
" Nyesak rasanya disaat pernikahan seharusnya menjadi hal terindah di hidupmu kini hanya tinggal kenangan dan kamu tak tahu kapan itu akan benar - benar terjadi di kehidupanmu disaat di luar sana orang - orang mengaggap engkau lah yang salah atas gagalnya kelangsungan pernikahan itu. bukan hanya mencemooh dirimu tetapi juga anggota keluargamu mengapa dunia ini sangat kejam. Tak hanya sampai disitu kini kamu malah harus mempersiapkan pernikahan orang lain mulai dari menyediakan kelengkapan gaun, undangan, sampai wedding organizer dan Catering itu pun kamu yang memilihnya. Kamu harus ikhlas menjalani ini semua Mungkin dengan mempermudah dan membantu urusan orang lain Allah akan mempermudah urusan mu. "
..................................................
Happy Reading jangan lupa tinggalkan jejak. 👍💟💟💟💟💟💟💟💟💟👍☺☺
**************************************************
Buliran bening berhasil menembus benteng pertahanan yang sedari tadi di tahan Zahra semampunya. Kini buliran itu jatuh membasahi pipi dan juga sampel foto dekorasi pesta yang dilihatnya.
Zahra segera menghapusnya agar tidak di lihat Rey dan karyawan WO yang berada bersama mereka.
" Zahra kamu tidak apa apa kan,? " tanya Rey dengan lembut Rey tidak menyangka bahwa
Zahra akan menangis melihat Foto-foto itu entah apa yang di fikirkan gadis ini sekarang sehingga membuatnya menangis.
" Saya gak papa pak." jawab Zahra diakhiri senyum.
Seorang karyawan yang melayani mereka pun bingung melihat Zahra yang tiba tiba menangis.
" Maaf, Bapak dan Ibuk mau pilih konsep yang mana?. " tanyanya dengan sopan.
" Nanti kami kabari pak sepertinya kami pamit dulu," Ucap Rey, melihat kesedihan Zahra ia tidak ingin memaksa Zahra untuk memilih konsep pernikahan adiknya Kyara.
" Yang ini Aja pak, " kata Zahra menunjuk sebuah foto di album yang ada di tangannya.
" Baik buk kita akan catat yang ini ya buk konsepnya."
Rey melihat pilihan Zahra " Zahra memang punya selera yang bagus terbukti dengan konsep yang di pilihnya. " Batin Rey yang juga menyukai pilihan Zahra.
Setelah selesai Rey mengajak Zahra pergi mereka makan siang di restoran terdekat kemudian tak lupa Zahra melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim yakni melaksanakan ibadah shalat zhuhur karena jarum jam sudah menunjukkan pukul 1.
Di dalam mobil Zahra masih terlihat murung, pikirannya melayang-layang teringat perjalanan hidupnya yang tidak semanis cerita novel.
" Aku harus menerima kenyataan bahwa lelaki yang pernah ku cintai menghianatiku, ia berselingkuh di belakangku. Bersyukur sebelum pernikahan berlangsung aku mengetahui bahwa wanita selingkuhan itu telah mengandung anak dari calon suami yang aku kira baik untuk ku. Aku juga hampir nyaris menikah dengan lelaki yang tidak pernah ku harapkan hanya untuk memenuhi keinginan mama sampai akhirnya aku tidak tahu aku harus kecewa atau bersyukur di saat calon suamiku yang ke dua berkonspirasi dengan lelaki yang aku cintai hanya untuk menghancurkan diriku yang memang sudah hancur di mata saudara dan tetangga."
Air mata Zahra kembali terjatuh dari pelupuk matanya yang indah, Zahra langsung menoleh ke jendela mobil sebelah kiri lalu menghapus air di sudut matanya.
Rey tahu bahwa Zahra bersedih, ia tidak suka melihat Zahra seperti itu, tetapi Rey tidak tahu apa yang harus di lakukannya agar Zahra tak bersedih lagi.
