
Selepas maghrib sanak saudara, rekan-rekan sejawat, telah memenuhi tempat dimana akan diadakannya acara khatam kaji dan malam berinai.
Rey dan keluarga juga turut ikut menyaksikan acara yang sebentar lagi dimulai.
Rey sudah tidak sabar untuk bertemu kekasihnya Zahra. Rasa rindu itu sudah hampir tak dapat di bendungnya lagi. Ingin rasanya kaki melangkah berlari menerobos kamar Zahra dan mengunci rapat-rapat, tapi apalah daya rasa rindu ini harus tetap ditahan beberapa jam lagi. Sampai Ijab kabul besok pagi.
Zahra berjalan menuju tempat yang di sediakan, dengan dituntun kakak iparnya Wulan dan kakak sepupu dari sebelah mamanya.
Semua mata tertuju pada Zahra yang begitu cantik dengan balutan gamis syar'i putih yang sangat indah.
Rey Sampai tertegun takjub melihat kecantikan istrinya yang begitu sempurna.
" Betapa beruntungnya aku mendapatkan istri yang sangat cantik seperti Zahra." Batin Rey.
" Rey kamu memang pintar cari istri, lihatlah dia sudah seperti bidadari." bisik oma yang di balas Rey dengan mengulum senyum bangga.
Acara langsung dimulai saat Zahra sudah duduk, Zahra mengangkat kepala melihat orang di sekitarnya.
Manik mata Zahra berhenti saat mendapati Rey dan sebagian keluarga ARDANA hadir malam itu. Zahra tak menyangka sama sekali kalau ternyata Rey ada di acara khatam kajinya.
__ADS_1
Detak jantung Zahra langsung berpacu cepat. Yang tadinya biasa-biasa saja tanpa rasa gugup kini menjadi luar biasa, berbeda saat dulu dia khatam kaji bersama Kyara.
Manik mata Rey dan Zahra saling beradu. kedua mata yang saling merindu, saling bercerita melepas rasa rindu.
" Arrrhhhhk.........., Ya Allah kenapa gak ini malam ajah sih ijab kabulnya. " Teriak Rey dalam hati, memberontak tak sabar, menunggu jam berlalu menemui pagi.
Mereka berdua terus saling berhadapan mata tak menghiraukan tamu yang mau sama Seorang Ustadz pesantren yang membawa acara malam itu menyodorkan mic pada Zahra, bertanda Zahra harus segera melantunkan Sebagian ayat-ayat suci Alqur'an.
Zahra memutus pandangannya pada Rey kemudian mulai membaca Taawuz
Bacaan Zahra sangat fasih ditambah dengan suara merdunya membuat yang mendengar menyimak bacaan Zahra dengan khidmat. Dari usia 5 tahun Zahra sudah sering mengikuti lomba MTQ, setiap ikut lomba Zahra selalu mendapat juara.
Acara khatam kaji selesai. Azan berkumandang. acara diberhentikan sebentar untuk melaksanakan ibadah sholat isa. Para pria sholat berjamaah di masjid yang terletak di dalam kompleks pesantren.
Zahra masuk ke dalam menuju kamarnya. Zahra juga melaksanakan sholat isa terlebih dahulu sebelum ia ganti pakaian. Kali ini Zahra menggunakan baju berwarna merah berbahan sari. Wajah Zahra blasteran india, sudah bak artis bollywoud terkenal. Matanya bulat indah, hidungnya mancung, dagunya tirus bibir yang terbelah ditambah lagi lesung pipit di kedua pipinya benar benar sempurna.
Selesai berganti pakaian Zahra kembali berada di tengah2 saudara dan tetangga dekat, kemudian di tuntun untuk duduk di kursi pelaminan agar di pakaikan inai ( pewarna kuku) yang di pakaikan oleh seluruh anggota keluarganya sampai kesepuluh kuku jari tangan dan kaki tertutup inai.
Acara ini di pandu seorang Mc yang di iringi musik dan penari melayu.
__ADS_1
Mama mulai memasangkan di ibu jari tangan kanan Zahra. lalu dilanjutkan oleh Papa, Abang, kakak dan keluaga dekat yang lain. Mama duduk kembali airmatanya terus saja menetes tak berhenti.
" Kal, kenapa kamu menangis? apakah kamu gak senang Zahra menikah dengan Rey cucuku.? " Oma menepuk pelan pundak mama yang sudah duduk di sampingnya.
" Tidak mami, ini air mata bahagia. Hari yang selama ini aku nantikan akan tiba sebentar lagi. Kebahagiaan ku bertambah saat aku tahu Rayhanlah yang akan menjadi suami dari anakku. Rayhan yang dari dulu sangat aku sayangi seperti anakku sendiri besok akan benar2 menjadi anakku. malam ini Kal sangat merindukan Elyn Mami. " Mama menangis seraya memeluk Oma. Oma juga ikut menangis mengenang putri sematawayangnya yang kini sudah tiada.
" Mami juga sangat merindukan Elyn. Mami rindu saat2 dimana melihat kamu dan Elyn saling berbagi kasih sayang dan tersenyum bahagia. Walau Elyn sudah tak ada di sini tapi doa-doanya selalu ada. Doa itu yang akan menyatukan Rey dan Zahra. " Oma menghapus lembut airmata Kalvita.
" Sekarang hapuslah air matamu jangan sampai Zahra nanti mengira Omanya ini menganiaya mamanya sampai nangis begini. " oma memasang wajah marah yang dibuat-buat membuat mama tertawa kecil.
Rey Yang duduk tidak jauh mendengar semua percakapan antara oma dan tante Kalvita. membuat Rey ikut terharu.
" Lihatlah Kal! putrimu Zahra sangat cantik bukan? " Oma terus melihat Zahra yang mengembangkan senyum bahagianya. Mama kini ikut tersenyum akhirnya mama kembali melihat senyum di wajah cantik putri kesayangannya itu, senyum lepas memancarkan kebahagiaan yang hampir satu tahun tidak pernah mama lihat.
Di tempat duduk yang lain, ada tiga pasang mata yang menatap sinis ke arah Zahra dan mamanya bergantian.
" Kita harus menghentikan senyum itu."
" Sabar sayang, kita biarkan mereka bahagia malam ini. "
__ADS_1
" Ya benar, tenang saja, semua sudah kita siapkan, nyonya Neha yang sombong, kebahagiaan mu ini gak kan bertahan lama. Bukan Senyum yang kau lihat di wajah putri kebanggaan mu itu melainkan air mata. " senyum smrik mengembang di bibir ketiga pasang mata yang lagi menyaksikan acara adat malam berinainya Zahra.