.
" Ya Allah cobaan apa lagi ini, jika sebelum menikah aku tahu bang Yazid mencintai ku mungkin tidak seperti ini kejadiannya." batin Zahra, air matanya terus mengalir.
Yazid masih setia menunggu jawaban Zahra.
Zahra mengangkat kepalanya menatap Yazid.
" Abang percaya dengan takdir Allah kan? jika memang kita berjodoh insyaallah ada jalan terbaik buat kita. Insyaallah Zahra siap. tapi Zahra gak mau kalau nantinya bang Yazid akan menyesal dengan keputusan abang ini. Sebaiknya abang pikirkan lagi baik baik.
" Tidak Ra, abang yakin, Abang sangat mencintai mu Ra, dan abang hanya ingin menikah dengan Zahra. Abang gak suka melihat Zahra menangis ambil lah ini hapus air mata Zahra." Yazid memberikan saputangannya pada Zahra.
Zahra pun menghapus air matanya dengan sapu tangan pemberian Yazid.
Sekarang tersenyumlah Ra, abang pastikan setelah kita menikah tak akan abang biarkan Zahra menangis sedih lagi."
Perlahan Zahra tersenyum.
" Gitukan manis." kata Yazid tertawa dan disambut oleh tawa kecil dari Zahra membuat Rey sudah tak tahan lagi mendengarnya. Rey membuka earphonnya dan melirik ke Zahra.Ia berpura-pura tidak mendengar apapun.
" Kamu baru siap nangis?" tanyanya pada Zahra? dan memandang kesal ke arah Yazid karena memang sudah sangat emosi melihat yazid.
" Tidak, tidak pak aku gak papa kok."
" Kalian da selesai ngomongkan, kalau gitu sekarang kita pulang. " Rey berdiri dan berjalan keluar.
" Bang, Zahra pulang dulu ya, Assalamualaikum " pamit Zahra pada Yazid.
" Waalaikumsalam, hati- hati ya Ra.
Zahra menyusul Rey yang berjalan deluan meninggalkannya
💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟
Hai Readers kali ini Author kasi durasi yang panjang 2302 kata buat semalam yang bilang up nya sedikit 😆
__ADS_1
Jangan lupa like dan vote nya ya yang banyak, biar semangat author up nya 😆😆
Teeimakasih....