Selama perjalanan mereka hanya diam dalam keheningan hanyut dengan pikirannya masing - masing.
Mobil sampai di area parkir. Rey melepaskan seat beltnya dan hendak turun.
__ADS_1
" Pak mau apa kita kemari? " Tanya Zahra bingung.
Rey tak menjawab malah membuka pintu mobil dan turun. Zahra pun mau tidak mau ikut turun berjalan mensejajarkan diri di samping Rey.
Rey membeli dua buah tiket lalu mereka masuk ke dalam museum tiga dimensi.
Baru saja masuk mereka sudah di suguhkan dengan beberapa lukisan yang luar biasa bagus dan keren. Seketika Zahra melupakan kesedihannya. Ia seperti anak Sd yang heboh berlarian mendekati lukisan untuk berselfie ria.
" Pak fotoin dong? " Pinta Zahra mengulurkan ponselnya kepada Rey.
" Simpan saja tu ponsel aku gak pande pake ponselmu." Rey mengeluarkan ponselnya dari saku. " pake ini aja nanti saya kirim melalui WA " sambung Rey lagi.
" Ehm dasar mah orang kaya mana mau dia pegang ponsel murah takut dia ketularan miskin. " grutu Zahra mencebikkan bibirnya.
Rey tersenyum mendengar perkataan Zahra, dia memang sengaja membawa Zahra ke museum 3D dengan begitu dia bisa mengambil foto Zahra karena setiap pengunjung pasti akan berfose di setiap lukisan dan tidak akan melewatkan satu lukisan pun.
Mata Rey terus tertuju dengan tingkah Zahra cemberut yang memainkan bibir bawanya membuat Rey menjadi gemas." Andai kamu adikku Zahra akanku cubit pipimu, dan andai kau istriku pasti udah kuciumi bibirmu itu yang buat aku gemes. duh apa apan aku ini bisa bisanya berpikir mesum di tempat seperti ini. " Batin Rey sambil menggelengkan kepalanya.
" Pak cepetan dong fotoinnya da capek ni dari tadi udah macam model majalah eh malah diangguri gak di foto-foto. " teriak Zahra.
" Iya iya, " Rey mengarahkan ponselnya dan Cekrek........ Rey memoto Zahra.
" Pak di hitung dong, macam fotografer gitu jadi biar akunya cantik di foto. " Protes Zahra.
" Iya iya, satu.... dua..... tiga.... Cekrek...... "
Zahra kini tersenyum puas.
Hari ini Suasana museum tidak ramai karena ini hari kerja, hanya ada beberapa pengunjung umum dan beberapa kelompok pengunjung di kalangan pelajar membuat mereka tidak perlu ngantri untuk mengambil foto.
Saat Zahra lengah, Diam diam Rey mengambil fotonya berdua bersama Zahra tetapi saat foto itu diambil Zahra melihatnya.Zahra merampas ponsel dari tangan Rey.
" Bapak curang ih, fotonya diam diam, kan Zahranya jadi jelek gini. " Zahra menghapus foto yang diambil Rey tadi.
Rey hanya bisa pasrah ia kemudian berjalan meninggalkan Zahra dan melihat lukisan lainnya. Rencananya foto berdua dengan Zahra gagal.
Zahra berdiri disamping Rey yang berada di belakang lukisan air terjun.
" Pak Rey. " panggil Zahra
" Rey menoleh kearah kamera yang sudah diarahkan ke mereka berdua.
Cekrek......
" Is bapak jelek banget cemberut gini senyum dong pak,kita ambil lagi ya.! " celoteh Zahra
Cekrek....... cekrek.......
Kini keduanya berselfie Rey gak menyangka Zahra mengajaknya selfie berdua jantungnya kini berdetak tak beraturan terus saja dangdutan bila berada di dekat Zahra.
" Kita kesana yuk pak " ajak Zahra.
" Enggak ah kesana aja. " Rey berjalan kearah lain.
__ADS_1
" Dasar bos sombong main tinggal aja. pak Rey tungguin!" panggil Zahra dengan mempercepat jalannya mengejar Rey yang sudah meninggalkannya.
