
Zahra berjalan keluar melewati kantin, dimana tempat, Rey, Very, dan Adi makan. Mereka bertiga melihat Zahra tetapi Zahra tidak menoleh kearah mereka.
"Lihat, tu Zahra mau kemana?, tadi diajak makan katanya bawa bekal kok sekarang malah keluar? "
"Paling juga dia mau ke masjid depan, ni kan da masuk zuhur, Zahra selalu shalat di sana." Adi terus mengunyah makanannya tanpa melihat Very,
"Wanita sholeha, beruntung banget gue kalau bisa jadi suaminya."Very mulai menghayal ia menopang dagu di tangannya.
"Bukan hanya rajin sholat bro, Zahra itu juga pintar mengaji, suaranya, emh merdu banget, tempohari kita ngadain acara peringatan Maulid Nabi, si Zahra yang jadi qorinya, Masyaallah beneran enak suaranya, Setahu aku ni ya, orangtuanya Zahra punya pondok pesantren makanya Zahra dan keluarganya itu reliji banget, loh ingetkan tadi Ver dia gak mau salaman sama lo karna lo bukan muhrimnya" Lanjut Adi.
"Gue jadi pingin cepat -cepat nih halalin Zahra biar muhrim kan enak bukan hanya bisa pegang tangannya aja hehehe " Very senyam senyum cengengesan.
"Hu......, dasar otak mesum" teriak adi
Rey tak berkomentar apa-apa, sesekali ia memandang Zahra yang masih berjalan menuju masjid, setiap bertemu Zahra matanya seakan tak ingin lepas dari gadis cantik itu, ini pertama kalinya Rey memperhatikan seorang gadis, biasanya gadis-gadislah yang memperhatikan dan cari perhatian Rey.
"Udah selesai ni, gue cabut dulu ya ke masjid mau jumpa Zahra"
"Yang ada ke masjid itu jumpai Allah ver, bukan jumpai Zahra??" tukas Adi
"Ya menyelam sambil minum air?." Very menaikkan alisnya.
"Yang ada tenggelam dong kalau nyelam sambil minum hahaha.... ".Tawa adi membuat para karyawan yang makan di kantin itu menoleh ke arah bos mereka yang jarang mereka lihat tertawa seperti itu.
Very berjalan meninggalkan Rey dan Adi menuju masjid. Dia memang selalu mengerjakan sholat walaupun terkadang belum 5 waktu berbeda dengan Rey, yang dia sendiri lupa kapan terakhir kali melaksanakan shalat. Sebenarnya disaat kecil Rey rajin ke masjid melaksanakan shalat lima waktu dan belajar mengaji dengan ustadzah teman mamanya.Tetapi semenjak kecelakaan yang merenggut nyawa mamanya itu, Rey menjadi jauh dari ajaran agama. walaupun nenek tetap memanggil guru ngaji Rey tetap tidak mau dia merasa Allah tidak adil padanya telah mengambil orang yang paling berarti di dalam hidupnya.
#######
Sepulang dari kantor Zahra pulang ke rumah hanya untuk bersih-bersih diri kemudian ia pergi ke Rumah Sakit menjenguk mamanya.
Zahra membawa makanan untuk papa, abang dan kakak iparnya.
Buk Neha sudah di pindahkan ke kamar rawat Rumah Sakit. Keadaannya sudah lebih baik, beberapa alat sudah dilepas, malam ini Zahra dan papa tidak akan tidur di kursi tunggu lagi melainkan tidur bersama buk Neha di kamar inap RS.
Arya dan Istrinya Khumairah sampai di Indonesia jam 10 pagi mereka dijemput Arga di bandara langsung menuju Rumah sakit.
Buk Neha dan pak Arman sangat beruntung memiliki ketiga anak yang sangat menyayangi mereka. Jarak dan pekerjaan tak menjadikan alasan bagi mereka untuk membiarkan orangtuanya di masa tua. itulah pentingnya ilmu agama diajarkan kepada anak-anak, karna rezeki yang paling bernilai harganya bukanlah uang mapun harta dunia tetapi anak yang sholeh dan sholeha.
