
Rey berlari keluar mencari Zahra, melihat ke kanan ke kiri kesekelilingnya tetapi tak menemukan Zahra. Rey mendekati seorang Satpam yang berjaga di depan pos.
" Pak, apa tadi bapak lihat wanita berjilbab lewat sini?" Tanya Rey sopan.
" Oh Perempuan cantik yang tadi lari sambil nangis ya Pak?" Tanya Pak Satpam balik.
" I...iya pak, dia kemana ya Pak?"
" Tadi udah keluar ke sebelah sana." Tunjuk Pak Satpam ke sisi kanan jalan.
" Makasih ya Pak." Rey berjalan cepat mengejar Zahra tetapi Rey tak melihat Zahra juga.
Rey kembali ke area Hotel ke sisi parkiran, lalu mengendarai mobil yang tadi ia gunakan bersama Zahra menuju ke Hotel tempat Resepsi pernikahan Kyara dan Farhan.
Rey melajukan mobil dengan sangat pelan agar bisa melihat keberadaan Zahra di sisi jalan.
" Zahra, kamu kemana? " kata Rey sambil terus menghubungi ponsel Zahra tetapi tidak ada jawaban.
Sudah cukup jauh Rey mengendarai mobilnya tetapi tak juga menemukan Zahra. Rey memutuskan untuk kembali ke Hotel karena Rey merasa tak mungkin Zahra berjalan sejauh ini.
Di pertengahan jalan pulang, Rey melihat sebuah taman kota tempat bermainnya anak-anak sekedar menghabiskan waktu bersama keluarga. Tadi Rey tidak melihatnya karena taman itu berada di sebrang jalan.
" Apa mungkin Zahra ke sini." Gumam Rey.
Rey membuka pintu mobil bertepatan dengan itu hujan turun sangat deras. Rey kembali menutup mobil untuk mengambil payung terlebih dahulu kemudian keluar memasuki taman.
Para pengunjung berlarian pulang, tetapi ada juga yang berteduh karena mereka menggunakan sepeda motor. Rey terus berjalan melihat seluruh penjuru taman mencari keberadaan Zahra.
Di sebuah bangku taman Rey melihat Zahra duduk, ia pun mendekati Zahra yang membiarkan dirinya terguyur hujan.
__ADS_1
Zahra mendungakan kepala ke atas karena ada seseorang yang memayunginya. Orang tersebut adalah Rey.
" Zahra, yuk kita pulang." Ajak Rey dengan lembut.
Zahra tak bergeming ia masih menatap dengan pandangan sendu dari mata yang sembab karena habis menangis. Rey mengulurkan tangannya untuk mengajak Zahra Kembali Pulang.
" Ra, kamu bisa sakit kalau terus hujan-hujanan begini, kita pulang sekarang ya, kalau kamu gak mau aku akan menggendongmu masuk ke mobil." Ancam Rey yang terlihat khawatir melihat keadaan Zahra saat ini.
Zahra pun menerima uluran tangan Rey, mereka berdua berjalan menuju mobil.
Rey membukakan pintu untuk Zahra dan langsung masuk ke dalamnya, kemudian Rey memutari mobil lalu duduk disamping Zahra melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
Di dalam mobil Zahra dan Rey hanya diam saja. Zahra melihat ke sisi jendela, air matanya terus mengalir memikirkan kenyataan yang baru saja diketahuinya nya. Sedangkan Rey fokus ke jalanan dengan sesekali melihat ke arah Zahra.
" Pak Rey Bisakah engkau membawaku ke tempat lain aku tidak ingin pulang malam ini." suara Zahra terdengar gemetaran karena kedinginan. Zahra gak ingin pulang karena ia gak ingin bertemu lagi dengan Reza.
Rey memutar mobil menuju sebuah Hotel yang tadi di lewati, sebagai tempat mereka beristirahat malam ini. Sebelum sampai di Hotel, Rey memarkirkan Mobil di depan sebuah toko.
" Sebentar ya Ra, aku ke dalam dulu." Ucap Rey yang di jawab dengan anggukan pelan dari Zahra.
Rey keluar dari mobil langsung masuk ke dalam toko, tak lama kemudian Rey keluar dengan dua kantong plastik belanjaan.
Mobil kembali melaju membelah jalanan yang di guyur hujan deras. Berselang beberapa menit mobil yang dikendarai Rey sampai ke tujuan.
Rey dan Zahra turun menelusuri lobby Hotel, Di meja resepsionis Rey memesan 1 kamar kemudian mengambil kunci dan mereka berjalan menuju kamar yang telah di pesan.