Kini bukan hanya Zahra yang berfoto ria Rey pun juga ikut foto terkadang mereka meminta bantuan pengunjung lain untuk mengambil foto mereka berdua. Mereka kini saling bercanda tawa yang sering kali di selingi dengat perdebatan antara keduanya.
Merasa Ponsel sudah penuh dengan foto Rey dan Zahra yang hampir berfoto di semua lukisan, kini terlihat jelas Zahra tampak kelelahan. Kurang lebih 3 jam mengelilingi museum membuat kaki menjadi pegal.
" Ra uda sore kita pulang yuk.! "
" Bentar lagi dong pak, Zahra mau kesana dulu kita belum kesana pak! "
" Udah ayuk kita pulang lain waktu kita kesini lagi. " Rey menarik tangan Zahra entah keberanian dari mana yang menbuat dia menarik Zahra tetapi ia tidak bersentuhan langsung melainkan memegang lengan Zahra yang terbalut dengan baju gamis warna navy.
Zahra mengikuti Rey yang memegang lengannya dengan sedikit memberontak karena gak mau di ajak pulang. Zahra masih ingin melihat beberapa lukisan lagi.
Rey baru melepaskan genggaman tangannya saat sudah di pintu keluar museum, mereka pun langsung menuju ke mobil.
Zahra masih cemberut karena Rey.
" Hei gadis ceroboh jangan Cemberut gitu ntar ni mobil gak mau jalan."
" Biarin. " Jawab Zahra masih cemberut dengan ulah Rey yang menariknya seperti anak kecil yang gak mau diajak pulang.
" Zahra ini uda jam 5, aku haus kamu mau aku dehidrasi dan pingsan disini?. "
Zahra diam saja masih cemberut.
" Ya udah nanti kapan kapan kita kemari lagi tapi kamu jangan cemberut lagi ya. "
" Beneran pak? "
" Iya aku janji. Sekarang kita makan dulu ya aku lapar. "
Zahra mengangguk. " Baiklah nanti aku akan tagih janji bapak. "
Rey tersenyum dan mengemudikan mobilnya.
Zahra melirik Rey " Ternyata kalau bos galak ini lembut manis juga ya, malah makin tambah ganteng. " Zahra tersenyum.
" Kenapa kamu senyam-senyum gitu? kesambet? " Tanya Rey Dingin.
" eh.... itu....emh emangnya adaya pak larangan gak boleh senyum, bibir - bibir aku mah suka suka dong." jawab Zahra sewot yang terpergok ngelihati Rey, kemudian Zahra memalingkan pandangannya ke jendela dan tersenyum kembali.
" Rey juga ikut tersenyum mendengar ucapan Zahra dia lega akhirnya berhasil membuat Zahra lupa sejenak dengan masa lalunya. Ia ingin selalu melihat Zahra tersenyum bahagia.
" Yang namanya galak tetap aja galak gak bakalan berubah meski dia hari ini berbaik hati ngajaki aku jalan tapi tetap aja aku harus nuruti kemauannya berbanding terbalik dengan pak Very. kalau pak Very mah tempohari selalu ngikuti apa yang aku mau dia selalu tanya aku maunya main apa, selau perhatian gak seperti orang sombong dan galak yang ada di samping ku ini. emh jadi kangen sama pak Very. Astaghfirullah apa-apan sih kamu Zahra kok jadi malah ke inget pak Very. " teriak Zahra dalam hatinya.
💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟
**Maaf ya teman teman Author lama up nya, Author usahain agar gak lama lama ya up nya, tapi teman teman jangan lupa ya kasi 👍, vote dan tinggalkan jejak di kolom komentar. Author menerima kritik dan saran teman teman. 🙏🙏
__ADS_1
kalau Jempol dan telunjuk Author udah kriting nulis ribuan kata untuk Readers, jadi Readers jangan pelitya buat ngasi satyu like 👍 nya untuk Author 😄😄😘**