"Assalamu'alaikum," Zahra masuk ke kamar tempat mama dirawat, saat Zahra tadi ke ruang ICU iya melihat didalamnya sudah ada pasien lain, zahra bertanya ke pada perawat jaga di mana mamanya dipindahkan, ia pun berjalan cepat menuju kamar yang di beritahukan perawat tadi.
"Wa'alaikumsalam" jawab keluarganya serentak.
"Bang Arya!!! Zahra senang melihat abangnya pulang dari Kairo membawa sang istri ikut juga, Zahra mencium punggung tangan abangnya itu kemudian memeluknya sambil menangis. Arya memang sangat memanjakan adiknya lebih dari Arga yang lebih sering menggoda Zahra tetapi mereka berdua sama sama sangat sayang pada adik perempuan satu-satunya.
"Udah jangan nangis lagi, zahra jelek kalau nangis" ucap Arya lembut menghapus air mata adik kesayangannya itu.
__ADS_1
"Ini semua karena Zahra mama jadi seperti ini, kalau zahra tidak batal menikah lagi pasti mama akan baik-baik saja, hiks.... hiks.."
Arya memeluk adiknya yang menangis sesegukan."Berhenti menyalah kan diri sendiri, ini cobaan dari Allah buka hanya untuk Zahra tapi cobaan ini untuk kita semua agar kita semakin dekat pada NYA. Allah ingin memdengar keluh kesah kita di sepertiga malam, Zahra masih ters mengerjakannya kan?"
Zahra mengangguk, mendengar ucapan lembut abangnya Arya, Zahra menjadi luluh dia masih memeluk abangnya selain karna abangnya bisa menenangkan dirinya, dia juga sudah sangat rindu.Hampir satu tahun lamanya tidak berjumpa dengan Arya.
Zahra tidak sungkan memeluk abang-abanya begitu juga dengan abangnya meski kini zahra sudah dewasa mereka masih menganggap adiknya itu anak usia 5 tahun yang sering menangis karna mainannya rusak atau karna minta dibelikan eskrim dan dia pasti akan menangis memeluk papa, mama, atau dua abangnya yang ada di dekatnya.
"Udah jangan peluk terus, ni lihat kakak iparmu nanti dia cemburu loh,! dia itu punya sifat yang sama seperti Zahra."
Zahra melepaskan pelukannya dan melihat istri Arya yang berdiri disamping abangnya itu tersenyum.
"Sifat apa bang yang sama?? tanya Zahra.
"Sama sama suka merajuk." Arya mengembangkan senyum lebarnya.
"Abang......," Zahra dan Khumairah memukul bahu Arya, jika Zahra memanggil abangnya berbda dengan khumairah yang hanya sedikit mendelikkan matanya.
"Aw sakit., kan lihat mukulnya aja kompak."
Arya kesakitan karena pukulan dari adik dan istrinya itu bersamaan di bahunya. mereka kini tersenyum.
Zahra kemudian memeluk kakak iparnya Khumairah.
"Udah dong main tangis-tangisannya, tadi kamu bilang mau bawa makana ra, mana abang da laparnih tadinyanya mau keluar beli makanan pikir pikir lumayan juga kan kapan lagi kita ngerasain uangnya arsitek hehehe.." ledek arga.
"Bang Arga terus deh ledeki Zahra awasya nanti Zahra aduin sama mama. "
"ngadu aja teros" Arga mencubit pipi adiknya gemes.
"sakit abang" gerutu Zahra.
Pak Arman yang duduk dikursi samping buk Neha tersenyum melihat kelakuan ketiga anaknya dia kembali melihat istrinya yang masih tak sadarkan diri. " cepat bangun ma, lihatlah waktu sangat cepat berlalu kini anak2-anak kita sudah besar mereka tetap sama seerti dulu yang selalu saja Suka mengganggu satu sama lain tapi akan selalu akur kembali setelah ada yang menangis, kami semua merindukan mu ma, kebahagian kami tak pernah lengkap jika tidak ada senyum manismu yang selalu membuat keadaan lebih baik" pak Arman berbicara dalam hatinya tak sadar airmatanya menetes ia menggenggam tangan istrinya.