" Untuk malam ini kita akan beristirahat disini, gantilah pakaianmu dulu." Rey memberikan sebuah kantong plastik yang berisi pakaian yang dibelinya tadi di toko Pakaian sebelum mereka sampai ke Hotel.
Zahra mengambil pemberian Rey.Kepalanya tertunduk masuk ke dalam kamar mandi. Setelah Zahra selesai berganti pakaian dan keluar kamar mandi kemudian Rey yang gantian mengganti Pakaiannya yang juga sudah basah.
__ADS_1
Ketika Rey keluar dari kamar mandi Rey melihat Zahra duduk termenung di sofa dengan air mata masih mengalir di pipi putih Zahra. Rey mendekati Zahra dan duduk disamping Zahra. Dengan Perlahan tangan Rey menyentuh tangan Zahra lalu menggenggamnya erat sehingga Zahra menoleh ke arah Rey Mereka berdua saling berpandangan untuk beberapa saat.
" Jangan khawatir semua pasti akan baik- baik saja." Hibur Rey dengan suara sangat lembut.
Zahra menggeleng. " Kita gak mungkin bisa bersama Pak, Papa pasti gak akan setuju dengan hubungan kita." Zahra tertunduk menangis tanpa suara hanya air mata yang mengalir dari sudut mata indahnya.
" Hei, kemana Zahra ku yang pemberani dan yang selalu optimis menjalani semua masalasnya." Tanya Rey menghapus air mata Zahra dengan kedua tangan mengangkat kepala Zahra sehingga mereka kembali saling bertatapan.
" Sepertinya Allah tidak menakdirkan kebahagiaan untukku, benar kata mereka aku ini gadis bembawa sial. Sebaiknya Pak Rey lupakan saja semua yang telah terjadi dengan kita. Reza orang yang udah menipuku dan keluargaku, Bapak ingat pertama kali kita ketemu di danau? waktu itu aku dan Reza akan mengambil sesi foto preewedd, dia memintaku untuk menggunakan gaun pengantin dan datang ke danau, tapi dia malah memberikan aku kejutan tentang penipuannya. Sekarang aku baru tahu kalau ternyata dia adik Pak Rey. Mana mungkin Papa akan merestui kita, Papa gak akan mau berurusan lagi dengan keluarga Reza, termasuk pak Rey." isak tangis Zahra semakin pecah.
" Zahra, kenapa kita menyerah sebelum kita berjuang?, kita akan berjuang bersama untuk mempertahankan cinta kita, Pernikahan kita ini akan kita ubah menjadi pernikahan yang sakinah dengan restu keluargamu Ra,"
" Pak Rey gak kenal Papa, mungkin Mama akan setuju tapi Papa, Papa pasti gak akan mau nerima pak Rey karena Reza, aku tahu benar bagaimana sikap Papa nanti pak. Aku gak mau kalau Papa bersikap kasar pada bapak karena Reza itu adik bapak.Papa gak akan percaya." Air mata Zahra terus mengalir deras.
" Aku gak akan mundur Ra, dan aku gak akan takut meski Papamu akan membunuh ku, justru aku lebih takut jika aku kehilangan mu Zahra, Aku akan berjuang untuk Cinta kita, jika kamu tidak mau berjuang bersamaku setidaknya kamu harus dukung aku, bukankah seorang suami akan berhasil mencapai semua tujuannya jika itu di dukung oleh doa dari Seorang istri yang sholeha." Rey menghapus kembali air mata Zahra dengan jemari-jemarinya, terlihat senyuman tulus di sudut bibir Rey.
Zahra semakin menangis sesegukan.
" Zahra takut Pak, Zahra takut jika Papa akan memisahkan kita." Isak Zahra menundukkan kepala.
Rey menarik Zahra kepelukannya membiarkan Zahra menangis di dada bidangnya.
" Tak ada yang bisa memisahkan kita kecuali maut, aku berjanji aku akan membawa Reza untuk meminta maaf atas semua kesalahannya dan meyakinkan Papamu untuk menerimaku, apapun akan kulakukan untuk mendapat restu dari keluaragamu Ra."
Rey membelai lembut kepala Zahra yang masih tertutup jilbab.
" Sekarang istirahatlah, besok kita akan kembali ke Indonesia." Rey membawa Zahra untuk tidur di ranjang, Sedangkan Rey sendiri tidur di sofa.
Hati Zahra merasa tenang dengan perhatian yang di berikan Rey padanya. Zahra berharap bahwa Rey lah jodoh yang di pilihkan Allah untuknya, hanya Rey bukan orang lain.
__ADS_1