"Pa jangan nangis dong, kalau mama tahu papa nangis pasti mama jadi sedih" kini Zahra mencoba menghibur papanya.
"Yuk kita makan pa?"kata Arga membuka bungkusan plastik makanan yang di bawa Zahra. " kok cuma 5 dek?? tanyanya lagi.
" Ia tadi Zahra cuma beli 7 bungkus yang 2 Zahra kasih sama mbak perawat yang di depan, 5 lagi untuk kita sengaja Zahra lebihi mana tahu nanti abang mau nambah, Zahra gak tahu kalau bang Arya dan kak Khumairah di sini. makan aja dulu nanti Zahra beli lagi."
"Ini untuk Zahra aja, kakak nanti aja" khumairoh mengulurkan sebungkus makanan pada zahra, walau khumairah orang Kairo tapi dia sudah terbiasa bahasa indonesia karena dia sering memberikan pembelajaran tambahan kepada mahasiswi-mahasiswi asal Indonesia yang belajar di Kairo.
"Gak usah mbak untuk mbak aja lagian Zahra masi kenyang."
Mereka membuka makanan yang di bawah Zahra dan memakannya kecuali Zahra karena makanannya kurang satu bungkus.
__ADS_1
"Sini Daffa bunda suapi, tadi bunda udah beliin kentang goreng, omlet dan jus pokat untuk Daffa, Daffa pasti lapar ya kan sayang?" Zahra mengambil Daffa dari Ulan dan memangkunya.
"Kalian pulangnya jangan malam-malam kasian Daffa" ucap papa.
"Pa, untuk malam ini kami kayaknya gak pulang kerumah papa soalnya baju daffa juga uda kotor semua, besok setelah dari toko dan butik kami kemari lagi." kata Arga
papa mengangguk mengiyakan.
"Bang Arya dan mbak Umay istirahat di rumah aja biar Zahra sama papa yang jaga mama, kasian mbak Umay pasti capek, ibu hamil itu harus istirahat yang cukup."jelas Zahra, (macam dia pernah hamil aja hehehe)
"Nanti pulangya bawa mobil papa aja"
"Iya pa"jawab Arya singkat.
######
Very dan Rey sampai di kediaman Ardana mereka berdua berjalan masuk ke dalam Rumah keluarga Ardana yang sangat besar dan mewah.
Rey dan very melihat nenek dan linda diruang makan.
"Kalian udah pulang ayo sini kita makan!!" ajak nenek pada ke dua cucunya.
mereka berdua menghampiri dua wanita paruh baya itu dan mencium punggung tangannya, Very duduk di samping mamanya sedangkan Rey naik ke atas menuju kamarnya.
"Rey kamu gak makan?" tanya nenek
"Rey gak lapar,." ia berjalan tanpa menoleh nenek dan tantenya itu.
"Mama kok kemari papa mana? "tanya Very pada mamanya.
"Papa mu keluar kota tadi mama diantar papa sebelum berangkat nanti pulangya kan bisa sama anak ganteng mama ini.
"Rey kenapa Ver, kok terlihat kesal begitu?" tanya nenek.
"Tadi nek di kantor Rey di skak mat sama karyawan,"
"Kok bisa, biasanya kan gak ada yang berani ngomong macam macam sama Rey.," tanya mama penasaran.
"Itulah mah, sebenarnya juga salah Rey ngomong asal ngerendahi tu cewek, Rey nantangi buat ngerjain rancangan proyek dalam waktu satu hari eh ternyata tu cewek bisa nyelesaikanya dalam waktu setengah hari. Very aja salut ma mana idenya bagus banget. Tu cewek luar biasa udah cantik, pintar sholeha pula"
"Jangan -jangan anak mama suka lagi sama cewek ltu." mama tersenyum
"Apaan sih ma?" Very ikut tersenyum begitu juga nenek.
bersambung...........
__ADS_1